Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Kamis, 23 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/23/2015 06:34:00 AM

bunga yang kutanam dalam tidurku, tumbuh

dalam pot pot yang tak jadi kulukis, daun daunan

mengembang. halaman semak semak telah berubah

taman. rumahku dalam etalase.


berpasang mata mengancamku! kemudian seseorang

mengguyurkan hujan dari sebotol vodka. mabukmu

mendidih. mengucapkan kata kata sampah, dan 

berubah peradaban!



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Rabu, 22 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/22/2015 11:21:00 AM

akhirnya kita akan bertemu di garis yang sama.

di lengkung langit hitam dan bukitan berkabut.

di tanah tanah bergelombang, dan gurun yang

berhutankan epitaf epitaf. engkau ukur

seberapa jauh yang sudah kita tempuh dengan doa

dan dosa, seperti keledai yang kecapaian, merangkak

dalam dengus dan mata terkatup katup.

tubuh yang payah ini meneteskan keringat dan darah.

membasuh wajah letihmu. seperti matahari, mengucak

cahayanya dari mega yang usil!


kesabaran kita membeku di pintu peron. Rel rel

memanjang dan dingin. seperti itulah waktu yang

mengurungmu dalam lantunan lagu lagu sumbang.

tembang perkutut dan desis ula rular melata di hatimu.

mengelupas sisik sisik dan bisa yang mengerak

di dinding dinding hati. waktu dan ruang yang

berdesakan dalam menunggu. Baris baris gerimis

di kaca dan suram cahaya menembus kesunyian

yang kita dekap.


di atas rel yang hitam itu keranda keranda diusung

ke rumah rumah yang tak kita tuju. kubayangkan para

gembala menggiring domba domba hitam,

pulang senja.

mereka mengurai syair syair kesedihan dan lagu lagu

kehilangan. pulang, entah ke mana.


dan di sini kita mengukur waktu, sebelum

lokomotif itu menyeretmu. Gerbong gerbong

berderit dalam ngilu. lalu

mendadak kita tergagap: tiba tiba menemu jalan buntu.

kita sampai pada dinding waktu

yang tak bosan menunggu.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Selasa, 21 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/21/2015 01:58:00 PM

di sinikah tepi bagimu, ketika segalanya berubah

abu. tinggal asap. kau tak mampu menyingkapkan tirai

tipis itu. debur laut makin jauh. melongokmu.

di sinikah tepi bagimu?


mulut mulut masih bercerita: apa arti kenangan bagi

benang yang tak rampung kau pintal? semua

menyisipkan bunga bunga pada kata katanya. masih 

kebohongan dan kepalsuan yang melepaskanmu.


di sinikah tepi bagimu, laut tak memberikan garam.

tapi matahari menyebarkan asing siang yang terik.

keringat keringat pertentangan. Tendang menendang

kehidupan yang disyahkan. sebuah kota sebelum ajal.

di sinikah tepi bagimu?


sebuah stasiun bisu. Gerbong gerbong jadi keranda.

bergerit dalam ngilu. kehitaman lokomotif dan dengus

: batuk dalam darah di dadamu! kehidupan inikah

tepi bagimu.


tilgram tak terbaca di mejaku. Kado kado

belasungkawa tak pernah dikirimkan. duka sudah

habis. juga pada toko toko swalayan. tinggal harapan

pada pantat lalat yang terpeleset kilau keangkuhan lelaki

di belakang loket.


menontonlah kita di kejauhan!



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Senin, 20 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/20/2015 06:02:00 AM

mungkin mesti begini, ulat ulat itu membangun

kepompongnya. Melipat lipat daun: percaya tak akan

direbahkan ke bumi, sebelum segala mimpi usai.


kau sendiri kadang tertawa tawa. hidup yang

terlampau sederhana. seperti ulat ulat itu

: melipat lipat kitab, mencari cari tuhan

di antara suara dan cahaya!


tapi ulat ulat itu, abadi dalam kesederhanaan liur

yang merenda. bertapa dalam kesunyian cahaya.

menuliskan perjalanan tak teraba!



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Minggu, 19 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/19/2015 06:29:00 AM

Kau baringkan diriku di atas tanah. betapa

fana gairah yang meletupkan kebencian. dan

aku mabuk bercumbu dengan pikiran sendiri.


seperti inikah kenikmatan senggama?

kita tebar ribuan benih yang menjamurkan

kebencian dan kecewa. gemeretak bunyi tulang

yang membajak tanah kering dan batu bebukitan.

kecipak air dalam sungai tanpa arus. tak

ke mana mana.


seperti inikah? kaubaringkan diriku di atas

tanah. dan nafasku menyebarkan aroma yang

dihirup para serangga. dan mengembunkan uap

yang menyejuki cacing cacing tanah dan ulat ulat.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Sabtu, 18 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/18/2015 03:36:00 PM

kutempuh perjalanan dalam lagu lagu dan

notasi-notasi bungkam: dalam kegagapan. setelah 

lelah kita berdesak desakan. Berderet deret menunggu

di depan loket. begitu setia menunggu.


kau tak henti mengurai senandung kecemasan. dalam

gerit pintu yang tak terkunci. sampai jam dan

dinding dinding mengetukkan panggilan. kita masih

menghitung beban dan panjang igauan.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Posted by Dwiki Syahputra On 4/18/2015 07:37:00 AM

dari sumur yang sama kutimba darah dan

keringat semua orang. kusaring kebekuan, lalu

kutiup: menjadi bulan.


cahaya menyelinap antara rindang peradaban.

masihkah kau butuh bayang bayang?


kuikat purnama dengan lidahku, setelah letih

memeras darah dan keringat sendiri. kukembalikan

bagi langit suwung.


tiba tiba mendung. bulan kehilangan bayang.

kupanggil anak anak. biar menadah air mata

sendiri.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Jumat, 17 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/17/2015 07:01:00 AM

Engkau bawakan aku bunga-bunga. di sini pasir,

semak dan lumut melulu. kadang bauan busuk

dan bahkan bangkai bangkai. kepiting tak

menyisih menyambutku.


di mana ruang yang kausediakan buatku?

buat percintaan maha dahsyat. buat pertempuran

tak usai usai. nafsu yang senantiasa membuahkan

kebencian dan bencana.


aku rebah di tanah basah. mengandung

racun dan beranak peradaban kering nurani.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Kamis, 16 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/16/2015 09:45:00 PM

aku sampai entah di mana. Berputar putar

dalam labirin. perjalanan terpanjang

tanpa peta. dan inilah warna gelap paling

sempurna. kuraba gang di antara sungai 

dan jurang.


ada jerit, serupa nyanyi. mungkin dari 

mulutku sendiri. kudengar erangan, serupa

senandung, mungkin dari mulutku sendiri.


tapi inilah daratan dengan keasingan paling

sempurna: tubuhmu yang bertaburan ulat ulat,

kuabaikan. sampai kurampungkan kenikmatan

sanggama. sebelum merampungkanmu juga

: menikam jantung dan merobek zakarmu,

dalam segala ngilu.



Oleh :

Dorothea Rosa Herliany

Rabu, 15 April 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 4/15/2015 11:58:00 AM

dengan sadar, aku kawini rumah rumah kardus.

tanpa cincin kawin, selain kemiskinan dan

ilmu daur ulang. tanpa perjamuan, selain wabah

dan ilmu tata kota. tanpa nyanyian pengiring,

selain ketergusuran hewan hewan jelata.


dengan sadar, aku nikahi dunia yang gelisah.

sambil kuganti doa jadi harapan. kuganti

janji jadi ratapan.


kunikahi jaman yang sekarat minta susu.

pengantin yang tak pernah ku nikahi, tapi

minta menetekku dengan bahasa ketakutan.



Oleh : 

Dorothea Rosa Herliany