Wednesday, August 13, 2014
Tuesday, August 12, 2014
Kembali Tak Ada Sahutan Di Sana
Kembali tak ada sahutan di sana
Ruang itu bisu sejak lama dan kami gedor terus pintu-pintunya
Hingga runtuh dan berderak menimpa tahun-tahun
penuh kebohongan dan teror yang tak henti-hentinya
Hingga kami tak bisa tinggal lagi di sana memerah keputusasaan dan cuaca
Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu dan mulai bercerai-berai
Lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya
Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada
Dari generasi ke generasi
Menenggelamkan rumah sendiri ribut tak henti-henti
Hingga kautanyakan lagi padaku
Penduduk negeri damai macam apa kami ini
raja-raja datang dan pergi seperti sambaran kilat dan api
Dan kami bangun kota kami dari beribu mati.
Tinggi gedung-gedungnya di atas jurang dan tumpukan belulang
Dan yang takut mendirikan menara sendiri membusuk bersama sepi
Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu
dan matahari 'kan lama terbit lagi
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Monday, August 11, 2014
Ketika Masih Bocah
Ketika masih bocah, rumahku di tepi laut
Bila pagi pulang dari perjalanan jauhnya
Menghalau malam dan bayang-bayangnya, setiap kali
Kulihat matahari menghamburkan sinarnya
Seraya menertawakan gelombang
Yang hilir mudik di antara kekosongan
Sebab itu aku selalu riang
Bermendung atau berawan, udara tetap terang
Setiap butir pasir buku pelajaran bagiku
Kusaksikan semesta di dalam
Dan keluasan mendekapku seperti seorang ibu
Batang kayu untuk perahu masih lembut tapi kuat
Kuhadapkan senantiasa jendelaku ke wajah kebebasan
Aku tak tahu mengapa aku tak takut pada bahaya
Duri dan kepedihan kukenal
Melalui kakiku sendiri yang telanjang
Arus begitu akrab denganku
Selalu ada tempat bernaung jika udara panas
Dan angin bertiup kencang
Tak banyak yang mesti dicemaskan
Oleh hati yang selalu terjaga
Pulau begitu luas dan jalan lebar
Seperti kepercayaan
Dan kukenal tangan pengasih Tuhan
Seperti kukenal getaran yang bangkit
Di hatiku sendiri
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Sunday, August 10, 2014
Mimpi
Aneh, tiap mimpi membuka kelopak mimpi yang lain,
berlapis-lapis mimpi,
tiada dinding dan tirai akhir,
hingga kau semakin jauh dan semakin dalam
tersembunyi dalam ratusan tirai rahasia
membiarkan aku asing pada wujud
hampa dan wajah sendiri.
Kudatangi kemudian pintu-pintu awan, nadi-nadi
cahaya dan kegelapan, rimba sepi dan kejadian
-- di jalan-jalannya,
di gedung-gedungnya kucari sosok bayangku
yang hilang dalam kegaduhan.
Tetap, yang fana mengulangi kesombongan dan keangkuhannya
dan berkemas pergi entah ke mana gelisah,
asing memasuki rumah sendiri menjejakkan kaki,
bergumul benda-benda ganjil yang tak pernah dikenal,
menulis sajak, menemukan mimpi yang lain lagi berlapis-lapis mimpi,
tiada dinding akhir sebelum menjumpai-Mu.
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Saturday, August 9, 2014
Cinta
Cinta serupa laut
selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombak bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu
Sebelum mendapat bibir yang mengucapkanya
Angin kencang datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang
Dan menyelimutinya dengan kegelapan
Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya
Maka kesunyianpun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma
Kau disampingku
Aku disampingmu
Kata -kata adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Kusebut
Kusebut kata-kata engganmu detik jam
Gemersik berat dihela jarumnya
Senandungmu mengalun bagai desau angin ribut
jatuh ke pelimbahan air perlahan-lahan
Kabut yang senantiasa berjkalan dari dinding ke dinding
membalik-balik beribu percakapan
dan didapatkannya nama-nama asing yang tak ada orangnya
Kabut yang mengatakan sebuah luka
Yang meluas dan mengendap jadi palung di dada
dan palung itu mengisap jantung kita
Dan malam yang senantiasa berdiri di luar
berdiri berjaga mendengarkan yang bakal tak sampai
Dan bayang-bayang terangnya di bawah lampu
bernyanyi gelisah melalui gang yang satu ke gang yang lainnya
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Thursday, August 7, 2014
Laut
Dan aku pun memandang ke laut yang bangkit ke arahku
selalu kudengar selamat paginya dengan ombak berbuncah-buncah
dan selamat pagi laut kataku pula, siapa bersamamu menyanyi setiap malam
menyanyikan yang tak ada atau pagi atau senja? atau kata-kata
laut menyanyi lagi, laut mendengar semua yang kubisikkan padanya perlahan-lahan
selamat pagi laut kataku dan laut pun tersenyum, selamat pagi katanya
suaranya kedengaran seperti angin yang berembus di rambutku, igauan waktu di ubun-ubun
dan di atas sana hanya bayang-bayang dari sinar matahari yang kuning keperak-perakan
dan alun yang berbincang-bincang dengan pasir, tiram, lokan dan rumput-rumput di atas karang
dan burung-burung bebas itu di udara bagai pandang asing kami yang lupa
selamat pagi laut kataku dan selamat pagi katanya tertawa-tawa
kemudian bagai sepasang kakek dan nenek yang sudah lama bercinta kami pun terdiam
kami pun diam oleh tulang belulang kami dan suara sedih kami yang saling geser dan terkam
menerkam
kalau maut suatu kali mau mengeringkan tubuh kami biarlah kering juga air mata kami
atau bisikan ini yang senantiasa merisaukan engkau: siapakah di antara kami
yang paling luas dan dalam, air kebalaunya atau hati kami tempat kabut dan sinar selam menyelam?
Tapi laut selalu setia tak pernah bertanya, ia selalu tersenyum dan bangkit ke arahku
laut melemparkan aku ke pantai dan aku melemparkan laut ke batu-batu karang
andai di sana ada perempuan telanjang atau kanak-kanak atau saatmu dipulangkan petang
laut tertawa padaku, selamat malam katanya dan aku pun ketawa pada laut, selamat malam kataku
dan atas selamat malam kami langit tergunang-guncang dan jatuh ke cakrawala senja
begitulah tak ada sebenarnya kami tawakan dan percakapkan kecuali sebuah sajak lama:
aku cinta pada laut, laut cinta padaku dan cinta kami seperti kata-kata dan hati yang
mengucapkannya
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Wednesday, August 6, 2014
Episode
Ombak-ombak ini tidak perih, tidak enggan
merendam ketam-ketam, sinar keong
Pun tidak percuma menungging awam
yang kadang kala murung dekat pencakar
Lentera-lentera kapal yang merah keabuan
kadang seperti mata kanak-kanak
yang melahirkan dongengan (malam
menyebrangi selat dan) melemparkan
biji-biji anggrek di sana
Dan kadang: antara kelam, tidur aku!
Perahu-perahu yang dulu membawamu itu
dalam pelayaran panjang dan telah balik lagi
dengan layar-layar dari dukaku yang pulang
enggan
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Tuesday, August 5, 2014
Nyanyian Kabut
Kabut biru semata. Biru. Ada cahaya berisik
helaan angin, lalu percakapan
Kunamakan senandungmu lengang, udara
Berangkat cuaca malam dan ke mana kata-kata
Dan dalam kabut bisik-bisikmu jelaga
Kadang kudengarkan itu sengau yang lepas
dari laringnya, kadang kudengarkan itu
lembar-lembar jatuh dari kenangannya
Kadang kudengarkan itu
doa shalat sebelum sujud diselesaikan
Dan seseorang bangun bagiku
menyalakan lampu sebelum malam
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Monday, August 4, 2014
Gerimis
Seribu gerimis menuliskan kemarau di jendela
Basah langit yang sampai melepaskan senja
Bersama gemuruh yang dilemparkan jarum jam, kata-kata
bermimpilah bunga-bunga menyusun kenangannya
dari percakapan terik dan hama
“Kau toreh bibirnya yang merkah,” kata hama
“Dan kuhisap isi jantungnya yang masih merah”
Kenapa ia tak terkulai
Dan masih bertahan juga
Dan bersenyum pada surya
yang mengunyah-ngunyah airmatanya
Untukku ingar itu pun senantiasa menyurat
Atau mimpi
Tapi angin masih saja menggigil
Mendesakkan pago
Tuhan, kau hanya kabar dari keluh
Burung-burung pun
asing di sana
karena jarak dan bahasa
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Sunday, August 3, 2014
Sehabis Hujan Kecil
Retakan hujan yang
tadi jatuh, berkilau
Pada kelopak kembang
yang memerah
Antara batu-batu
hening merenungi air kolam
Angin bercakap-cakap,
sehelai daun terperanjat dan lepas
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Saturday, August 2, 2014
Kadang
Kadang begitu seringnya
ciuman letih pada bibirmu
menghabiskan tetes demi tetes airmatanya sendiri
dan kenangan lain yang lebih sedih mekar karenanya
Daging bagai retasan-retasan arang oleh api
tapi toh seakan abadi
Dan mereka yang menganggapnya tak abadi
karena cemas akan cintanya sendiri
Begitu diambilnya langkah: Ia seperti setangkai api
Pada sehelai kertas yang baru dituliskan
Seseorang atau entah rangkulan yang menggetarkan
mengambil getaran itu lagi
dan aku adalah getaran itu sendiri
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Friday, August 1, 2014
Kau dan Aku Suatu Saat Nanti
Rangkaian kata tak dapat saling beradu
Ketika dua pasang mata saling bertemu
Menyiratkan suatu tanya dan rasa yang begitu dalam
Desahan nafas tertahan untuk berembus
Waktu berhenti memproses memori
Beribu kesalahan terbayar maaf
Sebuah luka terganti senyuman
Berlaksa mimpi menjadi kenyataan
Di saat Tuhan mempertemukan kita
Dalam satu ikatan Janji Suci
Oleh :
Iga Asti Astria
Thursday, July 31, 2014
Malam Teluk
Malam di teluk
menyuruk ke kelam
Bulan yang tinggal rusuk
padam keabuan
Ratusan gagak
Berteriak
Terbang menuju kota
Akankah nelayan kembali dari pelayaran panjang
Yang sia-sia? Dan kembali
Dengan wajah masai
Sebelum akhirnya badai
mengatup pantai?
Muara sempit
Dan kapal-kapal menyingkir pergi
Dan gonggong anjing
Mencari sisa sepi
Aku berjalan pada tepi
Pada batas
Mencari
Tak ada pelaut bisa datang
Dan nelayan bisa kembali
Aku terhempas di batu karang
Dan luka diri
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Wednesday, July 30, 2014
Aku Berikan
Aku berikan seutas rambut padamu untuk kenangan
tapi kau ingin merampas seluruh rambutku dari kepala
Ini musim panas atau bahkan tengah musim panas
langkahmu datang dan pergi antara ketokan jam yang berat
Mengapa jejak selalu nyaring menjelang sampai
daun-daun kering risik di pohon ingin berdentuman
ke air selokan yang deras
langkahmu datang dan pergi antara ketokan jam yang berat
Aku berikan sepotong jariku padamu untuk kaubakar
tapi kau ingin merampas seluruh tanganku dari lengan
Ini musim atau akhir musim panas aku tak tahu
Burung-burung kejang di udara terik seakan penatku padamu
Maka kujadikan hari esokku rumah
Tapi tak sampai rasanya hari iniku untuk berjumpa
Oleh :
ABdul Hadi Wiji Muthari
Tuesday, July 29, 2014
Maut Dan Waktu
Kata maut: Sesungguhnya akulah yang memperdayamu pergi mengembara sampai tak ingat rumah
menyusuri gurun-gurun dan lembah ke luarmasuk ruang-ruang kosong jagad raya mencari suara
merdu Nabi Daud yang kusembunyikan sejak berabad-abad lamanya
Tidak, jawab waktu, akulah yang justru memperdayamu sejak hari pertama Qabi kusuruh
membujukmu
memberi umpan lezat yang tak pernah menge-nyangkan hingga kau pun tergiur ingin lagi dan
ingin lagi sampai gelisah dari zaman ke zaman mencari-cari nyawa Habil yang kau kira fana
mengembara ke pelosok-pelosok dunia bagaikan Don Kisot yang malang
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Monday, July 28, 2014
Dalam Gelap
Dalam gelap bayang-bayang bertemu dengan jasadnya yang telah menunggu
di sebuah tempat
Mereka berbincang-bincang untuk mengalahkan tertang dan sepakat
mengha-dapi terang yang kurang baik perangainya
Karena itu dalam terang bayang-bayang selalu berobah-robah menggeser-geserkan dirinya dan ruang
untuk menipu terang
Dan jasad selalu siap melindungi bayang-bayangnya dari terang sambil menciptakan gelap dengan
bayang-bayangnya dari sinar terang
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Sunday, July 27, 2014
Bayang - Bayang
Mungkin kau tak harus kabur, sela
bayang-bayangmu
yang menjauh dan menghindar
dari terang lampu
Ia selalu menjauh dan menghindar
dari terang lampu
Ia selalu mondar mandir
mencari-cari bentuk dan namanya
yang tak pernah ada
Oleh :
Abdul Hadi Wiji Muthari
Subscribe to:
Posts (Atom)