Monday, March 9, 2015

Kepada Seniman


Tahukah teman, wahai seniman

Dimanakah tempatmu didalam dunia?

Bukan dimertju kedirianmu

Tapi disini, antara manusia

Tuan bukan putra dewata

Tuanpun hanja manusia sadja!


Djangan hanja dibunga kembang

Dimata gadis, dibintang malam

Digunung biru, ditasik tenang

Ditjandi keramat, diartja pualam

Tuan tjari Keindahan

Keindahan ada dalam segala


Dilokomotif jang menarik kereta

Dimesin pabrik jang gegap-gempita

Dilumpur sawah, ditangan buruh

Dalam segala ada Keindahan

Tertawa, menangis, menanti seniman!


Dari mertju kedirianmu

Turunlah engkau, wahai seniman

Dengan api seniman jang sakti

Buatlah semuanja djadi bernjawa

Djadilah engkau ditengah rakjatmu

Mertju api, besar dan tinggi

Terang menerangi hidup bangsamu!



Oleh :

Asmara Hadi

Sunday, March 8, 2015

Semangat Demokrasi


Gemilang pagi mandi tjahaja

Bangun alam kilau-kilauan

Bisik berbisik nikmat rasanja

Angin mesra mentjium Priangan


Burung bernjanji girang bahgia

Melompat dari dahan kedahan

Daun dan bunga bertabur mutia

Air mata Dewi Keindahan


Seperi pagi pantun perawan

Tjantik djelita berdjiwa mulia

Kasih bermimpi dimata rahman


Demikianlah semangat Demokrasi

Melajang indah di Indonesia

Membawa berita Kemerdekaan nanti



Oleh :

Asmara Hadi

Saturday, March 7, 2015

Kami Penabur


Kami bekerdja dipadang masa

Menaburkan benih tjinta mulia

Jang nanti akan senantiasa

Semerbakkan wangi bahgia-dunia


Tapi kami hanja penabur

Bila dunia berbahagia nati

Kami sudah lama berkubur

Tiada dapat merasainja lagi


Sungguhpun begitu kami ichlas

Bekerdja sekarang dipadang masa

Kami tiada harapkan balas

Bahgia kami ialah berdjasa



Oleh :

Asmara Hadi

Friday, March 6, 2015

Kapada Dipanegara


Sebagai bintang dimalam jang kelam

Kemilau diatas langit jang hidjau

Dan berabad-abad setia menindjau

Pelajar ditengah laut jang dalam


Djadi pedoman, menundjukkan djalan

Didalam kesunjian malam waktu

Demikianlah engkau bagi bangsamu

Jang dalam kelam malam kungkungan


Menuntun bangsamu ketanah bahagia

Jang berlautkan Senang, bergunung Mulia

Diatapi langit kesempurnaan


Engkaulah menjadji bintang bangsamu

Menjinari dunia setiap pendjuru

Memantjarkan tjah’ja Kemerdekaan!



Oleh :

Asmara Hadi

Thursday, March 5, 2015

Rasuna Said


Didalam kebun tanah Andalas

Tumbuh sekuntum melati mulia

Perhiasan Ibunda Indonesia

Menambah tjantik, membawa djelas


Demikian Rasuna kumisalkan

Sepantun sunting sanggul Ibunda

Di Indonesia harum namamu

Sampaikan mati djadi kenangan


Teruslah, O, Rasuna Melati

Teguhkan iman, tetapkan hati

Membela tanahmu Indonesia


Namamu harum tidakkan hilang

Sebagai bintang gilang-gemilang

Engkau Rasuna, perempuan mulia!



Oleh :

Asmara Hadi

Tuesday, March 3, 2015

Untuk Asia Raja


Dalam kandang kawat berduri

Terkurung badan, Djiwa meradang

Bertanya dimanakah Tuhan

Jang adil dan kuasa kata orang


Wadjah seorang pahlawan

Terbajang senjum dimuka mataku

Njata benar matanja bersinar

Tunduk aku kerena malu


Kita hidup dalam zaman

Jang mendidih bagai lautan

Djauh masih tepi jang aman


Sekitar kita air semata

Kapal ketjil terumbang-ambing

Kilat berdenjar, badai gempita


Keraskan hati, lawan segala

Enjahkan perasaan sangsi dan tjabar

Kita ditangan Allah Ta’ala 


Bagia kita angkatan sekarang

Hidup dizaman pantjaroba

Dunia raja luas mengembang

Bagai bumi menanti usaha


Djangan mengeluh, jangan mengaduh

Hai pemuda! Gembira dan girang

Seharusnja kamu! Zamanmu subuh

Jang mendahului siang gemilang


Perasaan pedih dihitung djangan!

Pedih bunda melahirkan anak

Pedih benih menembus bumi

Pedih hilang datang bagia


Relakan teman badanmu mendjadi

Pupuk hantjur dilapangan waktu

Dari kurban angkatan kini

Mewangi nanti bunga restu


Gemuruhlah kamu angkatan udara

Hantjurkan bom jang menjerahkan maut

Kamu meriam, gunturkanlah suara

Jang dahsjat diatas bumi dan laut


Maraklah api, tinggi dan permai

Bakarlah, bakarlah seluruh dunia

Hantjurkan pendjara, debukan rantai

Jang berabad-abad mengikat Asia!



Oleh :

Asmara Hadi

Monday, March 2, 2015

Mawar


Terorak kelopak mawar djuita

Warna berseri mendandan sari

Mengalun wangi kematahari

Ketika pagi indah tjuatja


Datang lebah, hinggap kebunga

Hendak menjeri, itu maksudnja

Mawar menjerah bagia-rela

Lebah menghisap sepuas-puasnya


Setelah habis wangi dan madu

Terbanglah lebah, pulang kesarang

Mawar sendu terkulai laju

Mengenangkan tjinta lebah jang tjurang


Penjelasan editor: sajak ,,Mawar” diatas diambil dari dokumentasi Lembaga Bahasa dan

Kesusasteraan, Djakarta. Sajak tersebut hendak dimuat dalam majalah Pandji Pustaka di zaman

Jepang, tapi karena dianggap mengandung kecaman terhadap Pemerintah Jepang maka tak dapat

dimuat.



Oleh :

Asmara Hadi

Sunday, March 1, 2015

Merindukan Bahagia


Djikalau hari lah tengah malam

Angin berhenti dari bernafas

Alam seperti dalam semadhi

Sukma djiwaku rasa tengelam

Dalam laut tiada berwatas

Menangis hati diiris sedih


Fikiranku melajang perlahan

Diatas sajap kenangan sunji

Kepantai waktu nan telah lalu

Djiwa menangis tertahan-tahan

Terkenang nasib Tanahku ini:

Mengandung pilu, mendjundjung malu


Terkenang waktu zaman tjemerlang

Mandi disinar surja Merdeka

Terang tjahaya Indonesia

Air mataku djatuh berlinang

Hantjur hati dihempaskan duka

Hilang gaja, tiada berdaja


Wahai panah kenangan rindu

Sudahlah engkau meluka hati

Djangan mendamba masa nan sudah

Dengar disana njanjian merdu

Seperti makai petunang sakti

Menghapus gundah didalam dada


Njanjian merdu terdengar terang

Datangnja dari sebelah Timur

Dimana surja hampir bertjah’ja

Njanjian anak zaman sekarang:

,,Indonesia Tanahku makmur,

Hampir bertjah’ja surja Bahagia!”



Oleh :

Asmara Hadi

Saturday, February 28, 2015

Bilakah


Bilakah alam bersinar senang

Diterangi Surja Kemerdekaan?

Bilakah rakjat bernafas tenang

Mengisap udara Kemerdekaan?


Bilakah terbit bintang ,,Merdeka”

Menjinari alam Indonesia?

Bilakah hilang malam tjelaka

Kehidupan senang bersuka ria?


Disitulah baru senang dihati

Indonesia telah merdeka

Merah-Putih telah berkibar


Disanalah baru aku berhenti

Dari bermenung berhati duka

Hari panas, tiada sabar



Oleh : 

Asmara Hadi

Friday, February 27, 2015

Zaman Kami


Zaman kami zaman membakar

Zaman jang penuh perdjuangan

Dan kami generasi kini

Berdjuang dalamnja bagai pahlawan


Pada wadjah kami bersinar

Indah tjemerlang tjahja kemenangan

Djantung kami berdegup gumbira

Seperti akan melihat tunangan


Kami berdjuang menjerahkan djiwa

Pada zaman jang perlukan kami

Dalam kekalahan zaman sekarang

Kamilah rasul kemenangan nanti


Seperti dari puntjak gunung jang tinggi

Kita lebih dahulu dapat melihat,

Tjahaja fadjar kemerah-merahan

Tanda matahari akan terbit

Sedang djauh didalam lembah

Semuanja masih gelap-gulita

Demikianlah djiwaku lebih dahulu

Dari puntjak gunung puisi

Dapat melihat sinar memerah

Sinar fadjar kemenangan kita

Sedang dalam kehidupan sehari-hari

Semuanja masih gelap-gulita



Oleh :

Asmara Hadi

Thursday, February 26, 2015

Selamat Tinggal, Periangan


Taman sari, tanah Periangan,

Sekarang ini berpisah kita,

Kereta api hampir berjalan,

Selamat tinggal alam jelita,

Negeri lain datang meminta,

Engkau kan hanya tinggal kenangan,

Tempat, di mana mendapat cinta

Akan selalu terangan-angan.

Peluit berbunyi, tinggallah engkau,

Bukit dan gunung hijau berkilau,

Alam rupawan menawan hati

Tinggallah kota, tinggallah dusun,

Tinggallah sawah turun bersusun,

Kamu kucinta sampaikan mati.



Oleh :

Asmara Hadi

Wednesday, February 25, 2015

Nasib Tanah Airku


Panas yang terik datang membakar,

Lemahlah kembang hampirkan mati,

Tunduk tergantung bersedih hati,

Mohon air kepada akar.

mendapat air amatlah sukar,

Belumlah turun hujan dinanti,

Musim kemarau belum berhenti,

Angin bertiup belum bertukar.

Seperti kembang hampirkan layu,

Lemah tampaknya, rawan dan sayu,

Demikianlah 'kau Indonesia,

Nasibmu malang amat celaka,

Hidup dirundung malapetaka,

Tidak mengenal rasa bahagia.


Mentari datang menghalaukan malam,

Menyinarkan senyum penuh cahaya,

Dunialah bangun memberi salam,

Nyanyian yang merdu menyambut surya.

Lihatlah teratai di dalam kolam,

Tersenyum membuka kuntumnya, dia,

menghamburkan harum ke dalam alam,

Pemuja pagi gemilang mulis.

Memandang pagi menyedapkan mata,

Keraguan hati hilang semata,

Memikirkan nasib Tanah Airku.

Seperti mentari di kala pagi,

Kemerdekaan tentu datang lagi,

Menerangi Tanah tempat lahirku.



Oleh :

Asmara Hadi

Sunday, February 22, 2015

Doa


Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?

Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah

terik.

Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa

angan ke bawah kursimu.

Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.

Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.

Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku

sendu, biar berbinar

gelakku rayu!



Oleh :

Amir Hamzah

Saturday, February 21, 2015

Nyanyian Mesir Purba


Kurnia kami, hari berbuahkan rahman,

Berbungakan suka.

Penghulu segala dewa!

Marahlah tuan dan lihat.

Urap dan menyan kami persembahkan

Kusuma dan bakung pedandan leher

Dinda tuan intan rupawan,

Yang siuman dalam hatimu

Yang merangkai pada sisimu.

Marilah diri! Gambang dan dendang

Merdu mengalun, Hari Duka

Telah lenyap, sukacita bertabur ria,

Sampai tuan tiba ke benua, yang diam semata-mata

Lepaslah tuan dari kami selama-lamanya.



Oleh :

Amir Hamzah

Thursday, February 19, 2015

Nyanyian Syiking


‘Wah!’, kesahnya, ‘kau dengar ayam jantan, ia memanggil?’

‘Tidak’, jawabnya,

‘Tidak, malam kelam dan tinggi,

Bukan itu kokok ayam, kekasihku’

‘Pintaku, bangkit, singkapkan tabir

Di tepi, dan tanya olehmu kan langit, sahabatku’

Lompat ia: ‘Celaka kita! Bintang pagi.

Pucat meningkat dari kaki langit’

‘Merah fajar’ – bisiknya takut, ‘Sekarang mesti engkau pergi!’

‘Bagaimana aku menanggungnya?’

‘Hai, Sebelumnya engkau pergi, balaskan setan itu,

Kejam ia menceraikan kita!’

‘Ambil busurmu, tujukan panah ini

Ayam jantan hatinya tepati!’



Oleh :

Amir Hamzah

Wednesday, February 18, 2015

Nyanyian Jallaludin El Rumi


Jangan disalahkan dunia karena belenggumu,

Sebab banyakan mawar dari duri.

Jangan disebutkan dunia ini penjara,

Karena inginmu itulah yang membangunkan duka.

Jangan pula tanyakan penghabisan rahasia,

Satu dalam dua, atau baik, tau jahat!

Usaha pula katakan kasih meninggalkan tuan,

Jangan ia dicari di pekan dan jalan!

Ta’ guna takutkan siksa mati,

Sebab takut itulah mendatangkan sengsara,

Janganlah buru kijang cita indria,

Kalau terburu singa sesalan.

Jangan hatiku, mengekang diri,

Jadi ta’ usah malaikat menolong engkau.



Oleh :

Amir Hamzah

Tuesday, February 17, 2015

Nyanyian Farid

Farid, jika manusia memukul senda

Jangan memukul pula

Cium kakinya

Lalu …

Dan lupa …

Keduanya …

Yang menjadikan terkandung

Dalam segala yang dijadikan

Dan yang dijadikan

Tersimpul dalam yang menjadikan

Bagaimana engkau berani

Ya Farid,

Menyumpah sesuatu yang buruk?

Tiada ada melainkan Ia.



Oleh:

Amir Hamzah