Sunday, July 19, 2015

Autumn Quatrains

And so, in the cold, the process begins: the night arrays the leaves,

making the death bed.

Day will end the year

before it finally departs.


Soon it will die,

the sun that heards children to the beach.

Leaving only drizzle.

Shifting colors. And you do not understand.


On the calendar the season is mute.

Even I am bored with the calendar.

Beneath the red leaves, Your footprints areu burried

still and unchanged. The summer was so great.


The latest news is snow.

A distant murmur, ushered by time.

We pray no more. We fail to know.

We have only dusk, the worn-out final heat.


Translator: Laksmi Pamuntjak



Oleh :

Goenawan Mohammad

Thursday, July 16, 2015

Harapan Semu

Kabar gembira datang berkata

Melebihi rasa senang di dalam dada

Hingga hati ini hampir tak dapat menampungnya

Kerinduan yang mendalam akan dirinya


Seandainya kau disana

Menjadi lakon khayalku

Mungkin dirimu kan tau

Mimpiku jujur padamu

Mimpiku awal harapanku

Mimpiku akhir penantianku

Mimpiku sumber kebahagianku


Sekilas cahya muncul memancar

Tatkala waktu maghrib datang menerka

Suasana hening dan senyap tak terdengar

Namun sorak semarak kian membara

Tak ada yang dapat mengganggu sang fajar

Saat kebahagiaan datang menyapa


Ketika waktu berjalan lurus

Sungguh, awal tak memaksa

Tapi ternyata, takdir yang berharap

Ketika semua menekannya tuk katakan kebohongan fana

Tapi disitu kucoba menekan rasa, yang sekejap muncul kembali

ke dalam dada


Aduhai wanita

Sekiranya kau tau

Seberapa besar cinta ini

Seberapa tulus cinta ini

Seberapa hangat cinta ini

Dan seberapa kerasnya cinta ini

Pasti dirimu kan dapatiku seutuhnya


Biar Allah lah yang mempertemukan dan menyatukan kita

Percayalah, Allah selalu punya rencana yang terindah

Percayalah, cinta sejati tak kan pernah sirna meski kita

melupakannya

Dan percayalah, bahwa cinta sejatilah yang dapat membuatmu bahagia

Perempuan Itu Menggerus Garam

Perempuan itu menggerus garam pada cobek

di sudut dapur yang kekal.

“Aku akan menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.”

Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia

dalam mimpi Yeremiah


Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,

seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,

ungkapannya, di angkasa. “Merekalah yang bermimpi,”

katanya dalam hati.


Tapi ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang

turun, seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam

orang berlari seakan ketakutan akan matahari.

“Itu semua anakku,” katanya. “Semua anakku.”


Ia tidak tahu ke mana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada

yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di Rusia, tak pernah

menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya

hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,

“Mak, kami hanya pengkhianat.”


Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,

(atau mungkin mimpi itu hanya kembali,)

yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan

bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia,

ia tidak berani tahu.


Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek

di sudut dapur yang kekal.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Monday, July 13, 2015

A Woman Who Was Pounding Salt

In the corner of her eternal kicthen

a woman was pounding salt in her mortar.

“I will create hope,” she said, “on the black stone.”

Smoke was never brief. Its ceiling was the color of the world

in Jeremiah’s dreams.


She herself mused on fish in an aquarium, swimming,

like lazy balloons unaware of their own painted sign

in the sky. “They are the ones who dreaming,”

the said to herself.


Even if she had her own dreams. She dreamt of mounds of flour,

drizzling, like grumbling. On as grassland. Half a dozen

people running, escaping, from the sun. “They are all my

children,” she said. “All are my children.”


But the did not know where they went, because thay had not returned since. The

youngest, from some Russian town, never

wrote. The eldest had simply vanished. The other four has sent

only one letter with a single sentence,

“We are but traitors, Ma.”


Perhaps there was still a young woman left, on a distant prayer rug, (or maybe that was

just a dream returning,)

who did not know her. She often communicated with the silent

language of a factory smoke. She dared not know who she was.

She dared not know.


In the corner of her eternal kitchen

a woman was pounding salt in her mortar.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba


Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada


Oleh : 
Goenawan Mohammad

Thursday, July 9, 2015

Gandari

Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan sehelai kain

hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak, beberapa detik

sebelum ajal…

la, yang tak ingin lagi melihat dunia, sore itu

menengok ke luar jendela buat terakhir kalinya:


Sebuah parit merayap ke arah danau. Dua ekor tikus mati,

hanyut. Sebilah papan pecah mengapung.

Sebatang ranting tua mengapung.


Di permukaan telaga, di utara, dua orang

mengayuh jukung yang tipis, dengan

dayung yang putus asa.


Ombak seakan-akan mati. Air menahan mereka.


“Mereka lari dari koloni kusta,” kata Gandari dalam hati,

“dan mereka lihat warna hitam

yang berhimpun di atas bukit.”


Malam, sebenarnya mendung, seakan mendekat.

Air naik deras ke langit:

sebuah pusaran, sebelum hujan datang, lebat,

menghantam danau.


Dan angkasa gemetar

Dan mengubah diri ke dalam putting beliung.


*

Kemudian malam. Malam yang sesungguhnya:

Pada halaman langit

Bintang membentuk asteris,

yang merujuk ke nama yang tak ada

juga nama seorang dewa yang

susut


*

Dan guruh berkejaran dengan hujan

sepanjang trowongan langit

yang merendah.


Kemudian kering. Kemudian gerimis,

seperti silabel yang lebat,

berdegup, bergegas, berdegup, dari pinggir galaksi,

membentuk kata, kata, kata…


Tapi perempuan yang sedih itu tak memberinya arti.


*

Di luar aula para dewa, ketika angkasa kosong,

Brahma mencipta Kematian.

“Kali akan datang,” katanya,

“dan akan melambaikan tangannya yang ungu.

Tenanglah, semua tak akan apa-apa.”


Di dalam ruang, tak ada yang ingin bicara.


Dan dari bulan yang lambat

Maut meloncat ke kerumunan mega.

la menari. Di pelukannya yang putih, ada mayat

yang terpenggal.


*

Malam itu para dewa pun diberitahu,

itulah tarian Kali yang pertama.


*

“Aur mengisut, air surut,

cahaya jadi sepa, dan dari langit

tak ada lagi apa-apa. Hanya di malam-malam tertentu

dewa-dewa menciptakan teks mereka

yang panjang, sepanjang ribuan makam.


“Mereka menghendaki aku, Kematian,

Mereka menghendaki aku.”


*

Mungkin Gandari mendengar kata-kata itu.


Tapi kemarin di balairung itu,

bersama Destarastra yang berkabung,

ketika ia dengar “pyuuu” kepodang hutan,

ia tak tahu isyarat apa

yang telah disampaikan.


Itu adalah hari kesendirian mereka yang ke-7.

Suami-isteri di ruang selatan: sepasang tahta tua;

dinding yang terlindung gordin; sepetak lantai

dengan medan catur yang panjang; bidak-bidak berat

yang berdiri berjauhan: ksatria asing, pion-pion yang bungkam,

para pendeta yang angkuh, benteng bujursangkar.


Gandari pernah menyukai semua itu: “Dulu aku

memimpikan makhluk imajiner di hitam-putih senjakala.”


Tapi tiap malam Destarastra, suaminya,

hanya bisa mengkhayalkan berbagai unggas

dengan bulu yang ia sebut hijau.


*

Tapi tidak di malam itu. Dari plafon

yang dipahat gambar naga,

cahaya makin tak berarti.

Lampu ke-3 tak ada lagi.


Ketika itulah raja yang buta itu berkata,

“Aku membau amis empedu.”


Meskipun semalam

tak seorang pun mempersembahkan

hewan korban.


Orang-orang bersenjata

telah meninggalkan mereka.


*

Pada pukul 7:45 perempuan itu pun menggeruskan kuku

tangannya

pada kain lena lengan kursi.


la dengar degup kaki kuda

yang lelah itu lagi, seperti kemarin, seperti kemarin,

dan seorang prajurit luka yang setiap senja berkata kepadanya:

“Hamba membawa kabar dari peperangan, Ratu.”


Gandari hanya memandang ke halaman. la seakan men-

dengar

kalamakara di gerbang itu bergerak

Bersama suara katak yang mengigau.


*

Mari kita pergi.

Ke sebuah kota di mana nujum

tak dibaca. Di mana anak-anak

tak tumbuh. Di mana masa lalu adalah masa kini.

Di mana “aku” hanya

kata sebelum amnesia.


Mari kita pergi ke sebuah kota

di mana kabar adalah tafsir

yang terlambat.


*

Tapi ia tahu, hanya ada sebuah kota yang tinggal.

Di Dhenuka. Di perbatasannya yang kering, Kali berdiri

dengan satu kaki, selama 15 ribu tahun.

Parasnya yang gelap seperti Semeru malam

memandang ke 700 rangka

yang terhantar. “Paduka tak memberiku cermin.

Hanya bisa kulihat wajahku

pada langit sekeruh tembaga.

Paduka tak memberiku warna

meskipun pada perak pagi.”


Brahma tertawa: “Tapi kau kematian.

Kau Mertyu.”


“Ya, aku kematian.”


“Aku suka gerak burung di pohon yang pucat.

Aku suka bau tahi sapi yang separuh terbakar.

Aku suka—”


*

Mungkin juga Gandari cuma bermimpi

tentang dewa-dewa yang bodoh.


Kini ia ingin duduk.


“Jangan kau hanya diam,” suaminya berkata.

Ia lihat jari kisut lelaki itu

meremas kain kasar yang terjela

dari sisi mahligai;

karena ia sebenarnya gemetar.


Ketika itu,

utusan itulah yang bersuara.


“Bhisma gugur, dengan 100 liang luka.”


“Dan ketika orang tua itu rubuh

di bawah bukit-bukit Kurusetra,

perang berhenti sebentar,

dan senjata diletakkan.

Dan di kedua perkemahan

orang-orang menunduk:

‘Bhisma gugur/ mereka berbisik,

‘dengan 100 liang luka’.”


*

“Katakan kepada saya,

apakah yang paling menyakitkan

dari perang? Kekalahan?

Atau kebencian?”


Gandari ingin mengatakan kalimat itu, tapi

di sudut halaman yang gelap,

utusan yang letih itu

hanya memejamkan matanya.


Ratu itu seperti melihat bidak-bidak catur bergerak.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Wednesday, July 8, 2015

Not

Malam itu ia coba tirukan,

dengan bunyi senar gitar, tetes air

yang saling bertemu

di talang serambi.


Tapi yang terbentuk dari langit

hanya lagu.

‘Aku tak ingin lagu’,

katanya.


Tak seorang pun tahu apa yang ia inginkan. Mungkin sesuatu yang lepas,

not yang tak terkait dengan angin yang datang ke bubungan ketika hampir fajar.


‘Kau selalu menghendaki yang sulit’

— itu kesimpulan perempuan yang tidur

di sebelahnya

pada dinihari sebelumnya.


Ia mengangguk. ‘Aku selalu berdoa

kepada Tuhan yang tak sengaja’, sahutnya, ‘Tuhan yang sudah lama mati.’

Dan ia kembali memetik senar.


Menjelang matahari terbit,

di atas deretan gudang ia lihat langit memperlihatkan kilat sejenak.

Lampu-lampu menghalaunya.


Akan ada petir yang jatuh

pada penangkal di sebuah bukit, pikirnya,

jauh di pedalaman,

tak tahu ia tak akan hilang.


‘Bersama sebuah not’.



Oleh :

Goenawan Mohammad

U

Surga terletak di telapak kaki ibu, ia selalu ingat itu: perempuan tua penyapu jalan yang tak dikenalnya yang memberinya seraut tapal kuda dan berkata, ‘Kutemukan ini; coba kau simpan’.


Sejak itu di tas sekolahnya ada tapal kuda yang separuh berkarat. Tiap pagi, sebelum memasuki kelas, ia merabanya: sesaat, entah di mana, ia dengar gerit pintu kandang dibuka dan bunyi langkah ksatria yang belum ia beri nama: seorang kurus yang meregangkan kakinya di sanggurdi dan berangkat membunuh Boma di perbatasan.


Di kedai tukang kebun, terkadang ia tunjukkan tapal kuda itu kepada siapa saja yang duduk di dekatnya. Siapa saja tak pernah tahu apa yang sebaiknya dikatakan. Beberapa orang hanya berkata, ‘Wah!’ dan pergi.


Beberapa tahun kemudian ia menangis untuk ayahnya yang menghilang di Semenanjung dan ibunya yang memahat kayu sampai jauh malam. Digenggamnya tapal kuda itu di jam-jam sebelum tidur, karena ia ingin bermimpi Boma tak mengalahkan ksatria yang tak bernama itu, meskipun kuda itu pulang tak berpenunggang.


Dulu ia pernah percaya besi berkarat yang disimpannya itu juga terpasang di kuda kavaleri yang terjun ke jurang dengan leher tertembak. Tapi kemudian ia menemukan sejumlah cerita lain yang setelah 25 tahun berlalu ia lupakan.


Kini, di studionya, tapal kuda itu terpasang pada tepi meja gambar: seraut U yang bersahaja, sebuah desain dengan sederet lobang yang seakan-akan malu menyembunyikan kesedihan.


Tapi mungkin juga bukan kesedihan. Kemarin malam di atas kertas ia goreskan pensil mengikuti lengkung U. Lalu ia gambar sebuah candi di sebuah hutan Bali yang hampir tak kelihatan karena kabut. ‘Ini cerita perjalanan yang lama’, demikian ia berkata kepada anaknya yang menatapnya dengan takjub.


‘Aku melihat kuda itu, Ayah’.

‘Apa warnanya, Isa?’


‘Ungu, tapi kakinya putih. Di pelananya duduk seorang ibu yang tua’.


‘Bukan seorang ksatria yang kurus?’

‘Bukan’.


Ia diam. Dielusnya kepala anak itu.


Di depan jendela studio, kemudian, ketika ia sejenak melihat ke gelap, ia dengar berisik sebuah jalan yang tak dikenalnya. Seperti di pagi hari. Seorang ibu tua penyapu jalan, dengan seragam kuning yang berlumpur, terbungkuk memungut sesuatu dari sampah.


Di antara asap mobil yang lewat, benda itu berkilau. Seperti setangkai daun surga.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Tuesday, July 7, 2015

Aung San Suu Kyi - English Version

Someone will be set free and stay as eternal

as the green of the dry season

Someone will be set free and be as sour-black

as the monsoon


Someone will be set free and will run

or tire


And the sky will shrink and the stars

Shift


And between the pole of the seven flags and the pale peak


of the pagoda


Someone will be set free

and disappear


But perhaps someone will be set free and see

the dangling stems


stems on the handkerchief tree, stems on the slopes of the road

to Mandalay


(translated from the Indonesian version by Eddin Khoo).



By :

Goenawan Mohammad

Monday, July 6, 2015

Aung San Suu Kyi

Seseorang akan bebas dan akan selalu


sehijau kemarau


Seseorang akan bebas dan sehitam asam

musim hujan


Seseorang akan bebas dan akan lari

atau letih


Dan langit akan sedikit dan bintang

beralih


Dan antara tiang tujuh bendera dan pucuk pucat

pagoda


Seseorang akan bebas dan sorga akan

tak ada


Tapi barangkali seseorang akan bebas dan memandangi

tandan yang terjulai


Tandan di pohon saputangan, tandan di tebing jalan

ke Mandalay



Oleh :

Goenawan Mohammad

Sunday, July 5, 2015

Tentang Chopin

Kembali ke nokturno, katamu. Aku inginkan Chopin.

Seperempat jam kemudian, tuts hitam pada piano itu menganga.

Malam telah melukai mereka.


Mungkin itu sebabnya kau selalu merasa bersalah, seakan-akan sedih adalah bagian dari ketidaktahuan.

Atau kecengengan. Tapi setiap malam, ada jalan batu dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi, dan kau,

yang mencoba mengenangnya dari cinta yang pendek, yang terburu, akan gagal. Di mana kota ini? Siapa yang


meletakkan tubuh itu di sisi tubuhmu?

Semua yang kembali

hanya menemuimu

pada mimpi yang tersisa

di ruas kamar….


Coba dengar, katamu lagi,

apa yang datang dalam No. 20 ini?


Di piano itu seseorang memandang ke luar

dan mencoba menjawab:

Mungkin hujan. Hanya hujan.


Tapi tak ada hujan dalam C-Sharp Minor, katamu.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Saturday, July 4, 2015

Rite of Spring

Tari itu melintas pada cermin:

bagian terakhir Ritus Musim.

Gerak gaun — paras putih —

tapak kaki yang melepas lantai….


23 tahun kemudian di kaca ia temukan wajahnya.

Sendiri. Terpisah dari ruang.

Lekang, seperti warna waktu pada kertas koreografi.


Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.

“Aku tak seperti dulu,” katanya,

“tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.

Aku — hantu salju.”


Suaranya pelan. Seperti derak tulang

ketika di ruang latihan itu tak ada lagi adegan.

Hanya nafas. Mungkin ia masih di situ.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Friday, July 3, 2015

Aktor

— untuk Moh. Sunjaya


Aktor terakhir menutup pintu.

“Caesar, aku pulang.”

Dan ruang-rias kosong. Cermin jadi dingin

seperti wajah tua yang ditinggalkan.


Siapapun pulang. Meski pada jas dengan punggung yang berlobang ia masih rasakan

ujung pisau itu menikam dan akerdeon bernyanyi pada saat kematian.


“Teater,” sutradara selalu bergumam, “hanya kehidupan dua malam.”

“Tapi tetap kehidupan,” ia ingin menjawab.

Ia selalu merasa bisa menjawab.


Ia menyukai suaranya sendiri

dan beberapa kata-kata.

Tapi pada tiap reruntukan panggung

ia lupa kata-kata.


Pada tiap reruntukan panggunng

ia hanya ingin tiga detik — tiga detik yang yakin:

dalam lorong Kapai-Kapai, Abu tak berhenti

hanya karena cahaya tak ada lagi.


Ia tak menyukai melankoli.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Wednesday, July 1, 2015

Di Antara Kanal

Jarimu menandai sebuah percakapan

yang tak hendak kita rekam

di hitam sotong dan gelas sauvognon blanc

yang akan ditinggalkan.


Di kiri kita kanal menyusup

dari laut. Di jalan para kelasi

malam seakan-akan biru.

“Meskipun esok lazuardi,” katamu.


Aku dengar. Kita kenal

kegaduhan di aspal ini.

Kita tahu banyak hal.

Kita tahu apa yang sebentar.


Seseorang pernah mengatakan

kita telah disandingkan

sejak penghuni pertama ghetto Yahudi

membangun kedai.


Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,

tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.


“Kota ini,” katamu, “adalah jam

yang digantikan matahari.”



Oleh :

Goenawan Mohammad

Tuesday, June 30, 2015

Tentang Maut

Di ujung bait itu mulai tampak sebuah titik

yang kemudian runtuh, 5 menit setelah itu.


Di ujung ruang itu mulai tampak sederet jari

yang ingin memungutnya kembali.


Tapi mungkin

itu tak akan pernah terjadi.


Ini jam yang amat biasa: Maut memarkir keretanya


di ujung gang dan berjalan tak menentu.


Langkahnya tak seperti yang kau bayangkan: tak ada gempa, tak ada hujan asam, tak ada

parit yang meluap.


Hanya sebuah sajak, seperti kabel yang putus.


Atau hampir putus.



Oleh :

Goenawan Mohammad