Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Selasa, 07 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/07/2015 06.06.00 AM

Someone will be set free and stay as eternal

as the green of the dry season

Someone will be set free and be as sour-black

as the monsoon


Someone will be set free and will run

or tire


And the sky will shrink and the stars

Shift


And between the pole of the seven flags and the pale peak


of the pagoda


Someone will be set free

and disappear


But perhaps someone will be set free and see

the dangling stems


stems on the handkerchief tree, stems on the slopes of the road

to Mandalay


(translated from the Indonesian version by Eddin Khoo).



By :

Goenawan Mohammad

Senin, 06 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/06/2015 06.20.00 AM

Seseorang akan bebas dan akan selalu


sehijau kemarau


Seseorang akan bebas dan sehitam asam

musim hujan


Seseorang akan bebas dan akan lari

atau letih


Dan langit akan sedikit dan bintang

beralih


Dan antara tiang tujuh bendera dan pucuk pucat

pagoda


Seseorang akan bebas dan sorga akan

tak ada


Tapi barangkali seseorang akan bebas dan memandangi

tandan yang terjulai


Tandan di pohon saputangan, tandan di tebing jalan

ke Mandalay



Oleh :

Goenawan Mohammad

Minggu, 05 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/05/2015 10.25.00 AM

Kembali ke nokturno, katamu. Aku inginkan Chopin.

Seperempat jam kemudian, tuts hitam pada piano itu menganga.

Malam telah melukai mereka.


Mungkin itu sebabnya kau selalu merasa bersalah, seakan-akan sedih adalah bagian dari ketidaktahuan.

Atau kecengengan. Tapi setiap malam, ada jalan batu dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi, dan kau,

yang mencoba mengenangnya dari cinta yang pendek, yang terburu, akan gagal. Di mana kota ini? Siapa yang


meletakkan tubuh itu di sisi tubuhmu?

Semua yang kembali

hanya menemuimu

pada mimpi yang tersisa

di ruas kamar….


Coba dengar, katamu lagi,

apa yang datang dalam No. 20 ini?


Di piano itu seseorang memandang ke luar

dan mencoba menjawab:

Mungkin hujan. Hanya hujan.


Tapi tak ada hujan dalam C-Sharp Minor, katamu.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Sabtu, 04 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/04/2015 09.36.00 AM

Tari itu melintas pada cermin:

bagian terakhir Ritus Musim.

Gerak gaun — paras putih —

tapak kaki yang melepas lantai….


23 tahun kemudian di kaca ia temukan wajahnya.

Sendiri. Terpisah dari ruang.

Lekang, seperti warna waktu pada kertas koreografi.


Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.

“Aku tak seperti dulu,” katanya,

“tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.

Aku — hantu salju.”


Suaranya pelan. Seperti derak tulang

ketika di ruang latihan itu tak ada lagi adegan.

Hanya nafas. Mungkin ia masih di situ.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Jumat, 03 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/03/2015 09.29.00 AM

— untuk Moh. Sunjaya


Aktor terakhir menutup pintu.

“Caesar, aku pulang.”

Dan ruang-rias kosong. Cermin jadi dingin

seperti wajah tua yang ditinggalkan.


Siapapun pulang. Meski pada jas dengan punggung yang berlobang ia masih rasakan

ujung pisau itu menikam dan akerdeon bernyanyi pada saat kematian.


“Teater,” sutradara selalu bergumam, “hanya kehidupan dua malam.”

“Tapi tetap kehidupan,” ia ingin menjawab.

Ia selalu merasa bisa menjawab.


Ia menyukai suaranya sendiri

dan beberapa kata-kata.

Tapi pada tiap reruntukan panggung

ia lupa kata-kata.


Pada tiap reruntukan panggunng

ia hanya ingin tiga detik — tiga detik yang yakin:

dalam lorong Kapai-Kapai, Abu tak berhenti

hanya karena cahaya tak ada lagi.


Ia tak menyukai melankoli.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Rabu, 01 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/01/2015 06.51.00 AM

Jarimu menandai sebuah percakapan

yang tak hendak kita rekam

di hitam sotong dan gelas sauvognon blanc

yang akan ditinggalkan.


Di kiri kita kanal menyusup

dari laut. Di jalan para kelasi

malam seakan-akan biru.

“Meskipun esok lazuardi,” katamu.


Aku dengar. Kita kenal

kegaduhan di aspal ini.

Kita tahu banyak hal.

Kita tahu apa yang sebentar.


Seseorang pernah mengatakan

kita telah disandingkan

sejak penghuni pertama ghetto Yahudi

membangun kedai.


Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,

tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.


“Kota ini,” katamu, “adalah jam

yang digantikan matahari.”



Oleh :

Goenawan Mohammad

Selasa, 30 Juni 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 6/30/2015 04.43.00 AM

Di ujung bait itu mulai tampak sebuah titik

yang kemudian runtuh, 5 menit setelah itu.


Di ujung ruang itu mulai tampak sederet jari

yang ingin memungutnya kembali.


Tapi mungkin

itu tak akan pernah terjadi.


Ini jam yang amat biasa: Maut memarkir keretanya


di ujung gang dan berjalan tak menentu.


Langkahnya tak seperti yang kau bayangkan: tak ada gempa, tak ada hujan asam, tak ada

parit yang meluap.


Hanya sebuah sajak, seperti kabel yang putus.


Atau hampir putus.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Senin, 29 Juni 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 6/29/2015 06.08.00 AM

Yang tak menarik dari mati

adalah kebisuan sungai

ketika aku

menemuinya.

Yang menghibur dari mati

adalah sejuk batu-batu,

patahan-patahan kayu

pada arus itu.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Minggu, 28 Juni 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 6/28/2015 05.54.00 AM

Berdirilah di sudut, katamu.

Raba tembok tua itu.

Di dekat pigura yang tergores pisau,

tertulis “1927”.


Siapa tahu kita akan tenang dengan ruang yang dihuni waktu: pintu kayu besi yang

dibalur lumut, engsel yang digerus asin laut, gambar dua mendiang presiden pada

dinding….


Mungkin mercu ini akan melindungi kita

dari hal-hal yang berarti,

dengan tamasya yang minimal.

Seorang penjaga pernah menuliskan

satu kalimat di langit-langitnya,

“Cahayaku memberikan segalanya ke samudera.”


Kita belum tahu siapa yang pernah di sini, adakah kita tamu di sini.

Tertahan di sepetak pulau, kita bisa juga betah dengan sebungkah karang

dan seonggok tanggul yang membiasakan diri kepada pasang – seperti semak

jeruju kering di utara yang tak jauh itu yang hampir hanyut, tapi selalu

menemui ombak.


Aku tak bisa jawab

apa yang akan lenyap

dan yang tiba

kelak.


Apa yang dicatat,

apa yang diingat?

Apa yang disimpulkan?

Jangan-jangan di mercu ini kita akan juga bikin sejarah, kataku.


Barangkali, jawabmu, tapi jangan cemas, sejarah hanya sebentuk origami,

kisah yang tersusun dari ingatan,

lipatan yang tak dijahit mati, camar kertas yang terbang diguncang angin

dan dipercakapkan dari jauh.


Kita juga yang kemudian membayangkan arahnya.


Menakjubkan bahwa kau begitu sabar.


Ah, berdirilah di sudut, jawabmu,

dan lihat: laut tak menginvasi.

Dari mercu ini kita akan mencoba mengerti badai

ketika langit tak bisa diharapkan.


**


Pada debur ombak berikutnya,

aku terkantuk dengan mimpi yang tipis:

Sebuah jung. Deretan layar malam.

Dua orang di buritan

yang tak tahu mereka di mana.

“Tapi kita bahagia,”

kata salah seorang di antaranya.


Sebenarnya mereka berharap

ada seseorang yang di bandar menantikan.

Tapi anak yang tertidur di dermaga dengan kostum kapas itu mengigau,

tak memanggil….


Ketika aku terbangun, angin meraung.

Di dinding kulihat bayang kita yang bongkok sedikit

dan Ajal yang bergerak

seperti siluet tangan seorang anak.


Barangkali di pucuk mercu suar ini

telah diterakan sepasang inisial –

nama yang akan lama tinggal

nama yang mati;

nama kita yang mati.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Sabtu, 27 Juni 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 6/27/2015 08.12.00 AM

— untuk Rudolf Mrazek


Dari jendela selnya,

(kita bayangkan ini Jakarta,

Februari 1965, dan ruang itu lembab,

dan jendela itu rabun),

ia merasa siluet pohon

mengubah diri jadi Des,

anak yang berjalan dari selat

memungut cangkang nyiur,

dan melemparkannya

ke ujung pulau.

“Aku selalu berkhayal tentang selat,

atau taman kembang, atau anak-anak.”


Itu yang kemudian ditulisnya

di catatan harian.


Maka ditutupkannya daun jendela

dan ia kembali ke meja,

ke peta dengan warna laut

yang tak jelas lagi.


Ia cari kapal Portugis.


Tapi Banda begitu pekat, dan laut

menyembunyikan ingatannya.


(Seorang pemetik pala

pernah mengatakan itu

di sebuah bukit

kepada Hatta).


Kini ia mengerti: juga peta

menyembunyikan ingatannya,

seperti malam Rusia

menyembunyikan sebuah kota.

Tiap pendarat tak akan

mengenali letak dangau,

jejak ketam pasir,

batang rambai yang terakhir,

di mana sisa hujan

agak disamarkan.


“Sjahrir. Bukankah lebih baik lupa?”


Seekor ular daun pernah menyusup

ke sandalnya dan ia ingat ia berkata,

“Mungkin. Mungkin aku tak akan mati.”


Esoknya ia berlayar.

Di jukung itu anak-anak mengibarkan

bendera negeri yang belum mereka kenal.


“Lupa adalah….”


“Jangan kau kutip Nietzsche lagi!”.


“Tidak, Iwa. Aku hanya ingin tahu

sejauh mana kita merdeka.”


Di beranda rumah Tjipto,

di tahun 1936 itu,

percakapan sore,

di antara pohon-pohon Naira,

selalu menenteramkan.

“Jangan beri kami altar

dan tuhan imperial,”

seseorang menirukan doa.


“Tapi kita dipenjarakan, bukan?”


Ya, tapi ini penjara yang pertama,

yang memisahkannya dari ingin

dan kematian.


“Ah, lebih baik kita diam,”

kata tuan rumah.

“Abad ke-20 adalah abad

yang memalukan.”


Di sana, di beranda rumah Tjipto,

menjelang malam, di tahun 1936,

mereka selalu tertawa

mengulang kalimat itu.


Di sini, (kita bayangkan di Jakarta,

Rumah Tahanan Militer, 1965),

ia tak pernah merasa begitu sendiri.


Hanya ada suara burung tiung

(atau seperti suara burung tiung)

ketika siang diam.


Tapi ia takut duduk.


Ia tak ingin menghadap ke laut,

(andaikan ada laut),

seperti patung Jan Pieterzoon Coen,

seperti pengintai di menara benteng

yang menunggu kapal-kapal

di dekat langit

sebelum perang.


Ia tak ingin duduk.


“Siapa yang menatap jurang dalam,

jurang dalam akan menatapnya.”


Mungkinkah ia sendiri

yang mengucapkannya di sel itu?


2014



Oleh :

Goenawan Mohammad