Showing posts with label Emha Ainun Najib. Show all posts
Showing posts with label Emha Ainun Najib. Show all posts

Sunday, June 21, 2015

Tidur Hanya Bisa Padamu

Tidur hanya bisa padaMu

Ketika larut badan tak mengada

Sudah khatam segala tangis rindu

Tinggal jiwa kusut dan sebuah lagu


Jiwa terajah luka

Bersujud sepanjang masa

Di peradaban yang sakit jiwa

Hanya bisa kupeluk guling rahasia


Tidar hanya bisa padaMu

Ya kekasih, tidur hanya bisa padaMu

Kalau tak kau eluskan tangan

Bangunku tetap jua ke dunia


Sejak semula telah kuikrarkan

Cuma engkau sajalah yang kudambakan

Dengan sangat kumohonkan tidur abadi

Agar kumasuki bangun yang sejati



Oleh :

Emha Ainun Najib

Saturday, June 20, 2015

Menertawakan Diri Sendiri

Bermakna lebih dari segala ilmu

Ialah menertawakan diri sendiri

Sesudah kegagahan dipacu

Tahu langkah tak sedalam tangis bayi


Kelahiran dan maut memain-mainkan

Kita jadi perlu sekeras ini bersitegang

Padahal gua Ibunda tak di masa silam

Dan kematian tak nunggu di usia petang


Nyembah puisi, buku dikeloni, sejarah dibongkar

Kemudian sumpeg dan ngerti kita terbongkar sendiri

Maka laron tahu usia tak sampai semalam

Maka kita pilih saat wajah sendiri dilecehkan


Membantu malaikat ngerjakan tugas dari Ki Dalang

Melakonkan cilukba wayang pergantian siang malam

Heran kenapa Chairil minta cuma seribu tahun lagi

Padahal jelas jatah kita abadi



Oleh :

Emha Ainun Najib

Friday, June 19, 2015

Membelah Diri

sayang, kenapa harus membelah diri

kalau sampai begini sakit

untuk menyatu kembali


merekah engkau jadi kita

jadi tuan dan hamba

panjang jarak tak terkira


sayang, o sayang

jangan bilang sekedar satu dua hari

jangan katakan hanya sebatas matahari


sebab bergulat harus sedemikian nyeri

jatuh bangun mencari

tertunda-tunda ketemu diri sendiri



Oleh :

Emha Ainun Najib

Thursday, June 18, 2015

Ajari Aku Tidur

tuhan sayang ajari aku tidur

seperti dulu menemuimu di rahim ibu

sesudah lahir menjadi anak kehidupan

sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik

dan kebodohan

bisaku cuma tertidur

tertidur


tuhan sayang tak kurang-kurang engkau menghibur

tapi setiap kali badan terbujur ruhku bangkit

memekik-mekik!

hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk

tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur


di siang dunia berseliweran kecemasan

orang-orang berburu prasangka

menumpuk salah paham terhadap kehidupan

memburu dugaan, bersandar pada bayangan

mengulum batu-batu akik, aku ngantuk

sungguh-sungguh ngantuk


di malam segala nina bobo yang menenggelamkan

tak mampu kubaringkan mati kecilku

ajari mati, ya tuhan sayang, ajari aku mati

nasib sejarah menggumpal di jantungku

jantung mengerjat-ngerjat

tapi tak pingsan


telah beribu kali

jantung meledak tak mati-mati

tuhan sayang, ya tuhan sayang

rinduku amat tua

dan sakit



Oleh : 

Emha Ainun Najib

Wednesday, June 17, 2015

Tuhan Sudah Sangat Populer

Satu

Tuhan sudah sangat populer

Nama-Nya dihapal luar kepala

Sehingga amat jarang ada

Orang yang sungguh-sungguh mengingat-Nya


Tuhan sudah sangat populer

Seperti matahari tak pernah tak bercahaya

Sehingga hanya kadang-kadang saja

Orang menyadari ada dan peran-Nya


Tuhan sudah sangat populer

Baik di kota maupun di desa

Kalau terasa tak ada, orang menanyakan-Nya

Ketika jelas, ada orang melupakan-Nya



Oleh :

Emha Ainun Najib

Tuesday, June 16, 2015

Ambil Si Penari Untukku Tariannya

Dzu Walayah membawaku mengembara.

Telah berulangkali kukunjungi tempat-tempat itu, namun bersamanya menjadi berubah cara

berjalanku serta menjelma baru mata-pandangku.

Kuajukan kepadanya beribu-ribu pertanyaan seperti Ibrahim menggalah beribu-ribu bintang, kureguk

jawaban-jawabannya yang mesra bagai anak kambing menyusu puting induknya.

Namun, tentang satu hal, Dzu Walayah selalu menghindar, ialah tentang wihdatul wujud, Allah

dengan hambaNya manunggal.

Tatkala kami duduk-duduk istirah di tepian pantai, ia meminta – “Ambil seciduk dua ciduk air

samudera untukmu, sisakan ombaknya berikan kepadaku.”

Ketika di malam hari aku merasa kedinginan oleh hembusan angin yang amat kencang, ia lepaskan

kain sarungnya dan berkata – “Pakailah ini untuk selimutmu, tapi helai-helai benangnya biarlah

untukku.”

Dan ketika di lapangan pojok dusun itu bersama-sama kami menyaksikan acara tayuban yang riuh

rendah oleh musik, teriakan dan birahi, Dzu Walayah menggamit pundakku – “Pergilah ambil penari

itu untukmu, tapi terlebih dahulu berikan kepadaku tariannya.”



Oleh :

Emha Ainun Najib

Monday, June 15, 2015

Hijrah

mimpiku pawai burung

tanpa sayap terbang ke surga

mimpiku mata rabun

nyangkut di langit hampa


insyaallah angan-angan ini

disetujui oleh para nabi

tapi jarang kuteliti

teori mereka mengolah bumi


kemudian tiba ke khomeiny

marx, fraire, dan ali syari’ati

madrasah frankfurt, ngo pinggir kali

berperang brubuh di rumah sini


di wajah beberapa kawan

nama-nama itu menjelma siluman

ketika tangan mereka acungkan

terciptalah mesin percetakan


aku jatuh terjengkang

tolol di pojok jalan

hanya sanggup berpamitan

hijrah ke semesta pengembaraan



Oleh :

Emha Ainun Najib

Sunday, June 14, 2015

Syair Candu 5

paduka kenyataan hamba

paduka juga impian hamba

luka parah hamba memburunya


semesta rahasia

tak terhingga jumlah pintunya

sehingga realitas terus bekerja


kenyataan tak bisa distop langkahnya

sebab terangkai oleh kemungkinan

yang tak tertangkap oleh kata benda


paduka aduk mitos kenyataan

paduka tertawakan kenyataan mitos

ketika orang membeku di salah satunya


maka terimalah hamba

ikut berdenyut  di jantung paduka

mengembarai hakikat yang betapa anehnya



Oleh :

Emha Ainun Najib

Syair Candu 1

kalau kamu bilang agama itu candu

dengarkan allah-lah candu hidupku

tuak cinta maha membeningkan pikiran

melempangkan yang sebenar-benarnya jalan


jika sukmaku meminumnya

badan tegak dan jiwa perkasa

menyingkir rasa takut dan kesedihan

sehingga takkan kubatalkan pemberontakan


para peminum kesejatian

sanggup keluar dari setiap barisan

yang menghardik utuhnya kemanusiaan

meski ditemani oleh hanya sunyi dan kelaparan


kamu takkan tahu bau napasnya begitu merangsang

menyisihkan segala yang tampak menggiurkan

menjelaskan betapa remehnya godaan

serta apa pun saja yang seolah dan seakan-akan


kalau kamu bilang agama itu candu

kuperdengarkan allah dan tak ada yang selain itu

firmannya merasuki darah bagai arak suci

kusandang untuk menyibak zaman ini



Oleh :

Emha Ainun Najib

Friday, June 12, 2015

Belajar Tidak

Ajari kami

membedakan ya dan tidak

tanpa embel-embel


Tuntunlah kami

bilang ya dan bilang tidak

tanpa hitung untung


Tenaga apa bisa kami pakai

untuk bilang ya

bagi setiap ya

untuk bilang tidak

bagi setiap tidak


Apa mesti pakai sukma Tuhan

untuk bisa tahan

tuding tidak pada tidak

karena tidak

ialah tidak


Udara sarat tidak

tiap hari sibuk tidak

tetapi sebab dicekik ya

terpaksa bilang ya


******

Mata siapa bisa kami pinjam

untuk melihat benar kehidupan

untuk menangkap setiap murni getaran

Tangan siapa bisa kami ulurkan

untuk menggenggam air bah kenyataan


Mau nimba ke mana

Belajar kepada apa

Berguru ke siapa

Ilmukah atau batu

Anginkah atau guru

Langitkah atau suhu

Mataharikah atau waktu

Rohkah atau langit biru

Pohonkah atau buku

Gunungkah atau para biksu

Pedang-pedangkah

atau primbon masa lalu

Lautan katakah

atau Allah yang bisu


*******

Sejuta ilmu

lupa pada yang sederhana


Hidup teramat lama

untuk tak bisa ngomong tidak

Hidup terlalu sumpeg

untuk selalu tak bilang tidak

Waktu terentang panjang

bisa tampung berjuta tidak

Irama begini sesak

untuk bilang satu saja tidak


Dinding amat tebal

Ruang terbagi-bagi

Bagian-bagian terbagi-bagi

tanpa pintu


Angin membusuk

Pikiran meracuni jiwa

Sukma tertidur

takut ngerti sampai di mana


Kata tidak menumpuk

di sel-sel penjara

di butir-butir darah

nyangkut di mata merah


******

Ya sering nampak sebagai tidak

Tidak sering seperti ya

Ya seakan-akan tidak

Tidak seolah-olah ya

Ada ya yang ketidak-tidakkan

Ada tidak yang keya-yaan

Ya biasa disulap jadi tidak

Tidak dianggap sebagai ya

Orang ya terpaksa bilang tidak

Orang tidak terpaksa bilang ya

Segala ya jadi kuasa

Bikin setiap tidak jadi ya

Asal kami bilang ya

Soal jadi tak ada

Tapi jika bilang tidak

Hari esok bisa binasa

Hukum jadi samar

Benar jadi omong besar

Merdeka jadi patung-patung


******

Kami inginkan ya yang lugas

Tidak yang tegas

Tapi siapakah guru kami?


Para guru sangat pandai

mengajarkan upaya


Pemimpin kami amat pintar

membendung segala tidak

dari mulut kami

yang dibilang pengkhianat


Beribu nilai tersedia

Namun kami hanya dipilihkan

Oleh suatu rangka dan susunan keadaan

Kami dikepung dan dikendalikan


Kiranya guru kami ialah

kata tidak itu sendiri

Tidak

Beratus-ratus tidak

Beribu-ribu tidak

Berjuta-juta tidak

Kami ucapkan

tiap pagi

siang, sore

dan malam harinya

sampai bersiap merdeka

atau gila.



Oleh :

Emha Ainun Najib

Thursday, June 11, 2015

Yogyaku

Candradimuka hanya kawah panas seribu panas

tapi Yogyaku apimu membekukan dinginmu memanggang

Di kawah aku mengolah baja namun engkau

menantang keabadianku di antara pijar matahari dan

malaikat salju

Di pelukanmu ngantuk aku tapi jika kudengar

detak jantung rahasiamu kuperoleh Tidur yang sebenarnya

Tidur abadi, sunyi segala sunyi, terkatup mulutmu

karena tahu sang Sutradara hanya menorehkan sepi

Yogyaku senyumanmu linuhung di belakang

punggung beribu orang yang mengigau pernah ketemu dan

bercakap-cakap denganmu

Anak-anak kecil yang menghiasimu dengan beratus

gelar, menabur janji, menancapkan papan-papan ikrar

dan menyuratkan buih-buih mimpi yang terbengkalai

Kata-kata macet di tengah pidato silang tindih,

nilai-nilai undur diri kepadamu di tengah program bingung

dan gerak yang serba rancu, ruh anak-anakmu terguncang

oleh kendaraan-kendaraan yang kesurupan di atas

danau-danau jalan rayamu

Kemudian sekian ratus di antara mereka,

mati rahasia, dan engkau tahu persis jumlahnya tanpa meraka

pernah kepadamu membukakannya

Yogyaku senyuman linuhungmu mengurung bagai

hamparan langit yang mahasabar, Yogyaku engkau

memaafkan para pelacur dan maling di jalan dan di singgasana

Di jalan, di gang-gang sempit, engkau menanam janji

sunyi, di singgasana engkau menaruh rasa iba hati, karena jika

engkau dijual untuk sepiring nasi, sesungguhnya engkau tak

kan pernah bisa digadaikan atau dicuri

Yogyaku engkau diangkut dari sungai masa silam

dengan truk hari depan, Yogyaku engkau direbut dari masa

datang dan tergesa dilempar ke museum ke alam abad silam,

waktu tak di dalam ruang, juga tak di luarnya,

tak di sela garis batasnya ...



Oleh :

Emha Ainun Najib

Wednesday, June 10, 2015

Sesobek Buku Harian Indonesia

Melihat pentas-pentas drama di negeriku

berjudul Pesta Darah di Jember

Menyerbu Negeri Hantu Putih di Solo

Klaten, Semarang, Surabaya dan Medan

Teror atas Gardu Pengaman Rakyat di Bandung

Woyla.

Ah, ingat ke hari kemarin

pentas sandiwara rakyat

yang berjudul Komando Jihad

Ingat Malari.

Ingat beratus pentas drama

yang naskahnya tak ketahuan

dan mata kita yang telanjang

dengan gampang dikelabui dan dijerumuskan

Ah, drama-drama total

yang tanpa panggung

melainkan berlangsung di atas hamparan

kepala-kepala penonton

Darah mengucur, kembang kematian.

Bau busuk air liur para sutradara licik

yang bersembunyi di hati mulia para rakyat.

Drama peradaban yang bermain nyawa

mencumbu kemanusiaan

berkelakar secara rendahan kepada Tuhan

Kita orang-orang yang amat lugu dan tak tahu

Pikiran disetir

Hidung dicocok dan disemprot parfum

Pantat disodok dan kita meringkik-ringkik

tanpa ada maknanya

Kita yang terlalu polos dan pemaaf

beriuh rendah di antara kita sendiri

bagai anak-anak kecil yang sibuk dikasih petasan

kemudian tertidur lelap

sesudah disuapi sepotong kue bolu dan permen karet

Ah, milik siapa tanah ini

Milik siapa hutan-hutan yang ditebang

Pasir timah dan kayu yang secara resmi diseludupkan

Milik siapa tambang-tambang

keputusan buat masa depan

Milik siapa tabungan alam

yang kini diboroskan habis-habisan

Milik siapa perubahan-perubahan

kepentingan dari surat-surat keputusan

Kita ini sendiri

milik siapa gerangan.

Pernahkan kita sedikit saja memiliki

lebih dari sekedar dimiliki, dan dimiliki.

Pernahkan kita sedikit saja menentukan

lebih dari sekedar ditentukan, dan ditentukan.



Oleh ;

Emha Ainun Najib

Tuesday, June 9, 2015

Syair Maling

Perjuangan utama sebuah syair, hanyalah

Untuk tak menjadi slogan

Atau kembang plastik


Dari Tuhan lahir seorang bayi

Dituding sebagai subversi, atau dipupuk

Menjadi hostes para priyayi


Syair-syair diagung-agungkan

Hingga menjadi barang kerajinan

Yang menggelikan


Cukuplah ia – kata seorang teman

Lahir dari angin

Tapi sahabat lagi mengklaim

-- syair ialah berak


Berak nasib

Orang-orang terpilin


Maka kita bertengkar

Buntu dan gagap

Dari hari ke hari

Sambil membiarkan maling-maling



Oleh :

Emha Ainun Najib

Monday, June 8, 2015

Makan dan Minum 6

Pada mulanya, kata jiwa saya, orang pergi

berburu binatang, menombak rusa atau

memanah burung-burung

Akhirnya hewan menipis jumlahnya dan hutan

hanya dipenuhi manusia, maka orang menembak orang

orang menggusur orang,

orang menembak orang

Sesampainya di dapur, mereka bikin sate

beramai-ramai

Yang kutangisi, kata jiwa saya lagi, bahwa

sesudah makan dan minum seratus kali

lipat dari kapasitas perutnya, para pemenggal,

penggusur dan penembak itu tidak menjadi kenyang,

melainkan justru semakin lapar



Oleh :

Emha Ainun Najib

Saturday, June 6, 2015

Makan dan Minum

Selalu jiwa saya bertanya kenapa tiap hari

orang mesti makan dan minum

Saya bilang itu merupakan syarat agar mereka

bisa berak dan kencing

Kalau yang orang maui, kata jiwa saya, hanya

buang air baik besar maupun kecil

Kenapa makanan dan minuman dibikin bermacam-macam,

bertingkat-tingkat serta berhias-hias

Saya bilang karena mereka tak bisa tentukan

kualitas berak, hiasan tinja atau bau harum kencing

Kalau begitu, kata jiwa saya lagi, segera

mendekatlah padaku, agar tak terlalu

lama engkau dikungkung oleh tujuan hidup

berak dan kencing



Oleh :

Emha Ainun Najib

Friday, June 5, 2015

Pesawat Terbang

Pertama kali naik pesawat terbang, saya ingin

memasang iklan di koran nasional bahwa saya

benar-benar sudah pernah naik burung ajaib

yang dikagumi oleh seluruh kanak-kanak

dan orang dewasa


Kali kedua pengin dishoot kamera betapa saya

memasang seat-belt segampang menelan ludah

kemudian dengan lincah menggoda stewardesses


Yang ketiga saya berpikir menelusuri dari modal siapa

gerangan pesawat mewah ini dibikin, bagaimana

modal itu diputar di meja perjudian

ekonomi politik internasional, serta membayangkan

siapa saja, yang bisa menikmatinya


Namun toh pada kali keempat saya masih saja sedikit

mengagumi otak manusia penemu daya sihir

burung-burung, meskipun kemudian bosan

dan tidur kepala berat


Sehingga tatkala terbang kelima, keenam, ketujuh kali,

di samping selalu disergap oleh ratusan

pikiran murung: saya merasa pesawat terbang

tak pernah membawa saya naik ke mana-mana


Ada kemungkinan para teknolog, teknokrat serta

para pemakai mereka, gagal melihat mana bawah

yang sebenarnya dan mana atas yang sesungguhnya



Oleh :

Emha Ainun Najib

Thursday, June 4, 2015

Di Atas Crete

Jauh di atas kepulauan Crete, pesawat saya

menggerunjal, seperti sedang melewati jalanan

di kampungku yang penuh lobang dan batu-batu


Pilot pemandu hidup memberi peringatan tentang

cuaca amat buruk, hingga kami harus menegakkan

tempat duduk dan pasang sabuk, kemudian dianjurkan

untuk berdoa


Para penumpang langsung bermuka mendung, para suami

istri dan pasangan kekasih pada berpegangan tangan,

semua tiba-tiba ingat Tuhan dan tampil di hadapan-Nya

sebagai pengemis-pengemis yang malang


Supaya tidak mengganggu lingkungan saya pun menunduk

khusyu, sambil kupandangi jiwa saya yang tertawa lega

bagaikan menerima lotere


Terima kasih, terima kasih, Tuhan – katanya – Saya

tidak ingin menitipkan onggokan daging busuk ini

kepada siapa pun. Kalau Engkau berkenan, biarlah

sampah hina yang duduk cemas di kursi ini segera

saja sirna, agar saya pun merdeka!


Tapi tak lama kemudian jiwa saya itu pun ngambeg

karena segera ada pengumuman tentang yang disebut

keselamatan, dan daging-daging bau itu pun menarik

nafas lega, sambil bersiap turun, berjejal-jejal

memenuhi tong-tong sampah yang bertebaran di atas dunia



Oleh :

Emha Ainun Najib