Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, April 12, 2014

Sejarah Puisi Tahun 2000-an


Perkembangan puisi modern Indonesia dari waktu ke waktu sangat beragam. Khususnya di era melenium ini (2000 an), banyak bermunculan penyair-penyair dari latar belakang kehidupan yang beragam. Sejauh manakah perkembangan puisi modern Indonesia saat ini?
   Tentu membutuhkan penelitian yang panjang untuk mengetahui perkembangan puisi modern Indonesia pada era tahun 2000 an. Namun setidaknya ada dua hal yang ingin saya bicarakan di sini. Pertama, mengenai faktor-faktor penunjang perkembangan puisi modern Indonesia pada era tahun 2000 an. Kedua, mengenai kualitas puisi-puisi modern Indonesia pada era tahun 2000 an. Sehingga dari kedua masalah tersebut setidaknya dapat diketahui gambaran tentang perkembangan puisi-puisi modern Indonesia saat ini.
       Sebelum membahas mendalam tentang perkembangan puisi modern Indonesia saat ini, patut diketahui terlebih dahulu hakikat sebuah puisi. Dalam hal ini banyak sekali persepsi tentang  puisi, apalagi di era perkembangan puisi modern Indonesia saat ini, banyak orang mendefinisikan sebuah puisi. Sebuah definisi itu tak menjadi penting lagi bagi seorang penyair yang telah ‘menyatu’ bersama puisi. Setidaknya puisi lahir dari pengalaman jiwa seseorang karena ingin memberikan bentuk yang kongkrit terhadap yang ia rasakan. Sehingga orang lain dapat pula merasakanya ketika telah diwujudkan secara nyata.
   Puisi berkomunikasi dengan menggunakan kata, rangkaian kata-kata itu mengungkapkan sekaligus mengartikan pikiran, perasaan dan imajinasi seseorang. Dapat dikatakan pula; puisi adalah nafas, menghirup ide mengeluarkan rahasia dan membaginya kepada setiap pembacanya.
   Setidaknya beberapa uraian di atas telah memberikan gambaran tentang puisi. Selanjutnya saya akan mencermati perkembangan puisi modern Indonesia pada era tahun 2000 an. Setelah era orde baru runtuh (1998), dunia sastra Indonesia seperti terlahir kembali, termasuk jenis puisi.
        Selama orde baru banyak media yang digunakan untuk mempublikasikan puisi (media cetak: koran, majalah, penerbit, dll) di bredel oleh pemerintah, karena dianggap tidak sejalan dengan ideologi pemerintahan orde baru. Sehingga mempengaruhi perkembangan puisi modern Indonesia. Selanjutnya setelah era kepemimpinan Suharto runtuh tepatnya pada masa reformasi memasuki tahun 2000 an, dimana kebebasan publik mulai diperhatikan lagi termasuk karya sastra jenis puisi, banyak bermunculan kembali penyair-penyair baru pada tahun 2000 an.
       Hal di atas telah menjawab salah satu masalah yang saya kemukakan di awal tulisan ini. Di mana ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan puisi modern Indonesia pada era tahun 2000 an. Di antaranya jatuhnya rezim Suharto dan dimulainya era reformasi dengan segala kebebasan publiknya. Hal ini dapat dilihat di hampir semua koran Indonesia edisi hari Minggu, yang memberikan rubrik khusus untuk mempublikasikan puisi yang ditulis oleh penyair-penyair produktif usia muda.
    Selain itu dapat di lihat pula faktor-faktor lainya seperti badan penerbitan. Di era globalisasi dan pesatnya pertumbuhan teknologi yang semakin maju, memunculkan penerbit-penerbit baru yang memiliki kecanggihan teknologi sehingga memudahkan untuk menerbitkan buku-buku. Selain itu banyak penerbit yang membutuhkan dukungan dari para penulis khususnya di bidang sastra (puisi). Hal ini memunculkan fenomena simbiosis mutualisme antara penerbit dan penulis.
     Kembali menyinggung tentang kemajuan teknologi, rupanya kemajuan teknologi ini sangat mempengaruhi perkembangan puisi modern Indonesia. Kemajuan teknologi itu diiringi dengan banyak bermunculannya media komunikasi seperti jejaring sosial, blog, dll. sehingga memberikan kemudahan bagi penyair untuk mempublikasikan karyanya.
  Faktor lain yang dapat dicermati adalah banyaknya ajang perlombaan, penghargaan,diskusi, dll di bidang puisi memberikan satu kegairahan baru bagi para penyair muda Indonesia. Walaupun pada masa lalu ada ajang semacam ini, namun tidak sebanyak, seterbuka, dan seprestisius di era sekarang.
      Di tingkat akademik juga tidak kalah memberikan andil besar dalam perkembangan puisi modern Indonesia. Banyak perguruan tinggi yang membuka prodi sastra, khususnya Sastra Indonesia. Sehingga mampu membangkitkan dan menciptakan generasi penyair terdidik dan memiliki wawasan yang luas. Sehingga dijumpai keberagaman karya puisi. Selain itu banyak dosen di perguruan tinggi yang eksis dengan menerbitkan kumpulan puisi.
     Berbicara ruang lingkup akademik tidak akan lepas dari banyaknya komunitas-komunitas pegiat sastra di dalamnya. Selain itu, tidak hanya di dalam ruang lingkup akademik saja, banyak bermunculan komunitas pegiat sastra di luar kampus (sebagai perwakilan lingkungan akademik). Dari komunitas inilah  banyak terlahir penyair-penyair baru Indonesia yang produktif menciptakan puisi yang segar. Penyir-penyair ini lahir dari berbagai latar belakang kehidupan yang sangat beragam.
    Setidaknya itulah faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan puisi modern Indonesia pada era tahun 2000 an. Dari faktor-faktor inilah perkembangan puisi modern Indonesia sangat pesat, sehingga menciptakan penyair-penyair baru Indonesia dengan keberagaman puisinya.
     Penguatan faktor-faktor di atas dapat saya lihat pada beberapa kumpulan puisi yang telah saya baca dan analisis. Misalnya saja tentang kebebasan publik  di era reformasi ini, munculah penyair, seperti Johan Wahyudi dengan antologi puisinya Puisi di Bawah Hujan.Di dalamnya  memuat puisi yang merepresentasi pikiran yang bergejolak dalam benak penyair yang kemudian mengkristal menjadi kata-kata syarat dengan nilai idealisme seorang pemuda yang berapi-api karena prihatin terhadap bangsanya. Seperti pada puisi Review Zaman di dalam antologi ini yang berbicara tentang keadaan bangsa karena kebenaran berpihak kejam dan rakus. Jika di era orde baru, mungkin puisi seperti ini akan segera dibredel dan dilarang diterbitkan, namun di era reformasi sangat banyak puisi bernafaskan kritik seperti ini.
      Tentang penerbit, bukan sekelas Balai Pustaka, Gramedia, dll. Namuan munculnya penerbit-penerbit baru di berbagai daerah dapat memfasilitasi para penyair untuk menerbitkan sebuah kumpulan puisi.
       Hal ini dapat saya lihat seperti pada Penerbit Bukupop dengan antologi puisi Tuhan Menegur Kita karya Utomo Soconingrat dan Ada Sesuatu Yang karya Sirkus Swandari, Penerbit Malka dengan antologi puisi Senja Dalam Masa karya Andri vb, Penerbit Beranda dengan antologi puisi Penari Di Bawah Hujan karya Johan Wahyudi, Parang Sumiler Press dengan antologi puisi Kali Beining karya Tjepoek Moeljono Reksodiharjo, Writing Revo Publishing dengan  antologi puisidan engkau adalah cerita karya Tuditea Masditok, Penerbit Madah dengan antologi puisi Kenangan Kota Geplak  dan Mawar Mekar di kampus 43 A karya Waluya Jatimustika, Kedai Buku Sinau dengan antologi puisi Ada Waktu Buat Kita karya Rina Eklesia, Penerbit Diskursus dengan antologi puisi  Layar Kasmaran Layar Jalanan danLuka Dalam Dalam Luka karya MIF Baihaqi dan M. Syaom Barliana, dll.
      Nama-nama penerbit di atas jarang terdengar di telinga kita. Namun memberikan peran terhadap perkembangan puisi modern Indonesia. Sehingga terlahir penyair-penyair baru di Indonesia dari latar belakang kehidupan yang beragam.
      Selanjutnya pada faktor ajang perlombaan dapat saya lihat pada antologi Tuhan Menegur Kita, karya Utomo Soconingrat, ia seorang penyair cilik yang baru berusia 13 tahun asal Jambi. Penyair cilik ini lahir dari berbagai macam ajang perlombaan puisi di tingkat daerah hingga Nasional.
     Faktor akademik dapat saya lihat pada antologi puisi Kenangan Kota Geplak  dan Mawar Mekar di kampus 43 A karya Waluya Jatimustika, Layar Kasmaran Layar Jalanan, karya MIF Baihaqi,Luka Dalam Dalam Luka karya M. Syaom Barliana,  dan  Penari Di Bawah Hujan karya Johan Wahyudi. Penyair-penyair ini lahir dari kalangan akademik, dari seorang guru hingga dosen.
      Dari tingkat komunitas dapat saya lihat pada antologi puisi My Name is Mimin karya penyair Andri Nur Latif. Andri Nur latif aktif pada komunitas BlockNot Forum. Komunitas ini adalah sebuah forum yang mewadahi individu-individu yang bekerja dalam wilayah penulisan dan pembacaan literatur.
     Dari semua hal di atas patut digarisbawahi bahwa salah satu hal penitng dari faktor perkembangan puisi modern Indonesia adalah peran aktifnya media baik cetak maupun elektronik untuk mempublikasikan karya sastra jenis puisi.
         Masalah selanjutnya yang saya kemukakan di awal tulisan ini adalah tentang kualitas-kualitas puisi modern Indonesia pada era tahun 2000 an. Tentu dengan banyaknya faktor penunjang perkembangan puisi modern Indonesia saat ini, terciptalah beragam genre puisi yang lahir dari beragam latar belakang penyair. Kualitas puisi yang lahir pun akan sangat beragam pula.
        Berbicara kualitas memang sangat rumit untuk dipahami. Setiap orang akan berbeda menilai kualitas sebuah puisi. Namun setidaknya kualitas puisi itu dapat diukur dari kacamata unsur-unsur di dalamnya. Misalnya dapat memenuhi unsur-unsur pembangunya seperti bunyi, diksi, bahasa kiasan, citraan, sarana retorika, bentuk visual, dan makna.
        Nampaknya penyair pada era tahun 2000 an, memiliki pandangan tersendiri dalam menilai kualitas sebuah puisi. Asal puisi tersebut memenuhi syarat sebuah puisi, maka oleh penyairnya pun dimasukkan ke dalam antologi puisi. Sehingga menciptakan keberagaman puisi pada era 2000 an. Hal-hal seperti inilah yang menjadi bumbu-bumbu pemanis pada perkembangan puisi modern Indonesia saat ini.

         Jadi kesimpulanya, banyaknya area publikasi puisi saat ini, benar-benar dimanfaatkan penyair dengan sangat baik. Sehingga perkembangan puisi Modern Indonesia melaju pesat. Predikat penyair pun menjadi sangat gampang diberikan terhadap seorang pencipta puisi. Namun, keberagaman puisi modern serta penyair Indonesia saat ini belum mampu menciptakan sebuah kondisi gebrakan baru (sebuah masa baru), seperti dilakukan Chairil pada masa dulu. Walaupun sudah ada beberapa orang yang mengatakan sekarang ini adalah angkatan 2000 an. Naumun sebenarnya angkatan 2000 an yang sepertiapakah? Apakah kualitas yang menjadi tolak ukur sebuah predikat itu. Jawaban itu saya serahkan kembali kepada anda.

Perkembangan Puisi Modern di Indonesia

Sejarah Puisi Baru di Indonesia
Sejarah puisi baru bisa dikatakan berawal dari perkembangan pendidikan formal di Indonesia. Sebelum itu, puisi (yang disebut puisi lama) di Indonesia umumnya berbentuk syair, pantun, gurindam dan sebagainya yang bersifat anonim dan dimiliki masyarakat luas. Selain itu puisi lama cenderung patuh pada aturan-aturan yang mengikat.
Berbeda dengan puisi baru yang cenderung bebas, tanpa ikatan. Sejarah puisi baru mulai berkembang pada tahun 1920 seiring dengan bermunculannya generasi ‘terdidik’.

Angkatan-angkatan dan Perkembangan Puisi Baru

Dalam perkembangan sastra, setiap masa pasti memiliki ciri khas atau karakteristik yang secara umum menggambarkan kondisi sosial dan budaya di masanya. Perkembangan sastra yang paling mencolok di Indonesia, bermula pada angkatan 1920 yang disebut Angkatan Balai Pustaka. Di periode berikutnya, sekitar 1933 lahir lah angkatan pujangga baru dengan tokoh terkenal di bidang prosa bernama Sutan Takdir Alisahbana (STA). Sedangkan di bidang puisi sendiri ada Amir Hamzah.
Puisi baru semakin terkenal saat Chairil Anwar menyuarakan puisi-puisi monumental, bertema kemanusiaan, perjuangan dan sebagainya yang memperlihatkan keadaan di masa itu. Hingga akhirnya, ia dijadikan tokoh uang memprakasai lahirnya angkatan 1945. Setelah beberapa lama, baru lah di era 60-an terlahir angkatan 1966 yang dipelopori oleh Taufik Ismail. Perkembangan dunia puisi hingga menjadi bentuknya yang sekarang ini dimulai pada tahun 1970-an.

Puisi Modern

Dikatakan puisi modern karena perkembangan puisi ini terjadi di era modern. Perkembangannya tentu saja tak lepas dari sejarah masa lalu terutama pada Rejim Orde Baru. Sebagai pengetahuan, di masa Orde Baru, banyak sekali media-media yang dibredel oleh pemerintah dengan alasan tidak sesuai dengan ideologi pemerintahan. Hal tersebut, menyebabkan perkembangan puisi ikut tergerus.
Setelah Orba runtuh, mencuat lah yang dinamakan kebebasan pers, kebebasan berpendapat baik secara lisan mau pun tulisan. Rubrik-rubrik sastra di koran dan majalah pun kembali ramai. Hal ini tentu saja memberikan efek yang positif pada perkembangan puisi dan sastra secara umum.
Puisi dan sastra semakin berkembang seiring munculnya badan-badan penerbitan. Entah itu penerbit besar atau penerbit independent yang banyak melahirkan penulis indie. Hubungan antara penerbit dan penulis yang bisa dikatakan simbiosis mutualisme, ternyata mampu memberikan manfaat baik pada perkembangan puisi maupun dari segi materi.
Tak bisa dipungkiri juga jika kemajuan puisi di era ini, sangat berhubungan dengan kemajuan teknologi. Seseorang bisa memublikasikan karyanya dengan sangat mudah, terutama di media-media sosial, blog dan sebagainya. Semakin tinggi kemajuan teknologi, menyebabkan arus informasi semakin cepat. Begitu pun dengan perkembangan puisi, yang saat ini telah berubah dalam segala hal.
Demikian sekelumit cerita sejarah puisi baru yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Monday, September 30, 2013

Sejarah Perkembangan Puisi di Indonesia

Puisi adalah kasusteraan yang paling tua. Sejak dahulu, berpuisi adalah cara kuno dalam masyarakat, atau pada waktu tersebut di sebut mantra. Dalam masyarakat Jawa terdapat tradisi nembang Jawa, lirik puisi yang dilagukan. Biasanya, nembang didendangkan pada acara-acara sakral dan penting, seperti acara mitoni, siraman, dan pesta desa lainnya.  Selain lirik puisi yang ditembangkan, juga bisa menggunakan kisah cerita, seperti kisah Raden Panji, Dewi Nawang Wulan, Jaka Tingkir, dan lainnya.
Puisi tidak hanya dilagukan untuk mengisahkan cerita, namun, puisi juga dapat dijadikan dialog-dialog dalam pementasan ludruk, ketoprak, drama tradisional Jawa, atau orang Sumatra Barat menyebutnya Randai. Puisi tak hanya indah kata-katanya, melainkan juga isinya yang mengandung petuah, nasihat, dan pesan untuk pendengar.
Dalam perkembangan puisi di Indonesia, dikenal dengan berbagai jenis tipografi da model puisi yang menunjukkan perkembangan struktur puisi tersebut. Ciri struktur puisi dari jaman ke jaman tidak hanya ditandai dengan struktur fisik, tetapi juga oleh struktur makna atau tematiknya.
Berikut perkembangan puisi di Indonesia, mulai dari angkatan balai pustaka, hingga puisi jaman sekarang.
1.      Balai Pustaka
Pada angkatan ini, puisi masih berupa mantra, pantun, dan syair, yang merupakan puisi terikat.
-    Mantra, jenis puisi tertua yang terdapat di dalam kesusastraan daerah di seluruh Indonesia. Kumpulan pilihan kata-kata yang dianggap gaib dan digunakan manusia untuk memohon sesuatu dari Tuhan. sehingga mantra tidak hanya memiliki kekuatan kata melainkan juga kekuatan batin.
-    Pantun dan Syair, puisi lama yang struktur tematik atau struktur makna dikemukkan menurut aturan jenis pantun atau syair, dalam hal ini, pantun dan syair masih berupa puisi terikat.
-     
2.      Pujangga Baru (1933-1945)
Jika pada angkatan balai pustaka penulisan puisi masih banyak dipengaruhi oleh puisi lama, maka pada angkatan Pujangga Baru diciptakan puisi baru, yang melepaskan ikatan-ikatan puisi lama. Sehingga munculnya jenis-jenis puisi baru, yaitu : distichon (2 baris), tersina (3 baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), oktaf (8 baris), soneta (14 baris).
Dalam periode ini terdapat beberapa julukan untuk penyair Indonesia, seperti Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru, dan ia disebut oleh H.B. Jassin sebagai Penyair Dewa Irama. J.E. Tatengkeng disebut sebagai Penyair Api Naionalisme, dan sebagainya.
Para penyair yang dapat dikategorikan msuk dalam periode Pujangga Baru adalah :
-         Amir Hamzah, “Nyanyi Sunyi” / 1937 dan “Buah Rindu” /1941
-         Sutan Takdir Alisyahbana, “Tebaran Mega” / 1936
-         Armijn Pane, “Jiwa Berjiwa” / 1939, “Gamelan Jiwa” / 1960
-         Jan Engel Tatengkeng “Rindu Dendam” / 1934
-         Asmara Hadi, “Api Nasionalisme”
-         Dll.

3.      Angkatan 45 (1945-1953)
Jika pada periode sebelumnya melakukan pembaharuan terhadap bentuk puisi, pada periode ini dilakukan perubahan menyeluruh. Bentuk puisi soneta, tersina, dan sebagainya tidak dipergunakan lagi. Dasar angkatan 45 ini adalah adanya ‘Surat Keperecayaan Gelanggang’, yang berbunyi :
Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.
Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.
Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.
Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.
Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.

Angkatan 45 memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      puisi memiliki struktur bebas
2.      kebanyakan beraliran ekspresionisme dan realisme
3.      diksi mengungkapkan pengalaman batin penyair
4.      menggunakan bahasa sehari-hari
5.      banyak puisi bergaya sinisme dan ironi
6.      dikemukakan permasalahan kemasyarakatan, dan kemanusiaan
Penyair yang dapat diktegorikan pada periode ini adalah sebagai berikut :
- Chairil Anwar Krikil Tajam / 1949, Deru Campur Debu / 1949, Tiga Menguak Takdir / 1950
-    Sitor Situmorang, Surat Kertas Hijau / 1954, Dalam Sajak / 1955, Wajah Tak Bernama / 1956, Zaman Baru / 1962
-    Harjadi S. Hartowardojo, Luka Bayang / 1964
-    Dll.


4.      Periode 1953-1961
Jika pada angkatan 45 yang menyuarakan kemerdekaan, semangat perjuangan dan patriotisme, maka pada periode ini membicarakan masalah kemasyarakatan yang menyangkut warna kedaerahan. Sifat revolusioner yang berapi-api, mulai merada. Mulai banyaknya puisi beraliran romantik dan kedaerahan dengan gaya penceritaan balada. Puisi pada periode ini banyak yang mengungkapkan subkultur, suasana muram, masalah sosial, cerita rakyat dan mitos (Atmo Karpo, Paman Ddoblang, dan sebagainya).
Cirri yang menonjol pada periode ini adalah munculnya politik dalam sastra, sehingga lahirnya LKN, LEKRA, LESBUMI, LKK, dan sebagainya.
Ciri khas puisi pada periode ini adalah :
1.      Bergaya epic (bercerita)
2.      Gaya mantra mulai dimasukkan dalam balada
3.      Gaya repetisi dan retorik semakin berkembang
4.      Banyak digambarkan suasana muram penuh derita
5.      Menerapkan masalah social, kemiskinan
6.      Dasar penciptaan balaa dari dongeng kepercayaan
Para penyair yang dapat digolongkan dalam periode ini adalah :
-         Willibrordus Surendra (W.S Rendra) Empat Kumpulan Sajak / 1961, Balada Orang-Orang Tercinta / 1957
-         Ramadhan Karta Hadimaja,  Priangan Si Jelita / 1958
-         Toto Sudarto Bachtiar, Suara / 1956
-         Dll.

5.      Angkatan 66 (1963-1970)
Masa ini didominasi oleh sajak demonstrasi atau sajak protes yang dibaca untuk mengobarkan semangat para pemuda dalam aksi demonstrasi, seperti pada tahun 1966 ketika sedang terjadi demonstrasi para pelajar dan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Lama. Penyair seperti Taufiq Ismail dan Rendra, membacakan sajak protes mereka didepan para pemuda.
Untuk mengobarkan semangat aktivitas kreatis angkatan 66, mulai munculah fasilitas-fasilitas sastra. Fasilitas tersebut antara lain, munculnya majalah Horison (1966), Budaja Djaja (1968, dan dibangunnya Taman Isail Maruki (TIM), yang menjadi pusat kebudayaan.
Pada periode ini berkembang dua aliran besar puisi. Aliran pertama adalah aliran neo-romantisme yang menegaskan sepi sebagai perlawanan yang bersifat metafisis, atas dunia. Penyair yang menganut aliran ini adalah Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Darmono, dan Abdul Hadu W.M.
Aliran yang kedua adalah aliran intelektualisme, aliran yang menekankan pada pengamatan kritis tentang dunia dan pengalaman pribadi. Penyair yang yang beraliran intelektualisme adalah Subagio Sastrowardoyo dan Toety Heraty.
Berikut penyair yang termasuk dalam angkatan 66 :
-         Taufiq Ismail, Tirani / 1966, Benteng / 1966
-         Sapardi Djoko Darmono, Dukamu Abadi / 1969, Mata Pisau / 1974
-         Linus Surjadi A.G., Pengakuan Pariyem / 1981
-         Dll.

6.      Puisi Kontemporer (1970 – sekarang)
Pada periode ini puisi disebut puisi kontemporer, puisi yang muncul pada masa kini dengan bentuk dan gaya yang tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya, dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Dalam puisi kontemporer, salah satu yang penting adalah adanya eksplorasi sejumlah kemungkinan baru, antara lain penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru.
Pada puisi kontemporer bertema protes, humanisme, religius, perjuangan, dan kritik sosial. Puisi kontemporer bergaya seperti mantra, menggunakan majas, bertipografi baru dengan banyak asosiasi bunyi,dan banyaknya penggunaan kata dari bahasa daerah yang menunjukkan kedaerahaannya.
Dalam dunia perpuisisan kontemporer, Sutardji mengebangakan puisi-puisi baru, dan mengiprovisasi puisinya. Hal ini terlihat pada sajak Sutardji ‘O, Amuk, Kapak’.
Yang termasuk penyair kontemporer adalah :
-         Sutardji Colzoum Bahri, O, Amuk, Kapak­ , Tragedi Winka Sihka, Batu
-         Emha Ainun Najib, ‘M’ Frustrasi / 1976, Nyanyian Gelandangan / 1981
-         Sapardi Djoko Darmono, Dukamu Abadi / 1969, Mata Pisau / 1974
-         Dll.


Daftar Pustaka
-         Susastra 6 Jurnal Ilmu Sastra Dan Budaya, Volume 3, Nomor 6, 2007, HISKI
-         Unmanradieta.blogspot.com

☝Thanks for reading guys. And please coment me ✍







Sumber

atau agar lebih jelasnya silahkan download file dibawah ini