Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Senin, 22 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/22/2014 06:02:00 AM

Di bawah langit yang sama

manusia macam dua : Yang diperah

dan setiap saat mesti rela

mengurbankan nyawa, bagai kerbau

yang kalau sudah tak bisa dipekerjakan, dihalau

ke pembantaian, tak boleh kendati menguak

atau cemeti'kan mendera;

dibedakan dari para dewa

malaikat pencabut nyawa, yang bertuhan

pada kemewahan dan nafsu

yang bagai lautan : Tak tentu dalam dan luasnya

menderu dan bergelombang

sepanjang masa

Di atas bumi yang sama

Manusia macam dua : Yang menyediakan tenaga

tak mengenal malam dan siang,

mendaki gunung, menuruni jurang

tak boleh mengenal sakit dan lelah

bagai rerongkong-rerongkong bernyawa selalu digiring

kalau bukan di kubur tak diperkenankan sejenak pun berbaring

dipisahkan dari manusia-manusia pilihan

yang mengangkat diri-sendiri dan menobatkan

ipar, mertua, saudara, menantu dan sahabat

menjadi orang-orang terhormat dan keramat

yang ludah serta keringatnya

memberi berkat

Di atas bumi yang kaya

manusia mendambakan hidup sejahtera

Di atas bumi yang diberkahi Tuhan

Manusia memimpikan keadilan


(1962)



Oleh :

Ajip Rosidi

Minggu, 21 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/21/2014 09:03:00 AM

Di bawah bayang-bayang Manhattan yang gelap

Kulihat kau menyelinap, mengendap-ngendap

Mengais-ngais mencari dalam dirimu:

Sesuatu telah terjadi dan itu engkau tak tahu

Begitu banyak peristiwa dan begitu banyak rahasia

Yang dalam hidupmu hanya nampak satu segi saja

Tidaklah hidup ini bagimu akan tetap gulita

Bagaikan teka-teki yang hilang soalnya

Adakah dengan dinding-dinding kukuh perkasa

Bersarang perasaan aman dalam sanubari manusia?

Yang kutemui hanya kewas-wasan, sumber kegelisahan

Adakah dengan perkembangan teknologi

Manusia telah menemukan dirinya sendiri?

Kau hanya tahu: komputer ternyata menghasilkan banyak persoalan



Oleh :

Ajip Rosidi

Sabtu, 20 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/20/2014 05:46:00 AM

Apa sih yang mau kau capai

Maka kau terjang segala penghalang

Dan kau abaikan segala nilai

Asal kau sendiri menang?

Apa sih yang mau kau dapat

Maka kau tinggalkan semua sahabat

Dan di sekelilingmu

Kau anyam rapat pagar curiga

Kau kira di mana kau akan tiba

Kalau hari sudah senja?

Ternyata tidak ada tarian gemulai

Atau suara gamelan mengalun permai

Kemenangan-kemenanganmu selama ini

Melontarkanmu ke langit hampa



Oleh :

Ajip Rosidi

Jumat, 19 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/19/2014 04:17:00 PM

Di antara belalang

Kaulah burung brenjang

Yang mengisi tembolok

Tak kunjung kenyang

Di antara ayam

Kaulah musang kelaparan

Dengan rahang tajam

Menerkam dan menerkam

Kalau di sungai

Kaulah buaya

Tak pernah menolak bangkai

Kalau di darat

Kaulah srigala

Mengancam segala hayat



Oleh :

Ajip Rosidi

Posted by Dwiki Syahputra On 12/19/2014 05:42:00 AM

Yang was-was selalu, itulah aku

Yang gamang selalu, akulah itu

Ya Hamlet kusuka : Dialah gambaran jiwaku

Yang selalu was-was dalam ragu. Membiarkan kau

Mengembara dalam mimpi yang risau

Kutemukan pada Oliver, kegamangan falsafi

Dunia yang muram dan masa depan yang suram

Tapi kulihat kecerahan intelegensi

Seorang muda yang terlalu dekat kepada alam

Hamlet. Hamletku, ia datang kepadamu

Menatap fana atas segala yang kujamah: Tahu

Bahwa hidup melangkah atas ketidak pastian

Yang terkadang menentukan Kepastian

Aku pasrah



Oleh :

Ajip Rosidi

Kamis, 18 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/18/2014 03:12:00 PM

Di atas gunung batu manusia membangun tugu

Kota yang gelisah mencari, Seoul yang baru, perkasa

Dengan etalase kaca, lampu-lampu berwarna, jiwanya ragu

Tak acuh tahu, menggapai-gapai dalam udara hampa

Kulihat bangsa yang terombang-ambing antara dua dunia

Bagaikan tercermin diriku sendiri di sana!

Mengejar-ngejar gairah bayangan hari esok

Memimpikan masa-silam yang terasa kian lama kian elok!

Waktu menonton tari topeng di Istana Musim Panas

Aku terkenang betapa indah topeng Cirebon dari Kalianyar!

Dan waktu kusimakkan musik Tang-ak, tubuhku tersandar lemas

Betapa indah gamelan Bali dan Degung Sunda. Bagaikan terdengar!

Kian jauh aku pergi, kian banyak kulihat

Kian tinggi kuhargai milik sendiri yang tersia-sia tak dirawat



Oleh :

Ajip Rosidi

Posted by Dwiki Syahputra On 12/18/2014 03:00:00 PM

Empat lelaki menyusur pinggir kali

Nasibnya mengalir bersama air menghilir

Di mana mereka bertemu ?

Ke mana mereka kan pergi ?

Dalam hati yang mengerti

Menuju ufuk kelabu

Di kuala terbuka

Pabila mereka berangkat

Dan kapan akan kembali?

Telah tetap setiap saat

Menempuh arus waktu

Tidak terhingga

Empat lelaki berdiri di pinggir kali

Nasib bagaikan air: Selalu luput dari genggaman



Oleh :

Ajip Rosidi

Selasa, 16 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/16/2014 01:31:00 PM

Sebelum padi menguning mana burung datang mendekat

atau cinta bisa melekat


jika tiada banjir mendatang hama menyerang

harapan panen takkan sia-sia


lantas padi menguning cinta pun datang

tinggal aku yang selalu malang


1953



Oleh :

Ajip Rosidi

Senin, 15 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/15/2014 01:21:00 PM

ia tembus kesenyapan dinihari

sepatunya berat menunjam bumi

menempuh kola yang lelap terlena

dalam pelukan cahya purnama


is tembus kedinginan pagi

siulnya nyaring membelah sunyi

membangunkan insan agar bangkit

dalam pertarungan hidup yang sengit


di sebuah jembatan ia berhenti

dihirupnya udara sejuk dalam sekali:

bulan yang mengambang atas air kali

adalah gambaran hatinya sendiri!


1954



Oleh :

Ajip Rosidi

Minggu, 14 Desember 2014

Posted by Dwiki Syahputra On 12/14/2014 06:51:00 AM

rindu berguling sendiri

putus mengharap

dinding putih-putih

dan di baliknya: kesepian pengap


radio di sebelah batas

suaranya samar -

kudengar diriku menghela nafas

dengan hati yang cabar


1954



Oleh : 

Ajip Rosidi