Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Sabtu, 28 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/28/2015 05:48:00 AM

Belum lengkap kusebut namamu. Sedangkan

Fajar telah lama mekar. Kabut pagi terus

Beringsut. Dan burung-burung bersiut-siut

Di antara reranting nangka milik tetangga


Mestinya telah kupanggil namamu berkali-kali

Ketika matahari membakar separuh rambutku

Bayang-bayang tubuhku menciut lebih pendek

Dari aslinya. Lalu kucium mesra keningmu


Masih tak kuseru namamu. Ketika para petani

Mulai menyirami bunga kol. Dan batang labu

Mengendorkan lilitannya di setiap pagar bambu

Tiang listrik berbayang-bayang lebih panjang


Tak kueja juga namamu. Padahal lembayung telah

Berkelebat di rerimbun markisa. Burung-burung

Bergegas pergi ke sarang di atas sunyi perigi

Dan matahari berkemas sembunyi ke balik bukit


Harusnya kukekalkan cinta sepanjang namamu

Sebelum kota sepi. Dan kita terbaring bersama

Mimpi. Tenggelam dalam temaram lampu. Hitam

Sepanjang malam. Lalu diam sepanjang namamu



Oleh :

Beni R Budiman

Jumat, 27 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/27/2015 06:04:00 AM

Dua rel kereta membagi kota yang tak mau

Mati. Lalu lalang orang sepanjang lorong

Pasar. Kendaraan yang datang dan pulang

Menghardik sepi, tapi juga membawa nyeri


(Aku masih terkenang ketika tanganmu, ayah

melayang pada kedua pipiku. "Aku ingin

bebas seperti unggas lepas," pekikku)


Dua rel bergetar. Angin kumbang berpusar

Di atas trotoar. Aku pun terkapar di setiap

Kamar yang membakar. "Selamat tinggal, ayah

Sebab setiap tempat adalah alamat. Tenanglah!"



Oleh :

Beni R Budiman

Kamis, 26 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/26/2015 01:52:00 PM

Kota larut dalam hujan. Cahaya-cahaya pun

Kabur terkubur. Pucuk-pucuk kelapa gemetar

Bambu-bambu kuning saling merapatkan pelukan

Menancapkan kuku-kukunya pada tanah dalam

Sampai gemerutuk sepi membentang sepanjang


Kawat listrik, menegang. Petir turun. Anakku

Menangis keras, memecah Iamunanku.leritnya

Meredakan hujan. Mengusir dan menghalau bakal

Badai topan. Dan mencipta kembali Bandung

Sebagai danau mutiara yang menyala. Orang pun

Berenang dan menyelam lagi di sana, berebut

Mimpi. Sedang aku menjelma badak yang berkubang

Sepi, menyusuri sungai dan hutan; nyeri sendiri



Oleh :

Beni R Budiman

Rabu, 25 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/25/2015 02:55:00 PM

Dengan pakaian berwarna kita bergaya.

Beriring Dalam barisan bebek. Kita kembali sebagai anak

Pada karnaval hari-hari besar. Wajah bercahaya

Mulut penuh gula-gula. Hari-hari tinggal canda


Siapa punya air mata ? Di sini tak ada kata bernama

Duka. Mimpi dan imaji mengalahkan luka

Derita ibarat bahasa karangan bunga. Kepedihan

Hanya milik pejuang di medan perang. Kesedihan

Melayang. Dunia dihiasi lampu dan umbul-umbul


Pesta terus dirayakan. Karnaval masih berjalan

Parade bergerak lamban. Penyair memilih diam:

Siapa punya air mata? Siapa lebih suka tangisan?



Oleh :

Beni R Budiman

Selasa, 24 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/24/2015 11:17:00 AM

Kamar ini menggenapkan kita sebagai petapa

Yang merana. Hiruk-pikuk menggoda dari luar

Jendela. Menciptakan gema yang melingkar di

Kamar. Dan melipat diri sebagai lagu sunyi


Siapakah kita di luar kamar ini? Sejumput rambut

Di atas daging dan sepi merambat seperti batang

Markisa di sepanjang lorong hati. Lalu kita lunta

Dalam kelana tanpa peta. Dan mulut kehabisan kata


Di dalam dan di luar kamar, akhirnya kita tetap

Petapa yang kekal memuja dusta. Dan doa ini satu

Minta: "Tuhan beri kami waktu untuk terus dosa!"



Oleh :

Beni R Budiman

Senin, 23 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/23/2015 11:40:00 AM

in memoriam li Hayati


Tepuk tangan penonton itu seperti iring-iringan

Doa. Dan lambaiannya menjelma untaian kata yang

Diucapkan pejuang sebelum pergi ke medan perang

Bangku kosong yang berbaris seperti menulis sajak


Liris. Tiba-tiba kau menangis selepas mengirim

Ciuman dan lakon yang tragis. Di luar gerimis

Tipis ibarat isyarat malaikat. Dan angin malam

Membawa keinginan hitammu yang lama terpendam


Kematian. Kematian bukan akhir cerita, katamu

Tapi awal dari lakon drama baru. Harapan abadi

Yang ragu. Panggung yang menunggu dan ditunggu

Kematian, cinta niscaya yang meminta dan memaksa



Oleh :

Beni R Budiman

Sabtu, 21 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/21/2015 11:26:00 AM

Duduk di beranda tengah han langit memangku

Tungku api. Matahari seperti sedang membakar

Poci dan cangkir tembikar. Menjerang laut dan

Danau kopi. Fantasi kita pun menulis cerita api


Dan burung-burung segera kembara sebelum

Menjelma abu dan bara rokok. Sekawanan ikan

Menjauh dari pantai sebelum menjadi buih

Daun-daun kuning seketika. Gugur sebelum

Rontok tiba. Angkasa mengobarkan satu nyala


Seorang anak menangis sampai suaranya habis

Berdoa agar cuaca segera berubah warna

Tapi angin dan hujan tak memberi jawaban

Selain buah kelapa yang jatuh di kepala. Pecah



Oleh :

Beni R Budiman

Jumat, 20 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/20/2015 01:38:00 PM

Seperti barisan mahoni di tepi jalan

Tubuhku tegak sepanjang ceruk subuh

Dan bayang hitamku terkapar di aspal

Menekuri arah kendaraan dan merkuri


Azan berkumandang mengajakku pulang

Tapi gema membuat banyak makna suara

Menggambar persimpangan bagi langkah

Dan cuaca menawarkan mimpi indah juga


Derita. Aku bimbang di antara bintang

Sisa. Dan sebuah tabrakan keras sulit

Terhindarkan. Aku berantakan dan luka

Hati belah dua dalam langit melankolia



Oleh :

Beni R Budiman

Kamis, 19 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/19/2015 11:31:00 AM

bersama Diwana Fikri Aghniya


Tiba-tiba saja kita seperti orang yang sedang

Belajar menjadi anak dan ayah. Di mesjid itu

Keharuan seperti sungai gunung mencari lembah

Dan kita hanyutkan harapan sampai ke ujung sepi

Muara bagi setiap doa dan ikan membuat janji


Kita pun menjelma puisi yang hidup di antara dua

Keabadian surga dan neraka. Kita berkhayal sebagai

Keluarga Lukman yang kekal sepanjang zaman. Tenang

Bersama wajah-wajah malaikat yang putih. Dan Tuhan


Kita terus kasmaran sepanjang kumandang azan. Dan

Lupa pada bumi yang selalu menyanyikan lagu pilu

Juga pada rumah yang penuh desah dan tumpukan

sampah


Kita terus berpelukan dalam irama Tuhan. Berlayar

Di antara pulau-pulau yang kemilau, mencari Lukman ...



Oleh :

Beni R Budiman

Rabu, 18 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/18/2015 01:31:00 PM

Di bawah gunung kesepian bergulung dan memuncak

Dan pada hamparan daratan kuabadikan kecemasan

Tebing batu cadas dan pinus-pinus yang mendengus

Angin mengirim cuaca sembab. Hujan, tertahan awan


Dan dalam suasana temaram pohon karet berbaris

Sujud dalam sakit yang sama. Memberat ke arah

Barat. Burung-burung pun datang dan pergi dalam

Irama yang pasti. Udara seakan sendu membatu


Dan hidup seperti kumpulan tenda yang dibangun

Dan diruntuhkan. Dan kematian berkibar pada tiang

Bendera di suatu perkemahan. Nyanyian yang rindu

Dilantunkan petualang di antara lereng dan jurang



Oleh :

Beni R Budiman