Wednesday, November 18, 2015

Loper Koran




Pagi-pagi sekali loper koran itu sudah nongol di depan pintu,
menaruh koran di pangkuanku seraya berpesan:
“Jangan percaya koran. Koran cuma bohong-bohongan.”

Dan setiap akhir bulan, saat menerima uang langganan,
ia tak pernah lupa mengingatkan: “Jangan percaya koran.
Koran cuma bohong-bohongan.”

Suatu siang loper koran yang tak pernah membaca koran itu
mati ketabrak mobil wartawan. Tubuhnya digeletakkan
di pinggir jalan dan hanya ditutupi selembar koran.
Banyak yang pura-pura sibuk mengurusnya dan, tentu saja,
ada yang diam-diam mengincar dompetnya.

Aku tak tahu siapa yang mengantar pulang jasadnya,
tapi setiap membaca koran aku seperti sedang mengantar
jenazah loper koran yang malang itu, menyusuri gang
demi gang di tengah perkampungan kata-kata yang bising
dan pengap, dan setelah muter-muter seharian akhirnya
kutemukan sedikit tempat untuk menguburkannya.

Setiap Lebaran aku menyempatkan diri ziarah ke makamnya,
menyusuri lorong-lorong gelap di tengah kuburan kata-kata
yang luas dan lengang dan kudapatkan nisan kecilnya
hampir tertutup ilalang. Tak ada bulan di atas kuburan.


Oleh :
Joko Pinurbo

Tuesday, November 17, 2015

Hampir




Ada sepasang pengemis buta suatu hari datang ke rumah.
Sebelum minta sedekah, mereka bertanya dulu:
“Apakah Tuan sudah kaya?” Aku menimpal: “Hampir!”
Dengan halus mereka mohon diri, kemudian menuju
ke tetangga sebelah yang mungkin saja hampir sisa hartanya.

Kini aku merasa benar-benar sudah mampu. Telah kusiapkan
rapelan sedekah bagi sepasang pengemis buta itu.

Mereka muncul juga akhirnya, tapi langsung menuju
ke tetangga sebelah tanpa minta sedekah dulu ke aku.
Ketika mereka lewat di depan rumahku, samar-samar aku
mendengar suara: “Tidak usah ngemis ke tuan yang satu ini.
Kasihan, dia hampir miskin. Besok saja kalau dia hampir mati.”


Oleh :
Joko Pinurbo

Monday, November 16, 2015

Ronda




Beberapa hari terakhir ini kampung kami sering dilanda
gangguan keamanan. Pencurian mulai merajalela, bahkan telah
terjadi perampokan disertai penganiayaan. Kepala kampung
memerintahkan agar kegiatan ronda digalakkan karena
tidak mungkin berharap sepenuhnya kepada petugas keamanan.

Malam itu Pak Aman hendak melaksanakan tugas ronda.
Ia warga kampung yang rajin dan setia, meskipun tubuhnya
yang kurus dan tua kurang mendukung gelora semangatnya.
Kalau ronda ia suka memakai topi ninja berwarna hitam,
mungkin untuk sekadar gagah-gagahan. Tapi malam itu
ia tidak mengenakannya karena topi kebanggaannya itu hilang
dicuri orang ketika sedang dijemur di depan rumahnya.

Nah, ia memukul-mukul tiang listrik, memanggil-manggil
teman-temannya, namun yang dipanggil-panggil tidak juga
menampakkan batang hidungnya.
Sambil bersiul-siul Pak Aman berjalan gagah ke gardu ronda.
Ia terperangah melihat di gardu ronda sudah ada beberapa
orang pencoleng sedang bermain kartu sambil terbahak-bahak
dan meneriakkan kata-kata yang bukan main kasarnya.
Bahkan ia jelas-jelas melihat salah seorang pencoleng
dengan enaknya mengenakan topi ninja kesayangannya.

“Ada musuh!” seru seorang pencoleng dan kawanan pencoleng
segera bersiaga untuk meringkusnya. Secepat kilat Pak Aman
melompat dan bersembunyi di sebuah rumpun bambu.
Tubuhnya menggigil demi melihat wajah sangar
para pencoleng sampai ia terkencing-kencing di celana.

Tidak lama kemudian muncul serombongan petugas patroli,
hendak memeriksa keadaan. “Bagaimana situasi malam ini?”
tanya seorang petugas. “Aman!” seru orang-orang
di gardu ronda yang sebenarnya adalah para bajingan.

Meskipun ketakutan, Pak Aman tidak kehilangan akal.
Ia punya keahlian menirukan suara binatang, dan ia paling fasih
menirukan suara anjing. Maka mulailah ia menggongong
dan melolong. Para pencoleng yang merasa sangat terganggu
oleh suara anjing serempak mengumpat: “Asu!”
Tapi gonggongan dan lolongan itu makin menjadi-jadi
sampai beberapa orang kampung mulai berhamburan keluar.

Menyadari ada ancaman, kawanan pencoleng yang sedang
menguasai gardu ronda segera lari tunggang langgang.
Dengan terkekeh-kekeh Pak Aman keluar dari tempat
persembunyian dan teman-temannya yang sudah hafal
dengan kelakuannya serempak berseru: “Asu!”


Oleh :
Joko Pinurbo

Sunday, November 15, 2015

Di Pojok Iklan Satu Halaman

Di pojok iklan satu halaman lelaki itu duduk mencangkung
sepanjang hari, menunggu perempuan yang pernah ia temui
di sebuah mimpi. Kutunggu kau di sudut taman ini. 

Ia suka menengadah ke langit, menyaksikan ribuan pipit
mencecar senja dalam cericit, meringkas waktu ke dalam jerit.

Ia mencangkung saja sepanjang hari, lalu tertidur sampai pagi,
sampai seorang perempuan datang membangunkannya. 
Aku ingin memperkosamu di taman yang hening ini. 


Oleh :
Joko Pinurbo

Saturday, November 14, 2015

Serdadu

Ketika kau tidur, ada seorang serdadu duduk-duduk di atas
tubuhmu, merokok, main gitar, dan dengan suara sumbang
menyanyikan lagu selamat malam.

Di atas tubuhmu ada serdadu sedang tiduran, menjilat darah
pada pisau, bersiul, kemudian berdiri sambil mengacungkan
senapan. “Hidup revolusi!” pekiknya lantang.

Ketika kau tidur, Sayang, ada serdadu mencari-cari jejakku
di bilur-bilur merah di mahasakit tubuhmu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Friday, November 13, 2015

Mentari Ku




Mentariku berlari mengejar impian
Selalu menyapa tatkala embun pagi mulai sirna
Alam dunia yang gelap gulita
Mulai berubah menjadi surga sesaat
Alarm alarm alam pun juga ikut beserta

Singgasana yang nyaman mulai ditinggalkan
Segala yang kotor pun mulai ditanggalkan
Bersih menjadi tujuan hidupnya
Lantaran dunia fantasi sudah hilang
Dan dunia nyata datang dengan mendobrak kehidupan
Tapi dunia fantasi tak seketika menyerah
Dia datang kembali untuk menggoda

Kotak persegi pun terbuka
Seketika raga tersentak
Jantung berdebar dan
Trompet sang jaguar pun berbunyi
Tanda bisikan - bisikan halus sedang meraba tubuh
Kicau burung pun sahut menyahut
Daun berguguran merebak ditepian sungai
Memperlihatkan indahnya alam surga
Yang selama ini terlupakan oleh mata sang dewa 


Oleh :
Dwiki Syahputra (Admin)

Thursday, November 12, 2015

Kisah Seorang Nyumin




Demonstrasi telah bubar. Kata-kata telah bubar.
Juga gerak, teriak, gegap, gejolak.
Tak ada lagi karnaval.
Bahkan pawai dan gelombang massa telah menggiring diri
ke dataran lengang, tempat ilusi-ilusi ringan
masih bisa bertahan dari serbuan beragam ancaman.

Siapa masih bicara? Bendera, spanduk, pamflet
telah melucuti diri sebelum dilucuti para pengunjuknya.
Tak ada lagi karnaval.
Di pelataran yang mosak-masik yang tinggal hanya
koran-koran bekas, berserakan, kedinginan
diinjak-injak sepi.

Tapi di atas mimbar, di pusat arena unjuk rasa
Nyumin masih setia bertahan, sendirian.
Lima peleton pasukan mengepungnya.
“Sebutkan nama partaimu.”
“Saya tak punya partai dan tak butuh partai.”
“Lalu apa yang masih ingin kaulakukan?
Mengamuk, mengancam, menggebrak, melawan?”
“Diam, itu yang saya inginkan.”
“Lakukan, lakukan dengan tertib dan sopan.
Kami akan pulang, mengemasi senjata,
mengemasi kata-kata. Pulang ke rumah
yang teduh tenang.”

Sayang Nyumin tak bisa diam. Nyumin terus bicara,
menghardik, menghentak, meronta, meninju-ninju udara.
Dan para demonstran bersorak: “Hidup Nyumin!”
Suasana serasa senyap, sesungguhnya.


Oleh :
Joko Pinurbo

Wednesday, November 11, 2015

Di Kulkas : Namamu

Di kulkas masih ada
gumpalan-gumpalan batukmu
mengendap pada kaleng-kaleng susu.

Di kulkas masih ada
engahan-engahan nafasmu
meresap dalam anggur-anggur beku.

Di kulkas masih ada
sisa-sisa sakitmu
membekas pada daging-daging layu.

Di kulkas masih ada
bisikan-bisikan rahasiamu
tersimpan dalam botol-botol waktu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Tuesday, November 10, 2015

Ranjang Kematian




Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri.
Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali
oleh keturunan orang-orang mati.
Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi.

Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu.
Bantal, guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku.
Dan selimut telah melumut. Telah melumut pula
mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi.

Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran
tempat peri-peri membersihkan diri dari prasangka manusia.
Semalaman mereka telanjang, meniup seruling,
hingga terbitlah purnama. Dan manusia terpana, tergoda.


Oleh :
Joko Pinurbo