Monday, November 10, 2014

Tretes Malam Hari


Di Tretes malamhari

Semuanya jadi mati:

Surabaya nun jauh di bawah

Gunung Wilis terpacak sebelah kiri


(Aku teringat akan leluri

Ten tang Buta Locaya dan Plecing Kuning)


Apakah Waktu di sini berhenti

Mengendap dalam cahaya lampu pelabuhan

di tepi kaki langit?


Angin naik dari lembah.

Bayang-bayang daun bergoyang

Rumput-rumput pun berdesir.

Ataukah

Hanya hatiku bergetar?


Kucari kau .

Kucari di remang hijau.

Yang mengambang di muka kolam

Wajahmu ataukah bayangan bulan?


Lalu kututupkan jendela.


Malam lengang.

Malamku yang lengang.


1968



Oleh :

Ajip Rosidi


Sunday, November 9, 2014

Hanya Dalam Puisi

Dalam kereta api

Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky

Namun kata-katamu kudengar

Mengatasi derak-derik deresi.

Kulempar pandang ke luar:

Sawah-sawah dan gunung-gunung

Lalu sajak-sajak tumbuh

Dari setiap bulir peluh

Para petani yang terbungkuk sejak pagi

Melalui hari-hari keras dan sunyi.


Kutahu kau pun tahu:

Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi

Adam terlempar dari surga

Lalu kian kemari mencari Hawa.


Tidakkah telah menjadi takdir penyair

Mengetuk pintu demi pintu

Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati

Yang tak mau

Menyerah pada situasi?


Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar.

Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar.


Dalam kereta api

Kubaca puisi: turihan-turihan hati

Yang dengan jari-jari besi sang Waktu

Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur

Ke ruang mimpi yang kuatur

sia-sia.


Aku tahu.

Kau pun tahu. Dalam puisi

Semuanya jelas dan pasti.


1968



Oleh :

Ajip Rosidi

Saturday, November 8, 2014

Kucari Musik


Kucari musik

Yang brisik

Yang berontak

Memberangsang


Kucari musik

Yang sejuk

Yang mengalun

Tenteram


Kucari musik. Setiap saat kucari musik.


Musik yang menggairahkan

Mengendap dalam hati.


Musik menyelinap dalam celah-celah waktu

Merasuk dalam jiwa

Mengusap luka-luka hidup yang nyeri

Dan menidurkan tangan-tangan durhaka yang lelah

Dalam pangkuanMu.


Maka kasihMu

mengalir abadi.


1968



Oleh :

Ajip Rosidi



Friday, November 7, 2014

Mimpi Kita Siang Hari

Dalam terik sinar matahari

Kulihat kau melambai:

Bayang-bayangku ataukah aku sendiri

Yang kaupeluk dan kaubelai?


Kebun belakang rumah, kolam ikan

Anak-anak bermain, kau menyulam

Menjalin helai-helai peruntungan kita

Dengan benang cinta.


Dalam cahaya rembulan

Kau perlahan bersenandung

Meski terpisah gelombang lautan

Kudengar sansai suaramu murung


Jalan lengang panjang,

Wahai!

Mengarah ke batik kelam,

Aduhai!


1969



Oleh :

Ajip Rosidi

Thursday, November 6, 2014

Untukmu Yang Jauh Disana


author : Muhammad Iqbal


kau….

Yang dulu pernah di sini

Yang pernah jadi bagian ceritaku

Yang pernah menjadi hal terpenting untukku

Yang kini tlah jauh di tanah rantau sana


Entah kenapa…

Engkau pergi dan menghilang

Lenyap dari pandanganku tanpa isyarat

Apakah kau tau???


Ku tak bisa berkutik kala itu

Kala kau pergi dan aku hanya terdiam


Ah sudahlah….

Ku tak pantas menghakimi itu

Aku bukan apa-apa

Aku bukan siapa-siapa


Saat ini..

Aku hanya ingin ucapkan…

TERIMA KASIH

Karena hadirmu dulu di sini


Sepotong syair ini

Hanya bagian kecil

Dari tangis hati

Yang menyesali kepergianmu


Sekali lagi…

Terima kasih

Untukmu yang jauh di sana



Oleh :

mu bal | Sumber

Wednesday, November 5, 2014

Reruntuhan Masa Lalu

Suatu ketika

Sekali ingin kurangkul kembali

Reruntuhan masa laluku

Aku terkejut…


    Melihat kepingannya bercecer di lantai

    Ada yang hilang…

    Terhempas oleh waktu

    Ada pula yang tersingkir

    Oleh masa kini


Ah sudahlah

Biarkan itu…

Mari kita rajut satu persatu kepingan itu

Rajut dengan senyum

Nyanyian pahit atau manis

Tetaplah rajut lagi dengan indah


    Kala ku asyik menyusun..

    Kutemukan namamu..

    Kucoba hirau dan  terus susun

    Namun secara terus

    Semua kenangan akanmu terus membuntut


Aku menyerah…

Aku menyerah tuk hirau

Kufikir….

Kenangan mu terhapus begitu saja

Kufikir….

Kenanganmu tak kan kutemu lagi


    Tiba-tiba…

    Reruntuhan dirimu berterbangan dihadapku

    Lalu jatuh berserakan…..

    Didepan mataku


Inisiatifku menyala

Kupungut satu persatu reruntuhan itu

Lalu kurangkai

Mulai tampak kembali

Senyum indahmu terangkai

Membuat sejenak diriku kagum kembali

Membuat nostalgia itu seakan hadir lagi


    Cepat ku tersadar

    Sadarku kembali dan aku tercengang

    Reruntuhan akanmu

    Kini tergenggam rapi di tanganku

    Kini sadarku kembali

    Ternyata kau tak lagi di sisi


Sekarang..

Ini yang kujalani

Kutaruh susunan reruntuhan akanmu

Kususun indah…

Di tempat terbaik di kepalaku..

Dan akan kujaga hal itu….



Oleh :

mu bal | Sumber

Tuesday, November 4, 2014

Aku


Tinju menghantam. Belati menikam.

Seluruh dunia bareng menyerang, menerkam.

Aku bertahan. Karena diriku

Dalam badai, gunung membatu.


Lengang sebatang pinang

Di padang pusaran topan.


Segala arah menyerang. Dari luar, dalam.

Tikaman tiada henti. Siang, malam.

Aku bertahan. Karena hidup

Muatan duka nestapa

Yang kuterima ganda ketawa


1963



Oleh :

Ajip Rosidi

Monday, November 3, 2014

Pertemuan Dua Orang Sufi

Ketika keduanya berpapasan, tak sepatah pun kata teguran

Hanya dua pasang mata yang tajam bersitatapan


Suhrawardi atas kuda : "Betapa dalam kulihat

Samudra segala hakikat!"


Dan Muhyiddin di atas keledai: "Betapa fana dia

yang setia menjalani teladan Rasulnya."


Ketika keduanya bertemu, tak pun kata-kata salam

Tapi keduanya telah sefaham dalam diam.



Oleh :

Ajip Rosidi

Sunday, November 2, 2014

Nisan


1

Dengan patuh kautempuh jentera hari

dari masyrik sampai maghribi

Tiba di jalan buntu : tak ayal lagi

Liang lahat dan nisanmu sendiri


2

Telah kauukur hidup: cuma sampai situ !

Di seberang sana bukan lagi daerahmu



Oleh :

Ajip Rosidi

Saturday, November 1, 2014

Tandatanya


Dalam diammu

engkau sebuah tandatanya


Dalam tandatanya

engkau adalah jawabnya


Dalam heningmu

Siapa masih bertanya?

Siapa masih menyeru?

Siapa masih ragu?



Oleh :

Ajip Rosidi

Friday, October 31, 2014

Hidup


Jika hidup telah kautetapkan hingga yang kecil mecil

Untuk apa suara hati terombang-ambing dalam sabil?



Oleh :

Ajip Rosidi

Thursday, October 30, 2014

Jarak


Berapa jauh jarak terentang

antara engkau dengan aku


Berapa jauh jarak terentang

antara engkau dengan urat leherku?


Tak pun sepatah kata

memisahkan kita



Oleh :

Ajip Rosidi

Wednesday, October 29, 2014

Sembahyang Malam


Alam semesta

Hening menggenang


Air mata yang deras mengalir

bersumber pada kalbu-Mu



Oleh :

Ajip Rosidi

Tuesday, October 28, 2014

Ingat Aku Dalam Doamu

Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim

akan dikabulkan Yang Maha Rahim

Hidupku di dunia ini, di alam akhir nanti

lindungi dengan rahmat, limpahi dengan kurnia Gusti


Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim

di dalam solatmu, dalam sadarmu, dalam mimpimu

Setiap tarikan nafasku, pun waktu menghembuskannya

jadilah berkah, semata limpahan rido Illahi


Ya Robbi!

Biarkan kasih-Mu mengalir abadi

Ingat aku dalam do'a-Mu

Ingat aku dalam firman-Mu

Ingat aku dalam diam-Mu

Ingat aku

Ingat


Amin



Oleh :

Ajip Rosidi

Monday, October 27, 2014

Matahari


Kutembus mega yang putih, yang kelabu, yang hitam sekali

Di baliknya kucari yang terang : Sinar si matahari!



Oleh :

Ajip Rosidi

Sunday, October 26, 2014

Di Depan Lukisan Sadali


Dalam keindahan kutemukan keheningan

dan dalam keheningan kudapati kesalihan



Oleh : 

Ajip Rosidi

Saturday, October 25, 2014

Sungai


Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama?

Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna



Oleh :

Ajip Rosidi

Friday, October 24, 2014

Wayang


Bayang-bayang yang digerakkan sang dalang

datang dan hilang, hanya jejaknya tinggal terkenang



Oleh :

Ajip Rosidi

Thursday, October 23, 2014

Kolam


Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening

Tak tepercik niat meloncat menerjang langit luas terbentang



Oleh :

Ajip Rosidi

Wednesday, October 22, 2014

Rute Cinta

padang rumput yang hijau menyapa setiap mentari bersinar,

buah kelapa besar tinggi menjulang di atas pohon, ingin ku 

petik tapi tak sanggup jua, gemercik air tanda bahwa ku

sedang termangu, ku nantikan ombak yang datang menerpaku,

bagai angin berjalan, bagai rumput bergoyang, bagai topan

menerkam, bagai ombak menerjang, bagai dirimu yang selalu

menantiku 



oleh :

Admin