Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Minggu, 21 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/21/2014 06:42:00 AM

Aku mengaji, anwar anwar

Hidup dari pasar terbuka dalam tubuh

Orang tanah yang ditutup senja, anwar anwar

Berlari seperti kura tak henti membawa jagat

Irama abad, anwar anwar

Berdentang-dentang dalam dagingku

Minta perawan dalam sesaji langit yang jauh

Anwar membelah tubuh jadi kota mengalir

Menyimpan tanah dari hujan dan padi-padi

Anwar mengirim tubuh kaku ke daging-daging

Dihembus pasar ke pohon-pohon sunyi

Jadi penyair seribu tahun. O

Makani Tuhan dalam kuburmu anwar anwar

Aku orang sunyi berlalu dalam cerita



Oleh :

Afrizal Malna

Kamis, 18 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/18/2014 06:37:00 PM

Buat Wing Kardjo


Jejak bulan telah hapus

Bumi tinggal rawa peradaban

Kata-kata menjadi belantara nilai

Tak terbaca. Bencana demi bencana

Bahkan pertikaian antar sesama

Telah membunuh bahasa. Sungai-sungai

Yang mengalirkan lumpur dan lahar

Sumbernya berasal dari kemarahan


Tahun-tahun lindap, abad-abad gelap

Mengekalkan kesumat. Langit merendah

Berkaca pada lembaran sejarah

Yang penuh darah. Harimau dan ular

Mengaum dan menjalar

Tak tertahan. Naik-turun gunung

Keluar-masuk hutan

Merambah dunia tanpa peta


1983



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Selasa, 16 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/16/2014 07:39:00 PM

Aku mengapung

Ringan

Meninggi padamu. Bagai kapas menari-nari

Dalam angin

Jumpalitan bagai ikan

Bagai lidah api


Bau busuk mulutku, Anne

Seratus tahun memanggi-manggil

Namamu


Inilah zikirku:

Lelehan aspal kealpaanku, cairan timah

Kekeliruanku, gemuruh mesin keliaranku

Tumpukan sampah keterpurukanku

Selokan mampat kesia-siaanku


Aku tak tidur padahal ngantuk, tak makan

Padahal lapar, tak minum padahal haus

Tak menangis padahal sedih, tak berobat

Padahal luka, tak bunuh diri

Padahal patah hati


Anne! Anne! Anne!


Zikirku seribu sepi menombakmu

Menembus lapisan langitmu, membongkar

Gumpalan megamu, membakar pusaran

Kabutmu, menghanguskan jarak

Ruang dan waktu


Aku mencair

Bagai air

Mengalir padamu. Bagai hujan   

Tumpah ke bumi

Menggelinding bagai batu

Bagai hantu


Anne! Anne! Anne!


Inilah rentetan tembakan kerinduanku, lemparan

Granat ketakutanku, dentuman meriam kemabukanku 

Luapan minyak kegairahanku, kobaran tungku kecintaanku

Semburan asap kepunahanku


Aku tak mengemis padahal miskin, tak mencuri

Padahal terdesak, tak merampok padahal banyak utang

Tak menipu padahal ada kesempatan, tak menuntut

Padahal punya hak, tak memaksa

Padahal putus asa


Anne! Anne! Anne!


Zikirku seribu sunyi mengejarmu

Menggedor barikade pertahananmu, menerobos

Dinding persembunyianmu, mengobrak-abrik ruang

Semadimu, menghancurkan singgasana

Kekhusyukanmu


Bau busuk mulutku, Anne

Seratus tahun memanggil-manggil

Namamu



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Senin, 15 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/15/2014 04:02:00 PM

Kita melaju dalam rintik gerimis Yang menghapus semua alamat Dari ingatanku. Udara seperti

berombak Sungai memantulkan gema Napasmu gemetar Di ranting-ranting poplar

Jembatan itu mengangakan rahang Menyeret musim Yang meluncurkan perahu Dalam cuaca dingin.

Senja menjadi ajaib Di tengah kebisuanmu Dan redupnya angin

Ke sudut-sudut kafe Tak ada yang perlu dilabuhkan Kecuali jejak matahari. Sementara kau dan aku

Mungkin tak akan mengubah arah sunyi Dengan mencari kehangatan Pada gelas dan ciuman


1997



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Minggu, 14 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/14/2014 07:21:00 AM

Kau yang diselubungi asap

Kau yang mengendap seperti candu

Kau yang bersenandung dari balik penjara

Tanganmu buntung karena menyentuh matahari

Sedang kakimu lumpuh

Aku mencintaimu

Dengan lambung yang perih

Pikiran yang dikacaukan harga susu

Pemogokan serta kerusuhan yang meletus

Di mana-mana. Darah dan air mataku tumpah

Seperti timah panas yang dikucurkan ke telingan

Kubayangkan tanganmu yang buntung serta kakimu

Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang pemimpin

Aku mereguk bensin dan menyemburkannya ke udara

Lalu bersama mereka aku melempari toko

Membakar pasar, gudang dan pabrik

Sebagai pernyataan cinta

Betapa menyedihkan mencintaimu tanpa kartu kredit

Tanpa kamar hotel atau jadwal penerbangan

Para serdadu berebut ingin menyelamatkan bumi

Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda menerobos pagar besi

Anjing-anjing memercikkan api dari sorot matanya

Sementara aku melepaskan pakaian dan sepatu

Ternyata mencintaimu tak semudah turun ke jalan raya

Menentang penguasa atau memindahkan gunung berapi

ke tengah-tengah kota

Aku berjalan dengan membawa kayu di punggungku

Seperti kereta yang menyeret gerbong-gerbong kesedihan

Melintasi stasiun-stasiun yang sudah berganti nama

Kudengar bunyi rel yang pedih tengah menciptakan lagu

Gumpalan mendung meloloskan diri dari mataku

Menjadi halilintar yang meledakkan kemarahan

Pada tembok dan spanduk. Aku mencintaimu

Dengan mengerat lengan dan melubangi paru-paruAku mencintaimu dengan menghisap knalpot

Dan menelan butiran peluru

Wahai kau yang diselubungi asap

Wahai kau yang mengendap seperti candu

Wahai kau yang terus bersenandung meskipun sakit dan miskin

Wahai kau yang merindukan datangnya seorang pemimpin

Tunggulah aku yang akan segra menjemputmu

Dengan sebotol minuman keras


1998



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Sabtu, 13 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/13/2014 05:25:00 AM

Cahaya remang yang melumuri trotoar berbatu Menyentuh juga tiang-tiang lampu yang berukir indah

Sepanjang jembatan itu. Seperti jemari senja yang lentik Cahaya merayapi tubuh jalanan, memanjati

dinding-dinding pualam Lalu mengaburkan diri pada pusaran kabut yang berwarna:

Paris berkilauan dalam sebuah piramida kaca


1997



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Jumat, 12 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/12/2014 03:35:00 PM

Ingin kulepaskan hasratku Ke pusat gairahmu Seperti peristiwa-peristiwa biasa Yang dikekalkan waktu

Menjadi patung dan lukisan. Begitu pula jalan-jalan Kaki lima yang berliku Sungai besar Jembatan

jembatan tua Patung-patung serta lampu-lampunya

Sejak kulewati sebuah kastil dengan taman bunganya Kebun anggur tumbuh di dadaku Aku berjalan

dengan lonceng di telinga Mendirikan menara bagi pendengaranku Lalu membayangkan sepasang

air mancur Di kedua tanganku. Kumasuki semua butik dan museum Hingga aku menjadi sepatu di

halaman toko buku angka-angka tahun berloncatan Hari-hari meloloskan diri Dari perangkap

kesementaraan

Sungguh ingin kulekatkan gairahku Pada bunyi lonceng Katedralmu. Seperti adegan-adegan

pertobatan Sepanjang dinding marmar yang kekal Atau dilumuri ambar dan kemiri -- Lalu aku

berjalan sendiri Ke deretan bangku-bangku kosong itu Duduk, tersedu dan membusuk Bersama sajak

sajakku


1993-1997



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Rabu, 10 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/10/2014 06:58:00 PM

Aku masih digayuti kabut yang semalam melaju dalam tidurku Melewati petak-petak ladang, tangki air

dan lengkung biru Pebukitan. Rumah-rumah kotak yang kecoklatan Jalan-jalan kecil yang melingkar

serta sebuah sungai Yang berliku membelah perkampungan Semuanya bermuara di mataku

Ini masih awal musim semi, kureguk Hangatnya kopi serta bait-bait pendek Ungaretti Betapa angin

telah menggemburkan permukaan tanah Dengan lidahnya. Topan mengkilapkan wajah bebatuan

Sebuah lapangan kota lama yang lahir kembali Dengan katedralnya yang lain

Ini masih awal musim semi Semburat matahari menerobos kaca dan sayup-sayup Kudengar dengus

pepohonan yang menahan getar birahi Akar-akarnya. Ladang-ladang menghamparkan tikar pandan

Sungguh musim semi telah membangunkan tidur bumi Yang panjang. Ketika langit menguraikan

rambut ikalnya Sebuah kastil putih muncul dari balik pebukitan Dengan air mancurnya yang

menyemburkan kilatan cahaya


1993-1997



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Selasa, 09 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/09/2014 04:48:00 PM

Jarum pengelihatanku memasuki seluruh pori-pori

Dalam tubuhmu. Keindahan yang kugali sering menjelma api

Yang menyalakan sumbu urat-urat darahku

Aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu

Untuk kunyanyikan diam-diam. Tanganku meraba ayat-ayat

Tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh

Aku selalu ditenggelamkan sinar bulan

Mengupas kemolekanmu dengan pisau pikiran

Adalah sia-sia. Keindahan hanya bisa kurasakan getarnya

Seperti cinta yang membakarku tiba-tiba

Aku menggali cahaya dari kuburan-kuburan kenanganmu

Untuk kunyalakan dalam jiwa. Dengan kaki telanjang

Kumasuki rumah batinmu yang terbuka

Di lantai pualam aku bergulingan sepanjang malam



Oleh :

Acep Zamzam Noor

Senin, 08 September 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 9/08/2014 06:24:00 PM

Aku tidur dalam pelukan bunga layu

Memimpikanmu melayarkan bintang-bintang

Ke ranjangmu. Sungai-sungai

Air mata yang mengering dalam doa-doaku

Aku menulis semua yang dibidikkan angin

Membaca semua yang dituliskan semilirnya padaku

Bercakap dengan udara yang dingin:

Betapa cepat kuda ajal merebut semua jalanku

Lautan itu mengandung bulan

Kaulah yang memompa perut gelombangnya!

Ikan-ikan yang minum dari matamu

Burung-burung mabuk dalam kejaran pandanganmu

Kembali pada debu. Kupu-kupu

Merontokkan lembar demi lembar rambutku



Oleh :

Acep Zamzam Noor