Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Tuesday, June 2, 2015

Sajak Orang Tua Seribu

Bapakku satu

Ibuku satu

Orang tuaku seribu


Yang satu ngajari sembahyang

Lainnya nyuruh edan

Yang satu ngasih kitab Qur’an

Lainnya menyodorkan minuman

Yang satu berkhotbah kebaikan

Lainnya mendorong ganggu istri orang

Lainnya lagi penuh kebajikan

Sekaligus bajingan


Langit muntah

Hujan tumpah

Mancur ke tenggorokan bumi

Membanjirkan sampah kotoran

Dari selokan dan kali-kali


Bapakku satu

Ibuku satu

Orang tuaku misteri

Hiruk pikuk yang sunyi

Satu wajah

Ganti beribu kali


Ibu hamil karena Tuhan

Lahir aku tercampak di air pasang

Yang bergerak menyeret tanpa ampunan

Yeaahh!

Kini ambil putusan


Si Diam bergerak ke sebaliknya

Balikkan badan

Curi ruang di antara ruang

Sang Maha Gunung terletak sumbernya

Sampai darah kering kutatap ia!



Oleh :

Emha Ainun Najib

Thursday, May 21, 2015

Sajak

Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Khusus untuk memulangkan diriku

Kepada kumandang tangis bayi, yang telanjang

Yang hening lagunya bergaung

Ke ladang-ladang jiwa

Yang meripatnya bening

Dan yang semua geraknya

Dibimbing

Oleh kegaiban


Demi rembulan di larut malam

Yang bagai kereta kencana

Ditarik oleh kuda siluman

Yang bangkit dari cakrawala

Yang bangkit begitu saja

Berderap

Perlahan

Dan menciptakan gemuruh

Dalam kediaman


Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Untuk mengusap kening jiwa yang berabad menangis

Jiwa Adam

Rintih kerinduan

Yang mencegatnya di ujung jalan

Dan yang mencegatku kini

Dalam derita dan keasingan

Yang terus menjelma

Yang mengawali setiap pekik kelahiran

Dan yang terus berkembang dalam kenangan


Demi rembulan yang bagai pejalan sunyi

Menjelajah seluruh malam

Sehingga terciptalah dunia dan kehidupan

Dari angin, embun dan dedaunan

Yang berkilat

Karena cahayanya

Yang seakan mengisyaratkan harapan

Bagi kerinduanku nantinya


Ah, Tuhan!

Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Buat menggoda!

Di semak-semak ini

Di hutan gelap yang tercipta

Dalam gaung jiwa

Dalam gelegak samudera

Dalam gelegak darahku

Yang letih

Dan maya


kutikamkan pisau ini

ke dadaku!


(terimalah

semangatku

reguklah

cintaku!)



Oleh :

Emha Ainun Najib

Tuesday, May 19, 2015

Sajak Jatuh Cinta

Karena ini bunga

Maka ciumlah dengan bening jiwa


Karena ini sajak

Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak


Gugusan mendung yang ranum

Menggugurkan hujan ke bumi

Dari langit jauh Engkau bagai telah turun

Pada air, tanah, serta pada sunyi


Kemudian senyap sesaat

Tuhan melintaskan syafaat

Kemudian daun-daun bersijingkat

Dalam pesona memikat


Karena ini bunga, dik

Maka ciumlah dengan bening jiwa


Karena ini sajak, dik

Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak



Oleh :

Emha Ainun Najib

Wednesday, November 19, 2014

Sajak Buat Tuhan

Kalau aku bicara padaMu, Tuhan

Bukan mau mengadukan dera dan derita

Tak kuharap Kau berdiri di depan

Ke dahiku mengeluskan tangan mesra


Kalau kutulis sajak ini, Tuhan

Bukan lantaran rindu-dendam atau demam

Tak kuharap Kau membacanya

Sambil duduk mengisap pipa kala senja


Karena Kau lebih tahu apa rasa hatiku

Dan mengerti bagaimana pikiranku

Karena Kau paling Aku dari aku

Yang terkadang kesamaran sama bayangan.


8-1-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Monday, November 17, 2014

Sajak Buat Tuhan II

Makin terasa, betapa sendiri

Hidupku bermukim di bumi. Tiada kawan

yang mau mengulurkan tangan

dan sedia bersama menempuh jalan

tatkalaa tiap langkah buntu.


Tak seorang pun, juga Kau

datang mendekat, menepuk-nepuk bahu

menganjurkan tabah dan jangan ragu.

Tiada. Hanya aku saja lagi

yang setia padaku. Hidup bersama

dalam duka dan putusasa.


Hanya aku jua, yang tetap cinta

kepada hidupku, tiada dua! Duh, tiada

lagi yang lain kujadikan gagang

tempat sirih pulang.

Rasa sendiri di dunia ramai, mengeratkan

aku padaMu, sepi-mutlak!

Rasa lengang di tengah orang, menyadarkan

antara Kau dan aku tiada jarak!


Saat seluruh bumi diam sunyi ....


16-4-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Saturday, August 23, 2014

Meditasi


Itulah bidadari Cina itu, dengan seekor kilin

dan menyeret kainnya basah: menggigil dalam kuil

(daun-daun salam berguguran dan di beranda

masih terdengar suara hujan, hujan pasir) Ia

menunjukkan yin-yang yang kabur di atas pintu

dan di mataku terasa hembusan angin yang merabunkan

(lihatlah, ujarmu, ia mengajak kita ke tempat sepi

di mana berdiri sebuah makam kaisar yang mati

dalam pertempuran merebut kota dari desa) Angin

berlarian menghamburkan bau-bauan dari tangan

perempuan-perempuan yang wangi dan kedinginan

di atas gapura yin-yang yang mulai memuat lumut

dengan tulisan-tulisan tua yang tak terbaca sudah

(langit adalah bayang-bayang, kau menyesal

telah memimpikannya; dan di sebelahnya

berdiri gedung, beribu sungai dan tebing gunung

yang terbuat dari batu, anggur dan lempung

yang kini menampakkan bintang kemukus yang panjang)


Itulah bidadari Cina itu dan mendekat ke arahmu

memandang dinding dan bertelanjang di sofa, tapi tak mengerti

(ia membeku jadi arca, waktu tentara kaisar mulai

membangun kota di langit) dan beribu mantra

memenuhi telinganya yang tuli



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Wednesday, July 9, 2014

Tahanan


Atas ranjang batu 

tubuhnya panjang 

bukit barisan tanpa bulan 

kabur dan liat 

dengan mata sepikan terali

Di lorong-lorong 

jantung matanya 

para pemuda bertangan merah 

serdadu-serdadu Belanda rebah

Di mulutnya menetes 

lewat mimpi 

darah di cawan tembikar 

dijelmakan satu senyum 

barat  di perut gunung 

(Para pemuda bertangan merah 

adik lelaki neruskan dendam)

Dini hari bernyanyi 

di luar dirinya 

Anak lonceng 

menggeliat enam kali 

di perut ibunya 

Mendadak 

dipejamkan matanya

Sipir memutar kunci selnya 

dan berkata 

-He, pemberontak 

hari yang berikut bukan milikmu !

Diseret di muka peleton algojo 

ia meludah 

tapi tak dikatakannya 

-Semalam kucicip sudah 

betapa lezatnya madu darah.

Dan tak pernah didengarnya 

enam pucuk senapan 

meletus bersama


Oleh :

W.S. Rendra

Tuesday, July 8, 2014

Sajak Widuri Untuk Joki Tobing


Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir. 

Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba. 

Orang-orang miskin menentang kemelaratan. 

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu, 

kerna wajahmu muncul dalam mimpiku. 

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu 

karena terlibat aku di dalam napasmu. 

Dari bis kota ke bis kota 

kamu memburuku. 

Kita duduk bersandingan, 

menyaksikan hidup yang kumal. 

Dan perlahan tersirap darah kita, 

melihat sekuntum bunga telah mekar, 

dari puingan masa yang putus asa.


Oleh : 

W.S. Rendra

Monday, July 7, 2014

Sajak Tangan


Inilah tangan seorang mahasiswa, 

tingkat sarjana muda. 

Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai, 

yang terpegang anderox hostes berumbai, 

Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu, 

tak ada jawaban. 

Aku tendang pintu, 

pintu terbuka. 

Di balik pintu ada lagi pintu. 

Dan selalu : 

ada tulisan jam bicara 

yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana 

dan aku keluar mengembara. 

Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan 

muncul di depanku. 

Tanganku aku sodorkan. 

Nampak asing di antara tangan beribu. 

Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur, 

tangan nelayan yang bergaram, 

aku jabat dalam tanganku. 

Tangan mereka penuh pergulatan 

Tangan-tangan yang menghasilkan. 

Tanganku yang gamang 

tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong, 

tangan pejabat, 

gemuk, luwes, dan sangat kuat. 

Tanganku yang gamang dicurigai, 

disikat.

Tanganku mengepal. 

Ketika terbuka menjadi cakar. 

Aku meraih ke arah delapan penjuru. 

Di setiap meja kantor 

bercokol tentara atau orang tua. 

Di desa-desa 

para petani hanya buruh tuan tanah. 

Di pantai-pantai 

para nelayan tidak punya kapal. 

Perdagangan berjalan tanpa swadaya. 

Politik hanya mengabdi pada cuaca….. 

Tanganku mengepal. 

Tetapi tembok batu didepanku. 

Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku. 

Aku berjalan mengembara. 

Aku akan menulis kata-kata kotor 

di meja rektor


Oleh : 

W.S. Rendra

Sunday, July 6, 2014

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya


Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang

Dan juga masa depan kita

yang hampir rampung

dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri

dan terasing dengan nasib kita

Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka duka kita bukanlah istimewa

kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

bekerja membalik tanah

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu

meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang

ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.

Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.

Dan kenangkanlah pula

bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.

Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.

Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.

Kita menjadi goyah dan bongkok

kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita

tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kaukenangkan encokmu

kenangkanlah pula

bahwa kita ditantang seratus dewa.


Oleh :

WS Rendra

Saturday, July 5, 2014

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api


Bagaimana mungkin kita bernegara 

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya 

Bagaimana mungkin kita berbangsa 

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup 

bersama ? 

Itulah sebabnya 

Kami tidak ikhlas 

menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris 

dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu 

sehingga menjadi lautan api 

Kini batinku kembali mengenang 

udara panas yang bergetar dan menggelombang, 

bau asap, bau keringat 

suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki 

langit berwarna kesumba

Kami berlaga 

memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia. 

Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata 

yang bisa dialami dengan nyata 

Mana mungkin itu bisa terjadi 

di dalam penindasan dan penjajahan 

Manusia mana 

Akan membiarkan keturunannya hidup 

tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah 

Hidup yang diperkembangkan 

dan hidup yang dipertahankan 

Itulah sebabnya kami melawan penindasan 

Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan 

bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua 

Aku terjaga dari tidurku 

di tengah malam di pegunungan 

Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu 

yang dibawa oleh mimpi kepadaku ? 

Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ? 

Apakah ini deru perjuangan masa silam 

di tanah periangan ? 

Ataukah gaduh hidup yang rusuh 

karena dikhianati dewa keadilan. 

Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku 

dibangunkan oleh mimpi ? 

Apakah aku tersentak 

Oleh satu isyarat kehidupan ? 

Di dalam kesunyian malam 

Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku ! 

Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku 

Telah tumpah di Sukakarsa 

Di Dayeuh Kolot 

Di Kiara Condong 

Di setiap jejak medan laga. Kini 

Kami tersentak, 

Terbangun bersama. 

Putera-puteriku, apakah yang terjadi? 

Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu, 

Apakah kita masih sama-sama setia 

Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa 

Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga 

Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi 

Dan menghadapi pertanyaan jaman : 

Apakah yang terjadi ? 

Apakah yang telah kamu lakukan ? 

Apakah yang sedang kamu lakukan ? 

Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna 

Dari jawaban yang kita berikan.


Oleh :

W.S. Rendra

Friday, July 4, 2014

Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon


Inilah sajakku, 

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas, 

dengan kedua tangan kugendong di belakang, 

dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman. 

Aku melihat gambaran ekonomi 

di etalase toko yang penuh merk asing, 

dan jalan-jalan bobrok antar desa 

yang tidak memungkinkan pergaulan. 

Aku melihat penggarongan dan pembusukan. 

Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi. 

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran. 

Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang. 

Dan sebatang jalan panjang, 

punuh debu, 

penuh kucing-kucing liar, 

penuh anak-anak berkudis, 

penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari, 

menyusuri jalan sejarah pembangunan, 

yang kotor dan penuh penipuan. 

Aku mendengar orang berkata : 

“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana. 

Di sini, demi iklim pembangunan yang baik, 

kemerdekaan berpolitik harus dibatasi. 

Mengatasi kemiskinan 

meminta pengorbanan sedikit hak asasi” 

Astaga, ta”” kerbo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ? 

Di negeri ini hak asasi dikurangi, 

justru untuk membela yang mapan dan kaya. 

Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa, 

dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan, 

berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan. 

Aku mendengar pengadilan sandiwara. 

Aku mendengar warta berita. 

Ada gerilya kota merajalela di Eropa. 

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis, 

seorang yang gigih, melawan buruh, 

telah diculik dan dibunuh, 

oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan. 

Kakiku ngilu, 

dan rokok di mulutku padam lagi. 

Aku melihat darah di langit. 

Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang. 

Yang kuasa serba menekan. 

Yang marah mulai mengeluarkan senjata. 

Baj***** dilawan secara baj*****. 

Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang. 

Bila pengadilan tidak menindak baj***** resmi, 

maka baj***** jalanan yang akan diadili. 

Lalu apa kata nurani kemanusiaan ? 

Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ? 

Apakah orang harus meneladan tingkah laku baj***** resmi ? 

Bila tidak, kenapa baj***** resmi tidak ditindak ? 

Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala ! 

Singkat tapi menggetarkan hati ! 

Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana ! 

Kerna langit di badan yang tidak berhawa, 

dan langit di luar dilabur bias senjakala, 

maka nurani dibius tipudaya. 

Ya ! Ya ! Akulah seorang tua ! 

Yang capek tapi belum menyerah pada mati. 

Kini aku berdiri di perempatan jalan. 

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing. 

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak. 

Sebagai seorang manusia.


Catatan :

baj***** gabungkan dengan ***ingan


Oleh : 

W.S. Rendra

Thursday, July 3, 2014

Sajak Seonggok Jagung


Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda 

yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu, 

sang pemuda melihat ladang; 

ia melihat petani; 

ia melihat panen; 

dan suatu hari subuh, 

para wanita dengan gendongan 

pergi ke pasar ……….. 

Dan ia juga melihat 

suatu pagi hari 

di dekat sumur 

gadis-gadis bercanda 

sambil menumbuk jagung 

menjadi maisena. 

Sedang di dalam dapur 

tungku-tungku menyala. 

Di dalam udara murni 

tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda. 

Ia siap menggarap jagung 

Ia melihat kemungkinan 

otak dan tangan 

siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda tamat SLA 

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa. 

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu 

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta . 

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik. 

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase. 

Ia melihat saingannya naik sepeda motor. 

Ia melihat nomor-nomor lotre. 

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal. 

Seonggok jagung di kamar 

tidak menyangkut pada akal, 

tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar 

tak akan menolong seorang pemuda 

yang pandangan hidupnya berasal dari buku, 

dan tidak dari kehidupan. 

Yang tidak terlatih dalam metode, 

dan hanya penuh hafalan kesimpulan, 

yang hanya terlatih sebagai pemakai, 

tetapi kurang latihan bebas berkarya. 

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya : 

Apakah gunanya pendidikan 

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing 

di tengah kenyataan persoalannya ? 

Apakah gunanya pendidikan 

bila hanya mendorong seseorang 

menjadi layang-layang di ibukota 

kikuk pulang ke daerahnya ? 

Apakah gunanya seseorang 

belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, 

atau apa saja, 

bila pada akhirnya, 

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata : 

“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”


Oleh : 

W.S. Rendra

Wednesday, July 2, 2014

Sajak Sebotol Bir


Menenggak bir sebotol, 

menatap dunia, 

dan melihat orang-orang kelaparan. 

Membakar dupa, 

mencium bumi, 

dan mendengar derap huru-hara.

Hiburan kota besar dalam semalam, 

sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa ! 

Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

Mengapa kita membangun kota metropolitan ? 

dan alpa terhadap peradaban di desa ? 

Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan, 

dan tidak kepada pengedaran ?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri, 

Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing 

akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam 

Kota metropolitan di sini, 

adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, 

Australia, dan negara industri lainnya.

Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ? 

Yang menghubungkan desa-desa dengan desa-desa ? 

Kini telah terlantarkan. 

Menjadi selokan atau kubangan. 

Jalan lalu lintas masa kini, 

mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu, 

adalah alat penyaluran barang-barang asing dari 

pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan 

bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus, 

tidak untuk petani, 

tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai. 

Di mana kita hanya mampu berak dan makan, 

tanpa ada daya untuk menciptakan. 

Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ? 

Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik 

yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan…….. 

harus senantiasa menghasilkan…. 

Dan akhirnya memaksa negara lain 

untuk menjadi pasaran barang-barang kita ? 

…………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ? 

Apakah pemikiran ekonomi kita 

hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ? 

Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ? 

Apakah kita akan hanyut saja 

di dalam kekuatan penumpukan 

yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan 

terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ? 

……………………………….

Kita telah dikuasai satu mimpi 

untuk menjadi orang lain. 

Kita telah menjadi asing 

di tanah leluhur sendiri. 

Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi, 

dan menghamba ke Jakarta. 

Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi 

dan menghamba kepada Jepang, 

Eropa, atau Amerika.


Oleh : 

W.S. Rendra