Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Senin, 03 Agustus 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 8/03/2015 06.16.00 AM

Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara

kutata kalimat alif bata, walau tak peduli hati patah

Betapa takjub aku pada lidah, tak bertulang pula

Lidah kubasahi ludah, begitu jika bermain lidah

Lidah bikin hati gundah, tubuhku jadi basah

Tapi ada orang tak tahu diri pada lidah

dipakainya lidah untuk sumpah serapah

Padahal lidah tajam bagai pedang membelah

Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara

tak peduli pada siapa benar siapa salah



Oleh :

Gola Gong

Minggu, 02 Agustus 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 8/02/2015 06.52.00 AM

Berkacalah, negeriku ketika mahasiswa menjadi bara, bara membara di seluruh negeri nyaw

 dijadikan coba-coba, coba-coba taruhannya nyawa masyarakat menangis dijadikan maling,

maling sungguhan tertawa-tawa fakta jadi isapan jempol, jempol dan telunjuk serupa pelatuk

(kemudian berakhir di meja-meja perundingan sambil mencungkili slilit dengan gelondongan

kayu) Berkacalah, negeriku ketika petani menanam padi, padi dimakan belalang, belalang

dimakan petani, petani menanam harapan, hutan jadi asap, asap terbang ke negeri tetangga,

tetangga sedia menyumbang, sumbangan membuat rakyat sengsara (kemudian para orangtua

menangisi masa depan sambil menyuapi bayi-bayi nusantara dengan susu air tajin)

berkacalah, negeriku, kau tak perlu berbedak berkacalah, negeriku, kau tak perlu malu

kebon jeruk, mei berdarah



Oleh :

Gola Gong

Sabtu, 01 Agustus 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 8/01/2015 06.51.00 AM

Belajarlah pada embun, tak pernah mengutuk matahari

Yang menjadikannya tiada, walau denyut masih panjang.

Sementara dinding-dindingku terbatas oleh hari

Melulu umpatan ketidakpastian yang lengang.

Belajarlah pada ikan, yang mengabdi pada nelayan

Yang membuatnya bermakna, walau terbelenggu

Kemiskinan.

Sementara kitab-kitab dan kisah nabi lelah kita baca

Menjadikan Alif bata terbentur ke dunia kaca.

Belajarlah pada katak, tak capek memanggili hujan

Walau diburu dan berujung di meja-meja restoran.

Sementara aku darah daging Illahi, belajar pada

Rahasia alam

Menjadikanku ada, tak lepas dari sujud malam.



Oleh :

Gola Gong

Jumat, 31 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/31/2015 08.03.00 AM

— Variasi atas Babad Tanah Jawi


Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17…, di sebuah pagi

Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.


Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,

tinggi, dan seorang abdi berkata, “Ada juga lolong serigala

ketika Kurawa dilahirkan.”


Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.


Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat

Pergi, tak akan kembali.


Pada umurku yang ke-21, aku ditangkap.


Debu kembali ke tanah

Jejak sembunyi ke tanah

Sukra diseret ke sana

Seluruh Kartasura tak bersuara

Sang bapak menangis kepada angin

Perempuan kepada cermin

“Raden, raden yang bagus,

pelupukku akan hangus!”

Apa soalnya? Kenapa aku, mereka tangkap tiba-tiba?

Para prajurit itu diam, ketika mataku mereka tutup.

Kuda-kuda bergerak. Aku coba rasakan arah dan jarak. Tentu

saja tak berguna.


Pusaran amat panjang, dan tebakan-tebakan amat

sengit, dalam perjalanan itu.

Sampai akhirnya iringan berhenti.

Tempat itu sepi.


“Katakanlah, ki sanak, di manakah ini.”

“Diamlah, Raden, tuan sebentar lagi

akan mengetahuinya sendiri.”


Ada ruang yang tak kulihat.

Ada gema meregang di ruang yang tak kulihat.


Kemudian mataku mereka buka. Lalu kulihat pertama kali

gelap sehabis senja.


Aku pun tahu, setelah itu

tentang nasibku. Malam itu Pangeran, Putera Mahkota

telah menghunus kehendaknya.


Siapakah yang berkhianat

Kelam atau kesumat?

Kenapa nasib tujuh sembilu

Menghadang anak itu


“Tahukah kau, Sukra, kenapa kau kuperintah dibawa kemari?”

(Suara-suara senjata berdetak ke lantai)


“Tidak, Gusti.”

“Kausangka kau pemberani?”


Aku tak berani. Mata Putera Mahkota itu tak begitu nampak,

tapi dari pipinya yang tembam kurasakan geram saling mengetam,

mengirim getarnya lewat bayang-bayang.


Suara itu juga seperti melayang-layang.


“Kau menantangku.”


Kuku kuda terdengar bergeser pada batu.


“Kau menghinaku, kaupamerkan kerupawananmu, kauremehkan

aku, kaupikat perempuan-perempuanku, kaucemarkan

kerajaanku. Jawablah, Sukra.”


Malam hanya dinding

Berbayang-bayang lembing.

“Hamba tidak tahu, Gusti.”


Bulan lumpuh ke bumi

Sebelum parak pagi.

“Pukuli dia, di sini!”


Duh, dusta yang merah

Kau ingin cicipi asin darah

“Masukkan semut ke dalam matanya!”


Seluruh Kartasura tak bersuara



Oleh :

Goenawan Mohammad

Kamis, 30 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/30/2015 07.50.00 AM

Tak seorang akan tahu

kur siapa yang nyanyi

pada sebuah magrib

dalam mimpiku


Tak seorang akan tahu


Tujuh orang hitam ikut menangis

untuk seorang gubernur

yang menghilang dengan sebuah tangga listrik

yang berjalan dalam mimpiku


Tak seorang akan tahu


Aku pun ikut sedih. Hari sudah gelap,

tanah airku. Dan serombongan pemain debus

meramal buruk

tentang perang saudara dalam mimpiku


Tak seorang akan tahu



Oleh :

Goenawan Mohammad

Rabu, 29 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/29/2015 10.00.00 AM

— untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo


Semakin ke tangah tubuhmu

yang telanjang

dan berenang

pada celah teratai merah


Ketika desau angin berpusar

ikan pun

ikut menggeletar


Dari pinggir yang rapat

membaur ganggang.

Antara lumut lebat

dan tubir batu

ada lempang kayu apu

yang timbul tenggelam

meraih

arus dan buih


Sampai badai dan gempa seperti menempuhmu

dan kau teriakkan

jerit yang merdu itu

sesaat sebelum kulit langit biru

kembali, jadi biru


Engkau dewa? kau bertanya

Engkau matahari?


Laki-laki itu diam sebelum menghilang

ke sebuah asal

yang tak pernah diacuhkan:

sebuah khayal

di ujung hutan

di ornamen embun

yang setengah tersembunyi.


Yang tak pernah kau miliki, Kunthi

tak akan kau miliki.



Oleh :

Goenawan Mohammad

Posted by Dwiki Syahputra On 7/29/2015 08.47.00 AM
Privacy Policy for Kumpulan Puisi Dwiki

If you require any more information or have any questions about our privacy policy, please feel free to contact us by email at Contact Page
At kumpulanpuisidwiki.blogspot.com, the privacy of our visitors is of extreme importance to us. This privacy policy document outlines the types of personal information is received and collected by kumpulanpuisidwiki.blogspot.com and how it is used. 


Log Files

Like many other Web sites, kumpulanpuisidwiki.blogspot.com makes use of log files. The information inside the log files includes internet protocol ( IP ) addresses, type of browser, Internet Service Provider ( ISP ), date/time stamp, referring/exit pages, and number of clicks to analyze trends, administer the site, track users movement around the site, and gather demographic information. IP addresses, and other such information are not linked to any information that is personally identifiable. 


Cookies and Web Beacons

kumpulanpuisidwiki.blogspot.com does use cookies to store information about visitors preferences, record user-specific information on which pages the user access or visit, customize Web page content based on visitors browser type or other information that the visitor sends via their browser. 


Third Party Privacy Policies

You should consult the respective privacy policies of these third-party ad servers for more detailed information on their practices as well as for instructions about how to opt-out of certain practices. kumpulanpuisidwiki.blogspot.com's privacy policy does not apply to, and we cannot control the activities of, such other advertisers or web sites. 

If you wish to disable cookies, you may do so through your individual browser options. More detailed information about cookie management with specific web browsers can be found at the browsers' respective websites.

Selasa, 28 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/28/2015 07.05.00 AM

Di tromol itu kulihat permen dan bintang-bintang

dan gambar seorang perempuan pirang.

Ia memperkenalkan: “Aku dari sebuah masa kecil.

Kau kukenal dalam kenangan.”


Sebenarnya aku tak banyak punya kenangan

tapi malu untuk ditertawakan.

“Oh, ya, siapa ya nyonya, kapan datang dari Belanda?”

Ia tertawa: “Salah, aku merk manisan Amerika.”



Catatan : 

Mita adalah nama kecil dari putri Goenawan Mohammad.



Oleh :

Goenawan Mohammad 

Senin, 27 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/27/2015 06.20.00 AM

Seperti dalam film lama

kotapun terbelah besi

trem terendam

dalam kabut


hanya ada sisa hingar

sebentar

di ingatan

paling awal


dan suara serakmu, dulu,

pada sebuah jembatan,

pada sebuah sungai tua, ketika

sebuah proyektil


terlontar jauh:

mimpi

selurus mimpi.

waktu itu


lampu iklan biru,

seperti kematian

tak menyentuh

tubuhku.


Kini seperti dalam film lama

toko-toko menghilang

gang & taman tenggelam,

hujan


tak terdengar

dan kau berangkat

dari sisi ini…

Terlalu cepat, kataku


Tidak, katamu. Telah kulihat

kilat lenyap

di gelas hitam

itu



Oleh :

Goenawan Mohammad

Minggu, 26 Juli 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 7/26/2015 11.35.00 AM

Di dekat rumah yatim-piatu

Sinterklas terbunuh oleh peluru

“Piet Hitam telah menembakku!”

Dan anak-anak termangu


Di dekat persimpangan lima

Polisi menahan seorang mahasiswa Afrika

Ia memang bersenjata, dan konon berkata:

“Aku telah merdeka!”



Oleh :

Goenawan Mohammad