Thursday, October 15, 2015

Boneka, 2

 

 

 

Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Ia minggat begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun

kepada boneka-boneka kesayangannya.

 

“Mungkin ia sudah bosan dengan kita,” gajah berkata.

“Mungkin sudah hijrah ke lain kota,” anjing berkata.

“Mungkin pulang ke kampung asalnya,” celeng berkata.

“Jangan-jangan sudah mampus,” singa berkata.

“Ah, ia sedang nonton dangdut di kuburan,” monyet berkata.

“Siapa tahu ia tersesat di tanah leluhur kita,” yang lain berkata.

 

Mereka kemudian sepakat mengurus rumah itu

dan menjadikannya suaka margasatwa.

 

Pemilik rumah itu akhirnya pulang juga.

Ia masuk begitu saja, namun boneka macan yang perkasa

dan menyeramkan itu menyergahnya.

“Maaf, Anda siapa ya?”

“Lho, ini kan rumahku sendiri.”

“Bercanda ya? Rasanya kami tak mengenal Anda.

Mungkin Anda salah alamat. Sebaiknya Anda segera pergi

sebelum kami telanjangi dan kami seret ke alam mimpi.”

 

 

Oleh :

Joko Pinurbo

Wednesday, October 14, 2015

Boneka, 3




Boneka monyet itu mengajakku bermain ke rumahnya.
Di sana telah menunggu siamang, orangutan, simpanse,
gorila, lutung dan bermacam-macam kera lainnya.

“Kenalkan, ini saudara-saudaramu juga,” monyet berkata.
“Kita mau bikin pesta kangen-kangenan sambil arisan.”
 
Aku ingin segera minggat dari rumah jahanam itu,
tapi monyet brengsek itu cepat-cepat menggamit lenganku.
“Jangan terburu-buru. Kita foto bersama dululah.”

Kami pun berpotret bersama.
Monyet menyuruhku berdiri paling tengah.
“Kau yang paling ganteng di antara kami,” siamang berkata.

“Siapa yang paling lucu di antara kita?” monyet bercanda.
“Yang di tengah,” lutung berkata.
“Ia tampak kusut dan murung karena bersikeras hidup
di alam nyata,” gorila berkata. Mereka semua tertawa 


Oleh :
Joko Pinurbo 

Monday, October 12, 2015

Bayi Di Dalam Kulkas



Bayi di dalam kulkas lebih bisa mendengarkan
pasang-surutnya angin, bisu-kelunya malam
dan kuncup-layunya bunga-bunga di dalam taman.

Dan setiap orang yang mendengar tangisnya
mengatakan: “Akulah ibumu. Aku ingin menggigil
dan membeku bersamamu.”

“Bayi, nyenyakkah tidurmu?”
“Nyenyak sekali, Ibu. Aku terbang ke langit
ke bintang-bintang ke cakrawala ke detik penciptaan
bersama angin dan awan dan hujan dan kenangan.”
“Aku ikut. Jemputlah aku, Bayi.
Aku ingin terbang dan melayang bersamamu.”

Bayi tersenyum, membuka dunia kecil yang merekah
di matanya, ketika Ibu menjamah tubuhnya
yang ranum, seperti menjamah gumpalan jantung dan hati
yang dijernihkan untuk dipersembahkan di meja perjamuan.

“Biarkan aku tumbuh dan besar di sini, Ibu.
Jangan keluarkan aku ke dunia yang ramai itu.”

Bayi di dalam kulkas adalah doa yang merahasiakan diri
di hadapan mulut yang mengucapkannya.


Oleh :
Joko Pinurbo  

Sunday, October 11, 2015

Di Salon Kecantikan

Ia duduk seharian di salon kecantikan.
Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin.
Menyusuri langit putih biru jingga
dan selalu pada akhirnya: terjebak di cakrawala.

“Sekali ini aku tak mau diganggu.
Waktu seluruhnya untuk kesendirianku.”

Senja semakin senja.
Jarinya meraba kerut di pelupuk mata.
Tahu bahwa kecantikan hanya perjalanan sekejap
yang ingin diulur-ulur terus
namun toh luput juga.
Karena itu ia ingin mengatakan:
“Mata, kau bukan lagi bulan binal
yang menyimpan birahi dan misteri.”

Ia pejamkan matanya sedetik
dan cukuplah ia mengerti
bahwa gairah dan gelora
harus ia serahkan kepada usia.

Toh ia ingin tegar bertahan
dari ancaman memori dan melankoli.
Ia seorang pemberani
di tengah kecamuk sepi.

Angin itu sayup.
Gerimis itu lembut.
Ia memandang dan dipandang
wajah di balik kaca.
Ia dijaring dan menjaring
dunia di seberang sana.
Hatinya tertawan di simpang jalan
menuju fantasi atau realita.

Mengapa harus menyesal?
Mengapa takut tak kekal?
Apa beda selamat jalan dan selamat tinggal?
Kecantikan dan kematian bagai saudara kembar
yang pura-pura tak saling mengenal.

“Aku cantik.
Aku ingin tetap mempesona.
Bahkan jika ia yang di dalam cermin
merasa tua dan sia-sia.”

Yang di dalam kaca tersenyum simpul
dan menunduk malu
melihat wajah yang diobrak-abrik tatawarna.
Alisnya ia tebalkan dengan impian.
Rambutnya ia hitamkan dengan kenangan.
Dan ia ingin mengatakan:
“Rambut, kau bukan lagi padang rumput
yang dikagumi para pemburu.”

Kini ia sampai di negeri yang paling ia kangeni.
“Aku mau singgah di rumah yang terang benderang.
Yang dindingnya adalah kaki langit.
Yang terpencil terkucil di seberang ingatan.
Aku mau menengok bunga merah
yang menjulur liar
di sudut kamar.”

Ada saatnya ia waswas
kalau yang di dalam cermin memalingkan muka
karena bosan, karena tak betah lagi berlama-lama
menjadi bayangannya
lalu melengos ke arah tiada.

Lagu itu lirih.
Suara itu letih.
Di ujung kecantikan jarum jam
mulai mengukur irama jantungnya.

“Aku minta sedikit waktu lagi
buat tamasya ke dalam cemas.
Malam sudah hendak menjemputku
di depan pintu.”

Keningnya ia rapatkan pada kaca.
Pandangnya ia lekatkan pada cahaya.
Ia menatap. Ia melihat pada bola matanya
segerombolan pemburu beriringan pulang
membawa bangkai singa.

Senja semakin senja.
Kupu-kupu putih hinggap di pucuk payudara.
Tangannya meremas kenyal yang surut
dari sintal dada.
Dan ia ingin mengatakan:
“Dada, kau bukan lagi pegunungan indah
yang dijelajahi para pendaki.”

Ia mulai tabah kini
justru di saat cermin hendak merebut
dan mengurung tubuhnya.
“Serahkan. Kau akan kurangkum,
kukuasai seluruhnya.”

Ia ingin masih cantik
di saat langit di dalam cermin berangsur luruh.
Hatinya semakin dekat
kepada yang jauh


Oleh :
Joko Pinurbo