Showing posts with label Joko Pinurbo. Show all posts
Showing posts with label Joko Pinurbo. Show all posts

Friday, January 1, 2016

Joko Pinurbo




BIODATA 


Nama               : Joko Pinurbo

Tempat Lahir    : Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Tanggal Lahir    : 11 Mei 1962

Umur               : 53 Tahun

Pekerjaan        : Sastrawan

Tahun Aktif      : 1983 sampai sekarang

Lulusan            : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta

Pernah Jadi      : Redaktur Basis, Gatra, dan Sadhar terbitan IKIP Sanata Dharma

Penghargaan    

-  Puisi Terbaik Dewan Kesenian 

-     Hadiah Sastra Lontar

-   Sih Award, penghargaan puisi terbaik jurnal puisi

-   Tokoh sastra versi majalah Tempo.

-   Khatulistiwa Literary Award lewat bukunya, Kekasihku.

-   Dalam lingkup internasional, Joko Pinurbo pernah

-   Diundang membaca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee 2001 di

   Jakarta,

-   Diundang membaca puisi pada Festival Sastra/Seni Winternachten 

   2002 di Belanda

-   Diundang pada Forum Puisi Indonesia 2002 di Hamburg, Jerman

-   Diundang dalam Festival Puisi Internasional-Indonesia 2002 di Solo.



PENGALAMAN PRIBADI


Joko Pinurbo mulai berkarya dalam puisi pada usia sekitar 20 tahun, walaupun ia telah 

membaca banyak sekali puisi Indonesia sejak remaja. Dalam menulis puisi pun, ia kerap 

mencampur antara realitas dengan impian, hikmat dengan unsur-unsur komik, si angkuh dan 

si pejalan kaki, yang semua itu dapat ditemukan dalam satu baris dan diucapkan dalam satu 

hembusan napas. Citra reliji dapat tampil berdampingan dengan komentar-komentar berbau 

sosial politik pun percakapan yang intim. Beberapa karya puisi Joko Pinurbo tampaknya 

merupakan parodi/komedi dari tradisi puisi Indonesia. Selain itu ia juga gemar menggunakan 

pencitraan yang kelihatannya klise yang jarang ditemukan dalam puisi Indonesia, misalnya 

pengacuannya pada objek objek yang biasa ditemukan sehari-hari seperti sarung, 

telepon genggam, kamar mandi, celana panjang merupakan ciri khas dari karya-karya Joko 

Pinurbo. Selain puisi, Joko Pinurbo juga menulis esai. Karya-karyanya dipublikasikan di 

berbagai majalah dan surat kabar antara lain Horison, Basis, Kalam, Citra Yogya, Jurnal Puisi, 

Mutiara, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Kompas dan Bernas.



PUISI KARYA JOKO PINURBO
Judul Pengarang Kategori Puisi
Aku Tidur Berselimutkan Uang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Anak Seorang Perempuan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Atau Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bayi Di Dalam Kulkas Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bayi Mungil Di Kamar Mandi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bertelur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bolong Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 1 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 2 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 3 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bulu Matamu : Padang Ilalang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 1 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 2 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 3 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Dangdut Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Kulkas : Namamu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Pojok Iklan Satu Halaman Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Salon Kecantikan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Doa Mempelai Joko Pinurbo Puisi Lihat
Elegi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Gadis Enam Puluh Tahun Joko Pinurbo Puisi Lihat
Gadis Malam Di Tembok Kota Joko Pinurbo Puisi Lihat
Hampir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Hutan Karet Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ibu Yang Tabah Joko Pinurbo Ibu Lihat
Jauh Joko Pinurbo Puisi Lihat
Jurang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Keranda Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kereta Api Menuju Jakarta Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Semalam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Senja Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Seorang Nyumin Joko Pinurbo Puisi Lihat
Korban Joko Pinurbo Puisi Lihat
Layang-Layang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Loper Koran Joko Pinurbo Puisi Lihat
Lukisan Berwarna Joko Pinurbo Puisi Lihat
Malam Pembredelan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mampir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mata Air Joko Pinurbo Puisi Lihat
Minggu Pagi di Sebuah Puisi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mudik Joko Pinurbo Puisi Lihat
Obituari Bambang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pacar Kecilku Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pada Lukisan Monalisa Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penagih Utang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pengamen Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjaga Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjual Buah Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjual Celana Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penumpang Terakhir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyair Kecil Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyair Tardji Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyanyi Yang Pulang Dinihari Joko Pinurbo Puisi Lihat
Perias Jenazah Joko Pinurbo Puisi Lihat
Perjalanan Pulang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pesan Uang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pohon Bungur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pulang Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ranjang Kematian Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ranjang Putih Joko Pinurbo Puisi Lihat
Rendezvous Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ronda Joko Pinurbo Puisi Lihat
Rumah Kontrakan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Sehabis Tidur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Senandung Becak Joko Pinurbo Puisi Lihat
Sepasang Tamu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Serdadu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Telepon Genggam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tengah Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tikus Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tukang Cukur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Utan Kayu Joko Pinurbo Puisi Lihat

Tuesday, December 29, 2015

Perias Jenazah




Untuk terakhir kali perempuan cantik itu akan merias jenazah.
Setelah itu selesailah. Ia sangat lelah setelah sekian lama
mengurusi keberangkatan para arwah .

Kini ia harus merias jenazah seorang perempuan
yang ditemukan tewas di bawah jembatan, tidak jelas
asal-usulnya, serba gelap identitasnya, tidak ada yang sudi
mengurusnya, dan untuk gampangnya orang menyebutnya
gelandangan atau pelacur jalanan, toh petugas ketidakamanan
bilang ah paling ia mati dikerjain preman-preman.

Perias jenazah itu tertawa nyaring begitu melihat jenazah
yang akan diriasnya sangat mirip dengan dirinya.
Kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil dipeluknya
jenazah perempuan malang itu.
“Biar kurias parasmu dengan air mataku hingga sempurna ajalmu.”

Beberapa hari kemudian perias jenazah itu meninggal dunia
dan tak ada yang meriasnya.
Jenazahnya tampak lembut dan cantik, dan arwah-arwah
yang pernah didandaninya pasti akan sangat menyayanginya.

Kadang perias jenazah itu diam-diam memasuki tidurku
dan merenungi wajahku. Seakan ia tahu bahwa aku
yatim piatu, tidak jelas asal-usulnya, serba gelap identitasnya.
Kulihat wajah cantiknya berkelebatan di atas ranjang kata-kataku.


Oleh :
Joko Pinurbo

Monday, December 28, 2015

Jurang




Berputar-putar di rimba ranjang, mencari jalan setapak
menuju tubuhmu yang terjal dan curam, sementara hari
mulai gelap dan hujan sebentar lagi datang, awas ada
penjahat siap menghadang, akhirnya aku tersesat
dan terperosok ke dalam jurang.
Tubuhmu terlindung jauh di luar ranjang.


Oleh :
Joko Pinurbo

Saturday, December 26, 2015

Doa Mempelai




Kado buat ade & Fajar

Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.
Perjalanan mungkin akan panjang berliku
dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
tapi insyaallah suatu saat
bisa kutemukan sebuah kiblat
di ufuk barat tubuhmu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Friday, December 25, 2015

Gadis Enam Puluh Tahun




Gadis enam puluh tahun berdiri di ambang jendela,
berbincang-bincang dengan senja.
Senja menggerayangi wajahnya, dan ia merasa
sorot senja sangat menyilaukan matanya.
"Ngapain ngeliatin gue melulu? Ntar gue colong mata lu!"
Senja meredup, kemudian angslup ke pelupuknya.

Demikianlah, setiap berangkat bermain layang-layang
di kuburan, aku melihat gadis buta itu sedang berdiri
di ambang jendela, berpacaran dengan senja,
dan sorot senja memancar dari kelopak matanya.


Oleh :
Joko Pinurbo

Thursday, December 24, 2015

Penjaga Malam




Penjaga malam itu masih setia menjaga rumah besar
yang tak pernah dihuni pemiliknya.
Ia sangat mencintai rumah kosong itu,
bahkan merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Suatu malam ia berhasil menangkap seorang penjahat
yang berusaha masuk ke rumah itu tanpa seizinnya.
Ia tidak rela rumah itu diganggu karena, ya itu tadi,
ia merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Keesokan harinya penjaga malam itu tak kelihatan lagi
batang hidungnya. Ia sudah ditangkap polisi
karena telah menghajar pemilik rumah yang dijaganya.


Oleh :
Joko Pinurbo

Wednesday, December 23, 2015

Aku Tidur Berselimutkan Uang




Aku tidur berselimutkan uang.
Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang.


Oleh :
Joko Pinurbo

Tuesday, December 22, 2015

Penumpang Terakhir




untuk Joni Ariadinata 

Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak
yang mangkal di bawah pohon beringin itu dan memintanya
mengantarku ke tempat-tempat yang aku suka.
Entah mengapa aku sangat suka tamasya dengan becaknya.
Mungkin karena genjotannya enak, lancar pula lajunya.

Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan.
Aku akan menabur kembang di atas makam nenek moyang.
Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku khawatir bang becak
akan kecapaian, tapi orang tua itu bilang tenang tenang.

Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya bercerita
tentang anak-anaknya yang pergi merantau ke Jakarta
dan mereka sekarang alhamdulillah sudah jadi orang.
Mereka sangat sibuk dicari uang dan hanya sesekali pulang.
Kalaupun pulang, belum tentu mereka sempat tidur di rumah
karena repot mencari ini itu, termasuk mencari utang
buat ongkos pulang ke perantauan.

Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan,
batuknya mengamuk, pandang matanya berkunang-kunang,
aduh kasihan. “Biar gantian saya yang menggenjot, Pak.
Bapak duduk manis saja, pura-pura jadi penumpang.”

Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju kuburan,
sementara si abang becak tertidur nyaman, bahkan mungkin
bermimpi, di dalam becaknya sendiri.

Sampai di kuburan aku berseru bangun dong pak,
tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas tidurnya.
Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan kutaburkan
di atas makam nenek moyangku atau di atas tubuh
bang becak yang kesepian itu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Monday, December 21, 2015

Lukisan Berwarna





untuk Andreas dan Dorothea 

Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.

Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.

Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.

Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.

Airmata beratus warna kautumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.


Oleh :
Joko Pinurbo

Sunday, December 20, 2015

Bayi Mungil Di Kamar Mandi

 

 

 

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.

Lengking suaranya menyusup jauh ke relung tidurku.

 

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.

Lengking suaranya menggetarkan lidah kata-kataku.

 

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.

Lengking suaranya kupinjam untuk mengucapkan lagi aku.

 

 

Oleh :

Joko Pinurbo

Saturday, December 19, 2015

Mampir

Tadi aku mampir ke tubuhmu
tapi tubuhmu sedang sepi
dan aku tidak berani mengetuk pintunya.
Jendela di luka lambungmu masih terbuka
dan aku tidak berani melongoknya.


Oleh :
Joko Pinurbo