Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Sabtu, 25 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/25/2014 05:38:00 AM

Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama?

Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna



Oleh :

Ajip Rosidi

Jumat, 24 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/24/2014 04:32:00 PM

Bayang-bayang yang digerakkan sang dalang

datang dan hilang, hanya jejaknya tinggal terkenang



Oleh :

Ajip Rosidi

Kamis, 23 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/23/2014 02:34:00 PM

Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening

Tak tepercik niat meloncat menerjang langit luas terbentang



Oleh :

Ajip Rosidi

Rabu, 22 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/22/2014 02:52:00 PM

padang rumput yang hijau menyapa setiap mentari bersinar,

buah kelapa besar tinggi menjulang di atas pohon, ingin ku 

petik tapi tak sanggup jua, gemercik air tanda bahwa ku

sedang termangu, ku nantikan ombak yang datang menerpaku,

bagai angin berjalan, bagai rumput bergoyang, bagai topan

menerkam, bagai ombak menerjang, bagai dirimu yang selalu

menantiku 



oleh :

Admin

Selasa, 21 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/21/2014 11:32:00 PM


lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal Malna tidak melanjutkan

sekolah. Pada tahun 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai

mahasiswa khusus hingga pertengahan dikeluarkan pada tahun 1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal

Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor

bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di

bidang seni, sebagai sutradara pertunjukan seni, kurator seni instalasi, penyair dan penulis.

Bukunya antara lain: Abad Yang Berlari (1984), Perdebatan Sastra kontekstual (1986), Yang Berdiam

Dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995), Kalung Dari Teman (1998),

Sesuatu Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000), Seperti Sebuah Novel yang Malas

Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003), Novel Yang

Malas Menceritakan Manusia (2004), Lubang dari Separuh Langit (2005). Penghargaan yang pernah

diterima: Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Nederland Wereldomroep (1981),

Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994), Esei majalah

Sastra Horison (1997), Dewan Kesenian Jakarta (1984).


Berikut ini adalah beberapa puisi karyanya antara lain :

Asia Membaca, Buku Harian Dari Gurindam Duabelas, Gadis Kita, Migrasi Dari Kamar Mandi, Mitos

Mitos Kecemasan, Lembu Yang Berjalan, Masyarakat Rosa, Warisan Kita, Kebiasaan Kecil Makan

Coklat, Chanel OO, Jembatan Rempah-Rempah, Workshop 5:Tawanan Aku, Tubuh Lublinskie Di

Lorong Es Hitam, Teknik Menghibur Penonton, Mantel Hujan Dua Kota, Mesin Penghancur Dokumen,

Proposal Politik UntuK Polisi, Di Seberang Selembar Daun, Menggoda Tujuh Kupu-Kupu, Seminar

Puisi Di Selat Sunda, Antri Uang Di Bank, Daftar Indeks, Beri Aku Kekuasaan, Ekstase Waktu, Penyair

Anwar.


Biografi :

Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahun 1981,

ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus hingga pertengahan

dikeluarkan pada tahun 1983. 

Selama kurang lebih sepuluh tahun ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi

muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai esais,

kurator seni rupa, penyair dan penulis.


Proses Kreatif :

Puisi, cerpen, dan esainya dimuat dalam Horison, Kompas, Berita Buana, Republika, Kedaulatan

Rakyat, Jawa Pos, Surabaya Post, Pikiran Rakyat, Ulumul Qur'an, dan lain-lain.

Tema puisi Afrizal Malna yang menonjol adalah pelukisan dunia modern dan kehidupan urban, serta

objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi objek-objek itulah yang menciptakan nuansa

dan gaya puitiknya. 

Imaji-imaji dalam kehidupan sehari-hari , secara berdampingan ditampilkan (jukstaposisi) secara

gaduh, hiruk-pikuk, hampir-hampir chaotic, kacau balau, semrawut, tercermin dalam judul-judul

puisinya, seperti: “Antropologi Kaleng-Kaleng Coca Cola”, “ Fanta Merah untuk Dewa-Dewa”, “Migrasi

di Kamar Mandi”, “Pelajaran Bahasa Inggris Tentang Berat Badan”. Afrizal tertarik pada menemukan

hubungan antara objek dalam puisi-puisinya, mencari—dalam kata-katanya sendiri—suatu “visualisasi

tata bahasa atas benda-benda” (a “visual grammar of things”).  Intimasi hubungan rahasia antar

objek-objek tersebut memberikan banyak informasi tentang puitika Afrizal. 

Pada tahun 1981, sebuah naskah dramanya memperoleh penghargaan dalam sayembara Kincir Emas

Radio Nederland Wereldomreop.

Karya dramanya yang berjudul Pertumbuhan di atas Meja Makan, terpilih dalam antologi drama Indonesia

seratus tahun yang diterbitkan Yayasan Lontar, serta diterjemahkan dalam versi bahasa Inggris dengan

judul Things Growing on the Table. Karya drama Afrizal tersebut merupakan salah satu contoh yang

representatif untuk karya yang muncul pada era postmodernisme Indonesia. Karya ini menentang

penggunaan narasi keseragaman yang dibentuk oleh Orde Baru di Indonesia. Dalam karya dramanya

ini, Afrizal yang juga bertindak sebagai editor, membangun suatu "perpecahan" (disunity) dengan

memecah belah atau membuat potongan-potongan dialog dari berbagai sumber berlainan, misalnya

potongan pidato presiden Soekarno dan wakilnya Mohamad Hattadigabungkan dengan dialog dari

Caligula karya Albert Camus dan Sandyakala Ning Majapahit karya Sanusi Pane. Dengan demikian,

melalui karyanya yang demikian, ia menolak hubungan kausalitas dan struktur naratif, ketika tokoh

Suami dan Istri dalam drama ini mengucapkan kutipan potongan-potongan kalimat yang tidak

berhubungan tersebut, sekaligus memaksa audiens untuk membangun sebuah cerita bagi diri mereka

sendiri. 

Afrizal menulis esai pengantar untuk buku kumpulan puisi beberapa penyair Indonesia, antara lain

Juniarso Ridwan, Soni Farid Maulana, Dorothea Rosa Herliany, Made Wianta, dan lain-lain).  Esainya juga terbit

pada antologi bersama antara lain, Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto ed., 1986)..

Sesuatu Indonesia: Esei-Esei dari Pembaca Tak Bersih adalah salah satu buku kumpulan esainya,

diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya pada tahun 2000.

Esainya dalam Senimania Republika, Harian Republika, 1994 memenangkan Republika Award.  Ia

juga menjadi pemenang esai di Majalah Sastra Horisonpada 1997. 

Sejak 1983 hingga 1993 menulis teks pertunjukan Teater Sae. Afrizal pernah mengunjungi beberapa

kota di Swiss dan Hamburg, memberikan diskusi teater dan sastra di beberapa universitas dalam

rangka pertunjukan Teater Sae (Mei-Juni 1993) yang mementaskan naskahnya.

Tahun 1995 bersama Beeri Berhrard Batschelet dan Joseph Praba, mementaskan seni instalasi Hormat dan

Sampah di Solo.  Pada tahun 1996berkolaborasi dengan berbagai seniman dari beragam disiplin

mengadakan pertunjukan seni instalasi ''Kesibukan Mengamati Batu-Batu'' di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tahun 2003, mementaskan Telur Matahari berkolaborasi dengan Harries Pribadi Bah dan Jecko Kurniawan.

Beberapa buku prosa: cerita pendek atau novel, karya Afrizal Malna, antara lain: Dalam Rahim Ibuku

Tak Ada Anjing (2003), Seperti Sebuah Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (IndonesiaTera, 2004),

Lubang dari Separuh Langit (2005).

Cerpennya pernah masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas, antara lain Pistol Perdamaian (1996), dan

Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997).

Berkat prestasinya di bidang kepenulisan, Afrizal Malna beberapa kali diundang dalam festival dan

acara sastra nasional maupun internasional, seperti Festival Penyair International di Rotterdam, Belanda

(1995) dan Utan Kayu International Literary Biennale di Jakarta 2005.


Penghargaan :
·         Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994),·         Esei majalah Sastra Horison (1997)·         Dewan Kesenian Jakarta (1984)·         1981: Radio Nedherland Wereldomroep untuk naskah drama Surat·         1987: Dewan Kesenian Jakarta untuk buku puisi Abad Yang Berlari·         1994: Republika Award dari harian Repulika untuk esei·         1996: Pusat Pembinaan dan Pengembahan Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya untuk buku puisi Arsitektur Hujan·         1997: Majalah sastra Horison untuk esei·         2006: Penghargaan Adibudaya dari Departemen Pendidikan untuk puisi·         2008: Man of The Year dari majalah Tempo untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa·         2010: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa SEA Write Award dari Bangkok untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa (penghargaan tidak diambil)



Sumber

Senin, 20 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/20/2014 03:28:00 PM

Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Tapi kami masih hadapi langit yang sama, tanah yang

sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi, jadi batu dalam pesawat-pesawat TV; setelah waktu-waktu

yang menghancurkan, dan cerita lama memanggili lagi  dari negeri lain, setiap kata jadi berbau

bensin di situ. Dan kami terurai lagi lewat baju-baju lain. Asia. Kapal-kapal membuka  pasar,

mengganti naga dan lembu dengan minyak bumi. Membawa kami ke depan telpon berdering.


Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan.Mengantar pembisuan jadi jalan-jalan di

malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta yang lain  lagi,

mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca, menulis yang tak boleh

ditulis.


Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman. Asia. Kami

pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta kata. Asia hanya

ditemui, seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat bahasa dilahirkan.


Asia.


1985  



Oleh :

Afrizal Malna

Minggu, 19 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/19/2014 07:02:00 PM

Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah permulaan

kalam.”  Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra, barang-barang

elektronik juga. Tetapi seseorang mencarimu hingga Piz Gloria, kubah-kubah putih yang mengirimku

hingga Senggigi. 150 tahun kematian Friedrich Holderlin, jadi penyair lagi di    situ, hanya untuk

menjaga cinta. Gerimis membawa kota-kota lain lagi, tanaman palma dan kenangan di jendela: Siti

berlari-lari, menyapu halaman jadi buah mangga, apel, dan kecapi juga.


Kini dia bukan lagi kisah batu-batu, pelarian tempo dulu, atau  seorang biu mengajar menyapu. Kini

setiap tubhnya membaca Gurindam Duabelas, mengirim buku harian, untuk masa silam  seluruh

unggas. Kita saling mencari, di antara pikiran yang dicurigai, lebih dari letusan, menumbangkan

sebuah bahasa di malam hari. “Puan-puan dan Tuan-tuan,” kata Siti,”aku melayu dari Pejanggi.” ...

Dan sungai Siak jadi sepi, jadi lebih dalam lagi dari Gurindam Duabelas.


Lenganmu, membuat bahasa lain lagi di situ; untuk orang-orang di pelabuhan, menjual beras,

sayuran, radio, ikan-ikan juga. Dan aku berlari-lari. Ada rumah di situ, setelah jalan berkelok.Ini

untukmu, bahasa dari letusan itu, penuh suaramu melulu.


1993



Oleh :

Afrizal Malna

Sabtu, 18 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/18/2014 06:54:00 AM

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku.

Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Ja-  ngan buat pantai

sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan

tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah.

Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni

gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua

dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu

jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu

kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.


1985



Oleh

Afrizal Malna

Kamis, 16 Oktober 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 10/16/2014 02:30:00 PM

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain.

Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran dengan ke- matian

dalam pikiran: “Neraka adalah orang-orang lain.” Tak ada yang memberi tahu di situ, bagaimana

masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas

pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.


Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi setelah hari

hari kemerdekaan, di Peka-   longan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan lama dari tebu, udang

dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan Sartre yang menurunkan

kapak, rantai penyiksa, alat-alat pembakar bahasa. Tetapi mikropon meraihku, mengumumkan

migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.


Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggallkan dirinya sendiri. Migrasi telah

kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari rotasi-rotasi yang hilang,

dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah orang lain.


1993



Oleh :

Afrizal Malna

Posted by Dwiki Syahputra On 10/16/2014 12:48:00 PM
Dual Way Backpack: Dual Way Backpack With Lock Detail by Something Borrowed. Multifunction bag that you can use in two way, complete your edgy look with this edgy bag. With one main compartment, inner pocket and gadget sleeve, handle drop 30 cm, shoulder strap 52 cm. With white white color and black, this bag look so clean and look so minimalist.






Find this cool stuff here: http://zocko.it/LE56A