Friday, November 6, 2015
Thursday, November 5, 2015
Pada Lukisan Monalisa
Di rambutmu burung-burung
membuat sarang.
Burung-burung yang terbang dari
khasanah senja;
yang sudah berapa lama
terkurung dalam himpian Hawa.
Burung-burung yang memintal
benang-benang cahaya
dengan kepak lembut
sayap-sayapnya yang luka.
Burung-burung yang menggurat
padang langit hijau
dengan cakar-cakar perih dan
kicau-kicaunya yang parau.
Dan engkau adalah pohon yang
dahan-dahannya
menjulur lentur karena adalah
kenangan.
Yang akar-akarnya menjuntai ke
wilayah malam.
Yang ranting-rantingnya lembut
karena adalah igauan.
Yang daunnya rimbun menghalau
kobaran jaman.
Yang pucuk-pucuknya menjulang
karena adalah jeritan.
Oleh :
Joko Pinurbo
Wednesday, November 4, 2015
Senandung Becak
Ada becak melenggang sendirian
di sebuah gang.
Pemiliknya, katanya, telah mati
di tiang gantungan.
Ada becak hanyut di sungai.
Sungainya keruh, mengalir ke
laut yang jauh.
Orang-orang berkumpul di atas
jembatan,
mengira si pemiliknya telah
mati tenggelam.
Tapi ada yang berbisik kepada
saya:
“Akulah yang menghanyutkannya
dan ternyata kalian amat suka
menontonnya.”
Ada juga yang berkata:
“Sesampainya di laut, becak itu
akan menjelma
menjadi sebuah perahu yang
harus bertarung
sendirian melawan badai, ombak
dan malam.”
Oleh :
Joko Pinurbo
Tuesday, November 3, 2015
Tengah Malam
Badai menggemuruh di ruang
tidurmu.
Hujan menderas, lalu kilat,
petir
dan ledakan-ledakan waktu dari
balik dadamu.
Sesudah itu semuanya reda.
Musim mengendap di kaca
jendela.
Tinggal ranting dan dedaunan
kering
berserakan di atas ranjang.
Hening.
Waktu itu tengah malam. Kau
menangis.
Tapi ranjang mendengarkan
suaramu sebagai nyanyian.
Oleh :
Joko Pinurbo
Monday, November 2, 2015
Bulu Matamu : Padang Ilalang
Bulu matamu: padang ilalang.
Di tengahnya: sebuah sendang.
Kata sebuah dongeng, dulu ada
seorang musafir
datang bertapa untuk
membuktikan apakah benar
wajah bulan bisa disentuh lewat
dasar sendang.
Ia tak percaya, maka ia
menyelam.
Tubuhnya tenggelam dan hilang
di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi
pusaran air berwarna hitam.
Bulu matamu: padang ilalang.
Oleh :
Joko Pinurbo
Sunday, November 1, 2015
Tukang Cukur
Ia membabat padang rumput yang
tumbuh subur
di kepalaku. Ia membabat rasa
damai
yang merimbun sepanjang waktu.
“Di bekas hutan ini akan
kubangun bandar, hotel,
dan restoran. Tentunya juga
sekolah,
rumah bordil, dan tempat
ibadah.
Ia menyayat-nyayat kepalaku.
Ia mengkapling-kapling tanah
pusaka nenekmoyangku.
“Aku akan mencukur lentik
lembut bulu matamu.
Dan kalau perlu akan kupangkas
daun telingamu.”
Suara guntingnya selalu
mengganggu tidurku.
Oleh :
Joko Pinurbo
Subscribe to:
Posts (Atom)


