Sunday, October 25, 2015

Jauh

Jauh nian perjalanan di atas ranjang
padahal resah cuma berkisar
dalam pusaran arus gelombang.

Kaudaki puncak risau dalam galau malam
namun selalu kandas dihadang
konspirasi kecemasan.
Memang harus sabar dan tawakal
meniti birokrasi kematian.

Lantas laut mencampakkan kau ke pelabuhan.
Kauseret bangkai kapal yang terbakar
ke pantai gersang.

Kau terhempas kembali ke dataran lengang,
menyusuri rute panjang kelahiran.

Kau mengambang, melayang

seperti bayi terlelap
dalam ayunan ranjang.



Oleh :
Joko Pinurbo

Saturday, October 24, 2015

Ranjang Putih




Ranjang telah dibersihkan.
Kain serba putih telah dirapihkan.
Laut telah dihamparkan.

Kayuhlah perahu ke teluk persinggahan.

Sampai di seberang
tubuhmu tinggal tulang-belulang
dan perahumu tertatih-tatih sendirian
pulang ke haribaan ranjang.

Ranjang telah dibersihkan.
Laut telah disenyapkan.
Ombak telah diredakan.
Tapi kau tak kunjung pulang.

Mungkin tubuhmu enggan dikubur
di kesunyian ranjang.


Oleh :
Joko Pinurbo

Friday, October 23, 2015

Pulang Malam

Kami tiba larut malam.
Ranjang telah terbakar
dan api yang menjalar ke seluruh kamar
belum habis berkobar.

Di atas puing-puing mimpi
dan reruntuhan waktu
tubuh kami hangus dan membangkai
dan api siap melumatnya
menjadi asap dan abu.

Kami sepasang mayat
ingin kekal berpelukan dan tidur damai
dalam dekapan ranjang.


Oleh :
Joko Pinurbo

Thursday, October 22, 2015

Keranda




Ranjang meminta kembali tubuh
yang pernah dilahirkan dan diasuhnya
dengan sepenuh cinta.

“Semoga anakku yang pemberani,
yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan,
menemukan jalan untuk pulang;
pun jika aku sudah lapuk dan karatan.”

Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara.
Kalaupun sesekali datang, ia datang
hanya untuk menabung luka.

Dan ketika akhirnya pulang
ia sudah mayat tinggal rangka.

Bagai si buta yang renta dan terbata-bata
ia mengetuk-ngetuk pintu: “Ibu!”

Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar
memeluknya erat: “Aku rela jadi keranda untukmu.”


Oleh :
Joko Pinurbo

Wednesday, October 21, 2015

Korban

Darah berceceran di atas ranjang.
Jejak-jejak kaki pemburu membawa kami
tersesat di tengah hutan.

Siapakah korban yang telah terbantai
di malam yang begini tenang dan damai?

Terdengar jerit lengking perempuan yang terluka
dan gagak-gagak datang menjemput ajalnya.

Tapi perempuan anggun itu tiba-tiba muncul
dari balik kegelapan
dan dengan angkuh dilemparkannya
bangkai pemburu yang malang.

“Beginilah jika ada yang lancang mengusik
jagad mimpiku yang tenteram.
Hanya aku penguasa di wilayah ranjang.”


Oleh :
Joko Pinurbo