Monday, October 13, 2014
Sunday, October 12, 2014
Warisan Kita
Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku,
genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku, meja makanku, alat-alat
tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku, lumbung berasku, ani-aniku.
Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku, pompa airku,
paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang
tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku,
gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.
Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, pe-numbuk padiku, selimutku, baju dinginku,
panci masakku, to- piku. Bicara lagi kucing-kucingku... pisau
1989
Oleh :
Afrizal Malna
Saturday, October 11, 2014
Kebiasaan Kecil Makan Coklat
“Aku tak suka kakimu berbunyi.”
“Ini coklat, seperti cintaku padamu.”
James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat di situ, menyusun persahabatan dari
orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha
mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti
menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia,
sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.
Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat
di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni peran
dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu,
dari kebiasaan kecil seperti itu.
Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh
kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam
koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.
Ini coklat untukmu.
Jangan mengenang diri seperti itu.
1994
Oleh :
Afrizal Malna
Friday, October 10, 2014
Chanel OO
Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman
Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.
1983
Oleh :
Afrizal Malna
Thursday, October 9, 2014
Jembatan Rempah - Rempah
Adas manis · Akar wangi · Andaliman · Asam jawa ·
Asam kandis · Bangle · Bawang bombay · Bunga la-
wang · Bawang merah · Bawang putih · Cabe · Ceng-
keh · Cendana · Damar · Daun bawang · Daun pandan
· Daun salam · Jembatan dari bumbu dapur ke darah
Colombus · Gaharu · Gambir · Jahe · Jeruk limo · Jeruk
nipis · Jeruk purut · Jintan · Kapulaga · Kayu manis ·
Kayu putih · Kayu mesoyi · Kecombrang · Kemenyan ·
Kemiri · Kenanga · Kencur · Kesumba · Ketumbar · Ko-
pal · Kunyit · Lada · Jembatan dari parfum ke darah
Vasco da Gama Tabasco · Laurel · Lempuyang · Leng-
kuas · Mawar · Merica · Mustar · Pala · Pandan wangi ·
Secang · Selasih · Serai · Suji · Tarum · Temu giring ·
Temu hitam · Temu kunci · Temu lawak · Temu mang-
ga · Temu putih · Temu putri · Temu rapet · Jembatan
dari obat-obatan ke benteng perempuan berkalung
mawar merah · Adas manis · Akar wangi · Andaliman ·
Asam jawa · Asam kandis · Bangle · Bunga lawang ·
Bawang putih · Cabe · Cengkeh · Cendana · Damar ·
Temu tis · Vanila · Wijen · Jembatan dari Diogo Lopes
de Mesquita ke darah Ternate · Gaharu · Gambir ·
Jahe · Jeruk nipis · Jintan · Kapulaga · Kayu manis ·
Kayu putih · Kemenyan · Kemiri · Kenanga · Kencur ·
Kesumba · Ketumbar · Kunyit · Lada · Jembatan api
yang terus mengirim kapal ke arsip-arsipmu.
Oleh :
Afrizal Malna
Wednesday, October 8, 2014
Workshop 5: Tawanan Aku
gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi
dari suaranya
berdiri melingkar
di depan bulatan penuh perangkap waktu
jari-jari yang menggenggam tikus
dan perangkapnya di belakang membuat makan malam
seperti bayangan yang meninggalkan bentuknya
memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang
dimuntahkan kembali dari ketakutannya
cermin yang menjadi buta ketika melihat
dinding di dalamnya
dan selembar rambut di atas koran pagi
air yang menyeberang di atas jembatan
melintasi sungai
melintasi tetesannya
tanpa prasangka di hadapan daun kering yang
menyimpan gema dari
hutannya
Oleh :
Afrizal MalnaWorks
Tuesday, October 7, 2014
Tubuh Lublinskie Di Lorong Es Hitam
Untuk gas
Musim panas berjalan-jalan di luar bajumu.
Dari seluruh warna merah yang dipadatkan.
Baju dengan jahitan tentang ketakutan
dan kesedihan. Lorong es hitam pelarian Yahudi
di Grodzka, jadi jalan turis.
Musim panas yang masih menjahit gerimis,
setiap jendela cuaca dibukan dan ditutup.
Tidak tentang yang terkunci di luar atau di dalam.
Tentang bibirmu
meninggalkan biji cengkeh di lidahku.
Membisikkan puisi-puisi Wislawa Szymborska,
dengan tas koper terus memunguti bayangan kita
di belakang. Tidak memisahkan kalimat dengan koma,
setelah masa lalu dan masa kini.
Kita meminjam sayap burung untuk tidak
berbahasa lagi seperti manusia.
Terbang.
Seperti dalam ruang di luar suhu kematian.
Seperti matahari menawarkan ilusi tentang bayangan,
dan sebuah bis yang membawa malam ke Warsawa.
Malam yang terus direnovasi dalam lampu-lampu
kota yang sedih.
Menggeser musim panas ke tangga menuju
kastil-kastil kesunyian,
kafe-kafe yang menyembunyikan teriakan
dari tenggorokan terluka.
Mata lelaki dalam kantong plastik
mulai berkerumun di taman kota.
Pelayan kafe membawa menu sejarah,
secangkir kopi dan ice cream tentang kita.
Lukisan sejarah perang dan kunci besi
di Museum Lublinskie.
Kita berjalan di sebuah kota yang telah menjadi
selembar menu makanan.
Deru pesawat dan kereta masih merenovasi pelukan
kita, antara passport, peta perjalanan dan gereja-
gereja tua. Aku tidak tahu lagi bedanya antara
memeluk dan bersujud memuja kesedihanmu.
Di tas koperku masih peti mati yang meminta visa
untuk kebebasan bernapas.
Sayangku, tidur tidak bisa mengecat mimpi kita.
Lublin telah menjadi piano kesunyian di luar malam.
Oleh :
Afrizal Malna
Monday, October 6, 2014
Teknik Menghibur Penonton
Kebahagiaan peti mati mengucapkan selamat tahun baru.
Maksudku, peti mati dan tahun baru.
Kata-kata melintasinya dan jatuh seperti burung yang
ditembaki dalam mata pelajaran biologi.
Intelektualitas yang merasa bisa menjadi mediator
antara tubuh dan realitas, terjungkal dari rak buku.
Maksudku terjungkal dan rak buku.
Titik dan koma tersesat dalam perangkap titik dan koma.
Kata-kata telah ditundukkan oleh badai kamus.
Dipisahkan lagi antara badai dan kamus.
Sebuah bossanoba di tengah api perpustakaan.
Dipisahkan lagi antara musik dan api dalam perpustakaan.
“Tuan penghibur,” kataku, untuk melihat rohku
di antara kumpulan harga apartemen dan tiket
pertandingan sepak bola.
Baskom dalam timbunan penduduk kota.
Tepuk tangan para pembuat parfum
dan mesin pencetak dari rumah sakit.
Thank you.
Tuan penghibur.
Thank you.
Oleh :
Afrizal Malna
Sunday, October 5, 2014
Hari Raya Idul Adha
Salam Sejahtera bagi kita semua,
Alhamdulillah hari ini adalah hari raya Idul Adha untuk umat Muslim,
Saya selaku admin ingin menyampaikan
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1435 H
Semoga apa yang kita qurban kan hari ini diterima oleh Allah swt dan
mendapatkan berkah serta menfaat yang berlimpah di akhirat nanti,
Mantel Hujan Dua Kota
Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin
mendaki bukit, dan pesta tahun baru di ruang dalam
bangunan-bangunan kolonial. Minum persahabatan
dan melukis fotomu pada dinding musim hujan.
Sepanjang malam ia mengenakan mantel dari listrik:
kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah.
Dalam mantelnya, rokok kretek dan kartu atm.
Mahasiswa bergerombol di warung kopi, mengambil
ilmu sastra, ilmu komunikasi, antropologi dan
jam-jam belajar dari pecahan kaca. Akulah anak
muda yang bisa memainkan bas elektrik, blues
dengan sisa-sisa kerusuhan dan sisir yang patah. Aku
telah banjir di lapangan kerja dan kenaikan gaji
pegawai negeri. Para arsitek yang membuat desain
kota bersama air laut dan hujan.
Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang
membuat lubangnya sendiri.
Kereta keluar dari mulut stasiun Yogyakarta, bau
tembakau dari pesta seni rupa dan sapi goreng. Aku
kembali bernapas setelah ribuan billboard kota
adalah mataku yang terus berputar, waktu yang
terasa perih. Rel kereta api masih menyimpan saham-
saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang
menyimpan telur ayam, mantel biru masih
menyanyikan keroncong Portugis. Bau tebu, bau padi,
bata merah yang dibakar. Aku telah Yogyakarta
setelah berhasil menjadi orang sibuk tidak mandi 2
hari, menggunakan excel untuk agenda-agenda
padat. Dan bir dingin di antara janji-janji.
Aku telah dua kota dalam perjalanan dua jam
bersambung sepeda 6 jam pagi. Biarlah aku sampai
ke batas tepi ini. Sebuah kota yang terbuat dari jam
6 pagi, dan aku mempercayainya seperti genta yang
berbunyi tanpa berbunyi, bayangan gunung sebelum
biru dan sebelum kelabu dan sebelum di sini.
Oleh :
Afrizal Malna
Saturday, October 4, 2014
Mesin Penghancur Dokumen
Ayo, minumlah. Tidak. Saya tidak sedang es kelapa
muda. Makanlah kalau begitu, tolonglah. Tidak. Saya
tidak sedang nasi rames. Masuklah ke kamar mandi
saya, tolonglah kalau tidak haus, kalau tidak lapar,
kalau bosan makan. Perkenankan aku memberikan
keramahan padamu, untuk seluruh kerinduan yang
menghancurkan dinding-dinding egoku. Bagaimana
aku bisa keluar kalau kamu tidak masuk.
Kamu bisa mendengar kamar mandiku memandikan
tata bahasa, di tangan penggoda seorang penyiar TV.
Perkenankan aku membimbing tanganmu. Masuk-
lah di sini yang di sana. Masakini yang di masalalu.
Masuklah kalau kamu tak suka tata bahasa. Tolonglah
kalau begitu, ganti bajumu dengan bajuku. Mesin
cuci telah mencucinya setelah aku mabuk, setelah
aku menangis, setelah aku bunuh diri 12 menit yang
lalu. Bayangkan tubuhku dalam baju kekosongan itu.
Tolonglah bacakan kesedihan-kesedihanmu:
“Kemarin aku bosan, hari ini aku bosan, besok akan
kembali lagi bosan yang kemarin.” Apa tata bahasa
harus diubah menjadi museum es krim supaya kamu
tidak bosan. Tolonglah. Semua yang dilakukan atas
nama bahasa, adalah topeng api. Pasar yang
mengganti tubuhmu menjadi mesin penghancur
dokumen. Tolonglah, aku hanya seseorang dalam
prosa-prosa seperti ini, seorang pelancong yang
meledak dalam sebuah kamus. Sebuah puisi murung
dalam mulut mayat seorang penyair.
Tolonglah, tidurkan aku dalam kesunyianmu yang
tak terjemahkan. Mesin penghancur dokumen yang
sendirian dalam kisah-kisahmu.
Oleh :
Afrizal Malna
Thursday, October 2, 2014
Proposal Politik Untuk Polisi
“Toean-toean, saja mendjamin bahwa pemerintahan kita
tidak lagi popoeler, baik di antara rakjat ketjil maoepoen
pedjabat boemiputra rendahan ataoe pedjabat tinggi …
rasa tidak puas jang merebak, baik di kalangan para bang-
sawan maoepoen rakjat djelata, terhadap bagaimana tjara
pemerintah dikelola dan keadilan ditegakkan. Sedjak akhir
1900, muntjul sematjam gerakan terorisme … ataoepoen
gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Tampaknja di
pusat birokrasi pemerintahan tidak memahami makna ini
semua.” (P.J.F. van Heutsz, 1904-06)
Aku dilanda kedatangan diriku sendiri, di sana dan di sini. Melihat
kegagalan yang terus-terang di setiap yang kuciptakan. Antara
mesin-mesin dan sistem dalam lubang kesunyian, pembelian dan
penjualan yang saling membuang. Hiburan dan barang-barang
yang dibeli di sana dan di sini. Kenangan dalam puing-puing
perubahan. Sisa-sisa hutang dalam peti mati tak terkunci. Pidato
musim hujan di semua saluran keadilan yang tenggelam. Tanah
dan suara api di atas meja makan. Kau dan aku berdiri di sini.
Tetapi tidak pernah berdiri bersama.
Aku memotret telapak tanganku sendiri, seperti memotret sebuah
kepulauan terbuat dari bubur kertas. Pengeluaran terus-menerus
di sana dan di sini, lebih panjang dari jalan yang kulalui ke depan
dan ke belakang. Suara gesekan butir-butir beras dalam panci,
seperti data-data ekonomi yang kehilangan mesin hitung. Hatiku
tenggelam dalam permainan sejarah dan baju untuk masuk surga.
Laporan keuangan yang berjalan-jalan di akhir tahun. Daya hidup
yang menjadi puing-puing dalam perdagangan ilmu pengetahuan,
data-data di sana dan di sini. Kesehatan yang diramalkan vitamin C
dan sikat gigi. Aku dilanda kedatangan diriku sendiri,
untuk membeli kesunyian, udara bersih dan lapangan
kerja.
Tuan-tuan, bisakah kegagalan dipotret, untuk melihat
bagaimana caranya kita tertawa dan tersenyum.
Bisakah kita memotret sikat gigi di tengah puing-
puing daya hidup yang terus digempur dari sana dan
dari sini. Daya hidup yang menjadi mainan pendaya-
gunaan kekerasan. Laporan pertumbuhan penduduk
yang menjadi api pada jam makan malam kita.
Tuan-tuan, bisakah kita membaca sekali lagi, dari
huruf-huruf tak bermakna. Dan mereka menciptakan
bahasa, dari setiap kegagalan, dari setiap sejarah luka
di sana dan di sini, dari dansa perpisahan di malam
minggu. Berdirilah kita di sini, seperti tanaman yang
menunggu tukang kebun. Tidak membiarkan sebuah
kepulauan menjadi saluran got bersama.
Tuan-tuan. Di sana dan di sini. Musim hujan yang
telah berwarna biru di kotamu.
Oleh :
Afrizal Malna
Monday, September 29, 2014
Di Seberang Selembar Daun
Aku bukan seluruh daun di pohon ini. Aku hanya
selembar daun di pohon ini. Hanya pohon ini dan
hanya selembar daun. Aku hanya selembar daun
yang tumbuh di leherku. Hanya berwarna hijau sep-
erti selembar daun. Aku hanya selembar daun yang
berbicara menggunakan mulutku. Maksudku,
mulutku adalah selembar daun yang berbicara
menggunakan mulutku. Maksudku, aku hanya
selembar daun yang selembar daun. Jangan rayu aku
untuk menjadi pohon walau kau berikan tuhan kepa-
daku. Jangan rayu aku untuk menjadi seluruh daun
pada pohon ini walau kau berikan janji kematian pa-
daku. Aku bukan soal kematian dan soal tuhan. Aku
mirip, maksudku mirip dengan pertanyaan aku hidup
bukan untuk seluruh yang kau katakan setelah
kematian. Setelah kematian aku bukan hidup dan ke-
matian bukan selembar daun yang mewakili seluruh
daun di pohon ini.
Aku hanya selembar warna hijau dari pohon yang
aku tak tahu namanya. Pohon yang membuat aku
tahu aku berada di sini dan hidup di sini. Maksudku,
jangan kau takuti aku seperti kanak-kanak yang
berlari di seberang kematian. Aku mengingatnya,
waktu-waktu, dan, lihatlah di luar sana, lihatlah
orang-orang berjalan dengan kakinya, pohon-pohon
tumbuh, anak-anak bermain merasakan kebahagiaan
memiliki tawa, langit yang dibuat dari rambut
perempuan. Aku adalah selembar daun yang dijahit
pada sebatang pohon.
Oleh :
Afrizal Malna
Subscribe to:
Posts (Atom)