Thursday, December 18, 2014
Tuesday, December 16, 2014
Sebelum Padi Menguning
Sebelum padi menguning mana burung datang mendekat
atau cinta bisa melekat
jika tiada banjir mendatang hama menyerang
harapan panen takkan sia-sia
lantas padi menguning cinta pun datang
tinggal aku yang selalu malang
1953
Oleh :
Ajip Rosidi
Monday, December 15, 2014
Pejalan Sepi
ia tembus kesenyapan dinihari
sepatunya berat menunjam bumi
menempuh kola yang lelap terlena
dalam pelukan cahya purnama
is tembus kedinginan pagi
siulnya nyaring membelah sunyi
membangunkan insan agar bangkit
dalam pertarungan hidup yang sengit
di sebuah jembatan ia berhenti
dihirupnya udara sejuk dalam sekali:
bulan yang mengambang atas air kali
adalah gambaran hatinya sendiri!
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Sunday, December 14, 2014
Rindu Berguling Sendiri
rindu berguling sendiri
putus mengharap
dinding putih-putih
dan di baliknya: kesepian pengap
radio di sebelah batas
suaranya samar -
kudengar diriku menghela nafas
dengan hati yang cabar
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Saturday, December 13, 2014
La Pun Kini Sunyi
ia pun kini sunyi
tahu dua macam bunga:
yang putih, sendiri, sepi
tak terjangkau dari tepi ini
ia pun bernyanyi
lagu sedih ditinggal kasih
tahu segala yang sia-sia
bernama duka
ia pun sunyi
ia pun sendiri
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Friday, December 12, 2014
Malam Putih
malam jatuh di senja putih
berangkat ke pangkal pagi
dan keinginan berdekap penuh kasih
sia-sia sekali
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Thursday, December 11, 2014
Angin Berkesiur
angin berkesiur
daun pun gugur
angin berkelana
cintaku mengembara
gadisku mawar
menanti tak sabar
gadis yang rindu
kudekap dalam pelukan bisu
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Tuesday, December 9, 2014
Lagu Kerinduan
wajahmu antara batang kelapa langsing
menebar senyum dan matamu menjadikan daku burung piaraan
semua hanya bayangan kerinduan: kau yang nun entah di mana
mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana
kujalani kelengangan hari
sepanjang pagar bayangan: wajahmu menanti
langkah kuhentikan dan kulihat
hanya senyummu memenuhi jagat
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Mata Derita
ada yang datang bermata derita
pagi berwarna olehnya
ada perawan bermata derita
berselendang angin remaja
ada yang memandang ke dalam hatiku
bumi pun jadi biru
ada yang memancar: kebeningan hening
dan segalanya pun tak teraba lagi - -
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Monday, December 1, 2014
Bunda
nyanyi menayang mimpi ke pangkuannya
damai pun terlena dalam hati
mewujudkan kasih dan cinta
yang takkan terhalang meski oleh mati
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Sunday, November 30, 2014
Dukaku Yang Risau
berjalan, berjalan selagi di diri duka
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Saturday, November 29, 2014
Kematian
lelaki bernyanyi sepenuh hati
didorongnya beton ke puncak tinggi
di hari sebelum lebaran
di rumah anak menunggu baju baru
tapi tali putus beton terguling
lelaki tak lagi bernyanyi
ada isteri jadi janda
ada anak kehilangan bapak
di hari sebelum lebaran
pintu tak terbuka
ayah tak kembali
sia-sia menanti
sepanjang hari
muka yang sudah remuk
anaknya menjerit yatim
ayah bisakah mati
muka yang tiada lagi bentuk
tepekur pengantar kubur
nyawa lepas tak tersangka
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Warna
menyala warna membakar dada ~ Ajip Rosidi
hari-hari penuh bisa
waktu dihabisi mimpi-mimpi
bocah meningkat dewasa
tiga jalan pertemuan
dalam mengerti
dalam diri
menyerah ke mata nyalang
warna nyala dalam waktu dalam ruang
selama jarak masih ada
selama ia belum mengerti
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Thursday, November 27, 2014
Penyair
adapun penyair lahir
membangkitkan kematian para penyihir
lalu dengan mantra kata-kata
menjelmakan kehidupan manusia
menyanyikan kelahiran cinta
atau menangisi kematian bunda
melagukan kesia-siaan rindu, kau pun tahu
segala yang beralamat duka
siapa menjelajahi pagi
mendapat pertama sinar mentari
lagu kunyanyikan kini
akan dimengerti nanti
lagu kusajakkan kini
suara lubuk hati
yang selalu sunyi
1954
Oleh :
Ajip Rosidi
Wednesday, November 26, 2014
Jalan Lempeng
sebuah lukisan S. Soedjojono
Burung gagak, burung gagak! Biarkan dia berjalan!
Biarkan dia berjalan, membungkuk pada keyakinannya
Bertolak dari bumi kehidupan lampau, begitu ia melangkah
Pasti dan yakin. Karena ada mimpi di balik gunung itu:
Lembah hijau hidup segar. Karena di sini batu mencair
Gurun mati. Tandus dan sepi.
Burung gagak, biarkan dia berjalan. Di ruas-ruas langkahnya
Menyala dendam pada bumi lampau. Di dadanya padat kesumat
Pada dunia kehidupan yang mati di sini.
Burung gagak, sampaikan salamku padanya. Salam bagi
Yang sudah melangkah atas keyakinan. Salam bagi
Yang sudah berani bikin perhitungan tandas sekali.
Gunung-gunung yang membatu, gersang dan kering,
kan takluk pada tapaknya.
Satu demi satu kan dilewatinya. Ia terjang dunia mati.
Burung gagak, kini ia berjalan. Melangkah dengan gagah
Ia tahu di balik gunung ada mimpi, ada lembah
Tidak cair meleleh seperti bumi yang menggolak ini.
Semua kan tunduk kepadaNya.
Semua kan menyerah pada langkahnya. Karena ia berjalan
Atas keyakinan.
Biarkan dia berjalan!
Gunung dari lembah sana, gaung dari mimpi diri.
Burung gagak, ia dengar nyanyi itu. Dan ia menuju ke situ.
Pohon-pohon mati dan sepi. Padang pun mati dan sepi.
Batu-batu mencongak ngeri, tajam dan mengancam.
Tapi ia melangkah menuju lembah-lembah mimpi.
Ia sendirian. Batu-batu dan alam geram.
Gunung mendinding di ujung. Langit pun kan menerkam.
Dan ia melangkah dengan pasti: Batu cair jadi beku.
Langit pun jadi membiru, mengucapkan selamat jalan
Menempuh kehidupan.
Burung gagak, burung gagak, biarkan dia berjalan
Sampaikan salam yang erat dan hangat. Ia yang yakin
Ada mimpi di balik gunung batu, ada lembah hijau dan lembut
Kehidupan tenang, sawah-ladang, padang rumput....
Jangan kauganggu!
1955
Oleh :
Ajip Rosidi
Tuesday, November 25, 2014
Tiada Yang Lebih Aman
Tiada yang lebih aman, pun tiada yang lebih nikmat
Membayangkan masalampau yang dalam kenangan terpahat.
Tiada yang lebih berat, pun tiada yang lebih berarti
Dan saat kini yang 'kan seg'ra lepas pula jadi mimpi.
Tiada yang lebih gamang, pun tiada yang lebih senang
Menghadapi masadatang, yang 'kan segera jadi sekarang.
Detik-detik berloncatan, tak satu pun kembali terulang
Karena antara tadi dan nanti, sekarang menghalang.
1962
Oleh :
Ajip Rosidi
Monday, November 24, 2014
Jeram
Air beterjunan dalam jeram
Buihnya memercik ke tebing tempat kami berbaring
Dan ia mengelaikan kepala
Dengan mata meram terpejam
Atas tanganku yang mencari-cari
Arah manakah burung gagak hinggap
yang suaranya nyaring
Memecah ketenangan hutan
Sehabis hujan.
Air beterjunan dalam jeram
Jerom gemuruh dalam darahku
Dan dalam mimpi keabadian yang nyaman
Kubisikkan kata-kata bagaikan desir angin
Mengeringkan keringat atas kening
Sedang mataku memandang tak yakin
Air berbuih yang menghilir
Entah kapan 'kan tiba
Di muara
Air beterjunan dalam jeram
Kata-kata beterjunan dari mulutku
Sungai pun tahu arti muara
Yang tak sia-sia menunggu.
Burung gagak berteriak entah di mana
Dan ia bersenandung entah mengapa
Karena dalam kesesaatan tak terjawab tanya lama
Yang sudah lama hanya tanya: Hingga mana? Pabila?
Mau apa... ?
Dan dengan jari-jari gemetar
Kuyakinkan hatiku sendiri: Segalanya
Berlaku percuma serta sia-sia
Dan perempuan ini 'kan mati dalam kepingin
Karena angin hanya angin
Karena jeram beterjunan dalam diriku
Yang tak mengenal musim kemarau
Air beterjunan dalam jeram
Dan jeram beterjunan dalam darahku.
1962
Oleh :
Ajip Rosidi
Sunday, November 23, 2014
Episode
Di luar alam gerimis
karena kau menangis
dan airmatamu
membasahi dadaku.
Padang ilalang bergelombang
dan angin semilir,
rumpun bambu berkesiur, burung terbang,
gemuruh airterjun, menghilir
Adalah mimpi yang jauh
adalah harapan yang jauh
dalam cinta yang rapuh.
Yang abadi
di dunia sebelum mati
hanya kenangan
yang muncul sesekali
1963
Oleh :
Ajip Rosidi
Saturday, November 22, 2014
Hari Lebaran
Hari ini hari hati percaya
Akan arti hidup dan mati, yang cuma sempat
Direnungkan setahun sekali. Sungguh besar maknanya
Jalan panjang menuju liang-lahat.
Hari ini hari kesadaran akan tradisi
Menyempatkan umat sejenak bersama-sama
Menghirup udara lega dalam kepungan derita
Sehari-hari yang bikin orang jauh-menjauhi.
Hari ini hariku pertama 'kan menjalani
Hidup antara manusia, sedangkan diriku sendiri
Makin sepi terasing, lantaran mengerti
Kelengangan elang di langit tinggi.
Jatiwangi, H. 1381
Oleh :
Ajip Rosidi
Friday, November 21, 2014
Harituaku
Pabila harituaku tiba, kelak suatu masa
Kacamata tebal atas hidung, bersenandung
Menembangkan lelakon lama. La1u tersenyum
Memandang bayangan atas kaca jendela
Yang putih warnanya, sampai pun alis, bulu mata ...
Maka namamu 'kan kusebut, dengan bibir gemetar
Bagai ayat kitab suci, tak sembarang boleh terdengar
Namun kala itu yang empunya nama entah di mana
Apakah lagi menyulam, duduk bungkuk atas kursi rotan
Ataukah sedang menimang cucu, mungkin pula telah lama
Aman berbaring dalam tilam penghabisan.
Dan pabila giliranku tiba, telentang
Dengan kedua belah tangan bersilang
Sebelum Sang Maut menjemput
Sekali lagi namamu 'kan kusebut, lalu diam. Mati.
1963
Oleh :
Ajip Rosidi
Subscribe to:
Posts (Atom)