Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kumpulan Puisi Penantian

Rasa Yang Terpendam

Chairil Anwar

Latest Updates

Senin, 02 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/02/2015 07:09:00 PM

Terorak kelopak mawar djuita

Warna berseri mendandan sari

Mengalun wangi kematahari

Ketika pagi indah tjuatja


Datang lebah, hinggap kebunga

Hendak menjeri, itu maksudnja

Mawar menjerah bagia-rela

Lebah menghisap sepuas-puasnya


Setelah habis wangi dan madu

Terbanglah lebah, pulang kesarang

Mawar sendu terkulai laju

Mengenangkan tjinta lebah jang tjurang


Penjelasan editor: sajak ,,Mawar” diatas diambil dari dokumentasi Lembaga Bahasa dan

Kesusasteraan, Djakarta. Sajak tersebut hendak dimuat dalam majalah Pandji Pustaka di zaman

Jepang, tapi karena dianggap mengandung kecaman terhadap Pemerintah Jepang maka tak dapat

dimuat.



Oleh :

Asmara Hadi

Minggu, 01 Maret 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 3/01/2015 07:50:00 AM

Djikalau hari lah tengah malam

Angin berhenti dari bernafas

Alam seperti dalam semadhi

Sukma djiwaku rasa tengelam

Dalam laut tiada berwatas

Menangis hati diiris sedih


Fikiranku melajang perlahan

Diatas sajap kenangan sunji

Kepantai waktu nan telah lalu

Djiwa menangis tertahan-tahan

Terkenang nasib Tanahku ini:

Mengandung pilu, mendjundjung malu


Terkenang waktu zaman tjemerlang

Mandi disinar surja Merdeka

Terang tjahaya Indonesia

Air mataku djatuh berlinang

Hantjur hati dihempaskan duka

Hilang gaja, tiada berdaja


Wahai panah kenangan rindu

Sudahlah engkau meluka hati

Djangan mendamba masa nan sudah

Dengar disana njanjian merdu

Seperti makai petunang sakti

Menghapus gundah didalam dada


Njanjian merdu terdengar terang

Datangnja dari sebelah Timur

Dimana surja hampir bertjah’ja

Njanjian anak zaman sekarang:

,,Indonesia Tanahku makmur,

Hampir bertjah’ja surja Bahagia!”



Oleh :

Asmara Hadi

Sabtu, 28 Februari 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 2/28/2015 05:19:00 AM

Bilakah alam bersinar senang

Diterangi Surja Kemerdekaan?

Bilakah rakjat bernafas tenang

Mengisap udara Kemerdekaan?


Bilakah terbit bintang ,,Merdeka”

Menjinari alam Indonesia?

Bilakah hilang malam tjelaka

Kehidupan senang bersuka ria?


Disitulah baru senang dihati

Indonesia telah merdeka

Merah-Putih telah berkibar


Disanalah baru aku berhenti

Dari bermenung berhati duka

Hari panas, tiada sabar



Oleh : 

Asmara Hadi

Jumat, 27 Februari 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 2/27/2015 04:01:00 PM

Zaman kami zaman membakar

Zaman jang penuh perdjuangan

Dan kami generasi kini

Berdjuang dalamnja bagai pahlawan


Pada wadjah kami bersinar

Indah tjemerlang tjahja kemenangan

Djantung kami berdegup gumbira

Seperti akan melihat tunangan


Kami berdjuang menjerahkan djiwa

Pada zaman jang perlukan kami

Dalam kekalahan zaman sekarang

Kamilah rasul kemenangan nanti


Seperti dari puntjak gunung jang tinggi

Kita lebih dahulu dapat melihat,

Tjahaja fadjar kemerah-merahan

Tanda matahari akan terbit

Sedang djauh didalam lembah

Semuanja masih gelap-gulita

Demikianlah djiwaku lebih dahulu

Dari puntjak gunung puisi

Dapat melihat sinar memerah

Sinar fadjar kemenangan kita

Sedang dalam kehidupan sehari-hari

Semuanja masih gelap-gulita



Oleh :

Asmara Hadi

Kamis, 26 Februari 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 2/26/2015 12:50:00 PM

Taman sari, tanah Periangan,

Sekarang ini berpisah kita,

Kereta api hampir berjalan,

Selamat tinggal alam jelita,

Negeri lain datang meminta,

Engkau kan hanya tinggal kenangan,

Tempat, di mana mendapat cinta

Akan selalu terangan-angan.

Peluit berbunyi, tinggallah engkau,

Bukit dan gunung hijau berkilau,

Alam rupawan menawan hati

Tinggallah kota, tinggallah dusun,

Tinggallah sawah turun bersusun,

Kamu kucinta sampaikan mati.



Oleh :

Asmara Hadi

Rabu, 25 Februari 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 2/25/2015 09:12:00 PM

Panas yang terik datang membakar,

Lemahlah kembang hampirkan mati,

Tunduk tergantung bersedih hati,

Mohon air kepada akar.

mendapat air amatlah sukar,

Belumlah turun hujan dinanti,

Musim kemarau belum berhenti,

Angin bertiup belum bertukar.

Seperti kembang hampirkan layu,

Lemah tampaknya, rawan dan sayu,

Demikianlah 'kau Indonesia,

Nasibmu malang amat celaka,

Hidup dirundung malapetaka,

Tidak mengenal rasa bahagia.


Mentari datang menghalaukan malam,

Menyinarkan senyum penuh cahaya,

Dunialah bangun memberi salam,

Nyanyian yang merdu menyambut surya.

Lihatlah teratai di dalam kolam,

Tersenyum membuka kuntumnya, dia,

menghamburkan harum ke dalam alam,

Pemuja pagi gemilang mulis.

Memandang pagi menyedapkan mata,

Keraguan hati hilang semata,

Memikirkan nasib Tanah Airku.

Seperti mentari di kala pagi,

Kemerdekaan tentu datang lagi,

Menerangi Tanah tempat lahirku.



Oleh :

Asmara Hadi

Minggu, 22 Februari 2015

Doa

Posted by Dwiki Syahputra On 2/22/2015 07:42:00 AM

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?

Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah

terik.

Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa

angan ke bawah kursimu.

Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.

Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.

Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku

sendu, biar berbinar

gelakku rayu!



Oleh :

Amir Hamzah

Sabtu, 21 Februari 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 2/21/2015 06:46:00 AM

Kurnia kami, hari berbuahkan rahman,

Berbungakan suka.

Penghulu segala dewa!

Marahlah tuan dan lihat.

Urap dan menyan kami persembahkan

Kusuma dan bakung pedandan leher

Dinda tuan intan rupawan,

Yang siuman dalam hatimu

Yang merangkai pada sisimu.

Marilah diri! Gambang dan dendang

Merdu mengalun, Hari Duka

Telah lenyap, sukacita bertabur ria,

Sampai tuan tiba ke benua, yang diam semata-mata

Lepaslah tuan dari kami selama-lamanya.



Oleh :

Amir Hamzah

Kamis, 19 Februari 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 2/19/2015 05:28:00 AM

‘Wah!’, kesahnya, ‘kau dengar ayam jantan, ia memanggil?’

‘Tidak’, jawabnya,

‘Tidak, malam kelam dan tinggi,

Bukan itu kokok ayam, kekasihku’

‘Pintaku, bangkit, singkapkan tabir

Di tepi, dan tanya olehmu kan langit, sahabatku’

Lompat ia: ‘Celaka kita! Bintang pagi.

Pucat meningkat dari kaki langit’

‘Merah fajar’ – bisiknya takut, ‘Sekarang mesti engkau pergi!’

‘Bagaimana aku menanggungnya?’

‘Hai, Sebelumnya engkau pergi, balaskan setan itu,

Kejam ia menceraikan kita!’

‘Ambil busurmu, tujukan panah ini

Ayam jantan hatinya tepati!’



Oleh :

Amir Hamzah

Rabu, 18 Februari 2015

Posted by Dwiki Syahputra On 2/18/2015 02:43:00 PM

Jangan disalahkan dunia karena belenggumu,

Sebab banyakan mawar dari duri.

Jangan disebutkan dunia ini penjara,

Karena inginmu itulah yang membangunkan duka.

Jangan pula tanyakan penghabisan rahasia,

Satu dalam dua, atau baik, tau jahat!

Usaha pula katakan kasih meninggalkan tuan,

Jangan ia dicari di pekan dan jalan!

Ta’ guna takutkan siksa mati,

Sebab takut itulah mendatangkan sengsara,

Janganlah buru kijang cita indria,

Kalau terburu singa sesalan.

Jangan hatiku, mengekang diri,

Jadi ta’ usah malaikat menolong engkau.



Oleh :

Amir Hamzah