Tuesday, December 15, 2015

Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu





untuk Wibi 

Empat puluh tahun yang lampau kutinggalkan kau
di kamar mandi, dan aku pun pergi merantau
di saat kau masih hijau.
Kau menangis: “Pergilah kau, kembalilah kau!”

Kini, tanpa celana, aku datang menjemputmu
di kamar mandi yang bertahun-tahun mengasuhmu.
Seperti pernah kaukatakan dalam suratmu:
“Jemputlah aku malam Minggu,
bawakan aku celana baru.”

Di kamar mandi yang remang-remang itu
kau masih suntuk membaca buku.
Kaulepas kacamatamu dan kau terpana
melihatku tanpa celana. Sebab celanaku tinggal satu
dan seluruhnya kurelakan untukmu.
“Hore, aku punya celana baru!” kau berseru.
Kupeluk tubuhmu yang penuh goresan waktu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Monday, December 14, 2015

Telepon Genggam




Di pesta pernikahan temannya ia berkenalan dengan perempuan yang kebetulan menghampirinya.
Mata mengincar mata, merangkum ruang. Rasanya kita pernah bertemu. Di mana ya? Kapan ya?
Mata: kristal waktu yang tembus pandang.

Di tengah hingar mereka berjabat tangan, berdebar-debar, bertukar nama dan nomor, menyimpannya
ke telepon genggam, lalu saling janji: Nanti kontak saya ya. Sungguh lho. Awas kalau tidak.

Pulang dari pesta, ia mulai memperlihatkan tanda-tanda sakit jiwa. Jas yang seharusnya dilepas
malah dirapikan. Celana yang seharusnya dicopot malah dikencangkan. Ingin ke kamar tidur,
tahu-tahu sudah di kamar mandi. Mau bilang jauh di mata, eh keliru dekat di hati.

Masih terngiang denting gelas, lenting piano dan lengking lagu di pesta itu. Semuanya tinggal
gemerincing rindu yang perlahan tapi pasti meleburkan diri ke dalam telepon genggamnya, menjadi
sistem sepi yang tak akan pernah habis diurainya.

Ia mondar-mandir saja di dalam rumah, bolak-balik antara toilet dan ruang tamu, menunggu kabar
dari seberang, sambil tetap digenggamnya benda mungil yang sangat disayang: surga kecil yang tak
ingin ditinggalkan.

Dipencetnya terus sebuah nomor dan yang muncul hanya tulalit yang membuat sakitnya makin
berdenyit. Sesekali tersambung juga, namun setiap ia bilang halo jawabnya selalu Halo halo
Bandung. Ia pukulkan telepon genggamnya ke kepala, tapi lalu diciumnya.

Kabar dari seberang tak kunjung datang, ia pergi saja ke ranjang: tidur barangkali akan membuatnya
sedikit tenang. Ia terbaring terlentang, masih dengan kaos kaki dan jas yang dipakainya ke pesta, dan
telepon genggam tak pernah lepas dari cengkeram. Telepon genggam: surga kecil yang tak ingin
ditinggalkan.

Akhirnya terdengar juga bunyi panggilan. Ia berdebar membayangkan perempuan itu mengucap
salam: Tidurlah sayang, sudah malam. Kau tak akan pernah kutinggalkan. Ternyata cuma umpatan
dari seseorang yang tak ia kenal: Gile, tidur aja pake jas segala. Emangnya mau mati?

Berpuluh pesan telah ia tulis dan kirimkan dan tak pernah ada balasan. Hanya sekali ia terima pesan,
itu pun cuma iseng: Selamat, Anda mendapat hadiah undian mobil kodok. Segera kirimkan foto Anda
untuk dicocokkan dengan kodoknya.

Antara tertidur dan terjaga, antara harap dan putus asa, telepon genggamnya tiba-tiba berbunyi
nyaring. Ia tempelkan benda ajaib itu ke telinganya dan ia dengar suara burung berkicau tak henti
hentinya. Suara burung yang dulu sering ia dengar dari rerimbun pohon sawo di halaman rumahnya,
rumah ibu-bapaknya.

Di luar hujan telah turun, terdengar suara peronda meninggalkan gardu. Ia ingin tidur saja karena
merasa tak ada lagi yang mesti ditunggu. Ketika untuk terakhir kali ia mencoba menghubungi nomor
perempuan itu, ia terkesiap takjub melihat layar telepon genggamnya
memancarkan gambar gerimis mengguyur senja.

Kalau harus gila, gila sajalah. Ia ingin pulas dalam mimpi yang ia tahu tak pernah pasti. Emangnya
gue pikirin? Ia pura-pura tak acuh, padahal sangat butuh. Ia betulkan jasnya, genggam erat surga
kecilnya. Lalu terpejam, terlunta-lunta: tubuh rapuh tak berdaya yang ingin tetap tampak perkasa.

Ketika ia merasa bahwa tidur pun tak bisa lagi menolongnya, telepon genggamnya tiba-tiba
memanggil. Ia dengar suara anak kecil menangis tak putus-putusnya. Nyaring, lengking, lebih
lengking dari hening. Namun ia terpejam saja, terpejam sebisanya, sementara telepon genggamnya
meronta-ronta dalam cengkeramannya.

Apa yang sedang ia bayangkan? Mungkin ia melihat seorang anak lelaki kecil pulang dari main
layang-layang di padang lapang dan mendapatkan rumahnya sudah kosong dan lengang. Hanya
terdengar suara burung berkicau bersahutan di rerindang ranting dan dahan. Hanya ada seorang anak
perempuan kecil, dengan raut rindu dan binar bisu, sedang risau menunggu. Seperti saudara kembar
yang ingin benar memeluknya dalam haru, mengajaknya bermain di bawah pohon sawo: pohon hayat
yang tak terlihat waktu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Sunday, December 13, 2015

Ibu Yang Tabah




Ibu itu mengasuh anak-anaknya sendirian sejak suaminya dipinjam negara untuk dijadikan kelinci
dalam percobaan sistem keamanan. Sampai sekarang belum dikembalikan, padahal suaminya itu
sebenarnya cuma pemberani yang lugu dan kadang-kadang nekat. Toh ibu itu tak pernah berhenti
menunggu, meskipun menunggu adalah luka. Dan ia memang perkasa. Menghadapi anak-anaknya
yang nakal dan sering menyusahkan, ia tak pernah kehilangan kesabaran.

Setiap subuh ibu itu memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan
menghidangkannya kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah. Malam hari diam-diam
ia memeras airmata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya kepada anak-anaknya bila
mereka sakit.

Ia mendidik anak-anaknya untuk tidak cengeng. Ia paling tidak suka melihat orang mudah menangis.
Bila anak-anaknya bertanya, "Mengapa Ibu tidak pernah menangis?", jawabnya, "Biar kutabung
airmataku buat hari tua. Bila kelak aku meninggal, kalian bisa memandikan jenazahku dengan
tabungan airmataku.”

Sehari-hari ibu yang penyabar itu berjualan awalan ber- di sekolah partikelir yang hidup enggan mati
tak mau. Sebagian besar muridnya bodoh dan berandal, tapi ya bagaimana lagi, mereka tetap harus
dicintai. Ia rajin menasihati mereka agar tidak mudah putus asa, apalagi menangis, menghadapi
kegagalan. "Berlatih gagal itu penting," pesannya berulang-ulang.

Tenaga dan waktunya praktis habis untuk urusan rumah dan pekerjaan sehingga ia kurang hiburan.
Satu-satunya hiburan adalah menonton televisi yang sudah agak pucat gambarnya. Dan ia penggemar
televisi yang baik. Ia bisa sangat terharu menyaksikan kisah yang menyayat hati, misalnya kisah
tentang pejuang yang digugurkan negara dan jenazahnya diselimuti kain bendera. Anak-anak ikut
trenyuh dan tersedu melihat ibu mereka diam-diam mengusap airmata. "Jangan menangis!" bentak
ibu yang tabah itu tiba-tiba. “Aku menangis hanya untuk menyenang-nyenangkan televisi. Mengerti?”


Oleh :
Joko Pinurbo

Saturday, December 12, 2015

Mata Air

 

 

Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering.

Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong

menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan.

Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing,

pecah di padang-padang gersang.

 

Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mata air

yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah,

menuai air mata yang mereka tanam di ladang-ladang karang.

 

Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil

yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia

tapi belum ingin meneteskan air mata. Nanti, jika musim hujan tiba,

langit akan memandikan gadis kecil itu dengan air matanya.

 

 

Oleh :

Joko Pinurbo

Friday, December 11, 2015

Anak Seorang Perempuan





Hingga dewasa saya tak pernah tahu saya ini sebenarnya anak siapa. Sejak lahir saya diasuh dan
dibesarkan Ibu tanpa kehadiran seorang lelaki yang biasa disebut ayah. Ibu pernah mengaku bahwa
dulu ia memang suka kencan dengan banyak lelaki, tapi tak bisa memastikan benih lelaki mana yang
tercetak di rahimnya, kemudian terbit menjadi saya.

Ibu tak pernah menyebut dirinya perempuan jalang, dan bagi anak seperti saya yang mengalami
kelembutan cinta seorang ibu soal itu toh tidak penting-penting amat. Dan ketika seorang teman
penyair iseng-iseng bertanya apakah saya ini buah cinta sejati atau cinta birahi, hasil hubungan
terang atau hubungan gelap, saya menganggap dia bukanlah pernyair cerdas. Justru Ibu yang bukan
penyair pernah bertanya, "Kau, penyairku, apakah kau tahu pasti asal-usul benih yang tumbuh dalam
kata-katamu?"

Sudah ada beberapa lelaki misterius yang mengaku-ngaku sebagai ayah saya. Masing-masing
menyatakan perihal cintanya yang tulus kepada wanita yang kemudian melahirkan saya. Mereka juga
merasa bangga terhadap saya. Sayang, saya tak membutuhkan pahlawan kesiangan. Lagi pula, saya
lebih suka membiarkan diri saya tetap menjadi milik rahasia.

Kini ibu saya yang cerdas terbaring sakit. Kondisi tubuhnya makin hari makin lemah. Dalam sakitnya
ia sering minta dibacakan sajak-sajak saya dan kadang ia mendengarkannya dengan mata
berkaca-kaca. Entah mengapa, beberapa saat sebelum beliau wafat saya sempat lancang bertanya:
saya ini sebenarnya anak siapa? Saya bayangkan ibu yang penyayang itu akan hancur hatinya. Tapi,
sambil mengelus kepala saya, ia menjawab hangat: "Anak seorang perempuan!"


Oleh :
Joko Pinurbo

Thursday, December 10, 2015

Rendezvous




Kau sudah tak sabar menungguku di halaman rumah berdinding putih itu.
Di atas bangku di bawah pohon cemara duduk seorang wanita setengah baya
sedang suntuk membaca dan sesekali tertawa.

Nah, perempuan itu mengangkat kaki kirinya,
kemudian menumpangkannya ke yang kanan.
Pahanya tersingkap, clap, kau terkejap: kaususupkan
cerlap cahayamu ke celah-celah itu dan aku cemburu.

Maka aku pun segera berderai lembut di atas parasmu.
Aku berdebar ketika perempuan itu melonjak girang:
"Ah, gerimis senja telah datang."

Hanya agar perempuan kita bahagia, kau dan aku rela berebut bianglala
dan ingin segera melilitkannya ke tubuhnya.
Sebab sesaat lagi kau sudah jadi malam dan aku hujan,
dan perempuan itu tidak mencintai keduanya: ia akan cepat-cepat
masuk ke rumahnya, membiarkan kita berdua menghapus jejaknya.


Oleh :
Joko Pinurbo

Wednesday, December 9, 2015

Tikus




Banyak orang begitu jijik dan benci pada tikus, tapi perempuan lajang yang tinggal sendirian di
rumahnya yang besar itu justru merasa tentram bersahabat dengan tikus-tikus yang mencericit terus
tiada hentinya. Entah berapa tikus berumah di rumahnya. Dan setiap hari ada saja tikus mati, lalu
dengan sedih ia buang ke selokan.

Sebelum tidur, sambil mengantuk, ia sempatkan membaca buku Hidup Bahagia bersama
Tikus sementara konser tikus berlangsung terus sampai jauh malam, juga ketika ia sudah nyenyak
bermimpi bertemu kekasih yang selama ini ia sembunyikan dalam ingatan.

Malam itu ia tidur berselimutkan sarung cap tikus, dan ada tikus besar dari kuburan mondar-mandir di
sekitar tubuhnya, mengendus-endus sakitnya. Saat bangun ia menjerit mendapatkan tikus-tikus mati
berkaparan di ranjang. Sialan, kau dapat cericitnya, aku bangkainya! 


Oleh :
Joko Pinurbo

Tuesday, December 8, 2015

Atau




Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih cinta atau nyawa?” ia mengancam.

“Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,”
saya menghiba, “supaya saya bersih dari dosa.
Setelah itu, perkosalah saya.”

Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang
entah ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas:
jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan.

Apa dosa saya? Saya tidak pernah menyakiti perempuan
kecuali saat saya dilahirkan.

Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih perkosa atau nyawa?” ia mengancam.
Saya panik, saya jawab sembarangan: “Saya pilih ATAU!”

Ia mengakak. “Kau pintar,” katanya. Kemudian
ia mencium leher saya dan berkata: “Tidurlah tenang
dukacintaku. Aku akan kembali ke dalam mimpi-mimpimu.”


Oleh :
Joko Pinurbo