Sunday, January 17, 2016
Saturday, January 16, 2016
Senja di Parangtritis
![]() |
| senja di parangtritis |
Sayap-sayap camar, gaung-Mu berkabar
Serpotong awan luka
menyingkap wajah-Mu bercadar
Bias larut. Legam laut dan senja tertawa
Ada yang luruh di dada. Busuran ujung
langit terbakar
Suratan-Mu mistery beribu khabar
Riap sunyi bayang-bayang. Menyusup
bendul luka
Di pantai Nyai Roro Kidul. Menanti
kekasih pawang
Dengan sekepal jampi mantera
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Friday, January 15, 2016
Kota
![]() |
| Kota |
Kotaku di sini
Gemuruh yang sunyi
Belantara kembara
ke dasar sukma
ke dalam
Kotaku di sini
Bermatahari berbulan
Di bendulnya aku berdiri
Mengaca diri kehidupan
ke lubuk-Mu dalam
Kotaku di gemuruh dada
Di ujung sukma
Megah
Api nur di sana
BaQa
Kotaku, kota kita
Kota umat
Ke mana suatu kali nanti kita berangkat
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Thursday, January 14, 2016
Ketika Soli Deo Gloria Hampir Penghabisan
Kampar waktu pun menghanyutkan kita
Dalam arus zaman
Selalu tiran berceloteh dengan makna
ganda
Seakan pelog-pelog burung malang atas
ranting yang rapuh
Terus memasang sarang dalam bringas
angin puyuh
Di jingga transisi ini
Dewa-dewa mabuk matahari
Mentalkinkan riwayat
Menggiring gamelan yang tiba-tiba
mengatmosfirkan sunyi
Mencuci kemarau pekat
Di aula ini di depan audensia
Terdampar kampar waktu
Dan di tengah padang celoteh aneh ini
Kita saling tuding-menuding
Dalam lilitan benang mursal
Sementara di arah lain angin bangkit
membagal
Pantai niskala. Terkesiap kita tiba-tiba
Tiba-tiba hingar. Ruang: Mahsyarl
(Selalu tertawa waktu membujuk-bujuk
senja
Sambil membetulkan jam yang buru-buru
menunjuk-nunjuk jadwal)
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Wednesday, January 13, 2016
Bunga-Bunga Daun Luruh
![]() |
| bunga-bunga daun luruh |
Bunga-bunga daun luruh
Halaman ditinggal adzan
jalanan senyap lubuk terpendam
Ke ujung tangisan
Suara menyapa dalam luruhan
Beranda sunyi menatap halaman
Apakah engkau apakah bosan
Yang setia berdiri di sisi kesepian
Bunga-bunga daun luruh
Halaman itu sunyi ditinggal diam
Pelangi mencium lubuk dan kolam
Kita pun di sini ngungun dalam gerimis
duka jatuh
Menghitung-hitung sukma hari-had dekat
dan jauh
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Tuesday, January 12, 2016
Perjalanan Ini
![]() |
| Perjalanan ini |
Perjalanan ini
menyusuri langsai-langsai kehidupan
menyusuri luka demi luka
menyusuri gigiran abad padang-padang
lengang
menyusuri matahari
dan lautan abadi dahsyat sunyi
Perjalanan ini
menyusuri pantai sukma demi sukma
menyusuri geliat urat-urat hari
menyusuri dasar telaga lembah jiwa
dan tanah hitam coklat merah
sepanjang rentangan tali benang-benang
nurani
Perjalanan ini
menyusuri perigi dunia terik kering
adalah jiwa kita yang lelah
Perjalanan ini
menyusuri bumi pahit manis dan langit
asing
adalah kita yang sempoyongan menyandang
berjuta beban
Perjalanan ini
menyusuri hutan bentangan sepi bentangan
api
adalah kita yang menyandang luka dan
seribu jalan
adalah kita yang mendukung senja dan
sejuta salib
hitam
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Monday, January 11, 2016
Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini
![]() |
| Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini |
Aku terbanting atas lantai kehidupan
Karena beban seribu jalan
Sukmaku yang gelisah resah
Merangkai sajak tak tersua
Sementara tangan tegang kaku menyandang
sunyi
Membusur panah ke jantung waktu
Cintaku yang perih dalam pusat pusaran
segala rindu
Memang laut-Mu teramat dalam terduga
segala cinta
Dataran lekang kemarau menunggu waktu
demi waktu
Adakah kita mampu menyimak segala
rahasia
Yang bermain antara gelap dan denyar
cahaya?
Adalah semuanya berpulang kepada janji,
kepada sunyi
Cinta yang memahat-mahat setiap bait
abadi
Bagai hujan yang setia mencuci lantai
bumi
Menyelesaikan sebait puisi
Aku terbanting di atas lantai kehidupan
Rebah di tengah galau riuh rendah abad
ini
Dan luka-luka
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Sunday, January 10, 2016
Gerimis Pagi Ini
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung
tersembuhkan
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh
cinta
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Saturday, January 9, 2016
Z
Siapakah yang pulang dengan langkah
masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung
nasibnya?
Iakah itu pelancong tak bernama.
Menyusur semenanjung tenggara
istirah ke sini. Menawarkan senja dalam
desau prahara
setelah lelah mengedangkan jaring nasib
melawan bencana
Siapakah masih mengaliri aku, o, sungai
derita
rakit-rakit sarat biduk-biduk dan
tongkang, detak jantung luka
memeram musim memberat mengimpikan
birahi pada pulungnya
lakah itu yang menggedor pintu dan
jendela
malam-malam begini. Dukakah itu duka
dunia
menyusur sungaiku yang terus mengaliri
dasar jiwa
Siapakah yang pulang dengan langkah
masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung
nasibnya?
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Friday, January 8, 2016
Mahakam
Senja pun membenam dalam tragedi
Abad ini
jalan ini semakin sunyi
Tapi kita tak sampai-sampai juga
Angin dari relung itu
Semakin runcing
Dan menciptakan garis ungu
Haruskah ke arah lain jalan pantai
kita kawinkan sepi
Antara dua badai?!
Tualang panjang ini
Semakin jauh semakin lengang
Langkah pun lelah menapak juang
Lalu kelepak yang menjauh
Longsong itu
Tanggalan pun jatuh
Tinggallah gerimis renyai
Dan bait-bait sunyi
Ketika jam pun sampai
Menunjuk-nunjuk tempat sepi
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Thursday, January 7, 2016
Kutempuh Jalan-Jalan Lengang
Kutempuh jalan-jalan lengang, derita-Mu
menghadang
Demikian tertib nasib menyalib
Dari pusat hari-hari-Mu yang rumit
Kutempuh jalan-jalan sepi, cinta mekar dalam
bunga-bunga sunyi
Hidup berbeban juang, sepanjang tubir hari-hari
yang garang
Tak berdalih, antara derita dan ketawa
Makna hidup latah cinta, gelepar-Mu yang
menggemuruh di dada
Oleh :
Korrie Layun Rampan
Friday, January 1, 2016
Joko Pinurbo
BIODATA
Nama : Joko Pinurbo
Tempat Lahir : Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat
Tanggal Lahir : 11 Mei 1962
Umur : 53 Tahun
Pekerjaan : Sastrawan
Tahun Aktif : 1983 sampai sekarang
Lulusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta
Pernah Jadi : Redaktur Basis, Gatra, dan Sadhar terbitan IKIP Sanata Dharma
Penghargaan :
- Puisi Terbaik Dewan Kesenian
- Hadiah Sastra Lontar
- Sih Award, penghargaan puisi terbaik jurnal puisi
- Tokoh sastra versi majalah Tempo.
- Khatulistiwa Literary Award lewat bukunya, Kekasihku.
- Dalam lingkup internasional, Joko Pinurbo pernah
- Diundang membaca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee 2001 di
Jakarta,
- Diundang membaca puisi pada Festival Sastra/Seni Winternachten
2002 di Belanda
- Diundang pada Forum Puisi Indonesia 2002 di Hamburg, Jerman
- Diundang dalam Festival Puisi Internasional-Indonesia 2002 di Solo.
PENGALAMAN PRIBADI
Joko Pinurbo mulai berkarya dalam puisi pada usia sekitar 20 tahun, walaupun ia telah
membaca banyak sekali puisi Indonesia sejak remaja. Dalam menulis puisi pun, ia kerap
mencampur antara realitas dengan impian, hikmat dengan unsur-unsur komik, si angkuh dan
si pejalan kaki, yang semua itu dapat ditemukan dalam satu baris dan diucapkan dalam satu
hembusan napas. Citra reliji dapat tampil berdampingan dengan komentar-komentar berbau
sosial politik pun percakapan yang intim. Beberapa karya puisi Joko Pinurbo tampaknya
merupakan parodi/komedi dari tradisi puisi Indonesia. Selain itu ia juga gemar menggunakan
pencitraan yang kelihatannya klise yang jarang ditemukan dalam puisi Indonesia, misalnya
pengacuannya pada objek objek yang biasa ditemukan sehari-hari seperti sarung,
telepon genggam, kamar mandi, celana panjang merupakan ciri khas dari karya-karya Joko
Pinurbo. Selain puisi, Joko Pinurbo juga menulis esai. Karya-karyanya dipublikasikan di
berbagai majalah dan surat kabar antara lain Horison, Basis, Kalam, Citra Yogya, Jurnal Puisi,
Mutiara, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Kompas dan Bernas.
PUISI KARYA JOKO PINURBO
| Judul | Pengarang | Kategori | Puisi |
| Aku Tidur Berselimutkan Uang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Anak Seorang Perempuan | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Atau | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Bayi Di Dalam Kulkas | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Bayi Mungil Di Kamar Mandi | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Bertelur | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Bolong | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Boneka, 1 | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Boneka, 2 | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Boneka, 3 | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Bulu Matamu : Padang Ilalang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Celana, 1 | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Celana, 2 | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Celana, 3 | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Dangdut | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Di Kulkas : Namamu | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Di Pojok Iklan Satu Halaman | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Di Salon Kecantikan | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Doa Mempelai | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Elegi | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Gadis Enam Puluh Tahun | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Gadis Malam Di Tembok Kota | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Hampir | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Hutan Karet | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Ibu Yang Tabah | Joko Pinurbo | Ibu | Lihat |
| Jauh | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Jurang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Keranda | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Kereta Api Menuju Jakarta | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Kisah Semalam | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Kisah Senja | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Kisah Seorang Nyumin | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Korban | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Layang-Layang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Loper Koran | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Lukisan Berwarna | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Malam Pembredelan | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Mampir | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Mata Air | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Minggu Pagi di Sebuah Puisi | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Mudik | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Obituari Bambang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Pacar Kecilku | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Pada Lukisan Monalisa | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penagih Utang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Pengamen | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penjaga Malam | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penjual Buah | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penjual Celana | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penumpang Terakhir | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penyair Kecil | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penyair Tardji | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Penyanyi Yang Pulang Dinihari | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Perias Jenazah | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Perjalanan Pulang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Pesan Uang | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Pohon Bungur | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Pulang Malam | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Ranjang Kematian | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Ranjang Putih | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Rendezvous | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Ronda | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Rumah Kontrakan | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Sehabis Tidur | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Senandung Becak | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Sepasang Tamu | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Serdadu | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Telepon Genggam | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Tengah Malam | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Tikus | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Tukang Cukur | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
| Utan Kayu | Joko Pinurbo | Puisi | Lihat |
Subscribe to:
Posts (Atom)








