Showing posts with label Penyair Baru. Show all posts
Showing posts with label Penyair Baru. Show all posts

Thursday, November 6, 2014

Untukmu Yang Jauh Disana


author : Muhammad Iqbal


kau….

Yang dulu pernah di sini

Yang pernah jadi bagian ceritaku

Yang pernah menjadi hal terpenting untukku

Yang kini tlah jauh di tanah rantau sana


Entah kenapa…

Engkau pergi dan menghilang

Lenyap dari pandanganku tanpa isyarat

Apakah kau tau???


Ku tak bisa berkutik kala itu

Kala kau pergi dan aku hanya terdiam


Ah sudahlah….

Ku tak pantas menghakimi itu

Aku bukan apa-apa

Aku bukan siapa-siapa


Saat ini..

Aku hanya ingin ucapkan…

TERIMA KASIH

Karena hadirmu dulu di sini


Sepotong syair ini

Hanya bagian kecil

Dari tangis hati

Yang menyesali kepergianmu


Sekali lagi…

Terima kasih

Untukmu yang jauh di sana



Oleh :

mu bal | Sumber

Wednesday, November 5, 2014

Reruntuhan Masa Lalu

Suatu ketika

Sekali ingin kurangkul kembali

Reruntuhan masa laluku

Aku terkejut…


    Melihat kepingannya bercecer di lantai

    Ada yang hilang…

    Terhempas oleh waktu

    Ada pula yang tersingkir

    Oleh masa kini


Ah sudahlah

Biarkan itu…

Mari kita rajut satu persatu kepingan itu

Rajut dengan senyum

Nyanyian pahit atau manis

Tetaplah rajut lagi dengan indah


    Kala ku asyik menyusun..

    Kutemukan namamu..

    Kucoba hirau dan  terus susun

    Namun secara terus

    Semua kenangan akanmu terus membuntut


Aku menyerah…

Aku menyerah tuk hirau

Kufikir….

Kenangan mu terhapus begitu saja

Kufikir….

Kenanganmu tak kan kutemu lagi


    Tiba-tiba…

    Reruntuhan dirimu berterbangan dihadapku

    Lalu jatuh berserakan…..

    Didepan mataku


Inisiatifku menyala

Kupungut satu persatu reruntuhan itu

Lalu kurangkai

Mulai tampak kembali

Senyum indahmu terangkai

Membuat sejenak diriku kagum kembali

Membuat nostalgia itu seakan hadir lagi


    Cepat ku tersadar

    Sadarku kembali dan aku tercengang

    Reruntuhan akanmu

    Kini tergenggam rapi di tanganku

    Kini sadarku kembali

    Ternyata kau tak lagi di sisi


Sekarang..

Ini yang kujalani

Kutaruh susunan reruntuhan akanmu

Kususun indah…

Di tempat terbaik di kepalaku..

Dan akan kujaga hal itu….



Oleh :

mu bal | Sumber

Monday, September 22, 2014

Something That Binds

We are united in a bond

Don't know who and where

But then I know

That they will be my friend


Try to new things in a readiness

The nature, mentally and everything

Being different human

Better and better



Versi Bahasa Indonesia :  

"Sesuatu Mengikat Itu"


Kami bersatu dalam ikatan

Tidak tahu siapa dan di mana

Tapi kemudian aku tahu

Bahwa mereka akan menjadi teman saya


Cobalah hal-hal baru dalam kesiapan

Sifat, mental dan segalanya

Menjadi manusia yang berbeda

Lebih baik dan lebih baik


Oleh :

Aran Setiadi


Thursday, August 28, 2014

Merdeka? Mana? (Sebuah Puisi Kemerdekaan)


...

Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Tanahku, negeriku, yang kucinta.

Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Hiduplah Indonesia raya...


Sepi. Khidmat.

Lagu di atas dinyanyikan penuh semangat

Pandangan lurus badan tegap

Jari-jari tangan kanan terangkat

Menempel pada alis di bawah jidat


Seorang pemimpin berpidato lantang

Di tengah lapangan gersang

Di sekolah, kantor, maupun sudut jalan

Di desa, kota, dan di mana saja


Seorang pemimpin berteriak menjulang

Di tengah lapangan gersang,

Atau di tengah hati yang gersang?

Merdeka! Katanya.

Ha. Ha. Ha.


Merdeka? Itu sudah purba sekali.

Lihat saja sekarang, kekacauan masih berseliweran.

Rampok-rampok keadilan dengan ketidak-adilan,

Perkosa diri dengan palsu janji-janji,

Lalu kemerdekaan macam apa yang hendak kau berikan?


Merdeka. Apanya?

Ketika hendak mengeluarkan pendapat saja dilarang,

Ketika hendak turun ke jalan saja dikekang,

Ketika atas hak kami, kau ciptakan batasan.

Lalu kemerdekaan mana yang kau katakan?


Merdeka? Mana?

Anak yatim kaki berkapal tak bersandal

Merengsot ke jalan membanting tulang

Untuk mencium aroma buku pelajaran

Berharap suatu saat mencecap bangku di depan papan tulis hitam


Merdeka? Mana?

Kota-kota besar diperhatikan

Desa kecil terpencil dianak-tirikan

Para berdasi semakin konglomerat

Para tak beralas kaki semakin melarat


Merdeka? Mana?

Kaum elit impor sini impor sana

Karya anak bangsa dipandang sebelah mata

Kaum trendi malu dengan bahasa sendiri

Katanya bahasa luar lebih bergengsi


Kemerdekaan adalah anak kecil yang merasa besar,

Anak tak bertuan yang merasa bertuan

Anak bangsa yang merasa mempunyai bangsa,

Yang dibanggakan.


...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Tanahku, negeriku, yang kucinta...


Ah, ini nyanyian bukan sembarang nyanyian.

Ini adalah nyanyian dari semangat yang tak pernah padam,

Ini adalah nyanyian kebanggan, nyanyian kemerdekaan.

Aku bernyanyi dengan mata basah

Tuhan...

Semoga hormat kami hari ini,

Bukan sekadar hormat ritual keramat tahunan,

Jadikan hormat kami hari ini,

Sebagai hormat yang kami lakukan,

Atas dasar hati yang penuh dengan kebanggaan.


...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Hiduplah Indonesia raya.

Dirgahayu untukmu,

Negeriku. Indonesiaku.



Oleh :

Tri C Fakhri

Friday, August 1, 2014

Kau dan Aku Suatu Saat Nanti

Rangkaian kata tak dapat saling beradu

Ketika dua pasang mata saling bertemu

Menyiratkan suatu tanya dan rasa yang begitu dalam

Desahan nafas tertahan untuk berembus

Waktu berhenti memproses memori

Beribu kesalahan terbayar maaf

Sebuah luka terganti senyuman

Berlaksa mimpi menjadi kenyataan

Di saat Tuhan mempertemukan kita

Dalam satu ikatan Janji Suci



Oleh :

Iga Asti Astria

Friday, July 25, 2014

Penyair Pendatang Baru

Foto sampul
Ika Nurmala

Nama : Ika Nurmala
Tinggal : Serpong, Banten, Indonesia, 15310
Slogan : A person who trust Allah SWT :) bismillahirrahmanirrahim 
Yang Dibanggakan : I have the best man "My Father"
Pendidikan : Jakarta State Politechnic 
Account : Google+  Youtube