Saturday, May 3, 2014
Manfaat Puisi Bagi Kehidupan
Fungsi merupakan
ungkapan perasaan perasaan yang diungkapkan pengarang yang dituangkan dengan
kata-kata yang padat dan kaya makna. Menurut William Hendri Gustin, “Puisi
merupakan ekspresi dari kehidupan yang memakai bahasa sebagai mediumnya atau
apa yang dihayati itu diungkapkan.
Sebagai karya sastra
puisi mempunyai berbagai manfaat. Kebermanfaat puisi telah berlangsung sejak
lahirnya, manfaat tersebut telah dirasakan manusia jauh sebelumnya. Karena itu
dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut :
1 ) Puisi dapat
menjadi arahan dalam membentuk kepribadian
2) Dapat
mengembangkan cognitive peserta didik
3) Dapat melatih
diri berimajinasi
4) Dapat
menggambarkan kehidupan manusia dan lingkungan tertentu.
5) Dapat
membangkitkan semangat heroik
6) Menceritakan
suara alam dan lingkungan manusia.
7) Dapat
membandingkan dan mengapresiasikan karya sastra.
8)
Berdasarkan pandangan penyair
9) Puisi
memberikan motivasi bagi pembaca puisi bahwa dirinya telah melahirkan suatu
ungkapan dengan bahasa yang indah, bebas dan misteri.
10) Melalui puisi
penyair dapat menyampaikan protes sosial bagi lingkungan masyarakat tertentu.
Friday, May 2, 2014
Sebab Dikau
Kasihkan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kepak
Membunga cinta dalam hatiku
Mewangi sari dalam jantungku
Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siuman bertukar-tukar
Maka merupa di datar layar
Wayang warna menayang rasa
Kalbu rindu turut mengikut
Dua sukma esa-mesra
Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang
Golek gemilang ditukarnya pula
Aku engkau di kotak terletak
Aku boneka engkau boneka
Penyelang dalang mengarak sajak.
Kelebihan Puisi dan Filsafat
Tentunya kita semua
tahu bahwa kalau berbicara kelebihan, pasti semua di dunia ini memiliki
kelebihan dan kekurangan, tapi di sini penulis tidak ingin melihat kekurangan
dalam setiap sesuatu, agar kelebihan selalu berpihak kepada kita.
Sastra dalam hal ini adalah
puisi yang merupakan ekspresi kreatif dari renungan sastrawan terhadap
kehidupan masyarakat, jadi yang menjadi terekspresi bisa berupa hiburan,
pencerahan, komentas atas situasi, rangkuman, potret keadaan, karikatur,
symbolisme, ekspresi tragedy atau tragis dengan mini kata pertunjukan. Jadi
dalam hal ini sastrawan melahirkan ide-ide pencerahan dan pembaruan.
Kelebihan puisi yang
bersumber pada imajinasi terletak pada kemampuannya tidak hanya menjadi model
identifikasi, tapi juga bagaimana mendorong kita membuat konstruksi mengenai
“aku” lebih luas dari kerangka model-model psikologi.
Puisi adalah sebuah
pesta atau “perayaan” dari realitas. Filsafat adalah discovery, yang
lalu dipresentasikan dalam sistematisasi rasional. Puisi dan filsafat memliki
kesamaan dalam usaha mengekspresikan berbagai “kebenaran” kehidupan kita,
termasuk kejiwaan, hidup batin, gejolak tulus dari rasa maupun nurani. Bedanya,
kalau puisi menggunakan medium bahasa konvensi padat dan gumpalan kata-kata
serti berfungsi sebagai “perayaan”, sedangkan filsafat lebih bagaimana
memaparkan dan mengurai kebenaran secara sistematis-rasional.
Sastrawan, sebagai
tuan atas hidup batin (rasa dan imaji), lalu mengekspresikan lewat kata-kata.
Kata-kata menjadi model dari kehidupan batin dan pribadi kita sebagai orang
yang selalu peka terhadap realitas. Puisi merupakan bentuk rekaan atau
imajinasi yang bisa membahasan kehidupan batin atau masyarakat menjadi hidup
privat.
Di sisi yang lain
sastrawan tampil, untuk mengekspresikan imajinasi dirinya, renungannya mengenai
kehidupan masyarakat, atau di pihak lain, lebih jauh melangkah berktekad ingin
menyodorkan, mencerahkan atau “menjatuhkan kerikil di danau tenang yang lalu
membuat pendar gelombang di atas air danau itu, semakin banyak yang menjatuhkan
kerikil, maka semakin gelombang-gelombang itu menjadi banyak dan ketenangan
danau diguncang-bangun”.
Sepertinya para
sastrawan menjadi dokter yang bisa menyembuhkan orang sakit. Menurut bidan
Soctates dalam melahirkan kesadaran mengenai keindahan dan kebenaran. Dalam
bersikap sastrawan menghadapi komplikasi hak kemerdekaan ekspresi, maka ketika
terjadi konflik kepentingan antara kebebasan sastrawan dan aturan, bahasa
structural kepastian tentang tanggungjawab terhadap peradaban masyarakat
seringkali masung kreativitasnya.
Dalam hal ini,
sastrawan harus memiliki kesadaran untuk menjadi komentator kehidupan sosial
atau mengajak masyarakat untuk tidak hanya pada satu gelombang nilai
hedonis-materialistis dan kembali pada dasar religiusitas, solidaritas pada
yang sengsara dan papa dari sesame dan hormat pada martabat sesama manusia.
Namun, semua ini tidak akan bisa terolah menjadi matang sebagai ucapan
kejujuran nurani sastrawan-sastrawan, jika proses kreativitas di batasi. Maka,
jika di batasi, sastra yang kreativ akan sama posisinya dengan kesenian pesanan
yang telah diatur dan direkayasa oleh pengaturnya.
Artinya kita harus
sadar akan kesadaran dunia ini bahwa kesadaran bernilainya setiap manusia
sebagai sesama manusia. Maka, wilayah kebebasan berkreasi lalu menjadi wilayah
yang subjektifitas manusia. Sosiolog Max Weber memberi cara bagaimana memahami
subjektifitas individu dalam realitas social itu dengan metode verstehen,
pemahaman subjektivitas seseorang lewat tindakan-tindakannya yang dicoba
mengerti dampak sosialnya.
Dengan melihat
fenomena tersebut, kita melihat bahwa tempat-tempat “kebebasan berekspresi”
adalah wilayah “kesucian” hak asasi manusia. Sementara pengaturan terhadapnya
baru relevan kalau hasil kebebasan berkreasi itu mulai masuk ke wilayah
sosialitas manusia atau wilayah hidup bersama. Maka kita membutuhkan
penjernihan pembedaan ini harus dipertajam batasnya. Kalau batas “wilayah
subjek” dan “wilayah sosial” atau “objektifitas” manusia, maka akan jelas
pengaturannya. Singkatnya, wilayah subjek masyarakat (sastrawan) adalah wilayah
hak dan kebebasan untuk berkreasi dalam hal ini seni, puisi dan filsafat.
Sedang pada saat kreasi itu dimasyarakatkan atau dipublikasikan ke masyarakat,
maka kita mulai memasuki wilayah sosialitas dan objektivitas tadi.
Dengan membedakannya,
kita bisa menarik benang merah bahwa kesadaran menjadi sangat penting kita
tanam sebagai alat untuk mengolah rasa. Artinya rasa dalam hal ini menjadi penting
juga, karena dengan adanya ruang rasa sastrawan lebih sensitive terhadap diri
dan sekitarnya sebagai inspirasi kreatif. Dan sebagai renungan “sepertinya aku
tak bisa mengurai detik yang begitu rapat di apit gelombang”.
Thursday, May 1, 2014
Salemba
Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Siang ini.
Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani.
Cara Membaca Puisi Yang Baik dan Benar
Bagaimana cara membaca puisi? Mungkin itu adalah
pertanyaan yang mungkin ada di dalam benak anda. Sebelumnya Situs Puisi sudah
memberikan arti pengertian puisi bahwa Puisi adalah salah satu seni tepatnya
seni sastra. Dan kesenian itu relative. yang artinya seni itu ada jelek ada
juga yang indah tergantung bagaimana orang menilainya. Kenapa saya suka dengan puisi?
Puisi itu kalau menurut saya bukan hanya indah namun juga memiliki makna yang tersembunyi
didalamnya. Anda jangan hanya bisa membaca puisi saja tanpa mengetahui maknanya
sebenarnya. Penting sekali untuk mengetahui isi dari puisi yang telah kita baca
tadi. Isi dari puisi bisa berupa nasehat. keinginan dari pembuat puisi. ajakan.
larangan. dan masih banyak lagi makna dari sebuah puisi. Puisi adalah salah satu
jenis sastra yang bahasa didalamnya terikat oleh rima. irama. serta penyusunan larik
dan bait. Membaca sebuah puisi akan berbeda dengan membaca sebuah teks cerita.
Ketika kita akan membaca puisi tentunya kita harus tahu apa yang harus kita
lakukan ketika membaca puisi tersebut. Penjiwaan atau Penghayatan dalam
pembacaan puisi juga harus diperhatikan dan juga kita harus memerhatikan lafal
dan intonasi yang tepat. Berikut bagaimana cara membaca puisi yang benar.
Cara Membaca Puisi Dengan Lafal Dan
intonasi Yang Tepat
1. Rima
dan Irama. artinya dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat.
Seperti yang telah dijelaskan diatas. membaca puisi berbeda dengan membaca sebuah
teks biasa karena puisi terikat oleh rima dan irama sehingga dalam membaca puisi
tidak terlalu cepat ataupun juga terlalu lambat.
2. Artikulasi
atau Kejelasan suara. artinya suara kita dalam membaca sebuah puisi haruslah
jelas. misalnya saja dalam huruf-huruf vokal. Sehingga puisi akan terdengar
oleh audiens.
3. Ekspresi
Mimik wajah. artinya ekspresi wajah kita harus bisa disesuaikan dengan isi
puisi. Ketika puisi yang kita bacakan adalah puisi sedih maka ekspresi mimik
wajah kitapun harus bisa menggambarkan isi puisi sedih tersebut.
4. Mengatur
Pernapasan. artinya pernapasan harus diatur dan jangan tergesa-gesa. Sehingga
tidak akan menggangu ketika membaca puisi.
Nah
bagaimana anda sudah tahu tips membaca puisi yang baik dan benar bukan? Nah
tapi ingat anda juga harus mengerti juga arti dan makna dari puisi tersebut.
Kalau anda tertarik ingin membuat puisi maka anda harus belajar cara menulis
puisi yang baik dan benar.
Wednesday, April 30, 2014
Hampa Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Puisi Modern dan Penceritraannya
Di era modern puisi berkembang sangat pesat,
termasuk lepas dari gaya penulisan puisi lama yang masih terikat bait, sajak
dan rima. Pencitraan sendiri merupakan sentuhan sempurna dalam sebuah puisi.
Dan puisi modern dan pencitraannya ini jauh lebih bebas dalam pembuatannya.
Semua itu membuat puisi modern jauh lebih diminati dan diterima oleh berbagai
kalangan.
Puisi lama, puisi baru dan puisi kontemporer
merupakan jenis puisi yang ditinjau dari perkembangannya. Karena puisi yang
baik tidak ada pengulangan, apalagi sampai lebih dari tiga kali pengulangan,
hal seperti ini akan menyebabkan kebosanan. Puisi juga mengalami perkembangan
dari berbagai sudut, namun semua itu tetap menjadikan puisi lebih kaya warna.
Pencitraan
yang Menarik
Berdasarkan pemaparan diatas, maka puisi modern
dan pencitraannya sangatlah saling berkaitan, pencitraan akan membuat puisi menjadi
lebih menarik dan lebih hidup. Puisi epik, puisi dan puisi dramatik menjadi
perkembangan dari segi pengungkapannya. Inilah puisi modern yang bisa Anda
jumpai, yaitu puisi, sajak, panttm, syair, lagu, kata-kata mutiara dan masih banyak lagi.
Semua dibuat dengan bahasa yang bebas namun tetap memiliki keunikan, keindahan
dan harmonisasi nada dalam karya tersebut. Umbu Landu Paranggi disebut- sebut
sebagai salah satu penulis puisi modern, yang sangat produktif dan inspiratif.
Ciri- ciri dan Contoh
Ciri- ciri puisi modern yang sering dijumpai, yaitu : penulisannya bebas tanpa terikat rima maupun unsur puisi, perkembangan bahasa dan diksinya selalu bergerak dinamis, isinya lebih banyak ungkapan masalah yang dialami si penyair dan sastra barat juga memiliki andil untuk mempengaruhi karya lokal.
Geliat puisi modern saat ini berkembang sangat pesat. Inilah salah satu contoh puisi modern yang sederhana, yaitu :
Cinta terpasung dalam doa
lllelilit akan setia yang tak jua jera
Berlumuran rindu tiada tara
Menggapai mahligai cinta di Syurga
(Tia, 2013)
Demikianlah, ulasan singkat artikel puisi modern dan pencitraannya, semoga memberikan manfaat untuk pemula yang ingin membuat puisi modern, karena puisi modern sangatlah fleksibel dan mudah dibuat oleh siapapun. Bagiamanapun karya sastra merupakan ungkapan hati si penyair, untuk itu hargai apapun bentuknya sebuah karya. Selamat berkarya!
Sumber
Tuesday, April 29, 2014
Insyaf
Segala kupinta tiada kauberi
Segala kutanya tiada kausahuti
Butalah aku terdiri sendiri
Penuntun tiada memimpin jari
Maju mundur tiada terdaya
Sempit bumi dunia raya
Runtuh ripuk astana cuaca
Kureka gembira di lapangan dada
Buta tuli bisu kelu
Tertahan aku di muka dewala
Tertegun aku di jalan buntu
Tertebas putus sutera sempana
Besar benar salah arahku
Hampir tertahan tumpah berkahmu
Hampir tertutup pintu restu
Gapura rahasia jalan bertemu
Insyaf diriku dera durhaka
Gugur tersungkur merenang mata:
Samar terdengar suwara suwarni
Sapur melipur merindu temu.
Padamu Jua
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupatiada
Suara sayuo
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku ke dalam cakarmu
Bertukar tagkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Mari hari-bukan kawanku
Monday, April 28, 2014
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.
Syair Orang Lapar
Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau.
Sunday, April 27, 2014
Sebuah Kamar
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!
Cerita Buat Dien Tamaela
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Saturday, April 26, 2014
Buah Rindu
Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
Di tuan rama – rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang menyelang
Melihat adinda kekasih abang.
Ibu, seruku laksana pemburu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangisi kelana berhati mutu
Kelana jauh duduk merantau
Dibalik gunumg dewala hijau
Diseberang laut cermin silau
Tanah jawa mahkota pulau…
Buah kenangku entah kemana
Lalu mengembara kesini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
Ibu lihatlah anakmu muda belia
Setiap waktu sepanjang masa
Duduk termenung berhati duka
Laksana Asmara kehilangan seroja.
Bunda waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibunda menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda ?
Wah kalau begini naga – naganya
Kayu basah dimakan api
Aduh kalau begini laku rupanya
Tentulah badan lekaslah fani.
Friday, April 25, 2014
Kekuatan Cinta
Indah mata memandang
Dikau datang menghampiri
Sejuk hati terasa
Dikau peluk hatiku ini
Ingin rasa memandangmu selalu
Tuk sejukan hati yang sedang lara ini
Ingin rasa ku peluk erat dan genggam tanganmu
Tuk rasakan kehangatan yang penuh kasih itu
Pelangi indah yang kau persembahkan untukku
Akan ku simpan slamanya
Dan takkan pernah tergantikan
Pelangi itu ialah kasih sayangmu
Yang tulus hanya untukku
Kuharap kau tetap seperti ini
Dan menjadi pendamping hidupku
Slamanya disampingku
Slama ku berada di sampingmu
Ku merasa hidupku penuh warna dan menjadi lebih berarti
Karna dirimu yang slalu menyemangatiku tanpa lelah
Maha
Satu yang tak bisa dipungkiri
Satu yang harus dijalani
Satu yang harus dipatuhi serta
Satu yang harus kita akui
Kekuasaan kebesaran serta keagungannya
Yang hanya bisa dimiliki satu-satunya pemilik
Pemilik segala hal dan segala sesuatunya
Sebuah tugas yang ia berikan kepada kita
Tugas yang tak sembarang orang bisa melakukannya
Hanya orang yang patuhlah yang bisa menjalankannya
Jadilah manusia yang bisa menjalankan segala perintahnya
Perintah yang akan memberikan banyak cobaan serta ujian
Dan akan mendapatkan ganjaran di suatu saat nanti
Ganjaran yang melebihi kesenangan apapun di dunia
Berbahagialah bagi kalian yang masih percaya akan adanya tuhan
Karna hanya dialah yang dapat memberikan kita kepastian hidup
Thursday, April 24, 2014
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.
Dengan Puisi Aku
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Subscribe to:
Posts (Atom)