Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Kamis, 21 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/21/2015 06.27.00 AM

Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Khusus untuk memulangkan diriku

Kepada kumandang tangis bayi, yang telanjang

Yang hening lagunya bergaung

Ke ladang-ladang jiwa

Yang meripatnya bening

Dan yang semua geraknya

Dibimbing

Oleh kegaiban


Demi rembulan di larut malam

Yang bagai kereta kencana

Ditarik oleh kuda siluman

Yang bangkit dari cakrawala

Yang bangkit begitu saja

Berderap

Perlahan

Dan menciptakan gemuruh

Dalam kediaman


Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Untuk mengusap kening jiwa yang berabad menangis

Jiwa Adam

Rintih kerinduan

Yang mencegatnya di ujung jalan

Dan yang mencegatku kini

Dalam derita dan keasingan

Yang terus menjelma

Yang mengawali setiap pekik kelahiran

Dan yang terus berkembang dalam kenangan


Demi rembulan yang bagai pejalan sunyi

Menjelajah seluruh malam

Sehingga terciptalah dunia dan kehidupan

Dari angin, embun dan dedaunan

Yang berkilat

Karena cahayanya

Yang seakan mengisyaratkan harapan

Bagi kerinduanku nantinya


Ah, Tuhan!

Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Buat menggoda!

Di semak-semak ini

Di hutan gelap yang tercipta

Dalam gaung jiwa

Dalam gelegak samudera

Dalam gelegak darahku

Yang letih

Dan maya


kutikamkan pisau ini

ke dadaku!


(terimalah

semangatku

reguklah

cintaku!)



Oleh :

Emha Ainun Najib

Rabu, 20 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/20/2015 11.53.00 AM

Sangatlah nyaman

Serta penuh kekhusyukan

Bersahabat dengan angin

Dan matahari pagi


Wajah gadisku yang membayang

Mengajakku sejenak berpejam

Tunduk kepala, dan

Menggumamkan salam


Dan embun menguap

Setelah semalaman

- bagai peristiwa cinta -

Membungkus dedaunan lelap


O, biru langit!

O, bukit-bukit!

Saksikanlah bahwa merdeka

Sangatlah mengikat


Bahwa jiwa

Butuh saat-saat alpa

Di mana roh diguncang

Tercampak dari tanya dan pikiran


Gadisku! Wahai gadisku!

Sangatlah nyaman

Bersetia kasih dengan Alam

Dan di bawah Iman-Nya: kita tenggelam



Oleh :

Emha Ainun Najib

Selasa, 19 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/19/2015 07.04.00 AM

Karena ini bunga

Maka ciumlah dengan bening jiwa


Karena ini sajak

Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak


Gugusan mendung yang ranum

Menggugurkan hujan ke bumi

Dari langit jauh Engkau bagai telah turun

Pada air, tanah, serta pada sunyi


Kemudian senyap sesaat

Tuhan melintaskan syafaat

Kemudian daun-daun bersijingkat

Dalam pesona memikat


Karena ini bunga, dik

Maka ciumlah dengan bening jiwa


Karena ini sajak, dik

Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak



Oleh :

Emha Ainun Najib

Senin, 18 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/18/2015 02.09.00 PM

Tuhan si anak kenangan berbaring di cakrawala selatan

Tuhan si anak kenangan berloncatan di atas bintang-bintang

Tuhan si anak kenangan berebut masuk keluar pernapasan

Tuhan si anak kenangan tak meleleh di pucuk dendam

Tuhan si anak kenangan terjatuh!

dalam bayang

bayang


“Selamat malam!

O, si buah angan

Selamat malam!

O, si Anak Hilang!”



Oleh :

Emha Ainun Najib

Minggu, 17 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/17/2015 06.31.00 AM

Begitu engkau bersujud, terbangunlah ruang

yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid

Setiap kali engkau bersujud, setiap kali

pula telah engkau dirikan masjid

Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid

telah kau bengun selama hidupmu?

Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu

meninggi, menembus langit, memasuki

alam makrifat

Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika

bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud

Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada

ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan

Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan

ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang

Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk

cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara

adzan

Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid

Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang

Allah, engkaulah kiblat

Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang

didengar Allah, engkaulah tilawah suci

Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai

Allah, engkaulah ayatullah

Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,

karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi

dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud

menjadilah engkau masjid



Oleh :

Emha Ainun Najib

Sabtu, 16 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/16/2015 06.48.00 AM

di yogya aku lelap tertidur

angin di sisiku mendengkur

seluruh kota pun bagai dalam kubur

pohon-pohon semua mengantuk

di sini kamu harus belajar berlatih

tetap hidup sambil mengantuk

kemanakah harus kuhadapkan muka

agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Jakarta menghardik nasibku

melecut menghantam pundakku

tiada ruang bagi diamku

matahari memelototiku

bising suaranya mencampakkanku

jatuh bergelut debu

kemanakah harus kuhadapkan muka

agar seimbang antara tidur dan jaga

surabaya seperti ditengahnya

tak tidur seperti kerbau tua

tak juga membelalakkan mata

tetapi di sana ada kasihku

yang hilang kembangnya

jika aku mendekatinya

kemanakah harus kuhadapkan muka

agar seimbang antara tidur dan jaga ?



Oleh :

Emha Ainun Najib

Jumat, 15 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/15/2015 03.57.00 PM

Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri

Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga

Tak demikian Allah menata

Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta

Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya

Tak demikian sunnatullah berkata

Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas

Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya

Menjadi kacaulah sistem alam semesta

Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah penindas

Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota

Dilanggarnya tradisi alam dan manusia

Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan

Ialah burung terbang tinggi menuju matahari

Burung Allah tak sedia bunuh diri

Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa orang lalai

Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari

Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola

Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar

Ialah air yang mengalir ke angkasa

Padahal telah ditetapkan hukum alam benda

Maka berdusta ia

Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin

Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang

Orang wajib menebangnya

Agar tak berdusta ia

Kemudian siapakah orang lemah perjuangan

Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan

Orang harus menggertak jiwanya

Agar tak berdusta ia

Kemudian siapakah pedagang penyihir

Ialah kijang kencana berlari di atas air

Orang harus meninggalkannya

Agar tak berdusta ia

Adapun siapakah budak kepentingan pribadi

Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri

Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya

Agar tak berdusta ia

Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta

Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau

Nyanyikan puisi di telinganya

Agar tak berdusta ia



Oleh :

Emha Ainun Najib

Kamis, 14 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/14/2015 03.08.00 PM

Di dalam sinar-Mu

Segala soal dan wajah dunia

Tak menyebabkan apa-apa

Aku sendirilah yang menggerakkan laku

Atas nama-Mu

Kuambil sikap, total dan tuntas

maka getaranku

Adalah getaran-Mu

lenyap segala dimensi

baik dan buruk, kuat dan lemah

Keutuhan yang ada

Terpelihara dalam pasrah dan setia

Menangis dalam tertawa

Bersedih dalam gembira

Atau sebaliknya

tak ada kekaguman, kebanggaan, segala belenggu

Mulus dalam nilai satu

Kesadaran yang lebih tinggi

Mengatasi pikiran dan emosi

menetaplah, berbahagialah

Demi para tetangga

tetapi di dalam kamu kosong

Ialah wujud yang tak terucapkan, tak tertuliskan

Kugenggam kamu

Kau genggam aku

Jangan sentuh apapun

Yang menyebabkan noda

Untuk tidak melepaskan, menggenggam lainnya

Berangkat ulang jengkal pertama



Oleh :

Emha Ainun Najib

Rabu, 13 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/13/2015 06.13.00 AM

Ketika engkau bersembahyang

Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan

Partikel udara dan ruang hampa bergetar

Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah

Membuat kegelapan terbuka matanya

Setiap doa dan pernyataan pasrah

Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi

Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri

Kemudian mim sujudmu menangis

Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup

Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup

Ilmu dan peradaban takkan sampai

Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri

Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali

Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira

Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya

Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia

Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya

Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah

Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika

Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang

Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan



Oleh :

Emha Ainun Najib

Senin, 11 Mei 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 5/11/2015 12.51.00 PM

Kita pasar riba

Medan perang keserakahan

Seperti ikan dalam air tenggelam

Tak bisa ambil jarak

Tak tahu langit

Ke kiri dosa ke kanan dusta

Bernapas air

Makan minum air

Darah riba mengalir

Kita masuki pasar riba

Menjual diri dan Tuhan

Untuk membeli hidup yang picisan

Telanjur jadi uang recehan

Dari putaran riba politik dan ekonomi

Sistem yang membunuh sebelum mati

Siapakah kita ?

Wajah tak menentu jenisnya

Tiap saat berganti nama

Tergantung kepentingannya apa

Tergantung rugi atau laba

Kita pilih kepada siapa tertawa



Oleh :

Emha Ainun Najib