Monday, July 14, 2014

Di Arafah


Terlentang aku

seenaknya dalam pelukan bukit-bukit

batu bertenda langit biru,

seorang anak entah

berkebangsaan apa

mengikuti anak mataku

dan dalam

isyarat bertanya-tanya

kapan Tuhan turun?

Aku tersenyum.

Setan mengira dapat mengendarai

matahari,

mengusik khusukku apa tak melihat

ratusan ribu hati putih

menggetarkan bibir,

melepas dzikir,

menjagamu

dari jutaan milyar malaikat

menyiramkan berkat.

Kulihat diriku

terapung-apung

dalam nikmat dan sianak

entah berkebangsaan apa

seperti melihat arak-arakan

karnaval menari-nari

dengan riangnya.


Terlentang aku

satu diantara jutaan tumpukan

dosa yang mencoba menindih,

akankah

kiranya bertahan dari banjir

air mata penyesalan

massal ini


Gunung-gunung batu

menirukan tasbih kami,

pasir menghitung wirid kami

dan sianak

yang aku tak tahu

berkebangsaan apa

tertidur dipangkuanku

pulas sekali


Oleh :

A Mustofa Bisri

Sunday, July 13, 2014

Bagi Mu


Bagimu kutancapkan kening kebanggaanku pada

rendah tanah,

telah kuamankan sedapat mungkin

maniku,

kuselamat-selamatkan Islamku

kini dengan

segala milikMu ini

kuserahkan kepadaMu Allah

terimalah.


Kepala bergengsi yang terhormat ini

dengan kedua

mata yang mampu menangkap

gerak-gerik dunia,

kedua telinga

yang dapat menyadap kersik-kersik

berita,

hidung yang bisa mencium wangi parfum

hingga borok manusia,

mulut yang sanggup menyulap

kebohongan jadi kebenaran

seperti yang lain hanyalah

sepersekian percik tetes anugrahMu.


Alangkah amat

mudahnya Engkau

melumatnya Allah,

sekali Engkau

lumat terbanglah cerdikku,

terbanglah gengsiku

terbanglah kehormatanku,

terbanglah kegagahanku,

terbanglah kebanggaanku,

terbanglah mimpiku,terbanglah hidupku.


Allah,

jika terbang-terbanglah,

sekarangpun aku pasrah,

asal menuju haribaan rahmatMu.



Oleh : 

A Mustofa Bisri

Saturday, July 12, 2014

Sujud


Bagaimana kau hendak bersujud pasrah

sedang wajahmu yang bersih sumringah

keningmu yang mulia

dan indah begitu pongah

minta sajadah

agar tak menyentuh tanah. 


Apakah kau melihatnya

seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu

dengan congkak,

tanah hanya patut diinjak,

tempat kencing dan berak

membuang ludah dan dahak

atau paling jauh hanya jadi lahan

pemanjaan nafsu

serakah dan tamak. 


Apakah kau lupa

bahwa tanah adalah bapak

dari mana ibumu dilahirkan,

tanah adalah ibu yang menyusuimu

dan memberi makan

tanah adalah kawan yang memelukmu

dalam kesendirian

dalam perjalanan panjang

menuju keabadian. 


Singkirkan saja

sajadah mahalmu

ratakan keningmu,

ratakan heningmu,

tanahkan wajahmu,

pasrahkan jiwamu,

biarlah rahmat agung

Allah membelai

dan terbanglah kekasih



Oleh : A Mustofa Bisri

Friday, July 11, 2014

Gelisahku


gelisahku adalah gelisah purba

adam yang harus pergi mengembara tanpa diberitahu

kapan akan kembali

bukan sorga benar yang kusesali karena harus kutinggalkan

namun ngungunku mengapa kau tinggalkan

aku sendiri

sesalku karena aku mengabaikan kasihmu yang agung

dan dalam kembaraku di mana kuperoleh lagi kasih

sepersejuta saja kasihmu

jauh darimu semakin mendekatkanku kepadamu

cukup sekali, kekasih

tak lagi,

tak lagi sejenak pun

aku berpaling

biarlah gelisahku jadi dzikirku


Oleh : 

A Mustofa Bisri

Thursday, July 10, 2014

Stasiun


kereta rinduku datang menderu

gemuruhnya meningkahi gelisah dalam kalbu

membuatku semakin merasa terburu-buru

tak lama lagi bertemu, tak lama lagi bertemu


sudah kubersih-bersihkan diriku

sudah kupatut-patutkan penampilanku

tetap saja dada digalau rindu

sabarlah rindu, tak lama lagi bertemu


tapi sekejap terlena

stasiun persinggahan pun berlalu

meninggalkanku sendiri lagi

termangu


Karya : A Mustofa Bisri

Wednesday, July 9, 2014

Tahanan


Atas ranjang batu 

tubuhnya panjang 

bukit barisan tanpa bulan 

kabur dan liat 

dengan mata sepikan terali

Di lorong-lorong 

jantung matanya 

para pemuda bertangan merah 

serdadu-serdadu Belanda rebah

Di mulutnya menetes 

lewat mimpi 

darah di cawan tembikar 

dijelmakan satu senyum 

barat  di perut gunung 

(Para pemuda bertangan merah 

adik lelaki neruskan dendam)

Dini hari bernyanyi 

di luar dirinya 

Anak lonceng 

menggeliat enam kali 

di perut ibunya 

Mendadak 

dipejamkan matanya

Sipir memutar kunci selnya 

dan berkata 

-He, pemberontak 

hari yang berikut bukan milikmu !

Diseret di muka peleton algojo 

ia meludah 

tapi tak dikatakannya 

-Semalam kucicip sudah 

betapa lezatnya madu darah.

Dan tak pernah didengarnya 

enam pucuk senapan 

meletus bersama


Oleh :

W.S. Rendra

Tuesday, July 8, 2014

Sajak Widuri Untuk Joki Tobing


Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir. 

Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba. 

Orang-orang miskin menentang kemelaratan. 

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu, 

kerna wajahmu muncul dalam mimpiku. 

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu 

karena terlibat aku di dalam napasmu. 

Dari bis kota ke bis kota 

kamu memburuku. 

Kita duduk bersandingan, 

menyaksikan hidup yang kumal. 

Dan perlahan tersirap darah kita, 

melihat sekuntum bunga telah mekar, 

dari puingan masa yang putus asa.


Oleh : 

W.S. Rendra

Monday, July 7, 2014

Sajak Tangan


Inilah tangan seorang mahasiswa, 

tingkat sarjana muda. 

Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai, 

yang terpegang anderox hostes berumbai, 

Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu, 

tak ada jawaban. 

Aku tendang pintu, 

pintu terbuka. 

Di balik pintu ada lagi pintu. 

Dan selalu : 

ada tulisan jam bicara 

yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana 

dan aku keluar mengembara. 

Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan 

muncul di depanku. 

Tanganku aku sodorkan. 

Nampak asing di antara tangan beribu. 

Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur, 

tangan nelayan yang bergaram, 

aku jabat dalam tanganku. 

Tangan mereka penuh pergulatan 

Tangan-tangan yang menghasilkan. 

Tanganku yang gamang 

tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong, 

tangan pejabat, 

gemuk, luwes, dan sangat kuat. 

Tanganku yang gamang dicurigai, 

disikat.

Tanganku mengepal. 

Ketika terbuka menjadi cakar. 

Aku meraih ke arah delapan penjuru. 

Di setiap meja kantor 

bercokol tentara atau orang tua. 

Di desa-desa 

para petani hanya buruh tuan tanah. 

Di pantai-pantai 

para nelayan tidak punya kapal. 

Perdagangan berjalan tanpa swadaya. 

Politik hanya mengabdi pada cuaca….. 

Tanganku mengepal. 

Tetapi tembok batu didepanku. 

Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku. 

Aku berjalan mengembara. 

Aku akan menulis kata-kata kotor 

di meja rektor


Oleh : 

W.S. Rendra

Sunday, July 6, 2014

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya


Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang

Dan juga masa depan kita

yang hampir rampung

dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri

dan terasing dengan nasib kita

Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka duka kita bukanlah istimewa

kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

bekerja membalik tanah

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu

meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang

ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.

Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.

Dan kenangkanlah pula

bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.

Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.

Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.

Kita menjadi goyah dan bongkok

kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita

tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kaukenangkan encokmu

kenangkanlah pula

bahwa kita ditantang seratus dewa.


Oleh :

WS Rendra

Saturday, July 5, 2014

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api


Bagaimana mungkin kita bernegara 

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya 

Bagaimana mungkin kita berbangsa 

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup 

bersama ? 

Itulah sebabnya 

Kami tidak ikhlas 

menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris 

dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu 

sehingga menjadi lautan api 

Kini batinku kembali mengenang 

udara panas yang bergetar dan menggelombang, 

bau asap, bau keringat 

suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki 

langit berwarna kesumba

Kami berlaga 

memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia. 

Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata 

yang bisa dialami dengan nyata 

Mana mungkin itu bisa terjadi 

di dalam penindasan dan penjajahan 

Manusia mana 

Akan membiarkan keturunannya hidup 

tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah 

Hidup yang diperkembangkan 

dan hidup yang dipertahankan 

Itulah sebabnya kami melawan penindasan 

Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan 

bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua 

Aku terjaga dari tidurku 

di tengah malam di pegunungan 

Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu 

yang dibawa oleh mimpi kepadaku ? 

Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ? 

Apakah ini deru perjuangan masa silam 

di tanah periangan ? 

Ataukah gaduh hidup yang rusuh 

karena dikhianati dewa keadilan. 

Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku 

dibangunkan oleh mimpi ? 

Apakah aku tersentak 

Oleh satu isyarat kehidupan ? 

Di dalam kesunyian malam 

Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku ! 

Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku 

Telah tumpah di Sukakarsa 

Di Dayeuh Kolot 

Di Kiara Condong 

Di setiap jejak medan laga. Kini 

Kami tersentak, 

Terbangun bersama. 

Putera-puteriku, apakah yang terjadi? 

Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu, 

Apakah kita masih sama-sama setia 

Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa 

Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga 

Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi 

Dan menghadapi pertanyaan jaman : 

Apakah yang terjadi ? 

Apakah yang telah kamu lakukan ? 

Apakah yang sedang kamu lakukan ? 

Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna 

Dari jawaban yang kita berikan.


Oleh :

W.S. Rendra

Friday, July 4, 2014

Info Blog

Mohon maav sebelumnya para pecinta puisi dan sajak semuanya, blog ini untuk sementara waktu tidak bisa menshare postingan terbaru ke twitter karena ada sedikit masalah saat mencoba mentweet postingan terbaru kami.

Dan juga saya mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi yang menjalankannya dan semoga ibadah puasa tahun ini bisa berkah dan mendapat rahmatnya Allah swt, Aminn ...

Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon


Inilah sajakku, 

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas, 

dengan kedua tangan kugendong di belakang, 

dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman. 

Aku melihat gambaran ekonomi 

di etalase toko yang penuh merk asing, 

dan jalan-jalan bobrok antar desa 

yang tidak memungkinkan pergaulan. 

Aku melihat penggarongan dan pembusukan. 

Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi. 

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran. 

Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang. 

Dan sebatang jalan panjang, 

punuh debu, 

penuh kucing-kucing liar, 

penuh anak-anak berkudis, 

penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari, 

menyusuri jalan sejarah pembangunan, 

yang kotor dan penuh penipuan. 

Aku mendengar orang berkata : 

“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana. 

Di sini, demi iklim pembangunan yang baik, 

kemerdekaan berpolitik harus dibatasi. 

Mengatasi kemiskinan 

meminta pengorbanan sedikit hak asasi” 

Astaga, ta”” kerbo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ? 

Di negeri ini hak asasi dikurangi, 

justru untuk membela yang mapan dan kaya. 

Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa, 

dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan, 

berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan. 

Aku mendengar pengadilan sandiwara. 

Aku mendengar warta berita. 

Ada gerilya kota merajalela di Eropa. 

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis, 

seorang yang gigih, melawan buruh, 

telah diculik dan dibunuh, 

oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan. 

Kakiku ngilu, 

dan rokok di mulutku padam lagi. 

Aku melihat darah di langit. 

Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang. 

Yang kuasa serba menekan. 

Yang marah mulai mengeluarkan senjata. 

Baj***** dilawan secara baj*****. 

Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang. 

Bila pengadilan tidak menindak baj***** resmi, 

maka baj***** jalanan yang akan diadili. 

Lalu apa kata nurani kemanusiaan ? 

Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ? 

Apakah orang harus meneladan tingkah laku baj***** resmi ? 

Bila tidak, kenapa baj***** resmi tidak ditindak ? 

Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala ! 

Singkat tapi menggetarkan hati ! 

Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana ! 

Kerna langit di badan yang tidak berhawa, 

dan langit di luar dilabur bias senjakala, 

maka nurani dibius tipudaya. 

Ya ! Ya ! Akulah seorang tua ! 

Yang capek tapi belum menyerah pada mati. 

Kini aku berdiri di perempatan jalan. 

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing. 

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak. 

Sebagai seorang manusia.


Catatan :

baj***** gabungkan dengan ***ingan


Oleh : 

W.S. Rendra

Thursday, July 3, 2014

Sajak Seonggok Jagung


Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda 

yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu, 

sang pemuda melihat ladang; 

ia melihat petani; 

ia melihat panen; 

dan suatu hari subuh, 

para wanita dengan gendongan 

pergi ke pasar ……….. 

Dan ia juga melihat 

suatu pagi hari 

di dekat sumur 

gadis-gadis bercanda 

sambil menumbuk jagung 

menjadi maisena. 

Sedang di dalam dapur 

tungku-tungku menyala. 

Di dalam udara murni 

tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda. 

Ia siap menggarap jagung 

Ia melihat kemungkinan 

otak dan tangan 

siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar 

dan seorang pemuda tamat SLA 

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa. 

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu 

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta . 

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik. 

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase. 

Ia melihat saingannya naik sepeda motor. 

Ia melihat nomor-nomor lotre. 

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal. 

Seonggok jagung di kamar 

tidak menyangkut pada akal, 

tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar 

tak akan menolong seorang pemuda 

yang pandangan hidupnya berasal dari buku, 

dan tidak dari kehidupan. 

Yang tidak terlatih dalam metode, 

dan hanya penuh hafalan kesimpulan, 

yang hanya terlatih sebagai pemakai, 

tetapi kurang latihan bebas berkarya. 

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya : 

Apakah gunanya pendidikan 

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing 

di tengah kenyataan persoalannya ? 

Apakah gunanya pendidikan 

bila hanya mendorong seseorang 

menjadi layang-layang di ibukota 

kikuk pulang ke daerahnya ? 

Apakah gunanya seseorang 

belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, 

atau apa saja, 

bila pada akhirnya, 

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata : 

“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”


Oleh : 

W.S. Rendra

Wednesday, July 2, 2014

Sajak Sebotol Bir


Menenggak bir sebotol, 

menatap dunia, 

dan melihat orang-orang kelaparan. 

Membakar dupa, 

mencium bumi, 

dan mendengar derap huru-hara.

Hiburan kota besar dalam semalam, 

sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa ! 

Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

Mengapa kita membangun kota metropolitan ? 

dan alpa terhadap peradaban di desa ? 

Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan, 

dan tidak kepada pengedaran ?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri, 

Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing 

akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam 

Kota metropolitan di sini, 

adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, 

Australia, dan negara industri lainnya.

Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ? 

Yang menghubungkan desa-desa dengan desa-desa ? 

Kini telah terlantarkan. 

Menjadi selokan atau kubangan. 

Jalan lalu lintas masa kini, 

mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu, 

adalah alat penyaluran barang-barang asing dari 

pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan 

bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus, 

tidak untuk petani, 

tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai. 

Di mana kita hanya mampu berak dan makan, 

tanpa ada daya untuk menciptakan. 

Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ? 

Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik 

yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan…….. 

harus senantiasa menghasilkan…. 

Dan akhirnya memaksa negara lain 

untuk menjadi pasaran barang-barang kita ? 

…………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ? 

Apakah pemikiran ekonomi kita 

hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ? 

Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ? 

Apakah kita akan hanyut saja 

di dalam kekuatan penumpukan 

yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan 

terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ? 

……………………………….

Kita telah dikuasai satu mimpi 

untuk menjadi orang lain. 

Kita telah menjadi asing 

di tanah leluhur sendiri. 

Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi, 

dan menghamba ke Jakarta. 

Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi 

dan menghamba kepada Jepang, 

Eropa, atau Amerika.


Oleh : 

W.S. Rendra