Wednesday, August 12, 2015
Tuesday, August 11, 2015
Karena Bukan Ensiklopedia
Suatu ketika --entah bila-- aku bukan bagian dari alam raya.
Tentang apakah manusia tentang apakah dunia, bagiku semua kosong saja.
Tak ada pikiran tentang hidup karena aku tak bakal berurusan dengan mati.
Tak ada apa pun kata dalam bunyi karena aku bukan bagian dari ensiklopedi.
Suatu ketika --entah bila-- aku bukan bagian dari alam raya.
Anda melihat bintang, aku belum ada dalam kerlipnya.
Anda melihat laut, aku belum ada dalam ombaknya.
Adakah Anda, seperti mereka, mendapatkan belum dalam tak ada?
Setiap waktu, setiap ketika, mereka mendengar diamku dalam suara.
Melengking, merintih, jauh menuju tiada.
Oleh :
Gus tf
Monday, August 10, 2015
Mitologi
Saat kanak-kanak, ia gemar melihat dirinya dalam cermin di kamar Ibu.
''Itulah kamu,'' kata si Ibu seraya menerbangkan seekor burung ke dalamnya.
Burung itu cantik, pupilnya terang, paruhnya merah muda.
''Sebagai teman, tentu, bila Ibu tak ada.''
Saat ia mulai remaja, cermin itu dipindahkan Ibu ke kamarnya.
Setiap ia berkaca, burung itu berkicau berputar-putar di atas kepala.
Apakah yang dikatakannya?
Atau adakah yang diinginkannya?
Bila dirinya tak ada, kadang ia merasa burung itu kesepian;
dan tentu menderita.
Saat dewasa, sebab entah sibuk bekerja, ia mulai jarang berkaca.
Burung itu, entah memang karena ia lupa, jarang pula tampak olehnya.
Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, mereka bagai bukan bagian dari bersama.
Tapi suatu ketika, dalam usia separo baya, ia melihatnya.
Burung jelek, kusam, tak ubahnya kelebat suram dalam hidupnya.
Betulkah itu dia?
Kini ia telah tua.
Di depan cermin, pedih, ia sering merindukannya.
Burung itu -- burung itu, memang, sebenarnya tak pernah ada.
Oleh :
Gus tf
Sunday, August 9, 2015
Adakah
''Adakah engkau memiliki ibu?''
Sungguh ia sangat malu dengan pertanyaan itu.
Kata orang, ia muncul dari malam, dalam kelam, dari mitos penuh hantu.
''Adakah engkau memiliki anak?''
Sungguh ia sangat takut dengan pertanyaan itu.
Kata orang, ia punya anak tapi si anak tak pernah memiliki bapak.
Ia memiliki Putri, memiliki Putra, tapi tak pernah mendapat apa pun dari mereka.
Setiap malam, sebelum tidur, tak henti ia berdusta.
''Bu, dari mana kita? Mengapa kita ada?''
''Entah. Dari tanah. Tidurlah!''
Si Putra seperti tidur.
Si Putri Bagai mendengkur.
Si Putra mimpi jadi hujan.
Si Putri mimpi jadi genangan.
Tidakkah kita dari air?
Lihatlah. Cacing dan katak selalu muncul pada tempat yang baru digenangi hujan.
''Dari air!'' Si Putri tersentak dan berteriak.
Tapi si Putra, setiap pagi, tetap merasa bahwa mereka muncul dari televisi.
''Adakah engkau memiliki ibu?''
''Adakah engkau memiliki anak?''
: Ah, alangkah kacau pertanyaan itu.
Oleh :
Gus tf
Saturday, August 8, 2015
Daging
Angkasa luas inilah yang menggelembungkan balon di kepalaku.
Bongkahan planet melayang, seperti gumpalan dada yang mengerang.
''Siapa Anda? Punyakah Anda secebis kisah tentang dunia? Tolong.''
Tidak.
Tak ada kisah tentang dunia.
Kecuali dongeng, semacam konon, yang diterbangkan oleh sepotong daging di jagat raya.
''Ini bulan, kuserpih dari seratku yang malam.
Ini matahari, kubeset dari kulitku yang siang.
Pada keduanya ada gerhana, tempat kau berpikir tentang tiada.''
Tentang tiada?
''Aku manusia! Diriku lahir karena ada. Siapa Anda?
Takkan aku bertanya kalau di mataku Anda tiada.
Takkan aku berkata kalau gugus galaksi gelap saja.
Takkan aku berpikir kalau semuanya sia-sia.
Siapa Anda?''
''Sudah mereka katakan aku cuma dongeng.
Sudah mereka katakan aku cuma konon.
Tapi aku daging. Daging, yang setiap hari engkau telan engkau muntahkan...''
Oleh ;
Gus tf
Friday, August 7, 2015
Hal Tak Penting
Kami tidur setiap malam seperti kami bangun setiap pagi.
Apa yang bisa kami makan hari ini?
Kentang, tomat, daging, kiriman roti dari Bakery.
Semur, opor, sup, sangat cocok dengan nasi.
Ada juga keripik ikan pari, cemilan kami setiap kali duduk di depan televisi.
Kami duduk di depan televisi seperti kami duduk di depan kerabat.
Lihat.
Leher koyak, kepala somplak, di kaki meja tergeletak sepotong kapak.
Adakah ia kapak yang kemarin kami pinjam dari tetangga?
Darah mengalir, menetes ke cangkir, memadat mengental
seperti agar-agar.
Lihat. Ia mengiris, dan mencowelnya, seperti kami mengiris dan mencowel mentega.
Ia menjilat, dan mengulumnya, seperti kami menjilat dan mengulum gula-gula.
Adakah ia memang rasakan betapa legitnya?
Adakah ia memang kerabat --bagian dari kami juga?
Kami tertawa-tawa.
Tergeli-geli seperti bukan dengan televisi.
Tapi selalu, setiap senja, seorang lelaki turun dari taman kota.
Dari pintu pagar, ia berteriak, ''Tidakkah mengherankan bahwa kita hidup?''
Sungguh tak penting.
Ia manusia.
Si gila.
Berita sore yang kami nanti: Seberapa banyak saham kami naik hari ini?
Oleh :
Gus tf
Thursday, August 6, 2015
Kita Pernah
Kita pernah berkenalan. Musim hujan, air
Memanjat selokan. Sebut aku kepasrahan,
Katamu, timbul-tenggelam dalam genangan
Dalam genangan, api menjilat rumah-rumah jamban
Wajahmu pucat, dan ketakutan. Sebut aku ketabahan
Katamu. Kayu dan arang mengerut dan mengerang. Engkau
Kemanakah bakal pulang? Berhari-hari berbulan-bulan
Kutunggu kau di koran-koran
Di koran-koran, seperti biasa, kau tidak ada. Gedung
Gedung didirikan dengan ketenangan. Demikian indah
Begitu megah deras pembangunan. Kota-kota tumbuh
Dari kegaiban. Tapi kita
Tapi kita pernah berkenalan. Berulangkali
Oleh :
Gus tf
Wednesday, August 5, 2015
Manusia Cacing
Mencari tapal tuahku. tanya, tanya, tanya
Kehilangan tahun, musim bertarung dengan cuaca
Ambar di jalan, kesturi di halaman, dupa di taman
Jadi debu di tangan. “Permainan?” tanyamu. Aku orang
Tak berlabuh, buat apa tahun jika kita tak saat. Hanya
Sari hidup (batas) cinta dengan akhirat
Tahun keluar dari orbit
Perjalanan yang luas, keluhmu. Satu titik. Tanya,
Tanya. Siapa menyambung apa, memburu perburuan apa
Dagingku (beraga) di atas sukma berjiwa. Makna,
Kuliti aspal jalan raya. O traffic light
Hendak ke mana
Tahun keluar dari manusia
Tanya, tanya, tanya. Cacing saja
Oleh :
Gus tf
Monday, August 3, 2015
Lidah
Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara
kutata kalimat alif bata, walau tak peduli hati patah
Betapa takjub aku pada lidah, tak bertulang pula
Lidah kubasahi ludah, begitu jika bermain lidah
Lidah bikin hati gundah, tubuhku jadi basah
Tapi ada orang tak tahu diri pada lidah
dipakainya lidah untuk sumpah serapah
Padahal lidah tajam bagai pedang membelah
Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara
tak peduli pada siapa benar siapa salah
Oleh :
Gola Gong
Sunday, August 2, 2015
Berkacalah Negeriku
Berkacalah, negeriku ketika mahasiswa menjadi bara, bara membara di seluruh negeri nyaw
dijadikan coba-coba, coba-coba taruhannya nyawa masyarakat menangis dijadikan maling,
maling sungguhan tertawa-tawa fakta jadi isapan jempol, jempol dan telunjuk serupa pelatuk
(kemudian berakhir di meja-meja perundingan sambil mencungkili slilit dengan gelondongan
kayu) Berkacalah, negeriku ketika petani menanam padi, padi dimakan belalang, belalang
dimakan petani, petani menanam harapan, hutan jadi asap, asap terbang ke negeri tetangga,
tetangga sedia menyumbang, sumbangan membuat rakyat sengsara (kemudian para orangtua
menangisi masa depan sambil menyuapi bayi-bayi nusantara dengan susu air tajin)
berkacalah, negeriku, kau tak perlu berbedak berkacalah, negeriku, kau tak perlu malu
kebon jeruk, mei berdarah
Oleh :
Gola Gong
Saturday, August 1, 2015
Belajarlah Pada Alam
Belajarlah pada embun, tak pernah mengutuk matahari
Yang menjadikannya tiada, walau denyut masih panjang.
Sementara dinding-dindingku terbatas oleh hari
Melulu umpatan ketidakpastian yang lengang.
Belajarlah pada ikan, yang mengabdi pada nelayan
Yang membuatnya bermakna, walau terbelenggu
Kemiskinan.
Sementara kitab-kitab dan kisah nabi lelah kita baca
Menjadikan Alif bata terbentur ke dunia kaca.
Belajarlah pada katak, tak capek memanggili hujan
Walau diburu dan berujung di meja-meja restoran.
Sementara aku darah daging Illahi, belajar pada
Rahasia alam
Menjadikanku ada, tak lepas dari sujud malam.
Oleh :
Gola Gong
Friday, July 31, 2015
Penangkapan Sukra
— Variasi atas Babad Tanah Jawi
Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17…, di sebuah pagi
Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.
Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,
tinggi, dan seorang abdi berkata, “Ada juga lolong serigala
ketika Kurawa dilahirkan.”
Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.
Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat
Pergi, tak akan kembali.
Pada umurku yang ke-21, aku ditangkap.
Debu kembali ke tanah
Jejak sembunyi ke tanah
Sukra diseret ke sana
Seluruh Kartasura tak bersuara
Sang bapak menangis kepada angin
Perempuan kepada cermin
“Raden, raden yang bagus,
pelupukku akan hangus!”
Apa soalnya? Kenapa aku, mereka tangkap tiba-tiba?
Para prajurit itu diam, ketika mataku mereka tutup.
Kuda-kuda bergerak. Aku coba rasakan arah dan jarak. Tentu
saja tak berguna.
Pusaran amat panjang, dan tebakan-tebakan amat
sengit, dalam perjalanan itu.
Sampai akhirnya iringan berhenti.
Tempat itu sepi.
“Katakanlah, ki sanak, di manakah ini.”
“Diamlah, Raden, tuan sebentar lagi
akan mengetahuinya sendiri.”
Ada ruang yang tak kulihat.
Ada gema meregang di ruang yang tak kulihat.
Kemudian mataku mereka buka. Lalu kulihat pertama kali
gelap sehabis senja.
Aku pun tahu, setelah itu
tentang nasibku. Malam itu Pangeran, Putera Mahkota
telah menghunus kehendaknya.
Siapakah yang berkhianat
Kelam atau kesumat?
Kenapa nasib tujuh sembilu
Menghadang anak itu
“Tahukah kau, Sukra, kenapa kau kuperintah dibawa kemari?”
(Suara-suara senjata berdetak ke lantai)
“Tidak, Gusti.”
“Kausangka kau pemberani?”
Aku tak berani. Mata Putera Mahkota itu tak begitu nampak,
tapi dari pipinya yang tembam kurasakan geram saling mengetam,
mengirim getarnya lewat bayang-bayang.
Suara itu juga seperti melayang-layang.
“Kau menantangku.”
Kuku kuda terdengar bergeser pada batu.
“Kau menghinaku, kaupamerkan kerupawananmu, kauremehkan
aku, kaupikat perempuan-perempuanku, kaucemarkan
kerajaanku. Jawablah, Sukra.”
Malam hanya dinding
Berbayang-bayang lembing.
“Hamba tidak tahu, Gusti.”
Bulan lumpuh ke bumi
Sebelum parak pagi.
“Pukuli dia, di sini!”
Duh, dusta yang merah
Kau ingin cicipi asin darah
“Masukkan semut ke dalam matanya!”
Seluruh Kartasura tak bersuara
Oleh :
Goenawan Mohammad
Thursday, July 30, 2015
Sajak Sehabis Mimpi
Tak seorang akan tahu
kur siapa yang nyanyi
pada sebuah magrib
dalam mimpiku
Tak seorang akan tahu
Tujuh orang hitam ikut menangis
untuk seorang gubernur
yang menghilang dengan sebuah tangga listrik
yang berjalan dalam mimpiku
Tak seorang akan tahu
Aku pun ikut sedih. Hari sudah gelap,
tanah airku. Dan serombongan pemain debus
meramal buruk
tentang perang saudara dalam mimpiku
Tak seorang akan tahu
Oleh :
Goenawan Mohammad
Wednesday, July 29, 2015
Persetubuhan Kunthi
— untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo
Semakin ke tangah tubuhmu
yang telanjang
dan berenang
pada celah teratai merah
Ketika desau angin berpusar
ikan pun
ikut menggeletar
Dari pinggir yang rapat
membaur ganggang.
Antara lumut lebat
dan tubir batu
ada lempang kayu apu
yang timbul tenggelam
meraih
arus dan buih
Sampai badai dan gempa seperti menempuhmu
dan kau teriakkan
jerit yang merdu itu
sesaat sebelum kulit langit biru
kembali, jadi biru
Engkau dewa? kau bertanya
Engkau matahari?
Laki-laki itu diam sebelum menghilang
ke sebuah asal
yang tak pernah diacuhkan:
sebuah khayal
di ujung hutan
di ornamen embun
yang setengah tersembunyi.
Yang tak pernah kau miliki, Kunthi
tak akan kau miliki.
Oleh :
Goenawan Mohammad
Subscribe to:
Posts (Atom)