Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Minggu, 31 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/31/2014 01:12:00 AM

Keranjang itu masih menatap. Tahun mau berbunga

Tapi langit berangkat kemarau di jendela


Tanganmu: Mulut yang mengucapkan kebenaran ombak

Tapi pendayung-pendayung datang terlambat


Kita jenguk ke air. Obor itu menyalakan malam

Angin itu angin kita. Tapi tak menghembus sampai senja

            lain tiba.



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Jumat, 29 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/29/2014 10:58:00 PM

Manusia bebas, ruhnya bagai

firman Tuhan, embun dalam cuaca putih

mencucinya

Manusia bebas, ruhnya berjalan

ke tempat-tempat jauh dan menemui para nabi dan orang suci


Di muka laut, ditemuinya batu karang

dan awan buruk


Manusia bebas, ruhnya bagai

rantai emas yang dibelenggu matahari dan waktu


Di tengah alam yang sempit: Nasib

menyesak jantung dan tenggorokan

dan menimbulkan batuk dan dahak kotor

di tengah alam yang sempit: Kita

mencari puncak kenikmatan


Manusia bebas, ruhnya mencari

bayang-bayang Tuhan


gambar binatang

perwujudan dewa-dewa

yang putus asa


Di gerbang kuil besar:

Ruh terbang dan tidak kembali



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Rabu, 27 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/27/2014 11:23:00 PM

...

Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Tanahku, negeriku, yang kucinta.

Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Hiduplah Indonesia raya...


Sepi. Khidmat.

Lagu di atas dinyanyikan penuh semangat

Pandangan lurus badan tegap

Jari-jari tangan kanan terangkat

Menempel pada alis di bawah jidat


Seorang pemimpin berpidato lantang

Di tengah lapangan gersang

Di sekolah, kantor, maupun sudut jalan

Di desa, kota, dan di mana saja


Seorang pemimpin berteriak menjulang

Di tengah lapangan gersang,

Atau di tengah hati yang gersang?

Merdeka! Katanya.

Ha. Ha. Ha.


Merdeka? Itu sudah purba sekali.

Lihat saja sekarang, kekacauan masih berseliweran.

Rampok-rampok keadilan dengan ketidak-adilan,

Perkosa diri dengan palsu janji-janji,

Lalu kemerdekaan macam apa yang hendak kau berikan?


Merdeka. Apanya?

Ketika hendak mengeluarkan pendapat saja dilarang,

Ketika hendak turun ke jalan saja dikekang,

Ketika atas hak kami, kau ciptakan batasan.

Lalu kemerdekaan mana yang kau katakan?


Merdeka? Mana?

Anak yatim kaki berkapal tak bersandal

Merengsot ke jalan membanting tulang

Untuk mencium aroma buku pelajaran

Berharap suatu saat mencecap bangku di depan papan tulis hitam


Merdeka? Mana?

Kota-kota besar diperhatikan

Desa kecil terpencil dianak-tirikan

Para berdasi semakin konglomerat

Para tak beralas kaki semakin melarat


Merdeka? Mana?

Kaum elit impor sini impor sana

Karya anak bangsa dipandang sebelah mata

Kaum trendi malu dengan bahasa sendiri

Katanya bahasa luar lebih bergengsi


Kemerdekaan adalah anak kecil yang merasa besar,

Anak tak bertuan yang merasa bertuan

Anak bangsa yang merasa mempunyai bangsa,

Yang dibanggakan.


...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Tanahku, negeriku, yang kucinta...


Ah, ini nyanyian bukan sembarang nyanyian.

Ini adalah nyanyian dari semangat yang tak pernah padam,

Ini adalah nyanyian kebanggan, nyanyian kemerdekaan.

Aku bernyanyi dengan mata basah

Tuhan...

Semoga hormat kami hari ini,

Bukan sekadar hormat ritual keramat tahunan,

Jadikan hormat kami hari ini,

Sebagai hormat yang kami lakukan,

Atas dasar hati yang penuh dengan kebanggaan.


...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!

Hiduplah Indonesia raya.

Dirgahayu untukmu,

Negeriku. Indonesiaku.



Oleh :

Tri C Fakhri

Posted by Dwiki Syahputra On 8/27/2014 02:51:00 AM

Anak ingin menangkap gelombang

rambutnya memutih seketika


Ia mengerti laut dalam

tapi tak tahu di mana suaranya terpendam


Ketika angin berhembus

bahkan dahan-dahan pun diam


Ketika air surut

bahkan pasang pun tak karam


Ketika tidur merenggut

di langit tak sebutir bintang



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Selasa, 26 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/26/2014 06:07:00 AM

Bahkan jarum jam pun hanya mengulang

andai detiknya bukan kejemuan, kau tangkap

keluh bumi seperti anak yang tak habis berharap

dan mata kecilnya yang gelisah

memandang laut hanya dunia garam dan ikan-ikan


Bayang-bayangmu juga

yang susut karena lampu di pelupukmu padam

Lebih menjemukan dari rembang petang

Tapi berangkatlah!

Di seberang gelombang mungkin udara terang



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Sabtu, 23 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/23/2014 04:07:00 PM

Angin; mendesir lagi

Hampir mengantuk

Ada sepi

Berbisik di dahan-dahan pohon

Lagi tahu, gerimis turun


Di luar kamar yang tembaga

Di luar rongga kata

Engkau gemetar karena musim

Cemas dalam kata

Dan tahu: ada yang tiada

Bangkit di jendela


Dan mungkin: senja



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Jumat, 22 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/22/2014 04:35:00 PM

Itulah bidadari Cina itu, dengan seekor kilin

dan menyeret kainnya basah: menggigil dalam kuil

(daun-daun salam berguguran dan di beranda

masih terdengar suara hujan, hujan pasir) Ia

menunjukkan yin-yang yang kabur di atas pintu

dan di mataku terasa hembusan angin yang merabunkan

(lihatlah, ujarmu, ia mengajak kita ke tempat sepi

di mana berdiri sebuah makam kaisar yang mati

dalam pertempuran merebut kota dari desa) Angin

berlarian menghamburkan bau-bauan dari tangan

perempuan-perempuan yang wangi dan kedinginan

di atas gapura yin-yang yang mulai memuat lumut

dengan tulisan-tulisan tua yang tak terbaca sudah

(langit adalah bayang-bayang, kau menyesal

telah memimpikannya; dan di sebelahnya

berdiri gedung, beribu sungai dan tebing gunung

yang terbuat dari batu, anggur dan lempung

yang kini menampakkan bintang kemukus yang panjang)


Itulah bidadari Cina itu dan mendekat ke arahmu

memandang dinding dan bertelanjang di sofa, tapi tak mengerti

(ia membeku jadi arca, waktu tentara kaisar mulai

membangun kota di langit) dan beribu mantra

memenuhi telinganya yang tuli



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Rabu, 20 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/20/2014 11:02:00 PM

Menyandang beban sunyi ini di sini

Menyandang beban salib ini di sini

Menyandang kehilangan

Yang seakan

Genderang mainan dipukul ombak


Di antara teluk dan pasir pantai

Serta senja yang menutup dinding laut ini

Kau mencari

Jejak nelayan

Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan

Sudah jarang dikunjungi kapal-kapal


Menyandang sepi ini di sini

Menyandang kesal pikiran dan kekacauan ini

Menyandang mainan

Yang diberai ombak, senja, teluk dan pasir hitam

Seakan pecahan batu karang pada pantai yang legam


Kau mencari

Jejak nelayan

Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan

Sudah jarang dikunjungi pelaut


Burung-burung pantai pergi, senja pergi

Tinggal genderang mainan ini

Berbunyi dan berbunyi juga

Dan betapa dekatnya sekarang

Hari haus dan lapar kita

Betapa dekatnya



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Posted by Dwiki Syahputra On 8/20/2014 01:03:00 AM

Kita telah menjadi sekedar kenangan

lembaran asing pada buku harian

seperti tak pernah kautuliskan

peristiwa itu


Bunga-bunga sudah berguguran

tangkai dan kelopaknya

Pohon-pohon kering

Dan jendela jadi kusam

Seperti senja bakal tenggelam


Dan Titi telah semakin tua

meninggalkan masa kanak-kanaknya

Seakan cairan lilin

yang mengental

jadi malam


Dan masa-masa cintamu

hanyalah onggokan

puntung rokok

di lantai

yang dingin


Dan dengan pot-pot bunga

betapa asingnya

Kita



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Selasa, 19 Agustus 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 8/19/2014 05:22:00 AM

Tuhan,

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apimu


Tuhan,

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainmu


Tuhan,

Kita begitu dekat

Seperti angin dan arahnya


Kita begitu dekat


Dalam gelap

kini aku nyala

dalam lampu padammu



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari