Showing posts with label WS Rendra. Show all posts
Showing posts with label WS Rendra. Show all posts

Wednesday, July 9, 2014

Tahanan


Atas ranjang batu 

tubuhnya panjang 

bukit barisan tanpa bulan 

kabur dan liat 

dengan mata sepikan terali

Di lorong-lorong 

jantung matanya 

para pemuda bertangan merah 

serdadu-serdadu Belanda rebah

Di mulutnya menetes 

lewat mimpi 

darah di cawan tembikar 

dijelmakan satu senyum 

barat  di perut gunung 

(Para pemuda bertangan merah 

adik lelaki neruskan dendam)

Dini hari bernyanyi 

di luar dirinya 

Anak lonceng 

menggeliat enam kali 

di perut ibunya 

Mendadak 

dipejamkan matanya

Sipir memutar kunci selnya 

dan berkata 

-He, pemberontak 

hari yang berikut bukan milikmu !

Diseret di muka peleton algojo 

ia meludah 

tapi tak dikatakannya 

-Semalam kucicip sudah 

betapa lezatnya madu darah.

Dan tak pernah didengarnya 

enam pucuk senapan 

meletus bersama


Oleh :

W.S. Rendra

Tuesday, July 8, 2014

Sajak Widuri Untuk Joki Tobing


Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir. 

Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba. 

Orang-orang miskin menentang kemelaratan. 

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu, 

kerna wajahmu muncul dalam mimpiku. 

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu 

karena terlibat aku di dalam napasmu. 

Dari bis kota ke bis kota 

kamu memburuku. 

Kita duduk bersandingan, 

menyaksikan hidup yang kumal. 

Dan perlahan tersirap darah kita, 

melihat sekuntum bunga telah mekar, 

dari puingan masa yang putus asa.


Oleh : 

W.S. Rendra

Monday, July 7, 2014

Sajak Tangan


Inilah tangan seorang mahasiswa, 

tingkat sarjana muda. 

Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai, 

yang terpegang anderox hostes berumbai, 

Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu, 

tak ada jawaban. 

Aku tendang pintu, 

pintu terbuka. 

Di balik pintu ada lagi pintu. 

Dan selalu : 

ada tulisan jam bicara 

yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana 

dan aku keluar mengembara. 

Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan 

muncul di depanku. 

Tanganku aku sodorkan. 

Nampak asing di antara tangan beribu. 

Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur, 

tangan nelayan yang bergaram, 

aku jabat dalam tanganku. 

Tangan mereka penuh pergulatan 

Tangan-tangan yang menghasilkan. 

Tanganku yang gamang 

tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong, 

tangan pejabat, 

gemuk, luwes, dan sangat kuat. 

Tanganku yang gamang dicurigai, 

disikat.

Tanganku mengepal. 

Ketika terbuka menjadi cakar. 

Aku meraih ke arah delapan penjuru. 

Di setiap meja kantor 

bercokol tentara atau orang tua. 

Di desa-desa 

para petani hanya buruh tuan tanah. 

Di pantai-pantai 

para nelayan tidak punya kapal. 

Perdagangan berjalan tanpa swadaya. 

Politik hanya mengabdi pada cuaca….. 

Tanganku mengepal. 

Tetapi tembok batu didepanku. 

Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku. 

Aku berjalan mengembara. 

Aku akan menulis kata-kata kotor 

di meja rektor


Oleh : 

W.S. Rendra

Sunday, July 6, 2014

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya


Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang

Dan juga masa depan kita

yang hampir rampung

dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri

dan terasing dengan nasib kita

Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka duka kita bukanlah istimewa

kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

bekerja membalik tanah

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu

meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang

ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.

Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.

Dan kenangkanlah pula

bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.

Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.

Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.

Kita menjadi goyah dan bongkok

kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita

tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kaukenangkan encokmu

kenangkanlah pula

bahwa kita ditantang seratus dewa.


Oleh :

WS Rendra

Saturday, July 5, 2014

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api


Bagaimana mungkin kita bernegara 

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya 

Bagaimana mungkin kita berbangsa 

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup 

bersama ? 

Itulah sebabnya 

Kami tidak ikhlas 

menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris 

dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu 

sehingga menjadi lautan api 

Kini batinku kembali mengenang 

udara panas yang bergetar dan menggelombang, 

bau asap, bau keringat 

suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki 

langit berwarna kesumba

Kami berlaga 

memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia. 

Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata 

yang bisa dialami dengan nyata 

Mana mungkin itu bisa terjadi 

di dalam penindasan dan penjajahan 

Manusia mana 

Akan membiarkan keturunannya hidup 

tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah 

Hidup yang diperkembangkan 

dan hidup yang dipertahankan 

Itulah sebabnya kami melawan penindasan 

Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan 

bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua 

Aku terjaga dari tidurku 

di tengah malam di pegunungan 

Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu 

yang dibawa oleh mimpi kepadaku ? 

Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ? 

Apakah ini deru perjuangan masa silam 

di tanah periangan ? 

Ataukah gaduh hidup yang rusuh 

karena dikhianati dewa keadilan. 

Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku 

dibangunkan oleh mimpi ? 

Apakah aku tersentak 

Oleh satu isyarat kehidupan ? 

Di dalam kesunyian malam 

Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku ! 

Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku 

Telah tumpah di Sukakarsa 

Di Dayeuh Kolot 

Di Kiara Condong 

Di setiap jejak medan laga. Kini 

Kami tersentak, 

Terbangun bersama. 

Putera-puteriku, apakah yang terjadi? 

Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu, 

Apakah kita masih sama-sama setia 

Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa 

Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga 

Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi 

Dan menghadapi pertanyaan jaman : 

Apakah yang terjadi ? 

Apakah yang telah kamu lakukan ? 

Apakah yang sedang kamu lakukan ? 

Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna 

Dari jawaban yang kita berikan.


Oleh :

W.S. Rendra

Friday, July 4, 2014

Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon


Inilah sajakku, 

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas, 

dengan kedua tangan kugendong di belakang, 

dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman. 

Aku melihat gambaran ekonomi 

di etalase toko yang penuh merk asing, 

dan jalan-jalan bobrok antar desa 

yang tidak memungkinkan pergaulan. 

Aku melihat penggarongan dan pembusukan. 

Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi. 

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran. 

Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang. 

Dan sebatang jalan panjang, 

punuh debu, 

penuh kucing-kucing liar, 

penuh anak-anak berkudis, 

penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari, 

menyusuri jalan sejarah pembangunan, 

yang kotor dan penuh penipuan. 

Aku mendengar orang berkata : 

“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana. 

Di sini, demi iklim pembangunan yang baik, 

kemerdekaan berpolitik harus dibatasi. 

Mengatasi kemiskinan 

meminta pengorbanan sedikit hak asasi” 

Astaga, ta”” kerbo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ? 

Di negeri ini hak asasi dikurangi, 

justru untuk membela yang mapan dan kaya. 

Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa, 

dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan, 

berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan. 

Aku mendengar pengadilan sandiwara. 

Aku mendengar warta berita. 

Ada gerilya kota merajalela di Eropa. 

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis, 

seorang yang gigih, melawan buruh, 

telah diculik dan dibunuh, 

oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan. 

Kakiku ngilu, 

dan rokok di mulutku padam lagi. 

Aku melihat darah di langit. 

Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang. 

Yang kuasa serba menekan. 

Yang marah mulai mengeluarkan senjata. 

Baj***** dilawan secara baj*****. 

Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang. 

Bila pengadilan tidak menindak baj***** resmi, 

maka baj***** jalanan yang akan diadili. 

Lalu apa kata nurani kemanusiaan ? 

Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ? 

Apakah orang harus meneladan tingkah laku baj***** resmi ? 

Bila tidak, kenapa baj***** resmi tidak ditindak ? 

Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala ! 

Singkat tapi menggetarkan hati ! 

Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana ! 

Kerna langit di badan yang tidak berhawa, 

dan langit di luar dilabur bias senjakala, 

maka nurani dibius tipudaya. 

Ya ! Ya ! Akulah seorang tua ! 

Yang capek tapi belum menyerah pada mati. 

Kini aku berdiri di perempatan jalan. 

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing. 

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak. 

Sebagai seorang manusia.


Catatan :

baj***** gabungkan dengan ***ingan


Oleh : 

W.S. Rendra

Thursday, July 3, 2014

Sajak Seonggok Jagung


Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda 

yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu, 

sang pemuda melihat ladang; 

ia melihat petani; 

ia melihat panen; 

dan suatu hari subuh, 

para wanita dengan gendongan 

pergi ke pasar ……….. 

Dan ia juga melihat 

suatu pagi hari 

di dekat sumur 

gadis-gadis bercanda 

sambil menumbuk jagung 

menjadi maisena. 

Sedang di dalam dapur 

tungku-tungku menyala. 

Di dalam udara murni 

tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda. 

Ia siap menggarap jagung 

Ia melihat kemungkinan 

otak dan tangan 

siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda tamat SLA 

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa. 

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu 

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta . 

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik. 

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase. 

Ia melihat saingannya naik sepeda motor. 

Ia melihat nomor-nomor lotre. 

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal. 

Seonggok jagung di kamar 

tidak menyangkut pada akal, 

tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar 

tak akan menolong seorang pemuda 

yang pandangan hidupnya berasal dari buku, 

dan tidak dari kehidupan. 

Yang tidak terlatih dalam metode, 

dan hanya penuh hafalan kesimpulan, 

yang hanya terlatih sebagai pemakai, 

tetapi kurang latihan bebas berkarya. 

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya : 

Apakah gunanya pendidikan 

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing 

di tengah kenyataan persoalannya ? 

Apakah gunanya pendidikan 

bila hanya mendorong seseorang 

menjadi layang-layang di ibukota 

kikuk pulang ke daerahnya ? 

Apakah gunanya seseorang 

belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, 

atau apa saja, 

bila pada akhirnya, 

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata : 

“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”


Oleh : 

W.S. Rendra

Wednesday, July 2, 2014

Sajak Sebotol Bir


Menenggak bir sebotol, 

menatap dunia, 

dan melihat orang-orang kelaparan. 

Membakar dupa, 

mencium bumi, 

dan mendengar derap huru-hara.

Hiburan kota besar dalam semalam, 

sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa ! 

Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

Mengapa kita membangun kota metropolitan ? 

dan alpa terhadap peradaban di desa ? 

Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan, 

dan tidak kepada pengedaran ?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri, 

Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing 

akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam 

Kota metropolitan di sini, 

adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, 

Australia, dan negara industri lainnya.

Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ? 

Yang menghubungkan desa-desa dengan desa-desa ? 

Kini telah terlantarkan. 

Menjadi selokan atau kubangan. 

Jalan lalu lintas masa kini, 

mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu, 

adalah alat penyaluran barang-barang asing dari 

pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan 

bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus, 

tidak untuk petani, 

tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai. 

Di mana kita hanya mampu berak dan makan, 

tanpa ada daya untuk menciptakan. 

Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ? 

Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik 

yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan…….. 

harus senantiasa menghasilkan…. 

Dan akhirnya memaksa negara lain 

untuk menjadi pasaran barang-barang kita ? 

…………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ? 

Apakah pemikiran ekonomi kita 

hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ? 

Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ? 

Apakah kita akan hanyut saja 

di dalam kekuatan penumpukan 

yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan 

terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ? 

……………………………….

Kita telah dikuasai satu mimpi 

untuk menjadi orang lain. 

Kita telah menjadi asing 

di tanah leluhur sendiri. 

Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi, 

dan menghamba ke Jakarta. 

Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi 

dan menghamba kepada Jepang, 

Eropa, atau Amerika.


Oleh : 

W.S. Rendra

Tuesday, July 1, 2014

Sajak Sebatang Lisong


Menghisap sebatang lisong 

melihat Indonesia Raya, 

mendengar 130 juta rakyat, 

dan di langit 

dua tiga cukong mengangkang, 

berak di atas kepala mereka

Matahari terbit. 

Fajar tiba. 

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak 

tanpa pendidikan.

Aku bertanya, 

tetapi pertanyaan-pertanyaanku 

membentur meja kekuasaan yang macet, 

dan papantulis-papantulis para pendidik 

yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak 

menghadapi satu jalan panjang, 

tanpa pilihan, 

tanpa pepohonan, 

tanpa dangau persinggahan, 

tanpa ada bayangan ujungnya. 

…………………

Menghisap udara 

yang disemprot deodorant, 

aku melihat sarjana-sarjana menganggur 

berpeluh di jalan raya; 

aku melihat wanita bunting 

antri uang pensiun.

Dan di langit; 

para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas, 

bahwa bangsa mesti dibangun; 

mesti di-up-grade 

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang. 

Langit pesta warna di dalam senjakala 

Dan aku melihat 

protes-protes yang terpendam, 

terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya, 

tetapi pertanyaanku 

membentur jidat penyair-penyair salon, 

yang bersajak tentang anggur dan rembulan, 

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya 

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan 

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan 

berkunang-kunang pandang matanya, 

di bawah iklan berlampu neon, 

Berjuta-juta harapan ibu dan bapak 

menjadi gemalau suara yang kacau, 

menjadi karang di bawah muka samodra. 

………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. 

Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, 

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. 

Kita mesti keluar ke jalan raya, 

keluar ke desa-desa, 

mencatat sendiri semua gejala, 

dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku 

Pamplet masa darurat. 

Apakah artinya kesenian, 

bila terpisah dari derita lingkungan. 

Apakah artinya berpikir, 

bila terpisah dari masalah kehidupan.


Oleh : 

W.S. Rendra

Monday, June 30, 2014

Sajak S L A


Murid-murid mengobel klentit ibu gurunya 

Bagaimana itu mungkin ? 

Itu mungkin. 

Karena tidak ada patokan untuk apa saja. 

Semua boleh. Semua tidak boleh. 

Tergantung pada cuaca. 

Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja. 

Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata-kata.

Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang. 

Ibu guru ingin hiburan dan cahaya. 

Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor. 

Dan juga ingin jaminan pil penenang, 

tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter. 

Maka berkatalah ia 

Kepada orang tua murid-muridnya : 

“Kita bisa mengubah keadaan. 

Anak-anak akan lulus ujian kelasnya, 

terpandang di antara tetangga, 

boleh dibanggakan pada kakak mereka. 

Soalnya adalah kerjasama antara kita. 

Jangan sampai kerjaku terganggu, 

karna atap bocor.”

Dan papa-papa semua senang. 

Di pegang-pegang tangan ibu guru, 

dimasukan uang ke dalam genggaman, 

serta sambil lalu, 

di dalam suasana persahabatan, 

te***nya disinggung dengan siku.

Demikianlah murid-murid mengintip semua ini. 

Inilah ajaran tentang perundingan, 

perdamaian, dan santainya kehidupan.

Ibu guru berkata : 

“Kemajuan akan berjalan dengan lancar. 

Kita harus menguasai mesin industri. 

Kita harus maju seperti Jerman, 

Jepang, Amerika. 

Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma.”

Murid-murid tertawa, 

dan mengeluarkan rokok mereka.

“Karena mengingat kesopanan, 

jangan kalian merokok. 

Kelas adalah ruangbelajar. 

Dan sekarang : daftar logaritma !”

Murid-murid tertawa dan berkata : 

“Kami tidak suka daftar logaritma. 

Tidak ada gunanya !”

“kalian tidak ingin maju ?”

“Kemajuan bukan soal logaritma. 

Kemajuan adalah soal perundingan.”

“Jadi apa yang kalian inginkan ?”

“Kami tidak ingin apa-apa. 

Kami sudah punya semuanya.”

“Kalian mengacau !”

“Kami tidak mengacau. 

Kami tidak berpolitik. 

Kami merokok dengan santai. 

Seperti ayah-ayah kami di kantor mereka : 

santai, tanpa politik 

berunding dengan Cina 

berunding dengan Jepang 

menciptakan suasana girang. 

Dan di saat ada pemilu, 

kami membantu keamanan, 

meredakan partai-partai.”

Murid-murid tertawa. 

Mereka menguasai perundingan. 

Ahli lobbying

Faham akan gelagat. 

Pandai mengikuti keadaan. 

Mereka duduk di kantin, 

minum sitrun, 

menghindari ulangan sejarah. 

Mereka tertidur di bangku kelas, 

yang telah mereka bayar sama mahal 

seperti sewa kamar di hotel. 

Sekolah adalah pergaulan, 

yang ditentukan oleh mode, 

dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan. 

Dan bila ibu guru berkata : 

“Keluarkan daftar logaritma !” 

Murid-murid tertawa. 

Dan di dalam suasana persahabatan, 

mereka mengobel ibu guru mereka.


Oleh : 

W.S. Rendra

Sunday, June 29, 2014

Sajak Pulau Bali


Sebab percaya akan keampuhan  industri 

dan yakin bisa memupuk modal nasional 

dari kesenian dan keindahan alam, 

maka Bali menjadi obyek pariwisata.

Betapapun : 

tanpa basa-basi keyakinan seperti itu, 

Bali harus dibuka untuk pariwisata. 

Sebab : 

pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin, 

dan maskapai penerbangan harus berjalan. 

Harus ada orang-orang untuk diangkut. 

Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.

Dan waktu senggang manusia, 

serta masa berlibur untuk keluarga, 

harus bisa direbut oleh maskapai 

untuk diindustrikan.

Dan Bali, 

dengan segenap kesenian, 

kebudayaan, dan alamnya, 

harus bisa diringkaskan, 

untuk dibungkus dalam kertas kado, 

dan disuguhkan pada pelancong.

Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia, 

di muka perkemahan kaum Badui, 

di sisi mana pun yang tak terduga, 

lebih mendadak dari mimpi, 

merupakan kejutan kebudayaan.

Inilah satu kekuasaan baru. 

Begitu cepat hingga kita terkesiap. 

Begitu lihai sehingga kita terkesima.

Dan sementara kita bengong, 

pesawat terbang jet yang muncul dari mimpi, 

membawa bentuk kekuatan modalnya : 

lapangan terbang. “hotel – bistik – dan – coca cola”, 

jalan raya, dan para pelancong.

“Oh, look, honey – dear ! 

Lihat orang-orang pribumi itu! 

Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera. 

Fantastic ! Kita harus memotretnya ! 

…………………………..

Awas ! Jangan dijabat tangannya ! 

senyum saja and say hello

You see, tangannya kotor 

Siapa tahu ada telor cacing di situ. 

…………………….

My God, alangkah murninya mereka. 

Ia tidak menutupi te***nya ! 

Look, John, ini benar-benar te***. 

Lihat yang ini ! O, sempurna ! 

Mereka bebas dan spontan. 

Aku ingin seperti mereka….. 

Eh, maksudku….. 

Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja. 

Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha. 

Looknow, John, jangan cemberut ! 

Berdirilah di sampingnya, 

aku potret di sini. 

Ah ! Fabolous !”

Ia tidak menutupi te***nya ! 

Look, John, ini benar-benar te***. 

Lihat yang ini ! O, sempurna ! 

Mereka bebas dan spontan. 

Aku ingin seperti mereka….. 

Eh, maksudku….. 

Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja. 

Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha. 

Looknow, John, jangan cemberut ! 

Berdirilah di sampingnya, 

aku potret di sini. 

Ah ! Fabolous !”

Dan Bank Dunia 

selalu tertarik membantu negara miskin 

untuk membuat proyek raksasa. 

Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.

Dan kemajuan kita 

adalah kemajuan budak 

atau kemajuan penyalur dan pemakai.

Maka di Bali 

hotel-hotel pribumi bangkrut 

digencet oleh packaged tour.

Kebudayaan rakyat ternoda 

digencet standar dagang internasional.

Tari-tarian bukan lagi satu mantra, 

tetapi hanya sekedar tontonan hiburan. 

Pahatan dan ukiran  bukan lagi ungkapan jiwa, 

tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.

Hidup dikuasai kehendak manusia, 

tanpa menyimak jalannya alam. 

Kekuasaan kemauan manusia, 

yang dilembagakan dengan kuat, 

tidak mengacuhkan naluri ginjal, 

hati, empedu, sungai, dan hutan. 

Di Bali : 

pantai, gunung, tempat tidur dan pura, 

telah dicemarkan


Oleh : 

W.S. Rendra