Monday, January 11, 2016

Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini


Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini


Aku terbanting atas lantai kehidupan
Karena beban seribu jalan
Sukmaku yang gelisah resah
Merangkai sajak tak tersua
Sementara tangan tegang kaku menyandang sunyi
Membusur panah ke jantung waktu
Cintaku yang perih dalam pusat pusaran segala rindu

Memang laut-Mu teramat dalam terduga segala cinta
Dataran lekang kemarau menunggu waktu demi waktu
Adakah kita mampu menyimak segala rahasia
Yang bermain antara gelap dan denyar cahaya?

Adalah semuanya berpulang kepada janji, kepada sunyi
Cinta yang memahat-mahat setiap bait abadi
Bagai hujan yang setia mencuci lantai bumi
Menyelesaikan sebait puisi

Aku terbanting di atas lantai kehidupan
Rebah di tengah galau riuh rendah abad ini
Dan luka-luka


Oleh :
Korrie Layun Rampan

Sunday, January 10, 2016

Gerimis Pagi Ini




Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta


Oleh :
Korrie Layun Rampan

Saturday, January 9, 2016

Z

Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?

Iakah itu pelancong tak bernama.
Menyusur semenanjung tenggara
istirah ke sini. Menawarkan senja dalam desau prahara
setelah lelah mengedangkan jaring nasib melawan bencana

Siapakah masih mengaliri aku, o, sungai derita
rakit-rakit sarat biduk-biduk dan tongkang, detak jantung luka
memeram musim memberat mengimpikan birahi pada pulungnya
lakah itu yang menggedor pintu dan jendela
malam-malam begini. Dukakah itu duka dunia
menyusur sungaiku yang terus mengaliri dasar jiwa

Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?


Oleh :
Korrie Layun Rampan

Friday, January 8, 2016

Mahakam

Senja pun membenam dalam tragedi
Abad ini
jalan ini semakin sunyi
Tapi kita tak sampai-sampai juga

Angin dari relung itu
Semakin runcing
Dan menciptakan garis ungu

Haruskah ke arah lain jalan pantai
kita kawinkan sepi
Antara dua badai?!

Tualang panjang ini
Semakin jauh semakin lengang
Langkah pun lelah menapak juang

Lalu kelepak yang menjauh
Longsong itu
Tanggalan pun jatuh

Tinggallah gerimis renyai
Dan bait-bait sunyi
Ketika jam pun sampai
Menunjuk-nunjuk tempat sepi


Oleh :
Korrie Layun Rampan

Thursday, January 7, 2016

Kutempuh Jalan-Jalan Lengang




Kutempuh jalan-jalan lengang, derita-Mu

menghadang

Demikian tertib nasib menyalib

Dari pusat hari-hari-Mu yang rumit

Kutempuh jalan-jalan sepi, cinta mekar dalam

bunga-bunga sunyi

Hidup berbeban juang, sepanjang tubir hari-hari

yang garang

Tak berdalih, antara derita dan ketawa

Makna hidup latah cinta, gelepar-Mu yang

menggemuruh di dada


Oleh :

Korrie Layun Rampan

Friday, January 1, 2016

Joko Pinurbo




BIODATA 


Nama               : Joko Pinurbo

Tempat Lahir    : Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Tanggal Lahir    : 11 Mei 1962

Umur               : 53 Tahun

Pekerjaan        : Sastrawan

Tahun Aktif      : 1983 sampai sekarang

Lulusan            : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta

Pernah Jadi      : Redaktur Basis, Gatra, dan Sadhar terbitan IKIP Sanata Dharma

Penghargaan    

-  Puisi Terbaik Dewan Kesenian 

-     Hadiah Sastra Lontar

-   Sih Award, penghargaan puisi terbaik jurnal puisi

-   Tokoh sastra versi majalah Tempo.

-   Khatulistiwa Literary Award lewat bukunya, Kekasihku.

-   Dalam lingkup internasional, Joko Pinurbo pernah

-   Diundang membaca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee 2001 di

   Jakarta,

-   Diundang membaca puisi pada Festival Sastra/Seni Winternachten 

   2002 di Belanda

-   Diundang pada Forum Puisi Indonesia 2002 di Hamburg, Jerman

-   Diundang dalam Festival Puisi Internasional-Indonesia 2002 di Solo.



PENGALAMAN PRIBADI


Joko Pinurbo mulai berkarya dalam puisi pada usia sekitar 20 tahun, walaupun ia telah 

membaca banyak sekali puisi Indonesia sejak remaja. Dalam menulis puisi pun, ia kerap 

mencampur antara realitas dengan impian, hikmat dengan unsur-unsur komik, si angkuh dan 

si pejalan kaki, yang semua itu dapat ditemukan dalam satu baris dan diucapkan dalam satu 

hembusan napas. Citra reliji dapat tampil berdampingan dengan komentar-komentar berbau 

sosial politik pun percakapan yang intim. Beberapa karya puisi Joko Pinurbo tampaknya 

merupakan parodi/komedi dari tradisi puisi Indonesia. Selain itu ia juga gemar menggunakan 

pencitraan yang kelihatannya klise yang jarang ditemukan dalam puisi Indonesia, misalnya 

pengacuannya pada objek objek yang biasa ditemukan sehari-hari seperti sarung, 

telepon genggam, kamar mandi, celana panjang merupakan ciri khas dari karya-karya Joko 

Pinurbo. Selain puisi, Joko Pinurbo juga menulis esai. Karya-karyanya dipublikasikan di 

berbagai majalah dan surat kabar antara lain Horison, Basis, Kalam, Citra Yogya, Jurnal Puisi, 

Mutiara, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Kompas dan Bernas.



PUISI KARYA JOKO PINURBO
Judul Pengarang Kategori Puisi
Aku Tidur Berselimutkan Uang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Anak Seorang Perempuan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Atau Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bayi Di Dalam Kulkas Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bayi Mungil Di Kamar Mandi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bertelur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bolong Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 1 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 2 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Boneka, 3 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Bulu Matamu : Padang Ilalang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 1 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 2 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Celana, 3 Joko Pinurbo Puisi Lihat
Dangdut Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Kulkas : Namamu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Pojok Iklan Satu Halaman Joko Pinurbo Puisi Lihat
Di Salon Kecantikan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Doa Mempelai Joko Pinurbo Puisi Lihat
Elegi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Gadis Enam Puluh Tahun Joko Pinurbo Puisi Lihat
Gadis Malam Di Tembok Kota Joko Pinurbo Puisi Lihat
Hampir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Hutan Karet Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ibu Yang Tabah Joko Pinurbo Ibu Lihat
Jauh Joko Pinurbo Puisi Lihat
Jurang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Keranda Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kereta Api Menuju Jakarta Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Semalam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Senja Joko Pinurbo Puisi Lihat
Kisah Seorang Nyumin Joko Pinurbo Puisi Lihat
Korban Joko Pinurbo Puisi Lihat
Layang-Layang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Loper Koran Joko Pinurbo Puisi Lihat
Lukisan Berwarna Joko Pinurbo Puisi Lihat
Malam Pembredelan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mampir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mata Air Joko Pinurbo Puisi Lihat
Minggu Pagi di Sebuah Puisi Joko Pinurbo Puisi Lihat
Mudik Joko Pinurbo Puisi Lihat
Obituari Bambang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pacar Kecilku Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pada Lukisan Monalisa Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penagih Utang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pengamen Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjaga Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjual Buah Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penjual Celana Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penumpang Terakhir Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyair Kecil Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyair Tardji Joko Pinurbo Puisi Lihat
Penyanyi Yang Pulang Dinihari Joko Pinurbo Puisi Lihat
Perias Jenazah Joko Pinurbo Puisi Lihat
Perjalanan Pulang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pesan Uang Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pohon Bungur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Pulang Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ranjang Kematian Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ranjang Putih Joko Pinurbo Puisi Lihat
Rendezvous Joko Pinurbo Puisi Lihat
Ronda Joko Pinurbo Puisi Lihat
Rumah Kontrakan Joko Pinurbo Puisi Lihat
Sehabis Tidur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Senandung Becak Joko Pinurbo Puisi Lihat
Sepasang Tamu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Serdadu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu Joko Pinurbo Puisi Lihat
Telepon Genggam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tengah Malam Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tikus Joko Pinurbo Puisi Lihat
Tukang Cukur Joko Pinurbo Puisi Lihat
Utan Kayu Joko Pinurbo Puisi Lihat

Tuesday, December 29, 2015

Perias Jenazah




Untuk terakhir kali perempuan cantik itu akan merias jenazah.
Setelah itu selesailah. Ia sangat lelah setelah sekian lama
mengurusi keberangkatan para arwah .

Kini ia harus merias jenazah seorang perempuan
yang ditemukan tewas di bawah jembatan, tidak jelas
asal-usulnya, serba gelap identitasnya, tidak ada yang sudi
mengurusnya, dan untuk gampangnya orang menyebutnya
gelandangan atau pelacur jalanan, toh petugas ketidakamanan
bilang ah paling ia mati dikerjain preman-preman.

Perias jenazah itu tertawa nyaring begitu melihat jenazah
yang akan diriasnya sangat mirip dengan dirinya.
Kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil dipeluknya
jenazah perempuan malang itu.
“Biar kurias parasmu dengan air mataku hingga sempurna ajalmu.”

Beberapa hari kemudian perias jenazah itu meninggal dunia
dan tak ada yang meriasnya.
Jenazahnya tampak lembut dan cantik, dan arwah-arwah
yang pernah didandaninya pasti akan sangat menyayanginya.

Kadang perias jenazah itu diam-diam memasuki tidurku
dan merenungi wajahku. Seakan ia tahu bahwa aku
yatim piatu, tidak jelas asal-usulnya, serba gelap identitasnya.
Kulihat wajah cantiknya berkelebatan di atas ranjang kata-kataku.


Oleh :
Joko Pinurbo

Monday, December 28, 2015

Jurang




Berputar-putar di rimba ranjang, mencari jalan setapak
menuju tubuhmu yang terjal dan curam, sementara hari
mulai gelap dan hujan sebentar lagi datang, awas ada
penjahat siap menghadang, akhirnya aku tersesat
dan terperosok ke dalam jurang.
Tubuhmu terlindung jauh di luar ranjang.


Oleh :
Joko Pinurbo

Saturday, December 26, 2015

Doa Mempelai




Kado buat ade & Fajar

Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.
Perjalanan mungkin akan panjang berliku
dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
tapi insyaallah suatu saat
bisa kutemukan sebuah kiblat
di ufuk barat tubuhmu.


Oleh :
Joko Pinurbo

Friday, December 25, 2015

Gadis Enam Puluh Tahun




Gadis enam puluh tahun berdiri di ambang jendela,
berbincang-bincang dengan senja.
Senja menggerayangi wajahnya, dan ia merasa
sorot senja sangat menyilaukan matanya.
"Ngapain ngeliatin gue melulu? Ntar gue colong mata lu!"
Senja meredup, kemudian angslup ke pelupuknya.

Demikianlah, setiap berangkat bermain layang-layang
di kuburan, aku melihat gadis buta itu sedang berdiri
di ambang jendela, berpacaran dengan senja,
dan sorot senja memancar dari kelopak matanya.


Oleh :
Joko Pinurbo

Thursday, December 24, 2015

Penjaga Malam




Penjaga malam itu masih setia menjaga rumah besar
yang tak pernah dihuni pemiliknya.
Ia sangat mencintai rumah kosong itu,
bahkan merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Suatu malam ia berhasil menangkap seorang penjahat
yang berusaha masuk ke rumah itu tanpa seizinnya.
Ia tidak rela rumah itu diganggu karena, ya itu tadi,
ia merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Keesokan harinya penjaga malam itu tak kelihatan lagi
batang hidungnya. Ia sudah ditangkap polisi
karena telah menghajar pemilik rumah yang dijaganya.


Oleh :
Joko Pinurbo

Wednesday, December 23, 2015

Aku Tidur Berselimutkan Uang




Aku tidur berselimutkan uang.
Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang.


Oleh :
Joko Pinurbo