Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Minggu, 23 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/23/2014 05:48:00 AM

Di luar alam gerimis

karena kau menangis

dan airmatamu

membasahi dadaku.


Padang ilalang bergelombang

dan angin semilir,

rumpun bambu berkesiur, burung terbang,

gemuruh airterjun, menghilir

Adalah mimpi yang jauh

adalah harapan yang jauh

dalam cinta yang rapuh.


Yang abadi

di dunia sebelum mati

hanya kenangan

yang muncul sesekali


1963



Oleh :

Ajip Rosidi

Sabtu, 22 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/22/2014 06:08:00 AM

Hari ini hari hati percaya

Akan arti hidup dan mati, yang cuma sempat

Direnungkan setahun sekali. Sungguh besar maknanya

Jalan panjang menuju liang-lahat.


Hari ini hari kesadaran akan tradisi

Menyempatkan umat sejenak bersama-sama

Menghirup udara lega dalam kepungan derita

Sehari-hari yang bikin orang jauh-menjauhi.


Hari ini hariku pertama 'kan menjalani

Hidup antara manusia, sedangkan diriku sendiri

Makin sepi terasing, lantaran mengerti

Kelengangan elang di langit tinggi.


Jatiwangi, H. 1381



Oleh :

Ajip Rosidi

Jumat, 21 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/21/2014 06:43:00 PM

Pabila harituaku tiba, kelak suatu masa

Kacamata tebal atas hidung, bersenandung

Menembangkan lelakon lama. La1u tersenyum

Memandang bayangan atas kaca jendela

Yang putih warnanya, sampai pun alis, bulu mata ...


Maka namamu 'kan kusebut, dengan bibir gemetar

Bagai ayat kitab suci, tak sembarang boleh terdengar

Namun kala itu yang empunya nama entah di mana

Apakah lagi menyulam, duduk bungkuk atas kursi rotan

Ataukah sedang menimang cucu, mungkin pula telah lama

Aman berbaring dalam tilam penghabisan.


Dan pabila giliranku tiba, telentang

Dengan kedua belah tangan bersilang

Sebelum Sang Maut menjemput

Sekali lagi namamu 'kan kusebut, lalu diam. Mati.


1963



Oleh :

Ajip Rosidi

Kamis, 20 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/20/2014 10:16:00 PM

buta oleh dusta yang membias-silau

nilai-nilai kebenaran pun disembunyikan:

namun di antara semak-rumputan hijau

ia tetap bersinar kemilau:

Tak nanti terpadamkan!



Oleh :

Ajip Rosidi

Rabu, 19 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/19/2014 04:28:00 PM

Ia terbujur

Bumi subur

Lembah-lembah dan gunung

Telentang tenang

Tangannya mengusap sayang

Perut mengandung.

Matanya nyalang

Langit-langit pun hilang

Karena langit penuh bintang

Dan pahlawan menyandang pedang

Naik kuda hitam zanggi

Adalah masadepan si-jabang

yang dalam rahim

menggeliat geli.

la memejam

Menahan nyeri.

Lalu terbayang

Bundanya tersenyum di ambang

"Tidakkah dahulu

Kusakiti juga bundaku?"

Keringat bermanik bening

Atas jidat, kening.

Ia mengerang

Dan malam yang lengang

Mendengar lantang

Teriakan si-jabang.


1961



Oleh :

Ajip Rosidi

Posted by Dwiki Syahputra On 11/19/2014 12:15:00 AM

Kalau aku bicara padaMu, Tuhan

Bukan mau mengadukan dera dan derita

Tak kuharap Kau berdiri di depan

Ke dahiku mengeluskan tangan mesra


Kalau kutulis sajak ini, Tuhan

Bukan lantaran rindu-dendam atau demam

Tak kuharap Kau membacanya

Sambil duduk mengisap pipa kala senja


Karena Kau lebih tahu apa rasa hatiku

Dan mengerti bagaimana pikiranku

Karena Kau paling Aku dari aku

Yang terkadang kesamaran sama bayangan.


8-1-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Senin, 17 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/17/2014 07:17:00 PM

Makin terasa, betapa sendiri

Hidupku bermukim di bumi. Tiada kawan

yang mau mengulurkan tangan

dan sedia bersama menempuh jalan

tatkalaa tiap langkah buntu.


Tak seorang pun, juga Kau

datang mendekat, menepuk-nepuk bahu

menganjurkan tabah dan jangan ragu.

Tiada. Hanya aku saja lagi

yang setia padaku. Hidup bersama

dalam duka dan putusasa.


Hanya aku jua, yang tetap cinta

kepada hidupku, tiada dua! Duh, tiada

lagi yang lain kujadikan gagang

tempat sirih pulang.

Rasa sendiri di dunia ramai, mengeratkan

aku padaMu, sepi-mutlak!

Rasa lengang di tengah orang, menyadarkan

antara Kau dan aku tiada jarak!


Saat seluruh bumi diam sunyi ....


16-4-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Minggu, 16 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/16/2014 06:14:00 AM

Kau yang menjenguk ke dalam relung hatiku

Meninggalkan jejak menjadi saksi. Sejarah, pahatan batu .

Dari dendam yang rindu. Tak nanti

Hidup hanya rangkaian mimpi-mimpi. Aku tahu!


1969



Oleh :

Ajip Rosidi

Sabtu, 15 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/15/2014 05:20:00 AM

Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati

Menerima atau menolak, tak peduli

Dengan tangan dingin namun pasti

Sang Maut datang dan tiap hidup ia akhiri.


Kuperhatikan perempuan sedang mengandung

Wajahnya riang, mimpinya menimang si jabang

Namun kulihat Sang Maut aman berlindung

Dalam rahim sang ibu ia bersarang.


Kuperhatikan bayi lahir

Dan pertama kali udara dia hirup

Dalam tangisnya kudengar Sang Maut menyindir:

"Jangan nangis, kelak pun hidupmu kututup".


Yang kukandung sejak hidup kumulai

Takkan kutolak, meski ia kubenci

Tapi kalau hidupku nak dikunci

Datang Tuhan menawari:

"Sukakah kau hidup semenit lagi?"

Kujawab pasti: "Suka sekali!"


Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri

Karena tak berketentuan, bisa nyergap sesuka hati

Membayangi langkah, mengintip menanti saat

Dan bagi kesadaran jadi beban paling berat.

Kupertentangkan ia dengan Hidup yang seolah 'kan dia rebut

Kupilih pihak: Karena pada siksa neraka aku takut;

Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati

Napasnya menghembus dalam tiap hidup yang fana ini.


1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Jumat, 14 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/14/2014 07:50:00 PM

Diriku samudra

Dilayari kapal, perahu, bajak

Tiada jejak.


Yang sementara

Berasal dari Tiada

'Kan lenyap dalam

Tada


1961



Oleh :

Ajip Rosidi