Showing posts with label A Mustofa Bisri. Show all posts
Showing posts with label A Mustofa Bisri. Show all posts
Saturday, July 19, 2014
Friday, July 18, 2014
Nazar Ibu Di Karbala
pantulan mentari
senja dari kubah keemasan
mesjid dan makam sang cucu nabi
makin melembut
pada genangan
airmata ibu tua
bergulir-gulir
berkilat-kilat
seolah dijaga pelupuk
agar tak jatuh
indah warnanya
menghibur bocah berkaki satu
dalam gendongannya
tapi jatuh juga akhirnya
manik-manik bening berkilauan
menitik pecah
pada pipi manis kemerahan
puteranya
“ibu menangis ya, kenapa?”
meski kehilangan satu kaki
bukankah ananda selamat kini
seperti yang ibu pinta?”
“airmata bahagia, anakku
kerna permohonan kita dikabulkan
kita ziarah kemari hari ini
memenuhi nazar ibumu.”
cahaya lembut masih memantul-mantul
dari kedua matanya
ketika sang ibu tiba-tiba brenti
berdiri tegak di pintu makam
menggumamkan salam:
“assalamu ‘alaika ya sibtha rasulillah
salam bagimu, wahai cucu rasul
salam bagimu, wahai permata zahra.”
lalu dengan permatanya sendiri
dalam gendongannya
hati-hati maju selangkah-selangkah
menyibak para peziarah
yang begitu meriah
disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja
dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat
membisik munajat:
“terimakasih, tuhanku
dalam galau perang yang tak menentu
engkau hanya mengujiku
sebatas ketahananku
engkau hanya mengambil suami
gubuk kami
dan sebelah kaki
anakku
tak seberapa
dibanding cobamu
terhadap cucu rasulmu ini
engkau masih menjaga
kejernihan pikiran
dan kebeningan hati
tuhan,
kalau aku boleh meminta ganti
gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku
dengan kepasrahan yang utuh
dan semangat yang penuh
untuk terus melangkah
pada jalan lurusmu
dan sadarkanlah manusia
agar tak terus menumpahkan darah
mereka sendiri sia-sia
tuhan,
inilah nazarku
terimalah.”
Oleh :
A Mustofa Bisri
Thursday, July 17, 2014
Ibu
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam
Kaulah, ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu
(Tuhan,
aku bersaksi
ibuku telah melaksanakan amantMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).
Oleh :
A Mustofa Bisri
Wednesday, July 16, 2014
Di Pelataran Agung Mu Nan Lapang
Di pelataran
agungMu
nan lapang
kawanan burung merpati
sesekali
sempat memunguti butir-butir
bebijian
yang Engkau tebarkan
lalu terbang
lagi
menggores-gores
biru langit
melukis
puja-puji
yang hening
Di pelataran
agungMu
nan lapang
aku setitik noda
seta**
burung merpati menempel pada pekat
gumpalan
yang menyeret warna bias kelabu
berputaran
mengatur
melaju luluh
dalam gemuruh
talbiah,
takbir dan tahmit
Dikejar dosa-dosa
dalam
kerumuman dosa
ada sebaris
doa
siap
kuucapkan
lepas
terhanyut air mata
tersangkut
di kiswah nan hitam
Di pelataran
agungMu
nan lapang
aku
titik-titik ta** merpati
menggumpal
dalam titik noda berputaran,
mengabur,
melaju, luluh
dalam gemuruh
talbiah,
takbir dan
tahmit
mengejar
ampunan dalam lautan
ampunan
terpelanting
dalam qouf dan roja.
Oleh :
A Mustofa Bisri
Tuesday, July 15, 2014
Kaum Beragama Negri Ini
Tuhan,
lihatlah
betapa baik
kaum
beragama
negeri ini
mereka tak
mau kalah dengan kaum
beragama
lain
di
negeri-negeri lain.
Demi
mendapatkan ridhomu
mereka rela
mengorbankan
saudara-saudara
mereka
untuk
merebut tempat
terdekat
disisiMu
mereka
bahkan tega menyodok
dan menikam
hamba-hambaMu sendiri
demi
memperoleh RahmatmMu
mereka
memaafkan kesalahan dan
mendiamkan
kemungkaran
bahkan
mendukung kelaliman
Untuk
membuktikan
keluhuran
budi mereka,
terhadap
setanpun
mereka tak
pernah
berburuk
sangka
Tuhan,
lihatlah
betapa baik
kaum beragama
negeri ini
mereka terus
membuatkanmu
rumah-rumah
mewah
di antara
gedung-gedung kota
hingga di
tengah-tengah sawah
dengan
kubah-kubah megah
dan
menara-menara menjulang
untuk
meneriakkan namaMu
menambah
segan
dan keder
hamba-hamba
kecilMu yang
ingin sowan kepadaMu.
NamaMu
mereka nyanyikan dalam acara
hiburan
hingga pesta agung kenegaraan.
Mereka
merasa begitu dekat denganMu
hingga
masing-masing
merasa
berhak mewakiliMu.
Yang
memiliki kelebihan harta
membuktikan
kedekatannya
dengan harta
yang Engkau
berikan
Yang
memiliki kelebihan kekuasaan
membuktikan
kedekatannya dengan
kekuasaannya
yang Engkau limpahkan.
Yang
memiliki kelebihan ilmu
membuktikan
kedekatannya
dengan ilmu
yang Engkau
karuniakan.
Mereka yang
engkau anugerahi
kekuatan
sering kali bahkan merasa
diri Engkau
sendiri
Mereka bukan
saja ikut
menentukan
ibadah
tetapi juga
menetapkan
siapa ke
sorga siapa ke neraka.
Mereka
sakralkan pendapat mereka
dan mereka
akbarkan
semua yang
mereka lakukan
hingga
takbir
dan ikrar
mereka yang kosong
bagai perut
bedug.
Allah hu
akbar walilla ilham.
Oleh :
A Mustofa Bisri
Monday, July 14, 2014
Di Arafah
Terlentang aku
seenaknya dalam pelukan bukit-bukit
batu bertenda langit biru,
seorang anak entah
berkebangsaan apa
mengikuti anak mataku
dan dalam
isyarat bertanya-tanya
kapan Tuhan turun?
Aku tersenyum.
Setan mengira dapat mengendarai
matahari,
mengusik khusukku apa tak melihat
ratusan ribu hati putih
menggetarkan bibir,
melepas dzikir,
menjagamu
dari jutaan milyar malaikat
menyiramkan berkat.
Kulihat diriku
terapung-apung
dalam nikmat dan sianak
entah berkebangsaan apa
seperti melihat arak-arakan
karnaval menari-nari
dengan riangnya.
Terlentang aku
satu diantara jutaan tumpukan
dosa yang mencoba menindih,
akankah
kiranya bertahan dari banjir
air mata penyesalan
massal ini
Gunung-gunung batu
menirukan tasbih kami,
pasir menghitung wirid kami
dan sianak
yang aku tak tahu
berkebangsaan apa
tertidur dipangkuanku
pulas sekali
Oleh :
A Mustofa Bisri
Sunday, July 13, 2014
Bagi Mu
Bagimu kutancapkan kening kebanggaanku pada
rendah tanah,
telah kuamankan sedapat mungkin
maniku,
kuselamat-selamatkan Islamku
kini dengan
segala milikMu ini
kuserahkan kepadaMu Allah
terimalah.
Kepala bergengsi yang terhormat ini
dengan kedua
mata yang mampu menangkap
gerak-gerik dunia,
kedua telinga
yang dapat menyadap kersik-kersik
berita,
hidung yang bisa mencium wangi parfum
hingga borok manusia,
mulut yang sanggup menyulap
kebohongan jadi kebenaran
seperti yang lain hanyalah
sepersekian percik tetes anugrahMu.
Alangkah amat
mudahnya Engkau
melumatnya Allah,
sekali Engkau
lumat terbanglah cerdikku,
terbanglah gengsiku
terbanglah kehormatanku,
terbanglah kegagahanku,
terbanglah kebanggaanku,
terbanglah mimpiku,terbanglah hidupku.
Allah,
jika terbang-terbanglah,
sekarangpun aku pasrah,
asal menuju haribaan rahmatMu.
Oleh :
A Mustofa Bisri
Saturday, July 12, 2014
Sujud
Bagaimana kau hendak bersujud pasrah
sedang wajahmu yang bersih sumringah
keningmu yang mulia
dan indah begitu pongah
minta sajadah
agar tak menyentuh tanah.
Apakah kau melihatnya
seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu
dengan congkak,
tanah hanya patut diinjak,
tempat kencing dan berak
membuang ludah dan dahak
atau paling jauh hanya jadi lahan
pemanjaan nafsu
serakah dan tamak.
Apakah kau lupa
bahwa tanah adalah bapak
dari mana ibumu dilahirkan,
tanah adalah ibu yang menyusuimu
dan memberi makan
tanah adalah kawan yang memelukmu
dalam kesendirian
dalam perjalanan panjang
menuju keabadian.
Singkirkan saja
sajadah mahalmu
ratakan keningmu,
ratakan heningmu,
tanahkan wajahmu,
pasrahkan jiwamu,
biarlah rahmat agung
Allah membelai
dan terbanglah kekasih
Oleh : A Mustofa Bisri
Friday, July 11, 2014
Gelisahku
gelisahku adalah gelisah purba
adam yang harus pergi mengembara tanpa diberitahu
kapan akan kembali
bukan sorga benar yang kusesali karena harus kutinggalkan
namun ngungunku mengapa kau tinggalkan
aku sendiri
sesalku karena aku mengabaikan kasihmu yang agung
dan dalam kembaraku di mana kuperoleh lagi kasih
sepersejuta saja kasihmu
jauh darimu semakin mendekatkanku kepadamu
cukup sekali, kekasih
tak lagi,
tak lagi sejenak pun
aku berpaling
biarlah gelisahku jadi dzikirku
Oleh :
A Mustofa Bisri
Thursday, July 10, 2014
Stasiun
kereta rinduku datang menderu
gemuruhnya meningkahi gelisah dalam kalbu
membuatku semakin merasa terburu-buru
tak lama lagi bertemu, tak lama lagi bertemu
sudah kubersih-bersihkan diriku
sudah kupatut-patutkan penampilanku
tetap saja dada digalau rindu
sabarlah rindu, tak lama lagi bertemu
tapi sekejap terlena
stasiun persinggahan pun berlalu
meninggalkanku sendiri lagi
termangu
Karya : A Mustofa Bisri
Subscribe to:
Posts (Atom)