Thursday, June 19, 2014

Mata Hitam

Dua mata hitam adalah matahati yang biru

dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.

Rindu bukanlah milik perempuan melulu

dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.

Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi

kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.

Dua mata hitam adalah rumah yang temaram

secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam.


karya : WS Rendra

Wednesday, June 18, 2014

Herman

herman tak bisa pijak di bumi tak bisa malam di bulan

tak bisa hangat di matari tak bisa teduh di tubuh

tak bisa biru di lazuardi tak bisa tunggu di tanah

tak bisa sayap di angin tak bisa diam di awan

tak bisa sampai di kata tak bisa diam di diam tak bisa paut di mulut

tak bisa pegang di tangan takbisatakbisatakbisatakbisatakbisatakbisa

di mana herman? kau tahu?

tolong herman tolong tolong tolong tolongtolongtolongtolongngngngngng!


Karya: sutardji calzoum bachri

Monday, June 16, 2014

Para Peminum

di lereng lereng 

para peminum 

mendaki gunung mabuk 

kadang mereka terpeleset 

jatuh 

dan mendaki lagi 

memetik bulan 

di puncak 

mereka oleng 

tapi mereka bilang 

--kami takkan karam 

dalam lautan bulan-- 

mereka nyanyi nyai 

jatuh 

dan mendaki lagi 

di puncak gunung mabuk 

mereke berhasil memetik bulan 

mereka mneyimpan bulan 

dan bulan menyimpan mereka 

di puncak 

semuanya diam dan tersimpan


Karya: sutardji calzoum bachri

Sunday, June 15, 2014

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.


Pada suatu hari nanti,

Suaraku tak terdengar lagi,

Tapi di antara larik-larik sajak ini.


Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Kau tak akan letih-letihnya kucari.


Karya : Supardi  Djoko Damono

Saturday, June 14, 2014

Dari Bentangan Langit

Dari bentangan langit yang semu 

Ia, kemarau itu, datang kepadamu

Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang

Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan

menyapu hutan !

Mengekal tanah berbongkahan !

datang kepadamu, Ia, kemarau itu

dari Tuhan, yang senantia diam

dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa

yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap 


Karya  :Emha Ainun Najib

Friday, June 13, 2014

Untuk Pahlawan Negeriku

Untuk negeriku ...

Hancur lebur tulang belulang

Berlumur darah sekujur tubuh

Bermandi keringat penyejuk hati

 

Air mata bercucuran sambil menganjungkan do'a

Untuk pahlawan negeri

Berpijak berdebu pasir

Berderai kasih hanya untuk pahlawan jagat raya

 

Hanya jasamu yang bisa ku lihat

Hanya jasamu yang bisa ku kenang

Tubuhmu hancur lebur hilang entah kemana

 

Demi darahmu ...

Demi tulangmu ...

Aku perjuangkan negeriku ...

Untuk Indonesiaku ...


Karya : Rezha Hidayat

Thursday, June 12, 2014

Sebelum Laut Bertemu Langit

Seekor penyu pulang ke laut

Setelah meletakkan telurnya di pantai

Malam ini kubenamkan butir-butir

Puisiku di pantai hatimu

Sebentar lagi aku akan balik ke laut.


Puisiku – telur-telur penyu itu-

mungkin bakal menetas

menjadi tukik-tukik perkasa

yang berenang beribu mil jauhnya

Mungkin juga mati

Pecah, terinjak begitu saja


Misalnya sebutir telur penyu

menetas di pantai hatimu

tukik kecilku juga kembali ke laut

Seperti penyair mudik ke sumber matahari

melalui desa dan kota, gunung dan hutan

yang menghabiskan usianya


Kalau ombak menyambutku kembali

Akan kusebut namamu pantai kasih

Tempat kutanamkan kata-kata

yang dulu melahirkan aku

bergenerasi yang lalu


Betul, suatu hari penyu itu

tak pernah datang lagi ke pantai

sebab ia tak bisa lagi bertelur

Ia hanya berenang dan menyelam

menuju laut bertemu langit

di cakrawala abadi


karya : Eka Budianta

Wednesday, June 11, 2014

Ibu

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir


bila aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar


ibu adalah gua pertapaanku

dan ibulah yang meletakkan aku di sini

saat bunga kembang menyemerbak bau sayang

ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi

aku mengangguk meskipun kurang mengerti


bila kasihmu ibarat samudera

sempit lautan teduh

tempatku mandi, mencuci lumut pada diri

tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh

lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan

namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu

lantaran aku tahu

engkau ibu dan aku anakmu


bila aku berlayar lalu datang angin sakal

Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala

sesekali datang padaku

menyuruhku menulis langit biru

dengan sajakku.



Karya: D. Zawawi Imron

Monday, June 9, 2014

Surat Dari Ibu

Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke hidup bebas !

Selama angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang

pergi ke alam bebas !

Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar

dan elang laut pulang kesarang

angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

dan nakhoda sudah tahu pedoman

boleh engkau datang padaku !

Kembali pulang, anakku sayang

kembali ke balik malam !

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

Kita akan bercerita

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”


Karya : Asrul Sani

Saturday, June 7, 2014

Sepenggal puisi untukMu Tuhan

Wahai tuhan terdengarkah kepadamu

Rintihan pilu hamba meratapi klimaks takdirMu

Remuk redam

Resah hati tertatih memaknai setiap keluh


Wahai tuhan terdengarkah kepadaMu

Lantunan Doa Doa terpintal di setiap usai persujudan hamba

Kalimat kalimat agung senantiasa menjadi perisai


Wahai tuhan 

Dalam harap penuh seluruh 

Engkau pemilik teguh!


Allahumma laa sahlaa illaa maa ja'altahu sahlaa wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahlaa [HR. Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya no.2427. Dishohihkan oleh 'Abdul Qodir Al-Arnauth dalam takhrij Al-Adzkar An-Nawawi hal.187. Lihat As-Silsilah Hadits Ash-Shohihah no.2886.) 4

Oleh; Ahmad Khoirun Ns

Friday, June 6, 2014

Jelang UKK dan Classmeeting Puisi

Beribu maav admin ucapkan untuk agan semua yang setia mengunjungi blog ini, seminggu kemarin admin sedang menjalani ujian UKK dan untuk seminggu kedepan akan diadakan Class Meeting disekolah. Maav jika admin seminggu kemari tidak update puisi terbaru, tapi insyallah jika sempat admin akan mulai update puisi lagi minggu ini ...

Admin juga minta doanya dari agan semua semoga bisa menang lombanya Aminn ...

Tuesday, May 13, 2014

Puisi Kembalikan Indonesia Padaku

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,

yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam

dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam

lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,

sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang

sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam

dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Monday, May 12, 2014

Membaca Tanda - Tanda

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas

dari tangan

dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya

tak begitu jelas

tapi kini kita mulai merindukannya

Kita saksikan udara

abu-abu warnanya

Kita saksikan air danau

yang semakin surut jadinya

Burung-burung kecil

tak lagi berkicau pagi hari

Hutan kehilangan ranting

Ranting kehilangan daun

Daun kehilangan dahan

Dahan kehilangan

hutan

Kita saksikan zat asam

didesak asam arang

dan karbon dioksid itu

menggilas paru-paru

Kita saksikan

Gunung memompa abu

Abu membawa batu

Batu membawa lindu

Lindu membawa longsor

Longsor membawa air

Air membawa banjir

Banjir membawa air

air

mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda

Bisakah kita membaca tanda-tanda?Allah

Kami telah membaca gempa

Kami telah disapu banjir

Kami telah dihalau api dan hama

Kami telah dihujani abu dan batu

Allah

Ampuni dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca

Seribu tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya

mulai lepas dari tangan

dan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya

tak begitu jelas

tapi kini kami

mulai

merindukannya.

Karena Kasihmu

Karena kasihMu

Engkau tentukan waktu

Sehari lima kali kita bertemu


Aku anginkan rupamu

Kulebihi sekali

Sebelum cuaca menali sutera


Berulang-ulang kuintai-intai

Terus-menerus kurasa-rasakan

Sampai sekarang tiada tercapai

Hasrat sukma idaman badan


Pujiku dikau laguan kawi

Datang turun dari datuku

Di ujung lidah engkau letakkan

Piatu teruna di tengah gembala


Sunyi sepi pitunang poyang

Tadak meretak dendang dambaku

Layang lagu tiada melangsing

Haram gemerencing genta rebana


Hatiku, hatiku

Hatiku sayang tiada bahagia

Hatiku kecil berduka raya

Hilang ia yang dilihatnya.

Sunday, May 11, 2014

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini Karya Taufik Ismail

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.

Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi

berterang-terang curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek

secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi

lebih separuh masuk kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,

agar orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum

sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas

penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis

dan tak utus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata

supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,

sekarang saja sementara mereka kalah,

kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka

oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia

dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,

kabarnya dengan sepotong SK

suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,

lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat

jadi pertunjukan teror penonton antarkotacuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita

tak pernah bersedia menerima skor pertandingan

yang disetujui bersama,Di negeriku rupanya sudah diputuskan

kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,

lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil

karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,

sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan

dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,

Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,

Nipah, Santa Cruz dan Irian,

ada pula pembantahan terang-terangan

yang merupakan dusta terang-terangan

di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan,

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,

tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang

menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia

Friday, May 9, 2014

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda


Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku


Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita Mati datang tidak membelah…

Persetujuan Dengan Bung Karno

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

dipanggang diatas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut


Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Thursday, May 8, 2014

Hanyut Aku

Hanyut aku, Kekasihku!

Hanyut aku!

Ulurkan tanganMu, tolong aku

Sunyinya sekelilingku!


Tiada suara kasihan,

Tiada angin mendingin hati,

Tiada air menolak ngelak,

Dahagakan kasihMu,

Hauskan bisikMu,Mati aku disebabkan diamMu.


Langit menyerkap,

Air berlepas tangan, aku tenggelam.


Tenggelam dalam malam

Air di atas menindih keras

Bumi di bawah menolak ke atas

Mati aku, Kekasihku, mati aku!

Hanya Satu

Timbul niat dalam kalbumu

Terban hujan, ungkai badai

Terendam karam

Runtuh ripuk tamanmu rampak


Manusia kecil lintang pukang

Lari terbang jatuh duduk

Air naik tetap terus

Tumbang bungkar pokok purba


Teriak riuh redam terbelam

Dalam gegap gempita guruh

Kilau kilat membelah gelap

Lidah api menjulang tinggi


Terapung naik jung bertudung

Tempat berteduh nuh kekasihmu

\Bebas lepas lelang lapang

Di tengah gelisah, swara sentosa


***


Bersemayam sempana di jemala gembala

Duriat jelita bapakku Ibrahim

Keturunan intan dua cahaya

Pancaran putera berlainan bunda .


Kini kami bertikai pangkai

Di antara dua, mana mutiara

Jauhari ahli lalai menilai

Lengah langsung melewat abad.


Aduh kekasihku

Padaku semua tiada berguna

Merasa dikau dekat rapat

Serupa Musi di puncak Tursina.