Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Selasa, 25 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/25/2014 04:44:00 PM

Tiada yang lebih aman, pun tiada yang lebih nikmat

Membayangkan masalampau yang dalam kenangan terpahat.


Tiada yang lebih berat, pun tiada yang lebih berarti

Dan saat kini yang 'kan seg'ra lepas pula jadi mimpi.


Tiada yang lebih gamang, pun tiada yang lebih senang

Menghadapi masadatang, yang 'kan segera jadi sekarang.


Detik-detik berloncatan, tak satu pun kembali terulang

Karena antara tadi dan nanti, sekarang menghalang.


1962



Oleh :

Ajip Rosidi

Senin, 24 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/24/2014 07:01:00 PM

Air beterjunan dalam jeram

Buihnya memercik ke tebing tempat kami berbaring

Dan ia mengelaikan kepala

Dengan mata meram terpejam

Atas tanganku yang mencari-cari

Arah manakah burung gagak hinggap

yang suaranya nyaring

Memecah ketenangan hutan

Sehabis hujan.


Air beterjunan dalam jeram

Jerom gemuruh dalam darahku

Dan dalam mimpi keabadian yang nyaman

Kubisikkan kata-kata bagaikan desir angin

Mengeringkan keringat atas kening

Sedang mataku memandang tak yakin

Air berbuih yang menghilir

Entah kapan 'kan tiba

Di muara


Air beterjunan dalam jeram

Kata-kata beterjunan dari mulutku

Sungai pun tahu arti muara

Yang tak sia-sia menunggu.


Burung gagak berteriak entah di mana

Dan ia bersenandung entah mengapa

Karena dalam kesesaatan tak terjawab tanya lama


Yang sudah lama hanya tanya: Hingga mana? Pabila?

Mau apa... ?


Dan dengan jari-jari gemetar

Kuyakinkan hatiku sendiri: Segalanya

Berlaku percuma serta sia-sia


Dan perempuan ini 'kan mati dalam kepingin

Karena angin hanya angin


Karena jeram beterjunan dalam diriku

Yang tak mengenal musim kemarau


Air beterjunan dalam jeram

Dan jeram beterjunan dalam darahku.


1962



Oleh :

Ajip Rosidi

Minggu, 23 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/23/2014 05:48:00 AM

Di luar alam gerimis

karena kau menangis

dan airmatamu

membasahi dadaku.


Padang ilalang bergelombang

dan angin semilir,

rumpun bambu berkesiur, burung terbang,

gemuruh airterjun, menghilir

Adalah mimpi yang jauh

adalah harapan yang jauh

dalam cinta yang rapuh.


Yang abadi

di dunia sebelum mati

hanya kenangan

yang muncul sesekali


1963



Oleh :

Ajip Rosidi

Sabtu, 22 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/22/2014 06:08:00 AM

Hari ini hari hati percaya

Akan arti hidup dan mati, yang cuma sempat

Direnungkan setahun sekali. Sungguh besar maknanya

Jalan panjang menuju liang-lahat.


Hari ini hari kesadaran akan tradisi

Menyempatkan umat sejenak bersama-sama

Menghirup udara lega dalam kepungan derita

Sehari-hari yang bikin orang jauh-menjauhi.


Hari ini hariku pertama 'kan menjalani

Hidup antara manusia, sedangkan diriku sendiri

Makin sepi terasing, lantaran mengerti

Kelengangan elang di langit tinggi.


Jatiwangi, H. 1381



Oleh :

Ajip Rosidi

Jumat, 21 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/21/2014 06:43:00 PM

Pabila harituaku tiba, kelak suatu masa

Kacamata tebal atas hidung, bersenandung

Menembangkan lelakon lama. La1u tersenyum

Memandang bayangan atas kaca jendela

Yang putih warnanya, sampai pun alis, bulu mata ...


Maka namamu 'kan kusebut, dengan bibir gemetar

Bagai ayat kitab suci, tak sembarang boleh terdengar

Namun kala itu yang empunya nama entah di mana

Apakah lagi menyulam, duduk bungkuk atas kursi rotan

Ataukah sedang menimang cucu, mungkin pula telah lama

Aman berbaring dalam tilam penghabisan.


Dan pabila giliranku tiba, telentang

Dengan kedua belah tangan bersilang

Sebelum Sang Maut menjemput

Sekali lagi namamu 'kan kusebut, lalu diam. Mati.


1963



Oleh :

Ajip Rosidi

Kamis, 20 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/20/2014 10:16:00 PM

buta oleh dusta yang membias-silau

nilai-nilai kebenaran pun disembunyikan:

namun di antara semak-rumputan hijau

ia tetap bersinar kemilau:

Tak nanti terpadamkan!



Oleh :

Ajip Rosidi

Rabu, 19 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/19/2014 04:28:00 PM

Ia terbujur

Bumi subur

Lembah-lembah dan gunung

Telentang tenang

Tangannya mengusap sayang

Perut mengandung.

Matanya nyalang

Langit-langit pun hilang

Karena langit penuh bintang

Dan pahlawan menyandang pedang

Naik kuda hitam zanggi

Adalah masadepan si-jabang

yang dalam rahim

menggeliat geli.

la memejam

Menahan nyeri.

Lalu terbayang

Bundanya tersenyum di ambang

"Tidakkah dahulu

Kusakiti juga bundaku?"

Keringat bermanik bening

Atas jidat, kening.

Ia mengerang

Dan malam yang lengang

Mendengar lantang

Teriakan si-jabang.


1961



Oleh :

Ajip Rosidi

Posted by Dwiki Syahputra On 11/19/2014 12:15:00 AM

Kalau aku bicara padaMu, Tuhan

Bukan mau mengadukan dera dan derita

Tak kuharap Kau berdiri di depan

Ke dahiku mengeluskan tangan mesra


Kalau kutulis sajak ini, Tuhan

Bukan lantaran rindu-dendam atau demam

Tak kuharap Kau membacanya

Sambil duduk mengisap pipa kala senja


Karena Kau lebih tahu apa rasa hatiku

Dan mengerti bagaimana pikiranku

Karena Kau paling Aku dari aku

Yang terkadang kesamaran sama bayangan.


8-1-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Senin, 17 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/17/2014 07:17:00 PM

Makin terasa, betapa sendiri

Hidupku bermukim di bumi. Tiada kawan

yang mau mengulurkan tangan

dan sedia bersama menempuh jalan

tatkalaa tiap langkah buntu.


Tak seorang pun, juga Kau

datang mendekat, menepuk-nepuk bahu

menganjurkan tabah dan jangan ragu.

Tiada. Hanya aku saja lagi

yang setia padaku. Hidup bersama

dalam duka dan putusasa.


Hanya aku jua, yang tetap cinta

kepada hidupku, tiada dua! Duh, tiada

lagi yang lain kujadikan gagang

tempat sirih pulang.

Rasa sendiri di dunia ramai, mengeratkan

aku padaMu, sepi-mutlak!

Rasa lengang di tengah orang, menyadarkan

antara Kau dan aku tiada jarak!


Saat seluruh bumi diam sunyi ....


16-4-1960



Oleh :

Ajip Rosidi

Minggu, 16 November 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 11/16/2014 06:14:00 AM

Kau yang menjenguk ke dalam relung hatiku

Meninggalkan jejak menjadi saksi. Sejarah, pahatan batu .

Dari dendam yang rindu. Tak nanti

Hidup hanya rangkaian mimpi-mimpi. Aku tahu!


1969



Oleh :

Ajip Rosidi