Tuesday, December 8, 2015

Atau




Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih cinta atau nyawa?” ia mengancam.

“Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,”
saya menghiba, “supaya saya bersih dari dosa.
Setelah itu, perkosalah saya.”

Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang
entah ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas:
jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan.

Apa dosa saya? Saya tidak pernah menyakiti perempuan
kecuali saat saya dilahirkan.

Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih perkosa atau nyawa?” ia mengancam.
Saya panik, saya jawab sembarangan: “Saya pilih ATAU!”

Ia mengakak. “Kau pintar,” katanya. Kemudian
ia mencium leher saya dan berkata: “Tidurlah tenang
dukacintaku. Aku akan kembali ke dalam mimpi-mimpimu.”


Oleh :
Joko Pinurbo

Monday, December 7, 2015

Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi




Sebelum tidur ia selalu berdoa: Bangunkan aku jam tiga pagi.  

Jam tiga pagi mimpi mungkin sudah kembali ke nol lagi.
Ia ingin dengar bagaimana ranjang menyanyikan tubuhnya
dan tubuh menyanyikan sakitnya.

Bahkan aku sudah tiba sebelum jam tiga pagi.
Sudah lama aku menempuhmu, naik-turun di sengal nafasmu,
dan kini aku akan berjaga di tapal batas tubuhmu.

Ia terpejam saja. Menggeliat. Seakan waktu sedang sekarat. 

Tubuh besarku tambah riuh dan tak tersembunyikan lagi. 
Tubuh kecilku terlindung jauh di relung yang tak terjelajahi. 

Ada, selalu, yang akan datang jam tiga pagi, menyalakan waktu
di unggun tubuhmu, menghabiskan seluruh sisa sakitmu.
Bahkan sebelum kau sempat membangunkanKu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Sunday, December 6, 2015

Pacar Kecilku




untuk Anggra 

Pacar kecilku bangun di subuh hari ketika azan datang
membangunkan mimpi. Pacar kecilku berlari ke halaman,
menadah hujan dengan botol mainan, menyimpannya
di kulkas sepanjang hari, dan malamnya ia lihat di botol itu
gumpalan cahaya warna-warni.

Pacar kecilku lelap tidurnya, botol pelangi dalam dekapnya.
Ketika bangun ia berkata: “Tadi kau ke mana?
Aku mencarimu di rerimbun taman bunga.”
Aku terdiam. Sepanjang malam aku hanya berjaga
di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan
pelan-pelan membuka matanya.

Pacar kecilku tak akan mengerti: pelangi dalam botol cintanya
bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.


Oleh :
Joko Pinurbo

Saturday, December 5, 2015

Kebun Hujan


 

Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman.

Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angin
dan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan.

Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujan
berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan.
 
Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujan
dan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan.

Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan.

Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujan
dan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan.


Oleh :
Joko Pinurbo

Thursday, December 3, 2015

Bertelur




Dengan perjuangan berat, alhamdulillah akhirnya aku
bisa bertelur. Telurku lahir dengan selamat,
warnanya hitam pekat.

Aku ini seorang peternak: saban hari
mengembangbiakkan kata, dan belum kudapatkan kata
yang bisa mengucapkan kita.

Kata yang kucari, konon, ada di dalam telurku ini.

Kuperam telurku di ranjang kata-kata yang sudah lama
tak lagi melahirkan kata. Kuerami ia saban malam
sampai tubuhku demam dan mulutku penuh igauan.

Kalau aku lagi asyik mengeram, diam-diam telurku
suka meloncat, memantul-mantul di lantai,
kemudian menggelinding pelan ke toilet,
dan ketika hampir saja nyemplung ke lubang kloset
cepat-cepat ia kutangkap dan kubawa pulang ke ranjang. 

Mana telurku? Tiba-tiba banyak orang merasa
kehilangan telur dan mengira aku telah mencurinya
dari ranjang mereka.

Ah telur kata, telur derita, akhirnya kau menetas juga.
Kau menggelembung, memecah, memuncratkan darah. 
Itu bukan telurku! 


Oleh :
Joko Pinurbo

Wednesday, December 2, 2015

Penjual Buah




Setiap pagi penjual buah itu lewat di kampung kami,
keluar masuk gang sambil melantunkan kata-kata hafalan: 
Bukan buah sembarang buah, buah saya manis rasanya. 

Dara-dara remaja senang sekali mendengarnya;
mereka cepat-cepat berdiri di depan cermin dan menyaksikan
bahwa pohon waktu mulai berbuah.
Ibu-ibu muda dengan gembira merubungnya dan merasakan
betapa pohon cinta sedang lebat buahnya.
Hanya perempuan-perempuan tua suka tersenyum kecut
dan kadang ada yang menangis sambil merengek manja:
Kembalikan buah saya kembalikan buah saya.

“Pisangnya masih, Pak Adam?” demikian ibu-ibu setengah baya
suka bertanya, dan sambil tersenyum bangga penjual buah itu
menggoda: “Aduh, kok pisang lagi yang diminta!” 

Bukan buah sembarang buah, buah saya manis rasanya. 
Kata-kata ini terus saja diulangnya meskipun segala buah
yang dijajakannya sudah terbeli semua.

Sudah seminggu ini Pak Adam tak muncul di kampung kami.
Kata seorang nenek yang diam-diam mengaguminya,
penjual buah itu tampaknya sudah mendapatkan buahnya buah
yang belum tentu manis rasanya, yang mungkin pahit rasanya.
“Bukan buah sembarang buah,” ujar seorang perawan tua
sambil menikmati apel yang tampak merah dagingnya.


Oleh :
Joko Pinurbo

Tuesday, December 1, 2015

Utan Kayu

untuk Godot 

Suatu malam di Utan Kayu tak kujumpai engkau,
tak kujumpai siapa-siapa
selain kursi-kursi berjungkiran di atas meja.

Kedai sudah tutup. Malam tinggal sisa.
Kudengar tikus-tikus bermain musik bersama piring,
gelas, sendok. “Kusaksikan tadi pertunjukan besar,”
saudara kucing melaporkan.

Di mana engkau? Biasanya engkau duduk manis
di pojok, minum angin, merokok.
Engkau terlonjak girang bila aku datang: 
“Hai, dari mana saja engkau?”

Ternyata engkau sedang termenung di ruang pertunjukan.
Engkau sedang mengumpulkan kembali kata-kata
yang berceceran. Engkau sedang menangis,
mencopot wajah di ruang ganti pakaian.

Malam berikutnya tak kulihat lagi engkau
di bangku penonton. Engkau tak muncul lagi
di panggung permainan. “Hai, ke mana saja engkau?”
Kupanggil engkau berulang-ulang.


Oleh :
Joko Pinurbo

Monday, November 30, 2015

Dangdut

Sesungguhnya kita ini penggemar dangdut.

Kita suka menggoyang-goyang memabuk-mabukkan kata

memburu dang dang dang dan ah susah benar mencapai dut.

 

Para pejoget dangdut sudah tumbang dan terkulai satu demi satu

kemudian tertidur di baris-baris sajakmu.

Malam sudah lunglai, pagi sebentar lagi sampai, tapi kau tahan

menyanyi dan bergoyang terus di celah-celah sajakmu.

Kau tampak sempoyongan, tapi kau bilang: “Aku tidak mabuk.”

Mungkin aku harus lebih sabar menemanimu.

 

 

Oleh :

Joko Pinurbo