Sunday, May 10, 2015

Ku Dekap Ku Sayang - Sayang

Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan

di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia

Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan

diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia,

yang teramat menyakitkan ini, denganmu

Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah

persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu

Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika

mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari

mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya,

kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku

Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,

kupeluk,

kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan

lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah

batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,

kusumpal,

kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,

kusayang-sayang.



Oleh :

Emha Ainun Najib

Friday, May 8, 2015

Sepenggal Puisi Cak Nun

sayang sayang kita tak tau kemana pergi

tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati

langkah kita mengabdi pada kepentingan nafsu sendiri

yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri

loyang disangka emas emasnya di buang buang

kita makin buta yang mana utara yang mana selatan

yang kecil dibesarkan yang besar di remehkan

yang penting disepelekan yang sepele diutamakan

Allah Allah betapa busuk hidup kami

dan masih akan membusuk lagi

betapa gelap hari di depan kami

mohon ayomilah kami yang kecil ini



Oleh :

Emha Ainun Najib

Thursday, May 7, 2015

Memecah Mengutuhkan

Kerja dan fungsi memecah manusia

Sujud sembahyang mengutuhkannya

Ego dan nafsu menumpas kehidupan

Oleh cinta nyawa dikembalikan

Lengan tanganmu tanggal sebelah

Karena siang hari politik yang gerah

Deru mesin ekonomi membekukan tubuhmu

Cambuk impian membuat jiwamu jadi hantu

Suami dan istri tak saling mengabdi

Tak mengalahkan atau memenangi

Keduanya adalah sahabat bergandengan tangan

Bersama-sama mengarungi jejak Tuhan

Kalau berpacu mempersaingkan hari esok

Jangan lupakan cinta di kandungan cakrawala

Kalau cemas karena diiming-imingi tetangga

Berkacalah pada sunyi di gua garba rahasia



Oleh :

Emha Ainun Najib

Wednesday, May 6, 2015

Seribu Masjid Satu Jumlahnya

Satu

Masjid itu dua macamnya

Satu ruh, lainnya badan

Satu di atas tanah berdiri

Lainnya bersemayam di hati

Tak boleh hilang salah satunya

Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu

Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu

Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua

Masjid selalu dua macamnya

Satu terbuat dari bata dan logam

Lainnya tak terperi

Karena sejati

Tiga

Masjid batu bata

Berdiri di mana-mana

Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya

Timbul tenggelam antara ada dan tiada

Mungkin di hati kita

Di dalam jiwa, di pusat sukma

Membisikkan nama Allah ta'ala

Kita diajari mengenali-Nya

Di dalam masjid batu bata

Kita melangkah, kemudian bersujud

Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa

Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Empat

Sangat mahal biaya masjid badan

Padahal temboknya berlumut karena hujan

Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban

Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan

Masjid badan gampang binasa

Matahari mengelupas warnanya

Ketika datang badai, beterbangan gentingnya

Oleh gempa ambruk dindingnya

Masjid ruh mengabadi

Pisau tak sanggup menikamnya

Senapan tak bisa membidiknya

Politik tak mampu memenjarakannya

Lima

Masjid ruh kita bawa ke mana-mana

Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya

Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota

Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya

Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya

Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala

Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya

Sebab majid ruh adalah semesta raya

Jika kita berumah di masjid ruh

Tak kuasa para musuh melihat kita

Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya

Mereka menembak hanya bayangan kita

Enam

Masjid itu dua macamnya

Masjid badan berdiri kaku

Tak bisa digenggam

Tak mungkin kita bawa masuk kuburan

Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita

Melampaui ujung waktu nun di sana

Terbang melintasi seribu alam seribu semesta

Hinggap di keharibaan cinta-Nya

Tujuh

Masjid itu dua macamnya

Orang yang hanya punya masjid pertama

Segera mati sebelum membusuk dagingnya

Karena kiblatnya hanya batu berhala

Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua

Berkeliaran sebagai ruh gentayangan

Tidak memiliki tanah pijakan

Sehingga kakinya gagal berjalan

Maka hanya bagi orang yang waspada

Dua masjid menjadi satu jumlahnya

Syariat dan hakikat

Menyatu dalam tarikat ke makrifat

Delapan

Bahkan seribu masjid, sejuta masjid

Niscaya hanya satu belaka jumlahnya

Sebab tujuh samudera gerakan sejarah

Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah

Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah

Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah

Itu sekedar pertengkaran suami istri

Untuk memperoleh kemesraan kembali

Para pemimpin saling bercuriga

Kelompok satu mengafirkan lainnya

Itu namanya belajar mendewasakan khilafah

Sambil menggali penemuan model imamah

Sembilan

Seribu masjid dibangun

Seribu lainnya didirikan

Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun

Tagihan masa depan kita cicilkan

Seribu orang mendirikan satu masjid badan

Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan

Hadir engkau semua menyodorkan kawruh

Seribu masjid tumbuh dalam sejarah

Bergetar menyatu sejumlah Allah

Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan

Melainkan dengan hikmah kepemimpinan

Allah itu mustahil kalah

Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah

Kepada berjuta Abu Jahal yang menghadang langkah

Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!



Oleh :

Emha Ainun Najib

Tuesday, May 5, 2015

Tahajjud Cintaku

Maha anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

Maha agung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan

Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya

Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya tak diterima

Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita

Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara

Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka

Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya

Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran

Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang


Maha anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan

Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta

Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya



Oleh : 

Emha Ainun Najib

Sunday, May 3, 2015

Banyak Simpang, Kota Tua : Melankolia

selalu, setiap perjalanan keluh kesah itu

kau tak ingin sampai, di atas andong kau

bertanya siapa di antara kita kusirnya

kau tak ingin sampai, di setiap tikungan

membaca arah angin dan nama nama gang.


orang orang, selalu seperti memulai hari

berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa

memburu dan siapa diburu.

kita pun melangkah di antara perjalanan keluh kesah.

dan selalu gagal membaca arah.


ada yang selalu mengantarmu ke segenap arah,

desa demi desa, tapi akhirnya

kau hanya sendiri di atas catatan duka

di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian

:sebab katamu, kenangan itu racun.

hari ini aku melihat wajahmu

seperti patung patung gerabah di Kasongan.

lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.

sebab masa lalu itu racun, dan kita

bersenang senang atas kesedihan hari ini.

maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah

rumah dan hiruk pikuk kotamu yang angkuh.


kutunggu engkau di stasiun, beberapa jam usiaku hilang,

kutunggu sepanjang rel dan bangku bangku yang bisu.

kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,

sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat

dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?

kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.


kukira Joan Sutherland dan Mozart dalam Die Zauberflote.

tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,

dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik

dan aspal membara,

tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.

hanya mulutnya yang bergerak gerak di luar kaca

dan suara mencekam Sutherland.

Yogya semakin tua, dan dimana mana kudengar

cerita cerita kesedihan.

tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli

seekor burung yang tak henti berkicau,

dan menjadi begitu pendiam saat kau bawa pulang.


sebuah surat kutemukan di Malioboro,

tampaknya seorang gadis telah patah hati,

dan mencari kekasihnya di etalase etalase

dan di antara tumpukan barang barang kaki lima,

tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada

bayang bayang kekasih itu.

kutemukan surat itu, dan ku kirimkan kembali

entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,

dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,

tapi kau tak pernah membacanya,

dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat

dan tak kukirim ke manapun.


rindu kadang menyakitkan

tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?

seseorang tak ingin pergi

dan membangun sebuah rumah siput.

seseorang tak ingin pergi

dan mencatat berderet peristiwa

untuk menjadikannya hanya kenangan.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Saturday, May 2, 2015

N.B.

seperti kalau kita berjalan di pusat perbelanjaan,

di pinggir pinggir toko dan kaki lima

segalanya menggoda kita untuk melihat: dengan nyata!

hanya lemari kaca dan etalase, kalau saja kita

bukanlah sekelompok orang renta dan tua dengan mata rabun

atau si buta dengan tongkatnya.

segalanya begitu nyata!

atau kalau saja kita bukan bayi yang berjalan merangkak

atau anak anak usia bermain yang hanya tergoda kegembiraan.


apa yang tak terlihat?

bahkan suara orang orang gelisah sepanjang jalan

dan rengekan pengemis yang lapar.

lagu lagu sumbang pengamen, atau bahkan, kalau bisa bersuara,

bisikan sedih sesuatu yang dijajakan itu...


tetapi kita tidak melihat apapun. seperti kalau kita berjalan

di ruang ruang tanpa cahaya. bahkan ledakan bom dan

tembakan meriam tak bisa kita dengarkan.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Friday, May 1, 2015

Perempuan Berdosa

perempuan itu memikul dosa sendirian, seringan jeritannya

yang rahasia: berlari di antara sekelebatan rusa yang diburu segerombolan serigala.

kau tulis igaunya yang hitam, mengendap di bayang dinding

tak memantulkan cahaya.


perempuan itu melukis dosa yang tak terjemahkan

ia tulis rahasia puisi yang perih dendam dalam gesekan rebab.

lalu ia hentakkan tumit penari indian yang gelap dan mistis.


segerombolan lelaki melata di atas perutnya.

mengukur berapa leleh keringat pendakian itu.

sebelum mereka mengepalkan tinjunya

ke langit. dan membusungkan dadanya yang kosong:

mulutnya yang busuk menumpahkan ribuan belatung dan ulat ulat.


perempuan itu membangun surga dalam genangan air mata.

menciptakan sungai sejarah: sepanjang abad!



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany