Thursday, April 16, 2015

Nikah Pisau

aku sampai entah di mana. Berputar putar

dalam labirin. perjalanan terpanjang

tanpa peta. dan inilah warna gelap paling

sempurna. kuraba gang di antara sungai 

dan jurang.


ada jerit, serupa nyanyi. mungkin dari 

mulutku sendiri. kudengar erangan, serupa

senandung, mungkin dari mulutku sendiri.


tapi inilah daratan dengan keasingan paling

sempurna: tubuhmu yang bertaburan ulat ulat,

kuabaikan. sampai kurampungkan kenikmatan

sanggama. sebelum merampungkanmu juga

: menikam jantung dan merobek zakarmu,

dalam segala ngilu.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Wednesday, April 15, 2015

Nikah Perkampungan

dengan sadar, aku kawini rumah rumah kardus.

tanpa cincin kawin, selain kemiskinan dan

ilmu daur ulang. tanpa perjamuan, selain wabah

dan ilmu tata kota. tanpa nyanyian pengiring,

selain ketergusuran hewan hewan jelata.


dengan sadar, aku nikahi dunia yang gelisah.

sambil kuganti doa jadi harapan. kuganti

janji jadi ratapan.


kunikahi jaman yang sekarat minta susu.

pengantin yang tak pernah ku nikahi, tapi

minta menetekku dengan bahasa ketakutan.



Oleh : 

Dorothea Rosa Herliany

Tuesday, April 14, 2015

Nikah Laut

Garam garam itu kau peras dari keringat

nelayan. Aku pilih ikan ikan dari persetubuhannya

dengan laut. sama asinnya dengan kecemasan 

tak usai usai.


kita menunggu di puncak karang. dalam debur

ombak dan nafasnya. menyaksikan pertemuan langit dan laut yang terjaring jala jala.


inilah perkawinan yang sempurna!



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Monday, April 13, 2015

Nikah Ilalang

engkau nikahi ilalang. berumah di negeri

semak semak. diamlah dalam kemerisik angin

yang mengecoh cakrawala.


tapi orang orang lalu melayat padamu. terasa 

kelam perkawinan dan pesta syahwat. engkau

butuhkan bunga bunga ditaburkan. Doa doa

penghabisan, dan ziarah bertubi tubi.


engkau nikahi ilalang. luas kebun luas bumi

luas langit luas jagat batinmu. engkau

nikahi kesunyian yang ditinggalkan abad abad

nanti. berkumur cabikan tanah kering dan 

pestisida. berkumur jagat hewan kecil yang

mencari rumah rumah dalam tangis dan sekarat.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Sunday, April 12, 2015

Nelayan Tersesat

"sampanku tersesat di sebuah negeri terbuka,"

jerit seorang nelayan kecil dan papa.

"di mana mana pintu. siapa pun bebas memasukinya."

(ikan ikan merubung dan ternganga).


nelayan kecil itu bagai telah terbebas

dari sebuah lorong tertutup dan gelap.

dinding dinding memantulkan sakit

dan nestapa.


"berkatalah, dan mereka akan mendengar," ia

berkata. "bukalah mulutmu, dan tangan tangan

tergapai menyalammu." (ikan ikan merubung 

dan ternganga).


"sampanku tersesat di sebuah negeri terbuka.

mereka akan mendengar harapan dengan tegur sapa.

untuk apa kail, sebab banyak mulut yang sedia

menjadi wakil untuk membunuh rasa lapar kita."

(ikan ikan merubung dan ternganga).


seorang nelayan kecil dan papa. matanya tak 

cukup tajam untuk meraba raba. hatinya terlalu

teduh buat keisengan tegur sapa. dadanya terlalu

terbuka buat harapan harapan.


kebisuan dinding dinding langit yang dingin 

mendesis dan meronta. derita terkibas

sayap sayap emasnya.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Saturday, April 11, 2015

Misa Sepanjang Hari

setelah letih merentang perjalanan, kita sampai

di perempatan sejarah. menghitung masa silam

dan mereka reka masa datang. segala yang telah

kita lakukan sebagai dosa, berhimpit himpitan

dalam album. berebut di antara mazmur mazmur dan

doa. dan kita pun belum putuskan perjalanan atau

kembali pulang.


kata kata gugur jadi rintihan. percakapan berdesis

dalam isakan. keringat anyir dan darah bersatu

menawar dahagamu yang terlampau kental.

engkau imani

taubatku yang mengering di antara dengkur dan 

igauan.

tubuh beku di antara altar altar dan bangku panjang.

di antara mazmur dan suara anggur dituangkan.

di seberang mimpi, pancuran dan sungai mati dengan

sendirinya. Tiba tiba kau padamkan cahaya itu.


ruang ini gelap. aku raba dan kucari cari tongkat

si buta. kutemukan cahaya dalam fikiranku sendiri.

pejalan beriringan di antara gang dan musim yang

tersesat. kunyalakan cahaya dalam hatiku. biarlah 

jika akhirnya membakar seluruh ayat dan syair yang

lupa kukemasi.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Friday, April 10, 2015

Metamorfose Kekosongan

seperti inilah, aku letakkan ranjang dalam dadamu.

kujadikan rongga rongga sempit itu kamar cintaku.

suatu hari nanti, akan berjejal lagu lagu dan tangisan.

rintihan kecil dan jeritan tiba tiba. dan kau kirim aku

ke tanah asing: dengan dentum dan suara angin dari

nafasmu.


seperti inilah, aku letakkan tempat sampah dalam

otakmu. kujadikan gumpalan zat itu sudut tak berguna.

suatu hari nanti, akan berjejal entah apa. telah sesak 

ruang sempit itu oleh rencana rencana dan bencana.


tadi, kita telah berkhianat dengan cinta. kau ledakkan 

aku dengan zakarmu. kuletakkan ulat ulat di sana.

sampai

saatnya nanti, siap memangkas daun hatimu.


seperti inilah kita: merenda kemungkinan kemungkinan.

suatu hari nanti -dalam otakmu, dalam dadamu,

dalam perutmu- kutanami bangkai bangkai ulat. suatu

hari nanti, akan kau panen kupu kupu.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Thursday, April 9, 2015

Mereka Membangun Sungai

mereka membangun sungai pada kepalanya, kata

seseorang, agar hanyut kalimat kalimat dalam

fikirannya menuju bendungan bendungan yang 

ditunggui orang orang kosong. untuk memperebutkan

rumus rumus dan kesimpulan yang mengasingkannya

dari kemanusiaan, kata yang lain. agar tercipta

makhluk makhluk baru yang pongah dengan

huruf huruf dan angka angka membungkus

hari nurani. sehingga bumi yang purba membangun

kepompongnya pada kanvas sunyi, kata seseorang.


agar orang orang meninggalkan arti debu, kata yang

lain. agar orang orang meninggalkan arti hujan dan

matahari. agar orang orang tak paham bunyi angin.

agar orang orang tak tahu kediaman batu. agar

orang orang ...


mereka membangun sungai, membangun

bendungan bendungan,

membangun orang orang kosong, muara, air, dan 

kebisuan suara halus dari mulut mulutnya, kata

seseorang yang menamakan dirinya nabi. Orang orang

telah meninggalkan kefanaan, desahnya.


mereka membangun sungai dalam fikirannya. dalam

hati nuraninya. agar orang orang tak paham kediaman

ayat ayat yang terbaca. agar orang orang ...



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Wednesday, April 8, 2015

Lagu Asing di Sawah Sawah

dari tanah yang sama kugali sumur

yang meluberkan madu. kuhisap dan kukunyah

segala sisa akar segalapohon. kusemburkan

ke langit, menjadi kawanan lebah.


sengat dan bisa berlepasan mencari tubuhku 

yang bergumpalan asin air mata. tangisan

menggugurkan musim. mengusung angin dan

bau tanah rindu musim tanam.


kugali sumur. tempat terakhir bagi petani

membongkar musim yang menetes darah dari

keringat sendiri.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Tuesday, April 7, 2015

Lagu Asing dari Desa ke Desa

di atas gerobak kuhitung mesin dan listrik

yang membagi bagikan kekosongan kepada

semua orang

malaikat malaikat menyebarkan kebencian. Sawah sawah

dan gubuk gubuk tiba tiba berubah gumpalan kertas.

kubakar: jadi tanah air bagi bayang bayang.


sepanjang gang orang orang berjaga. Tangan tangan

kurus mencabik cabik tanah bagi jantungnya sendiri.

sebuah semesta: jutaan rumah tanpa penghuni.


kubakar kesedihanku. Kertas kertas mengetik

sendiri huruf huruf melulu tanda. melulu segala

tanda baca. kubakar kesunyian ruhaniku.


di gerbang gerbang desa kuhitung bayang bayang

yang terpatah patah. kusihir: menjadi jari jari

yang selalu ingin menuliskan ribuan kalimat

tak terbaca.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Monday, April 6, 2015

Kematian Kepompong

engkau ikut dalam arak arakan itu. menuju 

rumah cinta yang tak berpintu. aku yang mengusung

dan kita gali liang buat diri sendiri. Doa doa lupa

dibacakan: tiba tiba terucapkan amin yang

berkepanjangan.


engkau melayat: tubuhmu sendiri, tersesat, saat

bertapa. tetapi pesta memang teramat sederhana.


kita berdua minggir ke sudut sudut, dan bercakap

entah apa. Tiba tiba kita bercinta. bersetubuh

dengan kekosongan, alangkah sia sia. kubelit

nafasmu dengan juntaian rambut dari ludahku.

tetapi kita bercinta: melengkapkan kenikmatan

senggama. sebelum musim berziarah keburu tiba.


kita berdua minggir. sampai tepi yang paling tepi.

dan engkau tersesat saat bertapa. Tiba tiba. tapi,

sungguh, kita sempat bercinta: dalam temparatur yang gila!



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Sunday, April 5, 2015

Ibadah Sepanjang Usia

Kalimat kalimat yang kau ucapkan

berguguran dalam sahadatku. inilah

kidung yang digumamkan!


berapa putaran dalam sembahyang langit.

tengadah di bawah hujan yang menaburkan

ayat ayat tak pernah dibaca.


aku tak menemu akhir sembahyangku

yang gagap. Lilin lilin tak menyala

dalam ruangan tanpa cahaya. gema mazmur

yang disenandungkan dari ruang mimpimu

beterbangan dalam tidur gelisahku. dan

kotbah yang sayup, bertebaran dari

mulut mulut kesunyian.


telah kau tabuh loncengmu? sembahyangku

tak juga menemu akhir.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Friday, April 3, 2015

Selamat Tinggal Pantai Padang


(Intuisi buat : Darhana Bakar)


selamat tinggal pantai Padang

setelah kuhitung pasirmu

duka dalam bayang

diriku

selamat tinggal pantai Padang

kupergi dalam mengayuh

segala cerita kita tuang

kasih !

bibirmu yang hampir tenggelam

langitmu yang muram. Kelam

tapi kau selalu tak diam

salam !



Oleh :

Darman Moenir

Thursday, April 2, 2015

Kuhadang Matahari


kuhadang matahari

karena hari seperti ini juga

lihatlah bayang-bayang kita yang kian paniang

seperti menghapus jejak yang tak ada kita tinggalkan

kuhadang matahari karena tidakjuga berkabar

seperti kau dahulu ada bertanya, “kata siapa ?”

dan bila matahari telah bertanya pula seperti itu

ke mana mata kita pandangkan lagi

sementara hari larut, senja pun susut



Oleh :

Darman Moenir

Wednesday, April 1, 2015

Di Pelabuhan Cirebon

"Mon beau navire O ma memoire

Avons-nous assez navigue"


(Guillame Apollinaire)


Di pelabuhan Cirebon, laut dan hatiku beradu

Gemuruh, Kapal-kapal berlayar dan berlabuh

Dan aku diam berjaga menanti senja yang entah:

O hidup, pelayaran sebentar, sebentar saja sampai!


Dalam penantian, aku jadi teringat dirimu, adikku

Kapal-kapal yang berlayar dan berlabuh, menjadi milik kita

Terbuat dari sobekan kertas buku-buku pelajaran sepulang

Sekolah. Dan kitapun melaju di parit dan selokan

Dengan senyuman. Dan kita selalu lupa pada ibu

Yang suka marah, bila memeriksa buku yang kita punyai


Di pelabuhan Cirebon, adikku sayang

Aku mengenangmu sambil menanti senja

Senja kematian yang menawan dan menyenangkan



Oleh :

Beni R Budiman