Thursday, November 20, 2014

Kebenaran


buta oleh dusta yang membias-silau

nilai-nilai kebenaran pun disembunyikan:

namun di antara semak-rumputan hijau

ia tetap bersinar kemilau:

Tak nanti terpadamkan!



Oleh :

Ajip Rosidi

Wednesday, November 19, 2014

Ibunda

Ia terbujur

Bumi subur

Lembah-lembah dan gunung

Telentang tenang

Tangannya mengusap sayang

Perut mengandung.

Matanya nyalang

Langit-langit pun hilang

Karena langit penuh bintang

Dan pahlawan menyandang pedang

Naik kuda hitam zanggi

Adalah masadepan si-jabang

yang dalam rahim

menggeliat geli.

la memejam

Menahan nyeri.

Lalu terbayang

Bundanya tersenyum di ambang

"Tidakkah dahulu

Kusakiti juga bundaku?"

Keringat bermanik bening

Atas jidat, kening.

Ia mengerang

Dan malam yang lengang

Mendengar lantang

Teriakan si-jabang.


1961



Oleh :

Ajip Rosidi

Sajak Buat Tuhan

Kalau aku bicara padaMu, Tuhan

Bukan mau mengadukan dera dan derita

Tak kuharap Kau berdiri di depan

Ke dahiku mengeluskan tangan mesra


Kalau kutulis sajak ini, Tuhan

Bukan lantaran rindu-dendam atau demam

Tak kuharap Kau membacanya

Sambil duduk mengisap pipa kala senja


Karena Kau lebih tahu apa rasa hatiku

Dan mengerti bagaimana pikiranku

Karena Kau paling Aku dari aku

Yang terkadang kesamaran sama bayangan.


8-1-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Monday, November 17, 2014

Sajak Buat Tuhan II

Makin terasa, betapa sendiri

Hidupku bermukim di bumi. Tiada kawan

yang mau mengulurkan tangan

dan sedia bersama menempuh jalan

tatkalaa tiap langkah buntu.


Tak seorang pun, juga Kau

datang mendekat, menepuk-nepuk bahu

menganjurkan tabah dan jangan ragu.

Tiada. Hanya aku saja lagi

yang setia padaku. Hidup bersama

dalam duka dan putusasa.


Hanya aku jua, yang tetap cinta

kepada hidupku, tiada dua! Duh, tiada

lagi yang lain kujadikan gagang

tempat sirih pulang.

Rasa sendiri di dunia ramai, mengeratkan

aku padaMu, sepi-mutlak!

Rasa lengang di tengah orang, menyadarkan

antara Kau dan aku tiada jarak!


Saat seluruh bumi diam sunyi ....


16-4-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Sunday, November 16, 2014

Tamu


Kau yang menjenguk ke dalam relung hatiku

Meninggalkan jejak menjadi saksi. Sejarah, pahatan batu .

Dari dendam yang rindu. Tak nanti

Hidup hanya rangkaian mimpi-mimpi. Aku tahu!


1969



Oleh :

Ajip Rosidi

Saturday, November 15, 2014

Tentang Maut

Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati

Menerima atau menolak, tak peduli

Dengan tangan dingin namun pasti

Sang Maut datang dan tiap hidup ia akhiri.


Kuperhatikan perempuan sedang mengandung

Wajahnya riang, mimpinya menimang si jabang

Namun kulihat Sang Maut aman berlindung

Dalam rahim sang ibu ia bersarang.


Kuperhatikan bayi lahir

Dan pertama kali udara dia hirup

Dalam tangisnya kudengar Sang Maut menyindir:

"Jangan nangis, kelak pun hidupmu kututup".


Yang kukandung sejak hidup kumulai

Takkan kutolak, meski ia kubenci

Tapi kalau hidupku nak dikunci

Datang Tuhan menawari:

"Sukakah kau hidup semenit lagi?"

Kujawab pasti: "Suka sekali!"


Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri

Karena tak berketentuan, bisa nyergap sesuka hati

Membayangi langkah, mengintip menanti saat

Dan bagi kesadaran jadi beban paling berat.

Kupertentangkan ia dengan Hidup yang seolah 'kan dia rebut

Kupilih pihak: Karena pada siksa neraka aku takut;

Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati

Napasnya menghembus dalam tiap hidup yang fana ini.


1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Friday, November 14, 2014

Diriku


Diriku samudra

Dilayari kapal, perahu, bajak

Tiada jejak.


Yang sementara

Berasal dari Tiada

'Kan lenyap dalam

Tada


1961



Oleh :

Ajip Rosidi

Thursday, November 13, 2014

Cinta dan Kepercayaan


Dalam hidup 'kan kupertahankan

Nilai hubungan antar-manusia, didasarkan

Atas cinta dan kepercayaan.

'Kan kupertahankan kehangatan

Gamitan dua tangan, menyampaikan

Kehangatan rasa dua jiwa.


Cinta adalah bunga tumbuh

Atas kesuburan tanah kasih, berakarkan

Hati mau mengerti, saling membagi.

Dan kepercayaan, landasan

Kerelaan dan kemesraan.

Pertalian dua hati.


1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Wednesday, November 12, 2014

Antara Kita


Pabila jiwa bertelanjang depan jiwa

Suatu pun tiada guna: basa-basi, upacara ....

Jarak pun tiada lagi, sehingga cukuplah

Sekulum senyum, sekerling mata. Sudah!


1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Tuesday, November 11, 2014

Bayangan

Bayanganmu terekam pada permukaan piring, pada dinding

Pada langit, awan, ah, ke mana pun aku berpaling:

Dan di atas atap rumah angin pun bangkit berdesir

Menyampaikan bisikmu dalam dunia penuh bisik.


Masihkah dinihari Januari yang renyai

Suatu tempat bagi tanganku membelai?

Telah habis segala kata namun tak terucapkan

Rindu yang berupa suatu kebenaran.


Bayangan, ah, bayanganmu yang menagih selalu

Tidakkah segalanya sudah kusumpahkan demi Waktu?

Tahun-tahun pun akan sepi berlalu, kutahu

Karena dunia resah 'kan diam membisu.


1967



Oleh :

Ajip Rosidi


Monday, November 10, 2014

Tretes Malam Hari


Di Tretes malamhari

Semuanya jadi mati:

Surabaya nun jauh di bawah

Gunung Wilis terpacak sebelah kiri


(Aku teringat akan leluri

Ten tang Buta Locaya dan Plecing Kuning)


Apakah Waktu di sini berhenti

Mengendap dalam cahaya lampu pelabuhan

di tepi kaki langit?


Angin naik dari lembah.

Bayang-bayang daun bergoyang

Rumput-rumput pun berdesir.

Ataukah

Hanya hatiku bergetar?


Kucari kau .

Kucari di remang hijau.

Yang mengambang di muka kolam

Wajahmu ataukah bayangan bulan?


Lalu kututupkan jendela.


Malam lengang.

Malamku yang lengang.


1968



Oleh :

Ajip Rosidi


Sunday, November 9, 2014

Hanya Dalam Puisi

Dalam kereta api

Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky

Namun kata-katamu kudengar

Mengatasi derak-derik deresi.

Kulempar pandang ke luar:

Sawah-sawah dan gunung-gunung

Lalu sajak-sajak tumbuh

Dari setiap bulir peluh

Para petani yang terbungkuk sejak pagi

Melalui hari-hari keras dan sunyi.


Kutahu kau pun tahu:

Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi

Adam terlempar dari surga

Lalu kian kemari mencari Hawa.


Tidakkah telah menjadi takdir penyair

Mengetuk pintu demi pintu

Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati

Yang tak mau

Menyerah pada situasi?


Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar.

Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar.


Dalam kereta api

Kubaca puisi: turihan-turihan hati

Yang dengan jari-jari besi sang Waktu

Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur

Ke ruang mimpi yang kuatur

sia-sia.


Aku tahu.

Kau pun tahu. Dalam puisi

Semuanya jelas dan pasti.


1968



Oleh :

Ajip Rosidi

Saturday, November 8, 2014

Kucari Musik


Kucari musik

Yang brisik

Yang berontak

Memberangsang


Kucari musik

Yang sejuk

Yang mengalun

Tenteram


Kucari musik. Setiap saat kucari musik.


Musik yang menggairahkan

Mengendap dalam hati.


Musik menyelinap dalam celah-celah waktu

Merasuk dalam jiwa

Mengusap luka-luka hidup yang nyeri

Dan menidurkan tangan-tangan durhaka yang lelah

Dalam pangkuanMu.


Maka kasihMu

mengalir abadi.


1968



Oleh :

Ajip Rosidi



Friday, November 7, 2014

Mimpi Kita Siang Hari

Dalam terik sinar matahari

Kulihat kau melambai:

Bayang-bayangku ataukah aku sendiri

Yang kaupeluk dan kaubelai?


Kebun belakang rumah, kolam ikan

Anak-anak bermain, kau menyulam

Menjalin helai-helai peruntungan kita

Dengan benang cinta.


Dalam cahaya rembulan

Kau perlahan bersenandung

Meski terpisah gelombang lautan

Kudengar sansai suaramu murung


Jalan lengang panjang,

Wahai!

Mengarah ke batik kelam,

Aduhai!


1969



Oleh :

Ajip Rosidi

Thursday, November 6, 2014

Untukmu Yang Jauh Disana


author : Muhammad Iqbal


kau….

Yang dulu pernah di sini

Yang pernah jadi bagian ceritaku

Yang pernah menjadi hal terpenting untukku

Yang kini tlah jauh di tanah rantau sana


Entah kenapa…

Engkau pergi dan menghilang

Lenyap dari pandanganku tanpa isyarat

Apakah kau tau???


Ku tak bisa berkutik kala itu

Kala kau pergi dan aku hanya terdiam


Ah sudahlah….

Ku tak pantas menghakimi itu

Aku bukan apa-apa

Aku bukan siapa-siapa


Saat ini..

Aku hanya ingin ucapkan…

TERIMA KASIH

Karena hadirmu dulu di sini


Sepotong syair ini

Hanya bagian kecil

Dari tangis hati

Yang menyesali kepergianmu


Sekali lagi…

Terima kasih

Untukmu yang jauh di sana



Oleh :

mu bal | Sumber

Wednesday, November 5, 2014

Reruntuhan Masa Lalu

Suatu ketika

Sekali ingin kurangkul kembali

Reruntuhan masa laluku

Aku terkejut…


    Melihat kepingannya bercecer di lantai

    Ada yang hilang…

    Terhempas oleh waktu

    Ada pula yang tersingkir

    Oleh masa kini


Ah sudahlah

Biarkan itu…

Mari kita rajut satu persatu kepingan itu

Rajut dengan senyum

Nyanyian pahit atau manis

Tetaplah rajut lagi dengan indah


    Kala ku asyik menyusun..

    Kutemukan namamu..

    Kucoba hirau dan  terus susun

    Namun secara terus

    Semua kenangan akanmu terus membuntut


Aku menyerah…

Aku menyerah tuk hirau

Kufikir….

Kenangan mu terhapus begitu saja

Kufikir….

Kenanganmu tak kan kutemu lagi


    Tiba-tiba…

    Reruntuhan dirimu berterbangan dihadapku

    Lalu jatuh berserakan…..

    Didepan mataku


Inisiatifku menyala

Kupungut satu persatu reruntuhan itu

Lalu kurangkai

Mulai tampak kembali

Senyum indahmu terangkai

Membuat sejenak diriku kagum kembali

Membuat nostalgia itu seakan hadir lagi


    Cepat ku tersadar

    Sadarku kembali dan aku tercengang

    Reruntuhan akanmu

    Kini tergenggam rapi di tanganku

    Kini sadarku kembali

    Ternyata kau tak lagi di sisi


Sekarang..

Ini yang kujalani

Kutaruh susunan reruntuhan akanmu

Kususun indah…

Di tempat terbaik di kepalaku..

Dan akan kujaga hal itu….



Oleh :

mu bal | Sumber

Tuesday, November 4, 2014

Aku


Tinju menghantam. Belati menikam.

Seluruh dunia bareng menyerang, menerkam.

Aku bertahan. Karena diriku

Dalam badai, gunung membatu.


Lengang sebatang pinang

Di padang pusaran topan.


Segala arah menyerang. Dari luar, dalam.

Tikaman tiada henti. Siang, malam.

Aku bertahan. Karena hidup

Muatan duka nestapa

Yang kuterima ganda ketawa


1963



Oleh :

Ajip Rosidi

Monday, November 3, 2014

Pertemuan Dua Orang Sufi

Ketika keduanya berpapasan, tak sepatah pun kata teguran

Hanya dua pasang mata yang tajam bersitatapan


Suhrawardi atas kuda : "Betapa dalam kulihat

Samudra segala hakikat!"


Dan Muhyiddin di atas keledai: "Betapa fana dia

yang setia menjalani teladan Rasulnya."


Ketika keduanya bertemu, tak pun kata-kata salam

Tapi keduanya telah sefaham dalam diam.



Oleh :

Ajip Rosidi

Sunday, November 2, 2014

Nisan


1

Dengan patuh kautempuh jentera hari

dari masyrik sampai maghribi

Tiba di jalan buntu : tak ayal lagi

Liang lahat dan nisanmu sendiri


2

Telah kauukur hidup: cuma sampai situ !

Di seberang sana bukan lagi daerahmu



Oleh :

Ajip Rosidi

Saturday, November 1, 2014

Tandatanya


Dalam diammu

engkau sebuah tandatanya


Dalam tandatanya

engkau adalah jawabnya


Dalam heningmu

Siapa masih bertanya?

Siapa masih menyeru?

Siapa masih ragu?



Oleh :

Ajip Rosidi