Showing posts with label Profile. Show all posts
Showing posts with label Profile. Show all posts

Thursday, February 4, 2016

Korrie Layun Rampan



BIODATA


Lahir                           :  Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953
Meninggal                   : 19 November 2015, pada umur 62 tahun
Pekerjaan                   : penulis, sastrawan, politisi
Suku Bangsa                 : Dayak Benuaq
Angkatan                     : 1970-an
Kewarganegaraan         : Indonesia
Ayah                            : Paulus Rampan
Ibu                              : Martha Renihay-Edau Rampan
Buku                           : Upacara, Api Awan Asap, Tokoh-tokoh Cerita Pendek Indonesia, dll

MASA KECIL


Korrie muda tinggal di Yogyakarta. Di kota itu pula ia menjalani masa kuliah. Di saat kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Club, sebuah klub sastra yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Achmad Munif,  Arwan Tuti Artha, Suyono Achmad Suhadi, R.S, Eko Tunas, Ebiet G. Ade.

KARIER

Korrie bekerja dimulai pada 1978 di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, Korrie mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta, serta menjadi penyiar di TVRI Studio Pusat, Jakarta dan RRI. Sejak Maret 2001 Korrie menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sendawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di samping itu, Korrie juga sempat mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Saat Pemilu 2004 Korrie sempat duduk sebagai anggota Panwaslu Kabupaten Kutai Barat, tetapi kemudian mengundurkan diri karena mengikuti pencalonan anggota DPRD. Oleh konstituen, ia dipercayakan mewakili Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009. Sebagai anggota DPRD, Korrie menjabat sebagai Ketua Komisi I. Meskipun telah menjadi angota DPRD, Korrie tetap aktif menulis karena tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya. Berbagai karya telah ditulisnya berupa novel, cerpen, puisi, cerita anak, dan esai.

BEBERAPA BUKU :

1.       Upacara
2.       Api Awan Asap
3.       Tokoh-tokoh Cerita Pendek Indonesia
4.       WAHAI
5.       Melintas Malam
6.    Manusia Langit: Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Timur 
7.    Batapan : Kumpulan Cerita Pendek
8.    Bunga
9.    Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia
10.  Acuh Tak Acuh – Kumpulan Cerpen
11.  Lingkaran Kabut
12.  Perjalanan Ke Negeri Damai
13.  Rindu
14.  Kayu Naga
15.  Bingkisan Petir: Antologi Cerita Pendek Cerpenis Kalimantan Timur 
16.  Percintaan Angin
17.  Tarian Gantar
18.  Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia 
19.  80 Sajak Puncak dalam Sejarah Sastra Indonesia 
20.  Hitam : Kumpulan cerita pendek 
21.  Upacara Bulan
22.  Asal-Usul Api
23.  Leksikon susastra Indonesia 
24.  Wanita di Jantung Jakarta 
25.  Wanita Penyair Indonesia 
26.  Suara Kesunyian
27.  Nyanyian Kekasih 
28.  Pohon - pohon Raksasa di Rimba Nusantara : Kumpulan Puisi Anak-anak 
29.  Profil Perempuan Pengarang, Peneliti dan Penerbit di Indonesia 
30.  Perhiasan matahari: kumpulan cerita pendek 

Korrie menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo Tolstoy, Knut Hamsun, Anton Chekov, O'Henry, dan Luigi Pirandello. Novelnya, Upacara dan Api Awan Asap, meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi, di antaranya Aliran-Jenis Cerita Pendek.

Beberapa cerita film, esai, cerpen, resensi buku, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi, di antaranya Aliran-Jenis Cerita Pendek. 

Friday, January 1, 2016

Joko Pinurbo




BIODATA 


Nama               : Joko Pinurbo

Tempat Lahir    : Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Tanggal Lahir    : 11 Mei 1962

Umur               : 53 Tahun

Pekerjaan        : Sastrawan

Tahun Aktif      : 1983 sampai sekarang

Lulusan            : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta

Pernah Jadi      : Redaktur Basis, Gatra, dan Sadhar terbitan IKIP Sanata Dharma

Penghargaan    

-  Puisi Terbaik Dewan Kesenian 

-     Hadiah Sastra Lontar

-   Sih Award, penghargaan puisi terbaik jurnal puisi

-   Tokoh sastra versi majalah Tempo.

-   Khatulistiwa Literary Award lewat bukunya, Kekasihku.

-   Dalam lingkup internasional, Joko Pinurbo pernah

-   Diundang membaca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee 2001 di

   Jakarta,

-   Diundang membaca puisi pada Festival Sastra/Seni Winternachten 

   2002 di Belanda

-   Diundang pada Forum Puisi Indonesia 2002 di Hamburg, Jerman

-   Diundang dalam Festival Puisi Internasional-Indonesia 2002 di Solo.



PENGALAMAN PRIBADI


Joko Pinurbo mulai berkarya dalam puisi pada usia sekitar 20 tahun, walaupun ia telah 

membaca banyak sekali puisi Indonesia sejak remaja. Dalam menulis puisi pun, ia kerap 

mencampur antara realitas dengan impian, hikmat dengan unsur-unsur komik, si angkuh dan 

si pejalan kaki, yang semua itu dapat ditemukan dalam satu baris dan diucapkan dalam satu 

hembusan napas. Citra reliji dapat tampil berdampingan dengan komentar-komentar berbau 

sosial politik pun percakapan yang intim. Beberapa karya puisi Joko Pinurbo tampaknya 

merupakan parodi/komedi dari tradisi puisi Indonesia. Selain itu ia juga gemar menggunakan 

pencitraan yang kelihatannya klise yang jarang ditemukan dalam puisi Indonesia, misalnya 

pengacuannya pada objek objek yang biasa ditemukan sehari-hari seperti sarung, 

telepon genggam, kamar mandi, celana panjang merupakan ciri khas dari karya-karya Joko 

Pinurbo. Selain puisi, Joko Pinurbo juga menulis esai. Karya-karyanya dipublikasikan di 

berbagai majalah dan surat kabar antara lain Horison, Basis, Kalam, Citra Yogya, Jurnal Puisi, 

Mutiara, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Kompas dan Bernas.



PUISI KARYA JOKO PINURBO
Judul Pengarang Kategori Puisi
Aku Tidur Berselimutkan Uang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Anak Seorang Perempuan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Atau Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bayi Di Dalam Kulkas Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bayi Mungil Di Kamar Mandi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bertelur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bolong Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 1 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 2 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 3 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bulu Matamu : Padang Ilalang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 1 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 2 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 3 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Dangdut Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Kulkas : Namamu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Pojok Iklan Satu Halaman Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Salon Kecantikan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Doa Mempelai Joko Pinurbo Puisi Lihat
Elegi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Gadis Enam Puluh Tahun Joko Pinurbo Puisi Lihat
Gadis Malam Di Tembok Kota Joko Pinurbo Puisi Lihat
Hampir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Hutan Karet Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ibu Yang Tabah Joko Pinurbo Ibu Lihat
Jauh Joko Pinurbo Puisi Lihat
Jurang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Keranda Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kereta Api Menuju Jakarta Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Semalam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Senja Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Seorang Nyumin Joko Pinurbo Puisi Lihat
Korban Joko Pinurbo Puisi Lihat
Layang-Layang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Loper Koran Joko Pinurbo Puisi Lihat
Lukisan Berwarna Joko Pinurbo Puisi Lihat
Malam Pembredelan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mampir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mata Air Joko Pinurbo Puisi Lihat
Minggu Pagi di Sebuah Puisi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mudik Joko Pinurbo Puisi Lihat
Obituari Bambang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pacar Kecilku Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pada Lukisan Monalisa Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penagih Utang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pengamen Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjaga Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjual Buah Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjual Celana Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penumpang Terakhir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyair Kecil Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyair Tardji Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyanyi Yang Pulang Dinihari Joko Pinurbo Puisi Lihat
Perias Jenazah Joko Pinurbo Puisi Lihat
Perjalanan Pulang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pesan Uang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pohon Bungur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pulang Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ranjang Kematian Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ranjang Putih Joko Pinurbo Puisi Lihat
Rendezvous Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ronda Joko Pinurbo Puisi Lihat
Rumah Kontrakan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Sehabis Tidur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Senandung Becak Joko Pinurbo Puisi Lihat
Sepasang Tamu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Serdadu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Telepon Genggam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tengah Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tikus Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tukang Cukur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Utan Kayu Joko Pinurbo Puisi Lihat

Saturday, March 14, 2015

Asrul Sani

Lahir 10 Juni 1926 di Rao, Sumatera Barat. Tamat Fakultas Kedokteran Hewan IPB, 1955. Ia pun pernah belajar dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California, Amerika Serikat, 1955-1957. Salah seorang pendiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), Jakarta. Pernah menjadi anggota dan salah seorang ketua Dewan Kesenian Jakarta. Dia termasuk 10 anggota seumur hidup Akademi Jakarta.

Sejak 1966 menjadi anggota DPR/MPR sebagai wakil NU lalu Partai Persatuan pembangunan, dia pun pernah lama duduk di Badan Sensor Film dan berulang kali menjadi juri festifal film di pelbagai negara. Di bidang pers, kariernya pun panjang. Pernah di Suara Bogor, Gema Suasana, Zenith, ”Gelanggang” pada Siasat, memimpin majalah Abad Muslimin, dan kolumnis Harian Kami.Asrul Sani adalah penyair, eseis, cerpenis, penerjemah, pengarang lakon, pengarang skenario film, sutradara lakon, dan sutradara film.

Sejumlah karyanya sudah disalin ke dalam pelbagai bahasa asing: Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang.

Bukunya yang sudah terbit: Tiga Menguak Takdir, antologi puisi bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin (1950); Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat, kumpulan cerita pendek (1972); Mantera, kumpulan puisi (1975). Sebuah eseinya ada dalam Sejumlah Masalah Sastra susunan Satyagraha Hoerip (1982).

Sekitar 20 skenerio film dia tulis dan10 judul film dia sutradarai, antara lain: Lewat Jam Malam, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Tauhid, Salah Asuhan, Pagar Kawat Berduri, Jembatan Merah, Bulan di Atas Kuburan, dan Apa yang Kau Cari, Palupi memenangkan Hadiah I Festival Film Asia 1970 di Jakarta.

Asrul Sani dikenal sebagai salah seorang tokoh Angkatan ’45 dalam sastra Indonesia.

Karya

Sastra

 
·         Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950)
·         Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972)
·         Mantera (kumpulan sajak, 1975)
·         Mahkamah (drama, 1988)
·         Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988)
·         Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997)

Film


·         Titian Serambut Dibelah Tudjuh, 1959
·         Pagar Kawat Berduri (1963)
·         Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1970)
·         Salah Asuhan (1974)
·         Bulan di Atas Kuburan (1976)
·         Kemelut Hidup (1978)
·         Di Bawah Lindungan Ka'bah (1981)

Sumber



Thursday, March 12, 2015

Tentang Asmara Hadi


Asmara Hadi adalah nama pena. Nama aslinya Abdul Hadi. Selain Asmara Hadi, juga ada Ipih atau H.R. singkatan dari Hadi dan Ratna, Hadi adalah namanya sendiri, sedang Ratna adalah nama seseorang yang kelak menjadi isterinya. Asmara Hadi lahir di Bengkulu pada tanggal 8 September 1914. Meninggal pada 3 September 1976 di Bandung. Tahun 1929, melanjutkan sekolah di Jakarta, di sana tinggal bersama mahasiswa2 yang turut aktif dalam pergerakan kebangsaan. Kemudian pindah ke Bandung, sekolah menengah di MULO, Taman Siswa. Ia kemudian masuk partai politik dan menjadi seorang kader yang digembleng Bung Karno. Tatkala Bung Karno tahun 1932 menerbitkan Fikiran Rakjat, Asmara Hadi adalah seorang pembantunya. Kata penyunting: Dari tangannjalah sadjak-sadjak jang dimuat madjalah tersebut. Konsekuensi dari tokoh pergerakan adalah pembuangan dan penjara. Tahun 1934 - 1935, Asmara Hadi ikut dibuang ke Ende bersama Bung Karno. Tahun 1937 kembali merasai hotel prodeo, demikian juga tahun 1938 dan tahun 1939, bersama Amir Sjarifuddin. Tatkala pecah perang Pasifik tahun 1941, kembali ia ditangkap dan menjadi tawanan. Bersama pemimpin-pemimpin pergerakan lain, ia berpindah-pindah penjara mulai dari Sukabumi, Garut, Jakarta, dan kembali ke Sukabumi lagi. Inilah yang kemudian melahirkan bukuDibelakang Kawat Berduri. Penyunting buku menulis begini: “Dibelakang Kawat Berduri terbitan Pemandangan, Djakarta 2602 (1942). Buku ini merupakan buku tjatatan selama pengarangnja ditawan pemerintah Belanda, ketika Perang Pasifik petjah. Peristiwanya dimulai tanggal 8 Desember 1941, jaitu saat petjahnja Perang Pasifik hingga tanggal 15 Maret tatkala pengarang dapat bebas dari Nusakambangan. Dalam buku tersebut digambarkan antara lain bagaimana pengarang dibawa P.I.D pengeledahan di rumahnja, keadaan didalam tahanan, pertanjaan2 yang dimadjukan kepadanja serta peristiwa2 jang lain selama ditawan itu. Kisah2 didalamnja diselingi pula dengan puisi.”    

Asmara Hadi pernah menjadi pemimpin majalah Pelopor Gerindo (1937-1938), pemimpin redaksi majalah Tudjuan Rakjat (1938-1941), dan pembantu tetap majalah Pudjangga Baru.

Sumber

Thursday, December 25, 2014

Biodata Amir Hamzah

Lahir 28 Februari 1911 di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, terbunuh dalam revolusi sosial 16maret 1946 di Langkat, Sumatera Utara.


Pendidikannya: tamat HIS (sekolah anak-anak Indonesia dengan bahasa pengantara bahasa Belanda), lalu ke Medan dan ke Jakarta (mungkin 1928) sekolah di Sekolah lanjutan Pertama Kristen (2 tahun), kemudian belajar di Sekolah Lanjutan Atas Solo, Jawa Tengah (mungkin antara 1929-1932). Kembali ke Jakarta, masuk Sekolah Tinggi Hukum, sampai lulus sarjana muda, tapi tidak tamat.


Selama di Jawa, dia aktif dalam kegiatan-kegiatan kebangsaan. Dengan S. Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru. Tapi dia dipanggil pulang oleh pamannya, Sultan langkat – orang yang membiayai pendidikan Amir – dan diambil menantu.


Bukunya yang sudah terbit: Nyanyian Sunyi (1937), Buah Rindu (1941), Sastra Melayu Lama dengan Tokoh-tokohnya(1941), dan Esei dan Prosa (1982). Terjemahannya: Bhagawad Gita (dimuat dalam Pujangga Baru,1933-1934) danSetanggi Timur (terjemahan puisi Jepang, Arab,India, Persia dll., 1939). Berbagai karangannya yang tersebar dihimpun H.B. Jassin dalam Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1963).


Sejumlah puisnya ada dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963) susunan H.B. Jassin. Amir Hamzah dikenal sebagai tokoh penting pada masa Pujangga baru dalam sastra Indonesia.

Tuesday, October 21, 2014

Afrizal Malna



lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal Malna tidak melanjutkan

sekolah. Pada tahun 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai

mahasiswa khusus hingga pertengahan dikeluarkan pada tahun 1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal

Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor

bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di

bidang seni, sebagai sutradara pertunjukan seni, kurator seni instalasi, penyair dan penulis.

Bukunya antara lain: Abad Yang Berlari (1984), Perdebatan Sastra kontekstual (1986), Yang Berdiam

Dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995), Kalung Dari Teman (1998),

Sesuatu Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000), Seperti Sebuah Novel yang Malas

Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003), Novel Yang

Malas Menceritakan Manusia (2004), Lubang dari Separuh Langit (2005). Penghargaan yang pernah

diterima: Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Nederland Wereldomroep (1981),

Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994), Esei majalah

Sastra Horison (1997), Dewan Kesenian Jakarta (1984).


Berikut ini adalah beberapa puisi karyanya antara lain :

Asia Membaca, Buku Harian Dari Gurindam Duabelas, Gadis Kita, Migrasi Dari Kamar Mandi, Mitos

Mitos Kecemasan, Lembu Yang Berjalan, Masyarakat Rosa, Warisan Kita, Kebiasaan Kecil Makan

Coklat, Chanel OO, Jembatan Rempah-Rempah, Workshop 5:Tawanan Aku, Tubuh Lublinskie Di

Lorong Es Hitam, Teknik Menghibur Penonton, Mantel Hujan Dua Kota, Mesin Penghancur Dokumen,

Proposal Politik UntuK Polisi, Di Seberang Selembar Daun, Menggoda Tujuh Kupu-Kupu, Seminar

Puisi Di Selat Sunda, Antri Uang Di Bank, Daftar Indeks, Beri Aku Kekuasaan, Ekstase Waktu, Penyair

Anwar.


Biografi :

Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahun 1981,

ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus hingga pertengahan

dikeluarkan pada tahun 1983. 

Selama kurang lebih sepuluh tahun ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi

muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai esais,

kurator seni rupa, penyair dan penulis.


Proses Kreatif :

Puisi, cerpen, dan esainya dimuat dalam Horison, Kompas, Berita Buana, Republika, Kedaulatan

Rakyat, Jawa Pos, Surabaya Post, Pikiran Rakyat, Ulumul Qur'an, dan lain-lain.

Tema puisi Afrizal Malna yang menonjol adalah pelukisan dunia modern dan kehidupan urban, serta

objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi objek-objek itulah yang menciptakan nuansa

dan gaya puitiknya. 

Imaji-imaji dalam kehidupan sehari-hari , secara berdampingan ditampilkan (jukstaposisi) secara

gaduh, hiruk-pikuk, hampir-hampir chaotic, kacau balau, semrawut, tercermin dalam judul-judul

puisinya, seperti: “Antropologi Kaleng-Kaleng Coca Cola”, “ Fanta Merah untuk Dewa-Dewa”, “Migrasi

di Kamar Mandi”, “Pelajaran Bahasa Inggris Tentang Berat Badan”. Afrizal tertarik pada menemukan

hubungan antara objek dalam puisi-puisinya, mencari—dalam kata-katanya sendiri—suatu “visualisasi

tata bahasa atas benda-benda” (a “visual grammar of things”).  Intimasi hubungan rahasia antar

objek-objek tersebut memberikan banyak informasi tentang puitika Afrizal. 

Pada tahun 1981, sebuah naskah dramanya memperoleh penghargaan dalam sayembara Kincir Emas

Radio Nederland Wereldomreop.

Karya dramanya yang berjudul Pertumbuhan di atas Meja Makan, terpilih dalam antologi drama Indonesia

seratus tahun yang diterbitkan Yayasan Lontar, serta diterjemahkan dalam versi bahasa Inggris dengan

judul Things Growing on the Table. Karya drama Afrizal tersebut merupakan salah satu contoh yang

representatif untuk karya yang muncul pada era postmodernisme Indonesia. Karya ini menentang

penggunaan narasi keseragaman yang dibentuk oleh Orde Baru di Indonesia. Dalam karya dramanya

ini, Afrizal yang juga bertindak sebagai editor, membangun suatu "perpecahan" (disunity) dengan

memecah belah atau membuat potongan-potongan dialog dari berbagai sumber berlainan, misalnya

potongan pidato presiden Soekarno dan wakilnya Mohamad Hattadigabungkan dengan dialog dari

Caligula karya Albert Camus dan Sandyakala Ning Majapahit karya Sanusi Pane. Dengan demikian,

melalui karyanya yang demikian, ia menolak hubungan kausalitas dan struktur naratif, ketika tokoh

Suami dan Istri dalam drama ini mengucapkan kutipan potongan-potongan kalimat yang tidak

berhubungan tersebut, sekaligus memaksa audiens untuk membangun sebuah cerita bagi diri mereka

sendiri. 

Afrizal menulis esai pengantar untuk buku kumpulan puisi beberapa penyair Indonesia, antara lain

Juniarso Ridwan, Soni Farid Maulana, Dorothea Rosa Herliany, Made Wianta, dan lain-lain).  Esainya juga terbit

pada antologi bersama antara lain, Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto ed., 1986)..

Sesuatu Indonesia: Esei-Esei dari Pembaca Tak Bersih adalah salah satu buku kumpulan esainya,

diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya pada tahun 2000.

Esainya dalam Senimania Republika, Harian Republika, 1994 memenangkan Republika Award.  Ia

juga menjadi pemenang esai di Majalah Sastra Horisonpada 1997. 

Sejak 1983 hingga 1993 menulis teks pertunjukan Teater Sae. Afrizal pernah mengunjungi beberapa

kota di Swiss dan Hamburg, memberikan diskusi teater dan sastra di beberapa universitas dalam

rangka pertunjukan Teater Sae (Mei-Juni 1993) yang mementaskan naskahnya.

Tahun 1995 bersama Beeri Berhrard Batschelet dan Joseph Praba, mementaskan seni instalasi Hormat dan

Sampah di Solo.  Pada tahun 1996berkolaborasi dengan berbagai seniman dari beragam disiplin

mengadakan pertunjukan seni instalasi ''Kesibukan Mengamati Batu-Batu'' di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tahun 2003, mementaskan Telur Matahari berkolaborasi dengan Harries Pribadi Bah dan Jecko Kurniawan.

Beberapa buku prosa: cerita pendek atau novel, karya Afrizal Malna, antara lain: Dalam Rahim Ibuku

Tak Ada Anjing (2003), Seperti Sebuah Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (IndonesiaTera, 2004),

Lubang dari Separuh Langit (2005).

Cerpennya pernah masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas, antara lain Pistol Perdamaian (1996), dan

Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997).

Berkat prestasinya di bidang kepenulisan, Afrizal Malna beberapa kali diundang dalam festival dan

acara sastra nasional maupun internasional, seperti Festival Penyair International di Rotterdam, Belanda

(1995) dan Utan Kayu International Literary Biennale di Jakarta 2005.


Penghargaan :
·         Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994),·         Esei majalah Sastra Horison (1997)·         Dewan Kesenian Jakarta (1984)·         1981: Radio Nedherland Wereldomroep untuk naskah drama Surat·         1987: Dewan Kesenian Jakarta untuk buku puisi Abad Yang Berlari·         1994: Republika Award dari harian Repulika untuk esei·         1996: Pusat Pembinaan dan Pengembahan Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya untuk buku puisi Arsitektur Hujan·         1997: Majalah sastra Horison untuk esei·         2006: Penghargaan Adibudaya dari Departemen Pendidikan untuk puisi·         2008: Man of The Year dari majalah Tempo untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa·         2010: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa SEA Write Award dari Bangkok untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa (penghargaan tidak diambil)



Sumber