Friday, April 25, 2014
Thursday, April 24, 2014
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.
Dengan Puisi Aku
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Wednesday, April 23, 2014
Teluk Jayakatera
Ombak memecah di tepi pantai
angin berhembus lemah-lembut
Puncak kelapa melambai-lambai
di ruang angkasa awan bergelut.
Burung terbang melayang-layang
serunai berseru "adikku sayang"
perikan bernyanyi berimbang-imbang
laut harungan hijau terbentang.
Asap kapal bergumpal-gumpal
melayari tasik lautan Jawa
beta duduk berhati kesal
melihat perahu menuju Semudera.
Musyafir tinggal di tanah Jawa
seorang diri sebatang kara
hati susah tiada terkata
tidur sekali haram cendera.
Pikiranku melayang entah ke mana
sekali ke timur sekali ke utara
Mataku memandang jauh ke sana
di pertemuan air dengan angkasa.
di hadapanku hutan umurnya muda
tempat asyik bertemu mata
tempat ma'syuk melagukan cinta
tempat bibir menyatukan anggota.
Pikiran lampau datang kembali
menggoda kalbu menyusahkan hati
mengingatkan untung tiada seperti
Yayi lalu membawa diri.
Ombak mengempas ke atas batu
bayu merayu menjauhkan hati
gelak gadis membawaku rindu
terkenangkan tuan ayuhai yayi.
Teja ningsun buah hatiku
lihatlah limbur mengusap gelombang
ingatlah tuan masa dahulu
adik guring di pangkuan abang?
Di Tepi Pantai
Ombak berderai di tepi pantai,
Angin berembus lemah-lembut.
Puncak kelapa melambai-lambai,
di ruang angkasa awan bertabut.
Burung terbang melayang-layang,
serunai berlagu alangkah terang.
Bersuka raya bersenang-senang,
lautan haru hijau terbentang.
Asap kapal bergumpal-gumpal,
melayari tasik, Jawa segara.
Duduklah beta berhati kesal,
melihat perahu menuju Samudera.
Pikiranku melayang entah ke mana,
sekali ke Timur sekali ke Utara.
Mataku memandang jauh ke sana,
lampaulah air dengan udara.
Pikiran nan lama datang kembali,
menggoda kalbu menyusahkan hati.
Mengingatkan untung tiada seperti,
ke manakah nasib membawa diri.
Ombak mengempas di atas batu,
bayu merayu menyeri-nyeri.
Riak riuhnya mendatangkan rindu,
terkenangkan tuan aduhai, puteri.
Tuesday, April 22, 2014
Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Monday, April 21, 2014
Kepada Kawan
Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
Sunday, April 20, 2014
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
Senja di Pelabuhan Kecil Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Saturday, April 19, 2014
Tak Sepadan
Aku kira
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Friday, April 18, 2014
Belaian Yang Tersirat
Kain sehalus kain sutra
Bulu selembut bulu domba
Takkan bisa gantikan belaianmu
Belaian yang dapat membuat hatiku terpanah
Kuingat saat pertama kau membelaiku
Penuh dengan rasa cinta dan kasih
Ingin rasanya ku hentikan waktu
Tapi sayang ku tak bisa lakukan itu
Kini belaianmu pun hilang ditelan ombak
Munculnya seorang pria yang menusukku dari belakang
Sesosok manusia yang berhati busuk
Membunuh teman yang pernah membantunya
Kini diriku bagaikan kertas yang ditiup angin
Tak tahu apa yang harus kulakukan
Dan tak tahu apa yang harus kukatakan
Tapi kuharap temanku bisa menyadari kesalahannya
Karna seorang teman takkan pernah menyakiti teman sendiri
Kerinduan Sang Kekasih
Lelah ku menunggu
Lemah ku mencumbu
Letih ku merindu
Hadirnya seorang kekasih yang ditunggu
Bersabar dalam kurung kerinduan
Menitih hari demi hari untuk penantian
Hari penantian yang sangat dinantikan
Datangnya seorang kekasih yang kurindukan
Dan kusadari bahwa dirimu
Yang dulu slalu menemaniku
Dan menyayangiku di setiap waktu
Kini semuanya pun lenyap di telan waktu
Thursday, April 17, 2014
Kekasihku
Indah kenangan dulu perkara
Asmara meranda saat jumpa
Isi hati berbunga-bunga
Ketika kekasih datang berjumpa
Banyak rasa yang terpendam
Rasa kangen, dan rindu yang sangat dalam
Semua rasa yang saat ini ku genggam
Menghapuskan lara yang sangat mendalam
Waktu seperti cepat berlalu
Tak terasa dirimu telah kembali menyapaku
Melambaikan tangan tuk mengucapkan sesuatu
Selamat tinggal duhai kekasihku
Perasaan Hati
Lelehan besi yang terkena bara api
Tancapan tanduk penuh duri
Berlebur menjadi satu dalam diri
Merasuk ke dalam hati
Yang menusuk jiwa ini
Tergoreskan sakit yang mendalam
Karna ulah dirimu yang bengal
Yang takkan pernah hilang yakni kekal
Rembulan yang dulu slalu kurindukan
Kini hanya menjadi sebuah kenangan
Karna cinta yang slama ini kupercaya
Sekejap meninggalkanku dan kembali hanya sebagai noda
Wednesday, April 16, 2014
Kisah Tak Terlupakan
Seberkas cahaya yang membuatku
Melupakan semua peristiwa yang berlalu
Kilat menyambar terdengar bergumam
Ketika ku teringat sesosok wajah yang terpendam
Langit pun menutup sinarnya
Awan pun menjadi hitam tak bertua
Dan pelangi tak menampakkan wujudnya
Ketikaku teringat kembali wajahnya
Tertundukku dalam lesu
Karna ku sedang memikirkan dirimu
Terdiamku dalam hening
Ketika ku ingat kembali kisah antara aku dengan dirimu
Wajahmu Pesonamu
Ku rindukan sesosok wajah dalam hening
Wajah yang menawan
Yang penuh dengan cahaya dalam kegelapan
Yang dapat membuat semua pria mabuk kepayang
Mata indah yang penuh dengan cahaya mempesona
Senyum manis yang tak habis-habisnya menyapa
Dan hati penuh cinta yang dapat
Membuat semua pria besar kepala
Ketulusan cinta yang membuat kesempurnaan
Kejujuran cinta yang membuat kesetiaan
Kasih penuh cinta yang membuat kenyamanan dan
Kecupanlah yang membuatku terbayang
Tuesday, April 15, 2014
Cinta Yang Meninggalkanku
Ketika malam menghampiri
Terbersik di fikiran dan hati
Membayangkan seorang putri
Yang hadir di dalam mimpi
Rembulan penuh cahaya yang menerangi
Bintang-bintang datang tuk menemani karna
Ku teringat kembali kenangan yang pernah kualami
Kenangan indah antara aku dengan dirinya
Tapi kini kenangan itu hilang ditelan waktu
Yang membuat ku tak bisa berjumpa denganmu
Rembulan yang dulu ku pandang penuh cahaya
Kini cahaya nya pun menghilang karna
Cintamu yang sangat kuharapkan itu
Kini menjauh meninggalkanku
Subscribe to:
Posts (Atom)