Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Jumat, 25 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/25/2014 05:48:00 PM

Aku ingin bangun dini hari, melihat fajar putih

memecahkan kulit-kulit kerang yang tertutup –

Menjelang tidur kupahat sinar bulan yang letih itu

yang menyelinap dalam semak-semak salju terakhir

ninabobo yang menentramkan, kupahatkan padanya

sebelum matahari memasang kaca berkilauan


Tapi antara gelap dan terang, ada dan tiada

Waktu selalu melimpahi langit sepi dengan kabut dulu

lalu angin perlahan-lahan dan ribut memancarkan pagi

-- burung-burung hai ini, sedang musim dingin yang hanyut

masih abadi seperti hari kemarin yang mengiba

harus memakan beratus-ratus masa lampauku



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Kamis, 24 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/24/2014 03:47:00 PM
Foto sampul
Ika Nurmala

Nama : Ika Nurmala
Tinggal : Serpong, Banten, Indonesia, 15310
Slogan : A person who trust Allah SWT :) bismillahirrahmanirrahim 
Yang Dibanggakan : I have the best man "My Father"
Pendidikan : Jakarta State Politechnic 
Account : Google+  Youtube
Posted by Dwiki Syahputra On 7/24/2014 03:00:00 PM

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat

meraba cahaya

terbanglah jangan ke bunga, tapi ke laut

menjelmalah kembang di karang


rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat

di rambutmu jari-jari matahari yang dingin

kadang mengembuni mata, kadang pikiran

melimpahinya dengan salju dan hutan yang lebat



Oleh : 

Abdul Hadi Wiji Muthari

Rabu, 23 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/23/2014 03:18:00 PM

langit sisik yang serbuk, matahari yang rabun

menarilah dari rambutnya yang putih beribu kupu-kupu

menarilah dan angin yang bising di hutan dan gurun-gurun

menarilah, riak sungai susut malam-malam ke dasar lubukku


Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Selasa, 22 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/22/2014 03:06:00 PM

Laut tidur. Langit basah

Seakan dalam kolam awan berenang

Pada siapakah menyanyi gerimis malam ini

Dan angin masih saja berembus, walau sendiri


Dan kita hampir jauh berjalan:

Kita tak tahu ke mana pulang malam ini

Atau barangkali hanya dua pasang sepatu kita

Bergegas dalam kabut, topiku mengeluh

Lalu jatuh


Atau kata-kata yang tak pernah

sebebas tubuh


Ketika terbujur cakrawala itu kembali

dan kita serasa sampai, kita lupa

Gerimis terhenti antara sauh-sauh yang gemuruh

Di kamar kita berpelukan bagai dua rumah yang mau rubuh



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Posted by Dwiki Syahputra On 7/22/2014 06:31:00 AM

Di dalam hutan nenek moyangku

Aku hanya sebatang pohon mangga

-- tidak berbuah tidak berdaun –

Ayahku berkata, “Tanah tempat kau tumbuh

Memang tak subur, nak!” sambil makan

buah-buahan dari pohon kakekku dengan lahapnya


Dan kadang malam-malam

tanpa sepengetahuan istriku

aku pun mencuri dan makan buah-buahan

dari pohon anakku yang belum masak



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Senin, 21 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/21/2014 03:49:00 PM

Selalu tak dapat kulihat kau dengan jelas

Padahal aku tidak rabun dan kau tidak pula bercadar

Hanya setiap hal memang harus diwajarkan bagai semula:

Selera makan, gerak tangan, gaya percakapan, bayang-bayang kursi

Bahkan langkah-langkah kehidupan menuju mati


Biarlah kata-kataku ini dan apa yang dipercakapkan

bertemu bagai dua mulut yang lagi berciuman

Dan seperti seekor kucing yang mengintai mangsanya di dahan pohon

Menginginkan burung intaiannya bukan melulu kiasan



Oleh :

Abdul Hadi Wiji Muthari

Minggu, 20 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/20/2014 11:13:00 PM

Merdunya dan merdunya

Suara hujan

Gempita pohon-pohonan

Menerima serakan

Sayap-sayap burung


Merdunya dan merdunya

Seakan busukan akar pohonan

Menggema dan segar kembali

Seakan busukan daungladiola

Menyanyi dalam langsai-langsai pelangi biru

Memintas-mintas cuaca


Merdunya dan merdunya

Nasib yang bergerak

Jiwa yang bertempur

Gempita bumi

Menerima hembusan

Sayap-sayap kata


Ya, seakan merdunya suara hujan

Yang telah menjadi kebiasaan alam

Bergerak atau bergolak dan bangkit

Berubah dan berpindah dalam pendaran warna-warni

Melintas dan melewat dalam dingin dan panas


Merdunya dan merdunya

Merdu yang tiada bosan-bosannya

Melulung dan tiada kembali

Seakan-akan memijar api



Oleh : 

Abdul Hadi Wiji Muthari

Jumat, 18 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/18/2014 03:25:00 PM

Seorang ibu mendekap anaknya yang

durhaka saat sekarat

airmatanya menetes-netes di wajah yang

gelap dan pucat

anaknya yang sejak di rahim diharap-

harapkan menjadi cahaya

setidaknya dalam dirinya

dan berkata anakku jangan risaukan dosa-

dosamu kepadaku

sebutlah namaNya, sebutlah namaNya.

Dari mulut si anak yang gelepotan lumpur

dan darah

terdengar desis mirip upaya sia-sia

sebelum semuanya terpaku

kaku.


Oleh :

A Mustofa Bisri

Kamis, 17 Juli 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 7/17/2014 04:24:00 PM

pantulan mentari

senja dari kubah keemasan

mesjid dan makam sang cucu nabi

makin melembut

pada genangan

airmata ibu tua

bergulir-gulir

berkilat-kilat

seolah dijaga pelupuk

agar tak jatuh

indah warnanya

menghibur bocah berkaki satu

dalam gendongannya

tapi jatuh juga akhirnya

manik-manik bening berkilauan

menitik pecah

pada pipi manis kemerahan

puteranya

“ibu menangis ya, kenapa?”

meski kehilangan satu kaki

bukankah ananda selamat kini

seperti yang ibu pinta?”

“airmata bahagia, anakku

kerna permohonan kita dikabulkan

kita ziarah kemari hari ini

memenuhi nazar ibumu.”

cahaya lembut masih memantul-mantul

dari kedua matanya

ketika sang ibu tiba-tiba brenti

berdiri tegak di pintu makam

menggumamkan salam:

“assalamu ‘alaika ya sibtha rasulillah

salam bagimu, wahai cucu rasul

salam bagimu, wahai permata zahra.”

lalu dengan permatanya sendiri

dalam gendongannya

hati-hati maju selangkah-selangkah

menyibak para peziarah

yang begitu meriah

disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja

dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat

membisik munajat:

“terimakasih, tuhanku

dalam galau perang yang tak menentu

engkau hanya mengujiku

sebatas ketahananku

engkau hanya mengambil suami

gubuk kami

dan sebelah kaki

anakku

tak seberapa

dibanding cobamu

terhadap cucu rasulmu ini

engkau masih menjaga

kejernihan pikiran

dan kebeningan hati

tuhan,

kalau aku boleh meminta ganti

gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku

dengan kepasrahan yang utuh

dan semangat yang penuh

untuk terus melangkah

pada jalan lurusmu

dan sadarkanlah manusia

agar tak terus menumpahkan darah

mereka sendiri sia-sia

tuhan,

inilah nazarku

terimalah.”


Oleh : 

A Mustofa Bisri