Showing posts with label Asmara Hadi. Show all posts
Showing posts with label Asmara Hadi. Show all posts
Thursday, March 12, 2015
Wednesday, March 11, 2015
Sekarangan Kembang
(Buat Ratna)
Mengarang aku, adikku aju
Bunga dari taman djiwa
Kembang dewata kekal-tak-laju
Gemilang djuita berwangi tjinta
Buat engkau kembang kukarang
Akan hiasan kepalamu
Tanda tjinta, dindaku sajang
Njala kekal dalam djiwaku
Ingin aku sebagai pengarang
Meninggalkan sjair gilang gemilang
Supaya tjinta jang njala sekarang
Sepandjang masa tiada ‘kan hilang
Supaja namamu, adikku aju
Gemilang kekal dalam dunia
Dipudja segala pembatja sadjakku
Ratna Asmara: tjinta mulia
Dari miljunan dara didunia
Kumuliakan engkau sebagai dewiku
Kupudja dengan njanjian mulia:
Kembang dan setanggi dupa hatiku
O, dewi, jang menjinarkan tjahaja
Terangilah selalu djalan djiwaku
Supaja sampai dibahagia raja
Dalam pelukan swarga tjintamu
Ja, jakin aku, nanti tanganmu
Akan meletakkan tanda tjintamu
Karangan bunga atas kepalaku
Karena aku setia selalu
Tiada takut tempo tjobaan
Berdiri dahsjat antara kita
Jakin kuat dalam perdjuangan
Untuk engkau, Ratna djuita
Akan gemilang tenang matamu
Menjinarkan tjaja kasih abadi
Akan berkumpul hasrat djiwaku
Dalam bisikan ,,Kandaku Hadi”
Menggeram segara jang luas-dalam
Ketawa suara maut dan baja
Mantjar halintar membelah malam
Gempita badai memburu segara
Dalam kedahsjatan malam gempita
Jang membuat tjabar djiwaku
Terbajang gemilang pagi djelita
Ketika segala bersinarkan tjintamu
Ingat aku akan pintamu
Semoga djiwaku selalu mulia
Dilindungi restu do’a tjintamu
Sebagai sjatrya melalui dunia
Perasaan sangsi segeralah hilang
Digantikan perasaan jakin gembira
Dilangit gelita gemilanglah bintang
Pemimpin djalanku diatas segara
Jakin djiwaku kapal ‘kan sampai
Dalam pelabuhan kota kentjana
Tempat hidup gemilang permai
Manusia bagia sebagai dewa
Kita hidup dimasa jang indah
Zaman bangsa sadar kembali
Miljunan tangan kerdja gelisah
Bangunkan swarga diatas bumi
Dengarlah dinda, dendang jang suka
Mendengung atas Indonesia
Masuk dalam hati jang duka
Membuat mata bersinar mulia
Ratnaku, dinda, bahagia kita
Dapat hidup dimasa kini
Menanam bibit tjinta dan tjita
Jang akan berbuah dimasa nanti
Dalam matamu, dinda djuita
Kulihat sinar dunia baru:
Indonesia negeri kita
Bahagia diatas segara biru
Kulihat kanak bermain girang
Ditengah bunga jang sedang kembang
Ditengah padi: emas gemilang
Kerdja petani sambil berdendang
Dalam fabrik jang gegap gempita
Kudengar njanjian usaha raja
Ribuan mata mengintan tjuatja
Ribuan tangan kerdja suka
Kaum melarat tiada lagi
Tiap manusia berhak sama
Dari lahir sampaikan mati
Hidup bebas laksana dewa
Kalau aku melihat tawamu
Gemilangkan sinar tjinta mulia
Terbajang-bajang depan mataku
Bagia raja benderang didunia
Terdengar-dengar laguan melajang
Beritakan dunia makmur-damai
Umat manusia berkasih-sajang
Dalam persatuan tulus-permai
Ja, kekasih, jakin djiwaku
Tjinta sosial pasti ‘kan menang
Kalau aku melihat tawamu
Gemilang tenang nandakan senang
O, kekasih, njalakan djiwaku
Selalu dengan api tjintamu
Supaja dapat kuat dan girang
Serta berdjuang dizaman sekarang!
Membangunkan keindahan baru
Dinegeri kita, Indonesia
Jang bagai zamrud disegara biru
Restui daku, kekasih mulia!
Oleh :
Asmara Hadi
Monday, March 9, 2015
Kepada Seniman
Tahukah teman, wahai seniman
Dimanakah tempatmu didalam dunia?
Bukan dimertju kedirianmu
Tapi disini, antara manusia
Tuan bukan putra dewata
Tuanpun hanja manusia sadja!
Djangan hanja dibunga kembang
Dimata gadis, dibintang malam
Digunung biru, ditasik tenang
Ditjandi keramat, diartja pualam
Tuan tjari Keindahan
Keindahan ada dalam segala
Dilokomotif jang menarik kereta
Dimesin pabrik jang gegap-gempita
Dilumpur sawah, ditangan buruh
Dalam segala ada Keindahan
Tertawa, menangis, menanti seniman!
Dari mertju kedirianmu
Turunlah engkau, wahai seniman
Dengan api seniman jang sakti
Buatlah semuanja djadi bernjawa
Djadilah engkau ditengah rakjatmu
Mertju api, besar dan tinggi
Terang menerangi hidup bangsamu!
Oleh :
Asmara Hadi
Sunday, March 8, 2015
Semangat Demokrasi
Gemilang pagi mandi tjahaja
Bangun alam kilau-kilauan
Bisik berbisik nikmat rasanja
Angin mesra mentjium Priangan
Burung bernjanji girang bahgia
Melompat dari dahan kedahan
Daun dan bunga bertabur mutia
Air mata Dewi Keindahan
Seperi pagi pantun perawan
Tjantik djelita berdjiwa mulia
Kasih bermimpi dimata rahman
Demikianlah semangat Demokrasi
Melajang indah di Indonesia
Membawa berita Kemerdekaan nanti
Oleh :
Asmara Hadi
Saturday, March 7, 2015
Kami Penabur
Kami bekerdja dipadang masa
Menaburkan benih tjinta mulia
Jang nanti akan senantiasa
Semerbakkan wangi bahgia-dunia
Tapi kami hanja penabur
Bila dunia berbahagia nati
Kami sudah lama berkubur
Tiada dapat merasainja lagi
Sungguhpun begitu kami ichlas
Bekerdja sekarang dipadang masa
Kami tiada harapkan balas
Bahgia kami ialah berdjasa
Oleh :
Asmara Hadi
Friday, March 6, 2015
Kapada Dipanegara
Sebagai bintang dimalam jang kelam
Kemilau diatas langit jang hidjau
Dan berabad-abad setia menindjau
Pelajar ditengah laut jang dalam
Djadi pedoman, menundjukkan djalan
Didalam kesunjian malam waktu
Demikianlah engkau bagi bangsamu
Jang dalam kelam malam kungkungan
Menuntun bangsamu ketanah bahagia
Jang berlautkan Senang, bergunung Mulia
Diatapi langit kesempurnaan
Engkaulah menjadji bintang bangsamu
Menjinari dunia setiap pendjuru
Memantjarkan tjah’ja Kemerdekaan!
Oleh :
Asmara Hadi
Thursday, March 5, 2015
Rasuna Said
Didalam kebun tanah Andalas
Tumbuh sekuntum melati mulia
Perhiasan Ibunda Indonesia
Menambah tjantik, membawa djelas
Demikian Rasuna kumisalkan
Sepantun sunting sanggul Ibunda
Di Indonesia harum namamu
Sampaikan mati djadi kenangan
Teruslah, O, Rasuna Melati
Teguhkan iman, tetapkan hati
Membela tanahmu Indonesia
Namamu harum tidakkan hilang
Sebagai bintang gilang-gemilang
Engkau Rasuna, perempuan mulia!
Oleh :
Asmara Hadi
Tuesday, March 3, 2015
Untuk Asia Raja
Dalam kandang kawat berduri
Terkurung badan, Djiwa meradang
Bertanya dimanakah Tuhan
Jang adil dan kuasa kata orang
Wadjah seorang pahlawan
Terbajang senjum dimuka mataku
Njata benar matanja bersinar
Tunduk aku kerena malu
Kita hidup dalam zaman
Jang mendidih bagai lautan
Djauh masih tepi jang aman
Sekitar kita air semata
Kapal ketjil terumbang-ambing
Kilat berdenjar, badai gempita
Keraskan hati, lawan segala
Enjahkan perasaan sangsi dan tjabar
Kita ditangan Allah Ta’ala
Bagia kita angkatan sekarang
Hidup dizaman pantjaroba
Dunia raja luas mengembang
Bagai bumi menanti usaha
Djangan mengeluh, jangan mengaduh
Hai pemuda! Gembira dan girang
Seharusnja kamu! Zamanmu subuh
Jang mendahului siang gemilang
Perasaan pedih dihitung djangan!
Pedih bunda melahirkan anak
Pedih benih menembus bumi
Pedih hilang datang bagia
Relakan teman badanmu mendjadi
Pupuk hantjur dilapangan waktu
Dari kurban angkatan kini
Mewangi nanti bunga restu
Gemuruhlah kamu angkatan udara
Hantjurkan bom jang menjerahkan maut
Kamu meriam, gunturkanlah suara
Jang dahsjat diatas bumi dan laut
Maraklah api, tinggi dan permai
Bakarlah, bakarlah seluruh dunia
Hantjurkan pendjara, debukan rantai
Jang berabad-abad mengikat Asia!
Oleh :
Asmara Hadi
Monday, March 2, 2015
Mawar
Terorak kelopak mawar djuita
Warna berseri mendandan sari
Mengalun wangi kematahari
Ketika pagi indah tjuatja
Datang lebah, hinggap kebunga
Hendak menjeri, itu maksudnja
Mawar menjerah bagia-rela
Lebah menghisap sepuas-puasnya
Setelah habis wangi dan madu
Terbanglah lebah, pulang kesarang
Mawar sendu terkulai laju
Mengenangkan tjinta lebah jang tjurang
Penjelasan editor: sajak ,,Mawar” diatas diambil dari dokumentasi Lembaga Bahasa dan
Kesusasteraan, Djakarta. Sajak tersebut hendak dimuat dalam majalah Pandji Pustaka di zaman
Jepang, tapi karena dianggap mengandung kecaman terhadap Pemerintah Jepang maka tak dapat
dimuat.
Oleh :
Asmara Hadi
Sunday, March 1, 2015
Merindukan Bahagia
Djikalau hari lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Alam seperti dalam semadhi
Sukma djiwaku rasa tengelam
Dalam laut tiada berwatas
Menangis hati diiris sedih
Fikiranku melajang perlahan
Diatas sajap kenangan sunji
Kepantai waktu nan telah lalu
Djiwa menangis tertahan-tahan
Terkenang nasib Tanahku ini:
Mengandung pilu, mendjundjung malu
Terkenang waktu zaman tjemerlang
Mandi disinar surja Merdeka
Terang tjahaya Indonesia
Air mataku djatuh berlinang
Hantjur hati dihempaskan duka
Hilang gaja, tiada berdaja
Wahai panah kenangan rindu
Sudahlah engkau meluka hati
Djangan mendamba masa nan sudah
Dengar disana njanjian merdu
Seperti makai petunang sakti
Menghapus gundah didalam dada
Njanjian merdu terdengar terang
Datangnja dari sebelah Timur
Dimana surja hampir bertjah’ja
Njanjian anak zaman sekarang:
,,Indonesia Tanahku makmur,
Hampir bertjah’ja surja Bahagia!”
Oleh :
Asmara Hadi
Saturday, February 28, 2015
Bilakah
Bilakah alam bersinar senang
Diterangi Surja Kemerdekaan?
Bilakah rakjat bernafas tenang
Mengisap udara Kemerdekaan?
Bilakah terbit bintang ,,Merdeka”
Menjinari alam Indonesia?
Bilakah hilang malam tjelaka
Kehidupan senang bersuka ria?
Disitulah baru senang dihati
Indonesia telah merdeka
Merah-Putih telah berkibar
Disanalah baru aku berhenti
Dari bermenung berhati duka
Hari panas, tiada sabar
Oleh :
Asmara Hadi
Friday, February 27, 2015
Zaman Kami
Zaman kami zaman membakar
Zaman jang penuh perdjuangan
Dan kami generasi kini
Berdjuang dalamnja bagai pahlawan
Pada wadjah kami bersinar
Indah tjemerlang tjahja kemenangan
Djantung kami berdegup gumbira
Seperti akan melihat tunangan
Kami berdjuang menjerahkan djiwa
Pada zaman jang perlukan kami
Dalam kekalahan zaman sekarang
Kamilah rasul kemenangan nanti
Seperti dari puntjak gunung jang tinggi
Kita lebih dahulu dapat melihat,
Tjahaja fadjar kemerah-merahan
Tanda matahari akan terbit
Sedang djauh didalam lembah
Semuanja masih gelap-gulita
Demikianlah djiwaku lebih dahulu
Dari puntjak gunung puisi
Dapat melihat sinar memerah
Sinar fadjar kemenangan kita
Sedang dalam kehidupan sehari-hari
Semuanja masih gelap-gulita
Oleh :
Asmara Hadi
Subscribe to:
Posts (Atom)