Showing posts with label Penyair Baru. Show all posts
Showing posts with label Penyair Baru. Show all posts
Thursday, November 6, 2014
Wednesday, November 5, 2014
Reruntuhan Masa Lalu
Suatu ketika
Sekali ingin kurangkul kembali
Reruntuhan masa laluku
Aku terkejut…
Melihat kepingannya bercecer di lantai
Ada yang hilang…
Terhempas oleh waktu
Ada pula yang tersingkir
Oleh masa kini
Ah sudahlah
Biarkan itu…
Mari kita rajut satu persatu kepingan itu
Rajut dengan senyum
Nyanyian pahit atau manis
Tetaplah rajut lagi dengan indah
Kala ku asyik menyusun..
Kutemukan namamu..
Kucoba hirau dan terus susun
Namun secara terus
Semua kenangan akanmu terus membuntut
Aku menyerah…
Aku menyerah tuk hirau
Kufikir….
Kenangan mu terhapus begitu saja
Kufikir….
Kenanganmu tak kan kutemu lagi
Tiba-tiba…
Reruntuhan dirimu berterbangan dihadapku
Lalu jatuh berserakan…..
Didepan mataku
Inisiatifku menyala
Kupungut satu persatu reruntuhan itu
Lalu kurangkai
Mulai tampak kembali
Senyum indahmu terangkai
Membuat sejenak diriku kagum kembali
Membuat nostalgia itu seakan hadir lagi
Cepat ku tersadar
Sadarku kembali dan aku tercengang
Reruntuhan akanmu
Kini tergenggam rapi di tanganku
Kini sadarku kembali
Ternyata kau tak lagi di sisi
Sekarang..
Ini yang kujalani
Kutaruh susunan reruntuhan akanmu
Kususun indah…
Di tempat terbaik di kepalaku..
Dan akan kujaga hal itu….
Oleh :
mu bal | Sumber
Monday, September 22, 2014
Something That Binds
We are united in a bond
Don't know who and where
But then I know
That they will be my friend
Try to new things in a readiness
The nature, mentally and everything
Being different human
Better and better
Versi Bahasa Indonesia :
"Sesuatu Mengikat Itu"
Kami bersatu dalam ikatan
Tidak tahu siapa dan di mana
Tapi kemudian aku tahu
Bahwa mereka akan menjadi teman saya
Cobalah hal-hal baru dalam kesiapan
Sifat, mental dan segalanya
Menjadi manusia yang berbeda
Lebih baik dan lebih baik
Oleh :
Aran Setiadi
Thursday, August 28, 2014
Merdeka? Mana? (Sebuah Puisi Kemerdekaan)
...
Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku, yang kucinta.
Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia raya...
Sepi. Khidmat.
Lagu di atas dinyanyikan penuh semangat
Pandangan lurus badan tegap
Jari-jari tangan kanan terangkat
Menempel pada alis di bawah jidat
Seorang pemimpin berpidato lantang
Di tengah lapangan gersang
Di sekolah, kantor, maupun sudut jalan
Di desa, kota, dan di mana saja
Seorang pemimpin berteriak menjulang
Di tengah lapangan gersang,
Atau di tengah hati yang gersang?
Merdeka! Katanya.
Ha. Ha. Ha.
Merdeka? Itu sudah purba sekali.
Lihat saja sekarang, kekacauan masih berseliweran.
Rampok-rampok keadilan dengan ketidak-adilan,
Perkosa diri dengan palsu janji-janji,
Lalu kemerdekaan macam apa yang hendak kau berikan?
Merdeka. Apanya?
Ketika hendak mengeluarkan pendapat saja dilarang,
Ketika hendak turun ke jalan saja dikekang,
Ketika atas hak kami, kau ciptakan batasan.
Lalu kemerdekaan mana yang kau katakan?
Merdeka? Mana?
Anak yatim kaki berkapal tak bersandal
Merengsot ke jalan membanting tulang
Untuk mencium aroma buku pelajaran
Berharap suatu saat mencecap bangku di depan papan tulis hitam
Merdeka? Mana?
Kota-kota besar diperhatikan
Desa kecil terpencil dianak-tirikan
Para berdasi semakin konglomerat
Para tak beralas kaki semakin melarat
Merdeka? Mana?
Kaum elit impor sini impor sana
Karya anak bangsa dipandang sebelah mata
Kaum trendi malu dengan bahasa sendiri
Katanya bahasa luar lebih bergengsi
Kemerdekaan adalah anak kecil yang merasa besar,
Anak tak bertuan yang merasa bertuan
Anak bangsa yang merasa mempunyai bangsa,
Yang dibanggakan.
...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku, yang kucinta...
Ah, ini nyanyian bukan sembarang nyanyian.
Ini adalah nyanyian dari semangat yang tak pernah padam,
Ini adalah nyanyian kebanggan, nyanyian kemerdekaan.
Aku bernyanyi dengan mata basah
Tuhan...
Semoga hormat kami hari ini,
Bukan sekadar hormat ritual keramat tahunan,
Jadikan hormat kami hari ini,
Sebagai hormat yang kami lakukan,
Atas dasar hati yang penuh dengan kebanggaan.
...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia raya.
Dirgahayu untukmu,
Negeriku. Indonesiaku.
Oleh :
Tri C Fakhri
Friday, August 1, 2014
Kau dan Aku Suatu Saat Nanti
Rangkaian kata tak dapat saling beradu
Ketika dua pasang mata saling bertemu
Menyiratkan suatu tanya dan rasa yang begitu dalam
Desahan nafas tertahan untuk berembus
Waktu berhenti memproses memori
Beribu kesalahan terbayar maaf
Sebuah luka terganti senyuman
Berlaksa mimpi menjadi kenyataan
Di saat Tuhan mempertemukan kita
Dalam satu ikatan Janji Suci
Oleh :
Iga Asti Astria
Friday, July 25, 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)

